Tiga Puluh Tiga

1414 Words
Hubungan Sabrina dan Hans benar-benar merenggang karena Sabrina mengabaikan usaha Hans untuk membuat Sabrina berbicara padanya. Sabrina tahu bahwa ia kekanakan, tapi tidak ingin bertemu dengan Hans. Ia malu dan kehilangan harga diri di hadapan pria itu dan keluarganya. Selain itu, ia juga ingin mengobati hati dan mentalnya yang kembali terluka karena ibu Hans dan Kyle. Perkataan mereka waktu itu masih sering terngiang-ngiang di kepala Sabrina dan membuat mimpi buruk bagi wanita itu. Ini sungguh, Sabrina tidak berusaha membuat semuanya tampak berlebihan, tapi ia benar-benar merasa terganggu dengan bisikan-bisikan jahat di telinganya. Semua orang seolah sedang menghinanya. Bahkan seminggu sejak kejadian itu, Sabrina merasa semua orang di kantor menatapnya dengan pandangan menghina dan mencemooh. Mental Sabrina benar-benar terganggu hingga ia memilih mengundurkan diri dari kantor dan kembali mengunjungi psikiaternya untuk meminta obat demi mengatasi stressnya. Psikiaternya sudah berusaha menangani gangguan mental pada Sabrina, tapi ia bahkan tidak bisa mengubah pola pikir wanita itu hingga akhirnya memberikan obat untuk Sabrina konsumsi sebagai penenang. Kalau bukan karena bantuan obat itu, Sabrina mungkin tidak akan keluar dari apartemennya untuk berbelanja kebutuhan pokoknya. Ia merasa beruntung dengan bantuan obatnya, meski terkadang Sabrina panik berlebihan dan tanpa sadar meminum 2 sampai 3 pil sekali minum. Malam ini Sabrina memilih kembali mengurung diri di kamar ketika mendengar teriakan memanggil namanya dari luar kamar dan itu adalah suara Hans. Pria itu tak juga menyerah untuk membuat Sabrina menemuinya, tapi usahanya tak juga berhasil, kecuali saat Sabrina masih bekerja waktu itu. Tidak hanya Hans, Joe juga datang ke apartemen wanita itu dan sering meminta Sabrina untuk bertemu. Tentunya wanita itu juga menolak karena ia tidak ingin membuat Hans lebih kecewa lagi jika sampai ia menemui Joe tapi tidak memberikan kesempatan sama sekali kepada pria itu. di saat seperti itu, yang paling berat bagi Sabrina adalah dirinya yang kesepian dan tidak memiliki teman untuk dijadikan tempat bersandar. Untuk bersandar pada Hans, ia malah merasa rendah diri dan takut pria itu akan mencemoohnya jika melihat bagaimana wajah buruk rupa Sabrina sebelum menjalani operasi plastik. Sabrina sempat berpikir untuk mengoperasi dirinya lagi, tapi sialnya ia tidak memiliki tabungan sebanyak itu, Kalau dulu ia bisa melakukannya karena orang tuanya memberinya suntikan dana, tapi dengan pilihan Sabrina harus keluar dari rumah mereka dan wanita itu menurutinya. “Sabrina.” Teriak Hans lagi, Ia sudah mulai lelah karena tubuhnya sendiri kekurangan asupan makan beberapa hari ini. Ia merasa bersalah atas apa yang terjadi pada Sabrina hingga wanita itu menghindarinya seperti ini. Ia merasa bersalah atas ucapan ibunya yang pastinya sangat menyakiti Sabrina. Sabrina bukan tipe orang yang ingin dibujuk-bujuk, meskipun marah atau Hans yang melakukan kesalahan berat, ia tidak pernah semarah ini dan menghindari Hans sekejam ini, tapi kali ini wanita itu benar-benar menghukumnya dengan cara yang paling berat bagi Hans. “SABRINA.” Hans lagi-lagi meninggikan suaranya. Sabrina bisa mendengar ada keributan selain suara Hans di luar pintu apartemennya hingga ia datang dan mengintip. Ia melihat Hans berdebat dengan tetangga kamarnya yang pastinya sangat terganggu dengan kehadiran dan keributan yang Hans ciptakan akhir-akhir ini. Sabrina dilema, bingung antara ingin membuka pintu dan membiarkan Hans masuk, atau justru membiarkan pria itu terus bertengkar dengan tetangga apartemennya. Dengan keputusan yang cukup berat, Sabrina akhirnya memilih membuka pintu apartemennya dan mengehentikan pertengkaran yang terjadi. Tetangga apartemennya juga marah kepadanya karena membiarkan Hans menciptakan keributan dan ia dapat memaklumi hal itu karena memang Hans sangat mengganggu di gedung itu. “Kenapa?” tanya Sabrina menatap pria itu sejenak, setelah itu ia membuang pandangan. Hans juga menatap Sabrina dan memperhatikan wanitanya itu sebaik-baiknya. Ia tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk bisa melihat Sabrina setelah berusaha bertemu dan baru kali ini berhasil. Ia melihat tubuh Sabrina yang semakin kurus hanya dalam waktu sebulan saja dan melihat wajah pucat serta rambut yang agak berantakan. Semuanya menjelaskan bagaimana keadaan wanita itu sekarang. “Kalau nggak ada kepentingan apapun, akum au masuk.” Ujar Sabrina, masuk ke dalam apartemennya dan berniat menutup pintu. Hans yang sudah membaca pergerakan itu, dengan cepat mendorong pintu agar terbuka lebar dan masuk paksa serta mencium bibir Sabrina untuk menyalurkan kerinduannya. Sabrina berusaha mendorong pria itu, tapi tenaganya lemah bersama dengan air mata yang menetes dan rasa rindu menggebu-gebu yang kini menguap begitu saja karena ia sudah bertemu dengan Hans. Walau memutuskan hubungan dengan Hans, tetap saja bagi Sabrina pria itu adalah satu-satunya sandaran yang ia miliki untuk meringankan bebannya. Ia tidak punya bahu lain untuk bersandar, telinga lain untuk mendengar, bibir lain untuk menasihati dan hati lain yang dengan tabah menerima keluhannya selain Hans, meski ia tidak sepenuhnya terbuka pada pria itu. Untuk beberapa hal, keberadaan Hans benar-benar berarti dan mengubah makna hidupnya. Sabrina tidak akan memungkiri fakta itu. Hans menarik diri dan menangkup wajah Sabrina, “Apa aku melakukan kesalahan? Apa aku tidak bisa dimaafkan?” tanyanya. Sabrina menunduk dan menghindari tatapan Hans karena menatap pria itu hanya akan membuatnya merasa lebih lemah dan cengeng. Ia tidak ingin seperti itu. Ia ingin menguatkan diri bahkan tanpa keberadaan Hans di sisinya. Ia ingin menjadi wanita tegar yang bisa mengandalkan dirinya sendiri, bukan orang lain. Lagipula selama ini ia juga tidak mengandalkan siapapun ketika dirinya dihina dan dijatuhkan oleh teman-temannya. Hans mengangkat dagu wanita itu, “Jawab aku Sa? Apa aku tidak bisa dimaafkan atas kesalahanku?” tanyanya. Sabrina menepis tangan Hans, “Aku hanya butuh waktu sendiri, Hans. Tolong pahamilah.” “Sampai kapan, Sa? Tentukan waktunya, lalu aku akan membiarkanmu menenangkan diri jika memang itu yang kau butuhkan. Aku tidak akan memaksakan kehendakku lagi jika kau bisa menyebutkan sampai kapan kau akan menghukumku dengan cara seperti ini.” “Hans.” Lirik Sabrina sangat pelan. Air matanya kembali menetes, “Aku malu bertemu denganmu.” “Untuk apa?” “Aku---dan wajah ini palsu. Aku malu dengan wajahku di masa lalu dan memilih melakukan operasi plastik. Aku tidak secantik ini dulu.” Hans menggelengkan kepalanya, “Sekarangpun kau tidak cantik, Sa, jangan kepedean.” Ujarnya membuat suasana tegang agar mencair. “Aku sungguh Hans. Kau akan malu dan merasa ilfeel melihat wajahku di masa lalu. Semua orang menghinaku karena itu dan Kyle ada di masa laluku juga. Itu memberatkan untukku.” Hans menarik Sabrina untuk masuk ke dalam pelukannya dan mengusap bahu wanita itu, “Apapun alasannya, aku tidak akan meninggalkanmu Sa, kecuali perselingkuhan.” “Aku tidak akan selingkuh, tapi ini masalah mentalku Hans. Kau tidak akan bisa mengatasi diriku ketika sedang mengalami stress berat, depresi, marah dan menangis secara bersamaan. Aku tidak bisa mengontrol diriku belakangan ini dan menghancurkan semua yang ada di sekitarku.” “Kita bisa membawanya ke Psikiater.” Sabrina tersenyum kecut, “Aku selalu mengunjungi psikiater bahkan sebelum kita bersama hingga saat ini, Hans. Aku selalu makan beberapa pil untuk menenangkan diriku di hadapan banyak orang, terlebih lagi belakangan ini.” “Kau baik-baik saja?” tanya Hans sangat khawatir. Sabrina menggelengkan kepalanya dengan mata yang lemah, “Aku tidak perna baik-baik saja belakangan ini. Aku ingin menghilang dari dunia ini, Hans. Aku ingin melenyapkan diriku sendiri karena aku tidak bisa melenyapkan semua bayangan yang ada di kepalaku dan membuatku semakin depresi. Aku melihat benda-benda di ruangan ini mengutuk diriku sendiri.” aku Sabrina sambil menangis sangat lirih dan membuat Hans ikut larut dalam kesedihan itu. Ia benar-benar tidak tega melihat kekasihnya semenderita itu karena ulah ibu dan Kyle. Ia tidak pernah melihat Sabrina yang selemah dan serapuh itu apapun keadaannya dan ternyata selama ini wanita itu menyembunyikan gangguan mentalnya dari Hans tanpa pria itu ketahui. Itu cukup mengejutkan untuknya dan kini ia sadar bahwa Sabrina memang sering mengkonsumi obat dengan mengatakan bahwa itu vitamin untuk menyehatkan tubuhnya. Saat itu Hans percaya saja karena memang Sabrina tidak pernah menunjukkan gejalan ketakutan berlebih seperti akhir-akhir ini. Ia tidak menduga bahwa kejadiannya akan separah ini dan benar-benar menakutkan bagi Sabrina. Ia juga tidak bisa mengubah apapun karena ibunya sudah telanjur mengungkapkan hal yang menyakitkan bagi Sabrina dan merusakk mental wanita itu kembali. “Lebih baik kita berpisah, Hans. Aku masih terus memikirkan ucapan ibumu ketika melihatmu. Itu membuatku sakit hati dan ucapan ibumu jadi terngiang-ngiang.” Aku Sabrina dan memang itulah keadaannya. Itu sebabnya ia menghindari Hans sebulan ini. “Tapi Sa.” “Rasanya sangat sakit, Hans. Aku benar-benar minta tolong padamu. Aku membutuhkan kehadiranmu, tapi itu menyakitkan bagiku. Aku takut.” Aku Sabrina. Wanita itu memasuki kamarnya dengan d**a yang terasa sesak. Ia menghampiri meja riasnya dan mengambil obat yang biasa ia konsumi dari laci, lalu meneguknya dengan segelas air putih. 15 kemudian barulah ia merasa tenang dan bisa membaringkan dirinya di atas tempat tidur.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD