Tiga Belas

1374 Words
Joe menatap Nazeela dengan bingung karena sejak tadi wanita itu hanya diam sambil memasang wajah juteknya. Ia bahkan tak mengerti mengapa tiba-tiba suasana hati Nazeela berubah begitu saja dan sulit untuk ia bujuk. “Kau ini kenapa?” tanya Joe dengan pelan setelah pramusaji di restoran siap saji itu menghidangkan makanan untuk mereka. Nazeela menatap tajam Joe dan melipat tangannya di depan d**a, “Jawab aku, Joe. Apa kau dekat dengan wanita lain selain aku?” tanyanya. Joe tampak berpikir sejenak, lalu menggelengkan kepalanya, “Tidak.” Jawabnya. Nazeela menghela nafas kasar, tapi memilih diam dan melanjutkan pecakapan mereka. Ia juga tiak ingin membahas Sabrina karena hatinya cemburu mengingat bagaimana Joe menatap gadis itu sangat berbeda saat menatapnya. Melihat Nazeela tidak melanjutkan percakapan mereka, Joe menatapnya dengan bingung, lalu bertanya, “Lalu? Apa maksudnya pertanyaan itu?” “Aku hanya penasaran dan butuh jawaban. Aku tidak ingin ada wanita lain diantara pertemanan kita, Joe. Itu saja.” Ujar Nazeela “Tapi kenapa? Kau akan menemukan kekasih untukmu dan aku pun begitu. Kita tidak akan selamanya bersama kan?” tanya Joe. Nazeela menghembuskan nafas kasar meski rasa ingin menjedutkan kepala Joe ke dinding sangat kuat. Sudahlah. Nazeela lelah dengan pemikiran Joe yang sok polos itu. Kalau Nazeela menyukai pria lain, memangnya Joe pikir ia akan mengatakan kalimat seperti itu. Apa kalimat penegasarn Nazeela tadi masih merupakan kalimat yang maknanya sulit untuk dipahami? Nazeela rasa tidak, hanya saja otak Joe yang perlu sedikit perbaikan. “Cepatlah habiskan makananmu, Joe. Aku sudah mengantuk dan ingin pulang.” Ujar Nazeela dengan ketus. *** Kay menatap Joe dengan bingung saat mendapati pria itu pulang cukup cepat. Ia segera meletakkan ponselnya dan mengubah posisi duduknya untuk bisa menatap Joe, “Bagaiman kencanmu dengan Zee? Berjalan lancar?” tanyanya penasaran. Kay memang tahu kalau Joe akan jalan dengan Nazeela dan itu sudah bukan rahasia lagi karena keduanya memang cukup dekat. “Itu bukan kencan. Zee mengajakku karena dia butuh hiburan.” Ujar Joe. Kay menghebuskan nafas kasar dan meremas bantal sebagai pelampiasan untuk keinginan meremas bibir Joe, “Joe, sebenarnya kau ini memang polos atau bodoh?” tanyanya. “Kenapa kau bertanya seperti itu?” tanya Joe tak terima dirinya dikatai bodoh dan polos. “Tidak ada yang namanya hiburan diantara wanita dan pria, kecuali untuk sebuah ONS.” Ujar Kay, “Memangnya kau tidak menyukai Zee?” tanyanya kemudian. Joe megernyit, lalu menggelengkan kepalanya, “Kami hanya berteman Kay.” “Kau tidak merasa kalau Zee banyak memberikan kode padamu karena dia menyukaimu? Atau kau sebenarnya berusaha menutup mata karena menyukai wanita lain?” Mendengar ucapan Kay barusan terasa sangat lucu bagi Joe hingga ia tertawa geli sendiri dan membuat Kay keheranan. “Kau tidak tahukan sudah berapa banyak teman dekatku yang menjadi korban dari ucapan Zee yang seperti kode itu?” tanyanya, “Zee itu memang suka bercanda seperti itu, Kay. Aku sudah paham hal itu, jadi tidak mungkin menganggapnya serius.” Kay terdiam karena baru mengetahui fakta tersebut, tapi dari apa yang ia lihat antara Joe dengan Nazeela, ia seperti melihat bahwa Nazeela memang benar-benar menyukai Joe. Terlepas dari berapa banyak yang wanita itu rayu, tapi kepada Joe, Kay sangat yakin kalau Nazeela bersungguh-sungguh. “Kau tidak mengenalnya, Kay. Dia hanya bercanda dengan gombalan-gombalannya yang memang sering terdengar sangat serius. Aku sendiri bahkan sempat terbuai dengan keseriusannya seperti itu, tapi ternyata itu hanya candaan saja.” Kekeh Joe. Kay memilih tak mendebat Joe karena menurutnya Joe pasti lebih memahami bagaimana Nazeela. Ia juga tidak ingin ikut campur dengan hubungan kakaknya itu sekalipun ia mendukung hubungan Joe dengan Nazeela, tapi Joe juga sudah cukup dewasa untuk mengetahui apa yang terbaik untuknya. “Dengan siapa kau berbalas pesan?” tanya Joe saat melihat Kay segera meraih ponselnya begitu bergetar. Kay menyipitkan matanya menatap Joe, “Kau tidak perlu tahu. Ini urusan orang dewasa.” Ujarnya. Joe mendengkus, “Dasar anak kecil.” Ejeknya. *** Di sisi lain Hans dan Sabrina baru saja tiba di apartemen gadis itu dan Hans memilih menginap di sana karena ia sedang malas pulang. Hans bahkan bermanja-manja pada Sabrina dengan memeluk gadis itu jauh lebih mesra dibandingkan waktu-waktu sebelumnya. Hans mengecup bahu Sabrina dan mengusap perut gadis itu dengan sangat lembut hingga Sabrina menggeliat tak nyaman dan sedikit menjauh dari Hans. Ia memutar tubuhnya dan mendapati Hans sedang menatapnya dengan tatapan yang sulit ia artikan, tapi ia seolah mengerti arti tatapan itu. “Ada masalah?” tanya Sabrina. Hans menggelengkan kepalanya, lalu mendekati Sabrina dan memeluk gadis itu lagi, tapi Sabrina kembali menghindar dengan cara mendorong d**a Hans agar menjauh darinya, “Kau bisa menagtakan masalahmu padaku, Hans. Aku mungkin tidak bisa memberikan solusi atau menyelesaikannya, tapi aku harap dengan keterbukaan kita, kau sedikit merasa lega.” Ujarnya. Hans menghela nafas, lalu menatap Sabrina dengan lekat, “Bagaimana kalau kita ternyata tidak ditakdirkan bersama? Menurutmu apa yang akan kita lakukan?” tanyanya. Sabrina menggelengkan kepalanya, “Tentu saja kita harus memilih pasangan yang lain kan?” tanyanya meminta persetujuan. Hans menggelengkan kepalanya, “Aku tidak setuju.” Ujarnya menolak mentah-mentah pemikiran Sabrina yang seperti itu. Sabrina mengernyit dan menatap Hans dengan cukup lekat, “Kau sendiri? Apa yang akan kau lakukan kalau kita tidak ditakdirkan bersama?” “Kalau seandainya kau menikah dengan pria lain entah itu karena kesalahanku atau alasan yang lain, aku akan menunggumu sampai kau menjadi janda.” Ujar Hans. Sabrina memukul tubuh pria itu, “Itu tidak benar Hans. Sekarang kau bisa mengatakannya karena itu belum terjadi, tapi aku tidak yakin kalau kau akan benar-benar menungguku menjadi janda. Aku sendiri tidak ingin kembali pada barang bekas Hans. Sekali kita putus dan kau atau aku menikah dengan orang lain, maka tidak ada jalan kembali bagiku.” “Jadi kau akan menikah dengan pria lain?” tanya Hans. Sabrina mengangkat bahunya, “Mungkin. Aku juga tidak bisa menebak apa yang akan terjadi di masa depan. Sekarang aku hanya bisa berharap kalau kau yang akan menjadi suamiku nanti dan itu semua tergantung bagaimana hubungan kita.” Hans mengangguk mengerti, tapi helaan nafasnya sangat berat hingga membuat Sabrina meyakini bahwa ada sesuatu yang tidak beres terjadi pada pria itu. Ia sudah cukup mengenal dan memahami bagaimana Hans, jadi tidak butuh waktu lama baginya untuk peka jika pria itu sedang ada masalah. “Sa?” seru Hans dan menggenggam tangan Sabrina. Sabrina bergumam saja sebagai tanggapan. Tanpa aba-aba, Hans langsung bergerak ke atas tubuh Sabrina dan menindih tubuh gadis itu hingga Sabrina sendiri terkejut dan mengerjapkan mata melihat Hans berada di atasnya. Setelah mengerti, Sabrina menutup matanya dan menerima ciuman Hans yang penuh sensasi menyenangkan sekaligus menenangkan hati, tapi membuat sisi liarnya menjadi-jadi. Sabrina menahan daada Hans agar pria itu berhenti dan benar saja, Hans berhenti dan melepaskan ciumannya dengan Sabrina, lalu menatap gadis itu sangat lembut. Siapapun pasti akan terbuai dengan tatapan Hans yang saat ini. “Aku tidak ingin terburu-buru Hans. Aku ingin mengingatnya sebagai pengalaman yang romantis dan penuh kelembutan. Aku tidak akan menahanmu, jadi jangan terburu-buru supaya kita sama-sama menikmatinya.” Jelas Sabrina. Hans mengangguk dan kembali mencium Sabrin dengan lebih lembut dan perlahan. Tidak seburu-buru sebelumnya dan kini Sabrina jauh lebih menikmati keintimann mereka berdua. Ia bisa memahami bagaimana Hans mendamba dirinya dan sudah lama ingin melakukan ini, dan sepertinya mala mini Hans sangat-sangat kehilangan kendali atas dirinya sendiri, entah karena masalah yang sedang pria itu hadapi atau memang Hans tidak bisa lagi menahan untuk tidak menyerang Sabrina. Hubungan mereka mungkin sudah terlihat jauh dengan kegiatan tidur bersama, menginap di apartemen satu sama lain, tapi sebenarnya mereka belum sejauh itu dan ini pertama kalinya Sabrina menyadari bahwa Hans sangat-sangat normal sebagai pria dewasa. Biasanya Hans sangat mengontrol diri dan tidak ingin menyerang Sabrina sekalipun Sabrina sudah sering membuka peluang. Sabrina terkadang tidak mengerti dengan pola pikir Hans karena biasanya Sabrina sendiri tahu bagaimana gaya berpacaran orang dewasa, atau bahkan remaja di bawah mereka. Ia cukup salut karena selama ini Hans bisa mengendalikan dirinya untuk tidak menyerang Sabrina ke hubungan yang lebih intimm. “Sa, aku tidak akan membiarkan kita terpisah oleh apapun dan siapapun.” Ujar Hans membuat Sabrina sedikit bingung, tapi tidak mau ambil pusing dengan ucapan Hans karena Sabrina ingin menikmati sentuhan pria itu seutuhnya yang Sabrina yakin kalau nantinya ia akan selalu mendambakan sentuhan Hans yang seperti itu padanya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD