Empat Belas

1474 Words
Sama seperti biasanya, hari ini Joe juga sibuk bekerja di Restoran. Meski tidak terlalu banyak pelanggann seperti ketika ada acara di dekat restoran, tapi cukup ramai seperti biasanya dan Joe memilih untuk tidak meninggalkan restoran sama sekali meskipun ia sudah berjanji akan bertemu dengan kakeknya dan membicarakan tentang pekerjaan di Wikler Enterprise. “Pesanan untuk meja nomor 12.” Ujar asisten chef yang mengoper makanan ke depan untuk diantarkan oleh pramusaji. Joe datang karena kebetulan ia baru selesai dan hendak berhenti, akhirnya memilih mengantarkan pesanan itu terlebih dahulu. Ini jam makan siang, jadi wajar saja jika restoran cukup ramai. Joe dan yang lain bahkan belum sempat makan siang, hingga akhirnya mereka bergiliran saja untuk bisa meluangkan waktunya makan. Jam makan siang yang tidak lama membuat mereka mengutamakan kecepatan untuk melakukan pelayanann. Joe berhenti sejenak saat melihat gadis yang sedang duduk di sudut restoran dan sedang memandang ke arah luar seperti mengamati. Ia kemudian mendekat dan meletakkan pesanan di meja nomor 12 itu sambil tersenyum lebih manis dibandingkan saat ia tersenyum kepada pelanggann yang lain. Wanita itu menoleh dan terkejut saat mendapati Joe begitu dekat dan senyum yang menurutnya cukup menakutkan. Ia bergerak mundur sedikit, lalu melirik Joe dengan sinis sambil memperhatikan pakaian pria itu. “Apa aku seseksi itu saat menggunakan celemek seperti ini sampai matamu tidak berkedip?” tanya Joe ketika menyadari tatapan Sabrina padanya. Ya, wanita yang sedang duduk menatap ke luar itu adalah Sabrina Bon. “Kau bekerja di sini?” tanya Sabrina dengan sinis, karena yang ada di pikirannya adalah Joe sengaja mengikutinya dan mengerjainya dengan menggunakan seragam pramusaji restoran. Joe salah menangkap maksud tatapan itu dan mengira jika Sabrina menatapnya seperti itu karena merendahkan pekerjaannya yang hanya sebagai pramusaji, tapi ia berusaha membuat semuaya biasa saja dan tetap tersenyum pada Sabrina. “Memangnya kenapa? Apa aku kurang cocok dengan pekerjaan seperti ini? Atau kau sedang membayangkan pekerjaan yang luar biasa untukku?” tanya Joe. Sabrina memutar bola matanya malas dan melirik sinis pada Joe, “Memangnya untuk apa aku membayangkan pekerjaan yang luar biasa untukmu. Sama sekali tidak menguntungkanku.” Jelasnya. “Jadi, kita tak masalah kan menjalin hubungan lebih dekat walaupun pekerjaanku hanya seperti ini?” Joe menaik turunkan alisnya sambil menatap Sabrina. “Kau tidak merasa bersalah karena mendekati kekasih temanmu sendiri? Dan kau juga mendekati wanita lain saat kau sedang dekat dengan wanita lainnya” tanya Sabrina. Joe menggelengkan kepalanya, “Memangnya dekat seperti apa kita sekarang? Apa aku pernah mengajakmu berselingkuh? Tidak kan? Jadi kenapa aku harus merasa bersalah pada kekasihmu.” Jelas Joe. Sabrina melirik beberapa pramusaji lain yang sedang bolak balik untuk mengantarkan pesanan, lalu menatap Joe, “Kau tidak lihat kalau teman-temanmu sedang sibuk bekerja? Kenapa kau malah mengganggu pelanggann seperti ini?” tanyanya. Joe memutar tubuhnya dan melihat teman-temannya, lalu ia kembali melihat Sabrina dan tersenyum kecil, “Baiklah, aku bekerja dulu. Silahkan menikmati makan siang dan waktu istirahatmu. Nanti aku akan kembali ke sini.” Ujarnya. “Tidak perlu kembali.” Ujar Sabrina, tapi Joe tetap melangkah pergi dan meninggalkan Sabrina dengan santai sembari melambaikan tangannya tanpa menoleh pada wanita itu. *** Sabrina kembali memesan minum dan memilih menunggu di restoran itu untuk beberapa waktu lagi. Ia harus bertahan demi pekerjaannya. Ia sudah berada di sana selama kurang lebih satu jam setengah. Tadi, begitu selesai ia makan siang, ia langsung berniat pulang dan meninggalkan restoran, sayangnya atasannya menelpon dan menyuruhnya untuk menemui orang tua dari murid trainee yang baru-baru ini sempat ditawarkan oleh perusahaan untuk bergabung. Sabrina diminta untuk meyakinkan orang tua trainee-nya itu agar bisa sepakat untuk menandatangani kontrak agar anaknya menjadi siswa Latihan di sana dan mendapat dukungan dari orang tuanya. Tadi, Sabrina sempat menghubungi orang tua trainee-nya, tapi ia mendapat kabar bahwa kedatangannya terhambat sedikit kendala sehingga ia mungkin datang lebih lama dari jam seharusnya mereka janjian. Sabrina terpaksa menyetujui kemunduran jam yang telah diminta dan di waktu seperti itu, Joe justru datang dan membuatnya jadi semakin kesal. “Kau menunggu aku sampai pulang?” tanya Joe sambil menyesap minumnya yang sengaja ia bawa ke meja Sabrina agar bisa menemani wanita itu. “Joe, apa kau tidak merasa ini mengherankan karena kau mendekatiku seperti ini?” tanya Sabrina terang-terangan. Joe mengernyit, “Kenapa? Kau tidak suka?” balasnya, “Memangnya berteman saja salah?” Sabrina tidak menjawab karena memang apa yang Joe katakan benar. Tidak ada salahnya juga mereka berteman seperti itu meski dulunya tak pernah sedekat sekarang, tapi Sabrina masih merasa curiga dengan niat Joe mendekatinya. “Atau kau hanya berteman dengan orang yang bekerja kantoran seperti Hans?” tanya Joe dengan sedikit sinis. Sabrina menggelengkan kepalanya, “Aku hanya merasa asing dekat denganmu karena sebelumnya kita tidak pernah sedekat ini. Rasanya mencurigakan melihat betapa kau berusaha akrab denganku.” Jelas wanita itu terang-terangan. Joe terkekeh geli, “Memangnya apa yang bisa kulakukan sampai kau merasa perlu mewaspadaiku?” tanyanya. “Sepertinya kau sendiri tahu hal itu dan akan menjadikan itu sebuah ancaman di waktu yang lebih besar. Aku tidak bermaksud berburuk sangka, tapi caramu mendekatiku itu cukup membuatku memberikan penilaian seperti itu.” “Tidak baik menilai orang sembarangan.” Joe merangkum gelasnya dengan dua tangan sambil tubuhnya terdorong ke depan untuk lebih dekat dengan Sabrina, lalu berbisik, “Aku bukan orang yang suka menggunakan kelemahan orang lain sebagai senjata untuk menjatuhkan.” Jelasnya. Mendengar hal itu bukan membuat Sabrina tenang, tapi malah semakin menyadari bahwa Joe memang memiliki motif untuk mendekatinya dan akan menggunakan masa lalunya untuk menjatuhkannya. Ia bisa percaya dengan ucapan Joe, jika saja itu diucapkan ketika mereka masih di sekolah menengah, tapi untuk sekarang, Sabrina memilih waspada saja terhadap apa yang sedang Joe lakukan setiap kali berinteraksi dengannya. “Apa yang buruk dari masa lalumu?” tanya Joe dengan senyum kecil menatap Sabrina dan menantikan jawaban wanita itu. Sabrina menatap Joe dengan tajam, “Aku tidak suka mengungkitnya karena aku tidak pernah menyukai masa laluku.” Jawabnya. “Sekalipun ada aku di masa lalumu?” tanya Joe dengan penuh godaan. Pria itu benar-benar handal dalam merusak suasana hati Sabrina. Pertanyaan itu juga terdengar sangat menggelikan seolah dulu Joe sangat berpengaruh pada kehidupan Sabrina. “Ms. Sabrina?” tanya seseorang menyeka pembicaraan antara Joe dan Sabrina. “Iya, saya.” Sabrina segera berdiri dan menyalami orang tua trainee-nya, lalu melirik Joe dan memberi kode mengusir supaya pria itu meninggalkannya dengan kesibukannya. Joe mengerti dengan kode itu dan memilih menjauh dari Sabrina tanpa diminta 2 kali. Ia sendiri juga tahu mana yang merupakan kepentingan pribadi dan pekerjaan, jadi ia tidak ingin mengganggu pekerjaan Sabrina dan merusak kinerja wanita itu. Joe mungkin sudah menjauh sejak tadi dari Sabrina, tapi tatapannya tak jauh-jauh dari Sabrina setiap kali ia memegang pekerjaannya. Ia terus memperhatikan Sabrina dan mengamati bagaimana wanita itu berinteraksi dengan orang lain. Dan, yeah, reaksi wanita itu sangat jauh berbeda saat menghadapi orang lain dibandingkan saat berhadapan dengannya. Meski Joe tidak mendengar apa yang mereka bincangkan, tapi dari raut wajah Sabrina yang tampak ramah menunjukkan bahwa wanita itu memang memperlakukan orang lain secara berbeda dengannya. Cara tersenyum dan tertawanya saja sudah membuat Joe ikut tersenyum dalam diam, hingga teman kerjanya menegurnya dengan cara menyenggol bahunya. “Bukankah kau sudah berkencan dengan Zee?” tanya Abbas sambil mengambil posisi duduk di samping Joe karena saat ini sedang tidak ada pesanan dan ia juga sudah membereskan meja yang tadinya kotor. Joe menoleh dan mencebikkan bibirnya, “Aku tidak pernah berkencan dengan Zee.” Jawabnya. Sangking seringnya Zee datang ke restoran mereka, pekerja di restoran JKL pasti tahu seberapa dekat Joe dengan Nazeela dan seberapa lengket keduanya sampai keluarga Joe saja sudah mengenal Nazeela dengan cukup baik. Jadi tidak perlu heran jika pekerja di restoran JKL menduga bahwa Joe dan Nazeela ada hubungan spesial. Abbas terkekeh geli, “Sungguh? Bukankah kalian begitu dekat?” tanyanya cukup tertarik mendengar hal itu. Joe mengangguk, “Iya, kami memang dekat, tapi hubungan kami tidak sespesial itu.” “Ah, begitu. Jadi kau tidak menyukai Zee? Atau paling tidak, kau tidak berniat mengencaninya sama sekali?” tanya Abbas lagi. Mendengar pertanyaan kali ini membuat Joe menatap Abbas dengan lebih serius dan sedikit tajam dari sebelumnya, “Apa maksudmu bertanya seperti itu? Kau ingin mendekati Zee?” tanyanya. Abbas menggelengkan kepalanya dan mengangkat bahunya, “Kalau dia memberi kesempatan dan kalau kau mau membantu, aku ingin dekat dengannya.” Ujar Abbas terang-terangan. Joe tampak berpikir untuk sejenak. Ia berpikir mengenai kriteria pria Nazeela dan melihat Abbas sebagai pertimbangan untuk disandingkan dengan wanita itu. Ia kemudian menganggukkan kepalanya, “Baiklah, akan kucoba mendekatkan kalian, tapi aku tidak berjanji bahwa Zee akan menyetujuinya.” Ujarnya berusaha meyakinkan Abbas. Abbas tersenyum puas dan banyak berharap bahwa Joe benar-benar akan memberitahukan Nazeela mengenai perasaannya. Melihat Nazeela selama ini sangat dekat dengan Joe dan keluarganya membuat Abbas juga berpikir bahwa mereka berkencan, tetapi setelah tahu kebenarannya, ia jadi ingin memiliki kesempatan untuk dekat dengan sang pujaan hati.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD