"Ayaaah!"
Iris kelam Demon lekas tertuju pada bocah laki-laki yang masih memakai seragam sekolah, bocah itu berteriak sambil melambaikan tangan. Erry sudah selesai memakai peralatan keamanan dan bersiap untuk bermain di arena bungee jumping.
Demon menghela napas cukup keras, tangannya bergerak kaku untuk membalas lambaian tangan anak lelakinya tersebut. Mulut yang terkatup rapat mengindikasikan kalau dia sedang menahan perasaan kesal dan khawatir.
Bagaimana ia harus mengatakannya?
Walaupun permainan tersebut memiliki staf ahli yang akan memberikan pendampingan dan juga peralatan yang terbilang safety, tetap saja perasaan Demon tidak tenang. Sialnya, Erry tidak mau mendengarkan dan tetap memaksa ingin main permainan itu.
"Lera benar-benar membuatku sakit kepala!" keluh Demon sambil memijat pangkal hidungnya yang mulai berkedut nyeri.
Setelah sekian lama, dia baru sadar bahwa menitipkan Erry kepada Lera bukanlah pilihan yang bagus. Gadis itu terlalu membebaskan Erry, menyetujui apapun yang anak itu mau asal kegiatannya di Salon tidak diusik, selain itu Demon juga yakin Lera sudah mengajari anak lelakinya itu untuk merengek kalau kemauannya tidak dituruti.
"Kenapa Anda tidak menyewa seorang pengasuh?"
Demon mengerutkan kening, ia menatap Lucas yang berdiri di sisi kursi dengan tatapan serius.
"Apa aku harus?"
Lucas membersihkan tenggorokannya sebelum kembali berargumen. "Itu hanya saran, jika menitipkan tuan muda pada Nona Lera tidak begitu membantu, lebih baik merekrut seorang pengasuh dari lembaga terpercaya."
Mempekerjakan seorang pengasuh adalah ide yang cukup bagus. Demon tahu beberapa lembaga pengasuh yang terpercaya dan terbilang kompeten. Tidak sulit baginya merekrut satu atau dua orang pengasuh untuk menjaga Erry.
Tapi masalahnya ada pada putranya, Erry sulit menerima orang baru. Bahkan dia cenderung tidak mau menerima orang luar untuk berada di dekatnya, terkecuali Lucas yang sudah dikenalnya sejak dia masih balita.
Dia tidak tahu apa alasan Erry tidak menyukai orang luar selain keluarga. Beberapa kali ia bertanya namun anak itu hanya bungkam. Mungkin ini ada kaitannya dengan kejadian dua tahun lalu.
Pekerjaan yang tidak dapat Demon tinggalkan saat itu, dan posisi Lucas yang tidak ikut bersama mereka membuatnya memutuskan untuk menitipkan Erry pada salah satu kenalannya. Tidak ada hal yang aneh apalagi patut dicurigai karena dia sama sekali tidak menemukan luka apapun di tubuh anak lelakinya, tapi anehnya Erry tidak berhenti menangis saat ia datang menjemputnya.
"Sepertinya itu akan sulit." responnya setelah menimbang berbagai hal.
Lucas mengangguk setuju, "Saya pikir juga begitu."
"Bagaimana kalau kau pindah ke rumah kami dan bekerja sebagai pengasuh Erry diluar jam kantor?"
"Apa? Anda bercanda kan?"
"Tidak tuh, aku benar-benar menawarkan pekerjaan tambahan tersebut."
Lucas memberikan tatapan protes ketika memikirkan kembali kata-kata yang baru saja keluar dari mulut bosnya tersebut. Dia kemudian menggelengkan kepala kuat-kuat.
Itu ide yang teramat sangat buruk, bekerja melayani saru orang saja sudah membuatnya kewalahan, apalagi jika harus mengurus bos kecil juga. Lucas tidak bisa membayangkan kehidupannya akan berubah seperti robot.
"Gaji dari hasil bekerja normal di kantor lebih dari cukup untuk menunjang kehidupan sehari-hari. Jadi ... saya rasa tawaran tersebut tidak dapat saya ambil." tolaknya dengan halus.
Demon berdecak, dia sudah menebak jawaban yang akan Lucas berikan atas tawarannya tersebut.
"Kalau begitu bantu pikirkan solusinya." Dia kembali mengeluh, tidak mau dibuat pusing sendirian.
Lucas terdiam. Sebenarnya ada satu hal yang sudah cukup lama dia pikirkan. Tapi apakah ia harus mengutarakan ide yang jelas selalu mendapatkan penolakan itu?
"Menikah." Satu kata itu akhirnya meluncur bebas dari mulut Lucas.
Tidak ada respon, namun melihat bagaimana reaksi tubuh bosnya yang menegang, tangan yang terkepal dan juga bibir yang mengatup rapat itu sudah cukup menjadi jawaban tanpa kata.
Kepingan kaca yang masih berserakan tentu akan membuat luka baru setiap harinya dan membuat luka lama semakin parah. Tapi sialnya dia tidak mau membersihkan kaca-kaca itu lalu membuangnya jauh. Ya, begitulah perumpamaan kehidupan seorang Demon Estanbelt yang terkenal dingin dan kejam diluar sana.
"Itu cukup riskan."
Lucas tersentak kaget. Dia tidak menyangka kalau pria itu akan memberikan respon atas idenya.
"Terlalu banyak wanita manipulatif di luar sana. Aku tidak bisa menikahi sembarang wanita karena ini bukan hanya tentang kehidupan ku saja. Bagaimana kalau wanita itu tidak bisa menerima Erry? Lalu disaat aku tidak ada, bagaimana kalau dia melukai anak itu?"
Bukankah dia berpikir terlalu jauh?
Demon tahu kalau dirinya terlalu over thinking. Tapi demi menjaga keselamatan Erry, dia akan sangat berhati-hati dalam hal apapun. Itulah satu alasan kenapa ia selalu menolak perjodohan yang dibuat oleh sang Nenek.
"Ayah! Ayah!"
Suara melengking Erry membuat Demon kembali fokus. Iris gelapnya lekas menatap si kecil yang sudah berdiri di hadapannya.
"Apa Ayah lihat?"
"Apa?"
"Saat aku meloncat tinggi dan membuat gerakan memutar!" bocah itu kembali berceloteh dengan antusias, sorot matanya begitu hidup dan senyum di bibirnya masih bertahan di sana. "Ayah lihat tidak?"
Demon mengusap rambut hitam anak lelakinya gemas. "Iya, Ayah lihat. Kau sangat keren saat melakukannya tadi."
"Ya, kan?" Erry menggumam dengan perasaan bangga. "Lain kali aku akan mengajak tante Lera ke sini, aku yakin tante Lera tidak akan bisa melakukan seperti yang aku lakukan tadi."
"Kau akan kembali ke sini? Dengan Lera?"
"Ya, Ayah!" jawabnya bersemangat, "tante Lera sering mengejek Erry tidak berani naik itu. Sebenarnya bukan karena tidak berani, Erry hanya takut Ayah marah. Tapi sekarang Ayah kan sudah tahu, jadi tidak masalah."
Tidak masalah apanya!
Demon merasakan jantungnya nyaris copot setiap kali melihat Erry meloncat terlalu tinggi dan membuat gerakan yang cukup ekstrim. Dia takut pengaitnya putus dan Erry akan jatuh dari ketinggian.
"Ayah, bukankah 3 hari lagi Tante Lera ulang tahun?" Demon mengangguk sebagai jawaban, "kalau begitu apakah aku boleh membeli hadiah untuk Tante Lera, Ayah?"
"Tentu saja. Kau ingin membeli apa untuknya?"
Bocah itu sedikit berpikir, telunjuk mungilnya diletakkan di pelipis dan bibir kecilnya setengah mengerut. Sepertinya anak itu membutuhkan waktu sedikit lebih lama untuk memutuskan apa yang akan dia beli untuk tante kesayangannya.
"Aku tahu apa yang harus aku beli!"
"Kau sudah membuat keputusan?"
Anggukan kepala yang berulang secara konstan dan binar mata yang begitu antusias membuat Demon menebak-nebak kado apa yang akan putra kecilnya berikan untuk Lera.
"Erry, perhatikan langkahmu!"
Anak lelaki itu sedikit berlari, kepalanya sedang menatap satu per satu toko yang ada di sekitar.
"Apa yang sedang kau cari?"
"Toko tas."
Demon berkedip, "Toko apa?"
"Toko tas, Ayah!"
"Kenapa harus tas?"
"Tante Lera pernah mengatakan kalau tas yang dia punya hanya ada satu, dia malu pergi ke sekolah karena tasnya tidak pernah ganti.
Beberapa minggu lalu aku pernah melihat Tante Lera menatap sebuah tas pada salah satu toko yang ada di sini. Sepertinya tante Lera sangat menginginkan tas itu, tapi karena dia tidak punya uang makanya dia tidak beli."
Demon mengatupkan mulutnya namun dalam hatinya dia tengah mengumpat keras. Lagi, Lera membuat suatu kebohongan, membuat cerita penuh omong kosong pada anak kecil yang begitu polos.
Walaupun tas yang dipakai Lera hanya itu-itu saja, orang lain tidak akan mengoloknya karena mereka tahu brand apa dan berapa harga tas yang dipakainya.
Erry berhenti, dia menatap Demon dengan binar mata seperti anak kucing yang baru lahir. Bibirnya sedikit bergetar. "Ayah, apakah aku boleh membeli tas untuk Tante Lera?"
'Lera sialan!' umpatnya dalam hati. 'Bagaimana bisa gadis itu mencuci otak Erry agar selalu berpihak adanya?'
Lera jelas tahu kelemahannya. Tatapan seperti anak kucing yang baru lahir itu, dan rengekan yang tidak pernah bisa ia tolak. Lera tentu saja akan menggunakan Erry sebaik mungkin untuk mengabulkan semua keinginannya.
Saat Demon hendak menghampiri Erry, sudut matanya menangkap siluet seseorang yang familier.
Lihat siapa yang ia temukan di sini? Rambut panjang yang digelung dengan simpel, leher jenjang yang bersih dan tubuh ramping yang dibalut gaun mahal.
Siapa yang sedang dia tunggu hingga berdandan secantik itu? Tidak, tepatnya pria mana yang akan menjadi mangsanya untuk bertahan hidup?
Wajah sok polos itu entah mengapa membuatnya merasa kesal.
"Erry, bagaimana kalau kita makan lebih dulu sebelum mencari tas untuk Lera?" ajak Demon.
"Ya, Ayah, aku juga sudah lapar!" sahut bocah itu, iris pekatnya sedikit menyipit. "Tapi Ayah harus janji setelah makan akan menemaniku membeli tas untuk tante Lera!"
"Tentu saja, jagoan."