Tidak berbeda dengan Nazeela, Joe juga sempat uring-uringan selama beberapa hari setelah menyadari bahwa Nazeela sangat marah padanya. Ia merasa bersalah karena tak menyadari perasaan wanita itu dan malah memilih wanita lain dari masa sekolahnya. Akhir-akhir ini beban pikirannya semakin bertambah ketika ia mengunjungi apartemen Nazeela dan tak pernah ada sambutan apapun karena sang pemilik apartemen yang sedang pergi menenangkan dirinya.
Sosial media Nazeela yang biasanya aktif pun sudah tak lagi menunjukkan foto-foto wanita itu, padahal Joe benar-benar ingin tahu apakah sahabatnya itu baik-baik saja. Bahkan saat ia menyuruh Kay atau nomor Ela yang menelpon ponsel Nazeela, wanita itu tak juga mengangkat panggilannya. Kay bilang bahwa Nazeela memang tidak pernah lagi membalas pesannya sebulan belakangan ini dan mengabaikan telponnya karena masalah Joe itu.
Semua itu membuat Joe jatuh sakit, karena pikirannya yang juga terbebani dengan pekerjaan dan drama percintaan. Ini hari kedua ia terbaring lemah di tempat tidurnya dan membuat Ela dan Kay bergantian ke kamarnya untuk mengantar makan dan mengecek suhu tubuhnya.
Joe meletakkan ponselnya begitu menyadari ada yang masuk ke dalam kamarnya dan ternyata itu adalah ibunya. Ia sedikit mengubah posisi menjadi agak duduk dan menyandarkan kepalanya di bantal yang agak tinggi.
Ela duduk di pinggir ranjang Joe dan mengecek suhu tubuh pria itu dengan tangannya sambil mengatur letak nampan di atas meja samping tempat tidur Joe. “Kau ini sudah sakit masih saja bermain ponsel, tapi mengeluh sendiri kepalamu pusing karena melihat cahaya dari ponsel.”
“Aku hanya berusaha menghubungi Zee.”
“Sebenarnya ada masalah apa? Kenapa Zee sampai tidak mau mengangkat telpon dariku dan juga Kay?”
“Kay tahu alasannya. Apa dia tidak memberitahumu?”
“Tidak. Dia bilang ini urusan saudara laki-lakinya ini.” Ujar Ela sambil menepuk bahu Joe.
Joe membuang nafas kasar, “Aku hanya tidak mengerti bagaimana menceritakannya. Kay menganggapku bersalah atas hal ini dan aku yakin kalau kau juga tidak jauh berbeda dengannya.”
“Apa?”
“Aku menyatakan perasaan pada wanita lain dan Zee mendengarnya. Ia marah dan mengatakan bahwa ia menyukaiku. Aku jelas menolaknya karena memang hubungan kami tidak lebih dari seorang sahabat.”
Ela menganggukkan kepalanya, “Pantas saja dia sampai mengabaikan semua panggilan bahkan dari nomor asing sekalipun.” Ujarnya paham dengan perasaan Nazeela. Kemudian ia menepuk bahu putranya itu, “Aku pikir hubunganmu dengan Zee sudah sejauh itu, apalagi melihat kalian sangat dekat dan perhatian satu sama lain layaknya pasangan kekasih.”
Joe menatap ibunya sedikit terkejut mendengar kalimat ‘Aku pikir hubunganmu dengan Zee sudah sejauh itu’ dan kenyataannya memang sudah sejauh itu, meski tidak dalam suatu komitmen. Lantas ia menunduk dan berdecak, “Aku juga tidak menduga kalau ia benar-benar menyukaiku karena selama ini yang ia tunjukkan seperti candaan saja. Itu persis caranya menggoda teman-teman kuliah kami dulu.”
“Kau benar-benar tidak menyukai Zee sama sekali?” tanya Ela cukup penasaran. Untuk pertemanan sedekat Joe dan Nazeela, orang lain pasti tidak akan percaya jika mereka hanyalah teman biasa.
“Aku sempat menyukainya, kuakui itu, tapi karena aku tahu bagaimana ia menggoda pria lain, aku jadi merasa bahwa ia juga hanya bermain-main saja denganku. Aku menyukai wanita lain.”
“Makanlah dan minum obatmu, supaya kau cepat sembuh.” Ujar Ela.
“Apa kau marah karena aku dan Zee tidak bersama, Bu?”
Ela menggelengkan kepalanya, “Aku tidak marah, hanya saja aku tidak menyangka kalau kau bisa menyukai wanita lain saat kau saja terlihat lebih banyak menghabiskan waktu dengan Zee. Kau sudah dewasa, Joe, jadi kau pasti tahu mana yang terbaik untukmu.” Jelasnya.
Joe sedikit lega, setidaknya ia tidak dimusuhi oleh ibunya sendiri, seperti Kay memusuhinya setelah tahu ia menyukai wanita lain dan menolak Nazeela. Sepertinya Nazeela sudah memiliki supporter setia di rumahnya dan itu adalah adiknya sendiri.
Ketika Ela ingin pergi dan Joe sedang mengubah posisinya untuk duduk sepenuhnya, ia dikejutkan dengan Ela yang tiba-tiba kembali duduk di ranjang dan menepuk bahunya untuk kesekian kalinya, “Kau benar-benar tidak memiliki perasaan khusus untuk Zee, Joe? Aku merasa bahwa kau mungkin hanya sedikit linglung melihat wanita lain, lalu berpikir bahwa kau menyukainya bukan Zee.”
Joe mengusap dadanya, “Aku benar-benar menyukainya, Bu. Namanya Sabrina, dia adalah teman semasa sekolahku dulu.” Ujarnya meyakinkan.
“Ya sudah kalau begitu.” Angguk Ela dan kali ini dia benar-benar pergi dari kamar Joe.
***
“Kalian selalu saja memaksaku bertemu setiap kali kalian ada waktu, sementara saat aku yang mengajak, kalian tidak pernah ada kesempatan.” Desis Nazeela ketika ia tiba di meja restoran tempat 2 sahabatnya bertemu. Tadi ia tiba-tiba mendapat pesan bahwa mereka akan bertemu di restoran dekat apartemen Nazeela dan memaksa wanita itu untuk datang.
Nazeela sebenarnya tidak ingin bertemu dengan mereka, tapi 2 wanita itu adalah penyerang yang tak bisa ditolak. Mereka langsung menjudge Nazeela tidak setia kawan dan sok sibuk dengan alasannya, maka akhirnya Nazeela datang walaupun enggan dan sangat terpaksa. Siapa tahu saja bercerita dengan 2 sahabatnya itu bisa membuka pikirannya, pikirnya ketika menerima ajakan Zayya dan Nahla.
“Hei girl, jangan meributkan sesuatu yang tidak penting. Pesan minum mu, pergilah.”
“Alkohol di siang hari?” tawar Nazeela.
Nahla mencibir, “Oh itu tidak lucu sama sekali. Kita bisa pergi ke kelab nanti malam.” Ujarnya sambil menaikkan sebelah alisnya dengan sombong.
“Baiklah, nona muda.” Cibir Nazeela. Nahla memang benar-benar tidak bisa ditolak.
Selagi menunggu pesanan datang, Nazeela kembali ke kursinya dan ikut mendengarkan pembicaraan mereka tentang Hans. Entah nyawa Nazeela masih ketinggalan separuh di apartemennya, atau mungkin ia memang sangat lemot hari ini. Ia tidak mengerti apapun yang Zayya dan Nahla bahas.
“Apa apa? Bagaimana ceritanya?” tanyanya.
Zayya menatap Nazeela dengan sedikit pelototan, “Astaga Zee, ini sebabnya kukatakan jangan terlalu sering memikirkan Joe, otakmu jadi lambat.” Ejeknya.
“Sudahlah, tidak usah membahas Joe. Bahas Hans saja.”
“Hans akan bertunangan 2 bulan lagi.”
“Dengan siapa?” tanya Nazeela.
“Tadi kan sudah kukatakan dengan anak pengusaha yang perusahaannya bergerak di bidang teknologi itu. Wow, itu perusahaan impian Zayya.” Ujar Nahla.
“Dari mana kalian tahu?”
“Gosipnya menyebar di kantor. Orang-orang membicarakan mereka karena sama-sama perusahaan besar dan mungkin saja akan bekerja sama.”
“Bukannya Hans memiliki kekasih?” tanya Nazeela mengingat Sabrina.
“Ah iya, wanita itu kasihan sekali. Aku dengar orang tua Hans mempermalukannya ketika acara anniversary pernikahan.”
Nazeela membuang nafas kasar, “Tidak perlu dikasihani. Kalian seharusnya mengasihaniku, bukan wanita itu.” ujarnya pada kedua sahabatnya.
“Kenapa? Terjadi sesuatu padamu?”
“Wanita itu tidak akan merasa begitu kehilangan karena dia mungkin akan menikah dengan Joe.”
“Joe? Kenapa? Lalu bagaimana denganmu? Kau dengan siapa?” tanya Zayya meninggikan suaranya hingga beberapa orang melihat mereka dan mencibir keributan yang ditimbulkan.
“Joe menyukainya dan mencampakkanku. Terlihat menyedihkan, tapi aku sudah bisa menenangkan diri. Lagi pula di dunia ini bukan hanya dia pria satu-satunya. Dia bahkan tidak memiliki kelebihan apapun yang sangat berarti untuk dibanggakan.” Ujar Nazeela berusaha menyebutkan hal buruk tentang Joe agar dirinya bisa membenci pria itu.
Nahla menatap Nazeela, “Tapi sepertinya kau terlihat lebih menyedihkan karena mengutuknya seperti itu. Matamu jelas menunjukkan kalau kau akan menangis sebentar lagi.” ejeknya.
Nazeela menggelengkan kepalanya. “Aku tidak akan menangis.”
“Kau ini menyedihkan sekali, Zee. Bukankah hubunganmu sudah sejauh itu dengan Joe?” tanya Nahla.
Zayya mengangguk, “Iya, kalian pasti sudah pernah tidur bersama kan? Tidak mungkin tidak melihat bagaimana kalian sangat dekat dan betapa menempelnya dirimu padanya.”
Nazeela menggeleng ragu, lalu berdecak dan menganggukkan kepalanya, “Aku tidak bisa menahan diri.”
Zayya menganga tak percaya dan memukul kepala Nazeela, “Kau ini wanita, di mana harga dirimu? Kenapa jadi kau yang tidak bisa menahan diri. Dasar bodoh.”
“Iya, itu kesalahanku, aku mengakuinya, tapi aku tidak menyesal.” Ujar Nazeela dengan suara merendah di ujung kalimatnya karena tahu kalau Zayya akan memakinya.
“Wah, kau benar-benar murahann. Kau---astaga siall.” Maki Zayya sambil memijat kepalanya yang tiba-tiba berdenyut.
“Bagaimana kalau kau berpura-pura hamil dan mengaku pada Joe. Dia mungkin akan menikahimu. Lagipula kau cukup dekat kan dengan keluarganya, mereka pasti mendukungmu.” Ujar Nahla tiba-tiba mengejutkan Nazeela dan Zayya.
“Kau gila.” Spontan Nazeela dan Zayya mengatakan itu secara bersamaan.
“Kenapa? Kau bisa mencobanya terlebih dahulu.”
“Lalu bagaimana kalau Joe mengajakku memeriksakan perutku yang ternyata isinya lemak?” tanya Nazeela.
“Itu mudah, kau ajak saja dia ke rumah sakit kenalan orang tuamu. Minta mereka memanipulasi hasilnya dengan milik orang lain.”
“Itu kebodohan yang bisa membuatku berada di jeruji besi. Kau pikir siapa yang akan membantuku untuk ide gila seperti itu?”
“Ya sudah kalau kau tidak mau mencobanya. Aku hanya memberikan saran saja.” Ujar Nahla pasrah.
Nazeela bimbang antara menyetujui ide gila itu atau tetap dengan pendiriannya yang menganggap ide itu gila dan tak layak dicoba, tapi ia merasa ide itu sedikit akan membantunya untuk mendapatkan Joe meski dengan cara yang tidak baik. Ia tidak masalah, tapi nantinya orang lain mungkin akan mendapat masalah karenanya. Itu yang tidak ia inginkan. Apalagi jika sampai orang tuanya tahu rencana bodoh itu. bisa mati ia.
“Aku tahu kepalamu memikirkan rencana gila itu, Zee.” Ejek Zayya, “Tapi harus kuperingatkan kalau itu berbahaya. Itu mengorbankan pekerjaan orang lain.”
“Lalu aku harus bagaimana?”
“Sudahlah. Joe bukan satu-satunya laki-laki di negara ini. Kau bahkan bisa mencari lelaki lain di negara orang, kenapa merepotkan diri dengan membuat air mata dan membuat ide gila.”
“Kau tidak mengerti rasanya sangat mencintainya sampai tidak rela membiarkannya menikah dengan orang lain, Za.”
“Kau juga tidak mengerti betapa murahannya dirimu sekarang sampai memikirkan ide gila untuk mendapatkan Joe. Setidaknya jangan menunjukkannya di depanku.”
“Sudahlah, Zee, tidak usah memikirkan ucapan Zayya. Dia hanya jomlo yang tidak mengerti alur percintaan. Kau harus melakukan caraku.” Dukung Nahla.
“Kenapa aku merasa sedang dihasut malaikat dan iblis secara bersamaan.” Ujar Nazeela dan menatap Nahla dengan sedikit sinis.