Bab 11 : Kencan?

1207 Words
Demon bersandar pada badan mobil yang beberapa menit lalu ia parkir di halaman depan sekolah. Ini sudah waktunya Erry pulang, anak itu pasti akan terkejut melihat siapa yang menjemputnya hari ini. Belakangan ini dia memang sangat sibuk sehingga tidak memiliki waktu luang untuk sekedar menjemputnya, lebih sering Lucas atau meminta Lera untuk mengantar atau menjemput Erry sekolah. Bukan hanya itu, ia juga sudah lama tidak mengajak anak lelakinya main karena setiap dia sampai di rumah, anak itu sudah tidur. Dia bersyukur karena pekerjaan hari ini lebih cepat diselesaikan, rapat juga ada yang dipindahkan ke hari lain karena satu dan lain hal. Selain itu masalah Lera saat ini sudah beres, tinggal menunggu perintah eksekusi dari Nyonya besar Estan. "Ayah?" suara yang tidak begitu antusias mengetuk telinga Demon, pria itu lekas menegakkan tubuhnya lalu melambaikan tangan ke arah bocah lelaki yang baru saja keluar dari pintu utama gedung sekolah. "Apa yang Ayah lakukan di sini?" tanya bocah itu setelah sampai di hadapannya. Demon menyunggingkan senyum seraya mengacak rambut hitam Erry, "Menjemputmu, memangnya mau apa lagi?" jawabnya kemudian mengangkat tubuh Erry untuk digendongnya. "Kau tidak senang?" Erry mengerucutkan bibirnya. "Senang, tapi rasanya aneh." "Aneh?" Bocah itu mengangguk, "Iya, karena biasanya Paman Lucas atau Tante Lera yang datang menjemput ku." Demon meringis, dia meletakkan tangan di d4da setelah mendengar ocehan polos namun menohok itu. Mau beralasan bagaimanapun tidak akan membuatnya merasa benar di mata anak lelakinya itu. Menjadi single Daddy ternyata tidak semudah yang ia bayangkan. Terlebih saat Erry mulai masuk sekolah, rasanya sangat sulit untuk mengatur pekerjaan dan mengatur kehidupannya sebagai orang tua dalam satu waktu. Namun begitu, Demon selalu mencoba yang terbaik untuk keduanya. Dan beruntungnya, Erry bukanlah anak yang rewel. Dia sangat pengertian, dia tidak pernah memprotes dan merengek seperti anak kebanyakan di usianya. "Maaf, Ayah benar-benar minta maaf karena akhir-akhir ini sangat sibuk." Erry menggembungkan pipinya, dia menatap sang Ayah dengan tatapan kesal namun secara bersamaan ia juga senang. Dijemput oleh paman Lucas maupun tante Lera memang tidak masalah, namun saat dijemput langsung oleh Ayah sendiri rasanya lebih menyenangkan. "Oke, tapi ada syaratnya." Wah, Demon berdecak tak percaya. Sejak Erry sering main dan dititipkan pada Lera, anak lelaki itu jadi ketularan sifat gadis itu. Sebelumnya Erry tidak pernah begitu, mana mengerti dia tentang hal-hal seperti meminta syarat. "Baiklah, apa syaratnya?" "Aku mau Ayah menemaniku main sampai sore, di fun world!" Binar di kedua mata anak lelaki itu sangat teramat sulit untuk ditolaknya. "Hanya itu?" tanyanya kemudian. "Apa boleh minta yang lain?" Erry bertanya antusias. "Tentu saja, boy!" Demon membuka pintu penumpang, ia mendudukkan Erry di sana, memasang seat belt untuk anaknya tersebut sebelum menutup pintunya kembali lalu ia bergegas pergi menuju bangku kemudi. . . . Chika mematut dirinya di depan kaca besar di sudut kamar Lera. Dress berwarna creamy milik Lera terlihat pas di tubuhnya, tidak kebesaran maupun kekecilan. Sebenarnya Chika sudah menolak untuk memakai pakaian itu karena ... pakaian tersebut adalah pakaian bermerek dan harganya sangat mahal. Chika merasa tidak pantas dan dia tidak mau mengambil resiko besar seperti ... dress-nya jadi kusut atau bahkan terkena tumpahan makanan dan minuman. Chika sudah cukup pusing memikirkan hutang-hutangnya yang selangit, ia tidak mau menambah beban pikiran karena dress menyebalkan itu. Tetapi, Lera tidak mau mendengarkan ocehannya. Gadis itu tetap memaksanya untuk mengenakan salah satu pakaiannya di lemari, pilihannya jatuh pada dress berwarna creamy tersebut. Lera bilang, persetan dengan harga dress itu, ia bahkan bisa membelinya kembali kalau-kalau itu rusak. Dia hanya tidak mau sahabatnya terlihat menyedihkan di depan kekasihnya. "Apa ini tidak terlihat berlebihan, Le?" Chika bertanya tidak yakin, ia beberapa kali menatap pantulan dirinya sambil berputar pelan. Lera memutar bola matanya, "Katakan padaku kalau ada orang yang mengejek mu jelek, aku akan merobek mulutnya yang sudah bicara sembarangan!" ocehnya bersungguh-sungguh. "Kemari, aku akan merapikan rambutmu dan sedikit memberikan sentuhan make up di wajahmu." perintahnya sambil menepuk-nepuk bangku di meja rias. Chika menggeleng, dia jelas memberikan penolakan. Penampilannya saat ini sudah terlihat glamor, dia tidak mau terlihat makin berlebihan dengan riasan wajah. "Tidak perlu, ini hanya makan siang biasa dengan Nate." Dia hampir tidak pernah berdandan saat di rumah maupun saat pergi ke kampus, jadi rasanya sedikit malu kalau tiba-tiba saja dia melakukan hal itu. Lera mengerang, dia lekas menarik lengan Chika kemudian mendudukkannya di kursi rias. "Justru karena ini momen penting, makanya aku ingin sedikit memberikan kesan yang berbeda. Aku yakin Nate tidak akan bisa menutup mulutnya saat melihat kekasihnya yang amat sangat cantik." "Tck, dasar pembual." "Aku serius. Lihat wajahmu, tanpa memakai skincare saja sudah sebagus ini, apalagi kalau dirawat dengan baik." Chika mendengkus, "Boro-boro beli skincare, buat beli makan saja susah!" Lera mengigit lidahnya sendiri, dia tidak bermaksud menyinggung sahabatnya tersebut, sama sekali tidak. Dia memang tidak begitu tahu detailnya, namun ia bisa merasakan seberapa banyak kesusahan yang sudah Chika lalui, hanya seorang diri. "Kau tahu, bukan itu maksudku." suara Lera terdengar menyesal. "Aku tahu." jawab Chika seraya menatap Lera dari pantulan cermin. "Aku sangat bersyukur memiliki ... setidaknya satu sahabat sebaik dirimu. Terimakasih sudah mengizinkan aku tinggal di sini Le, memberiku makan dan memberiku pakaian." ucapnya tulus. Mendengar semua itu, tanpa permisi tangan Lera lekas menoyor kepala gadis itu. "Hentikan, kau membuatku malu, tahu!" "Terimakasih sudah—" "Chikaaa!" Chika terkekeh, dia senang tiap kali berhasil menjahili Lera. "Oh, aku lupa!" Lera berseru, dalam beberapa hari kedepan ia akan menyiapkan acara untuk pesta ulang tahunnya, ia hampir lupa memberitahu Chika akan hal itu. Tentang hari ulang tahunnya, Lera sebenarnya tidak membayangkan akan dirayakan dengan mewah jika memikirkan apa yang sudah ia lakukan —menghabiskan banyak uang perusahaan— dalam beberapa bulan kebelakang. Saat ia datang ke rumah utama keluarga Estan untuk menghadap sang Nenek, ia kira akan diberikan hukuman kejam. Saat itu Lera sudah bersiap untuk sujud di depan Neneknya dan mengemis maaf seperti yang ia lakukan beberapa jam lalu pada Demon. Namun hal tak terduga justru terjadi, wanita tua itu memeluknya, mencium kedua pipinya dan memberikan satu black card miliknya yang berharga. "Selamat ulang tahun, sayang. Pakai ini untuk membuat pesta meriah ya, maafkan Omah tidak bisa memberikan apapun sebagai hadiah." ucapnya saat itu. "Kalau sudah selesai, jangan lupa kartunya dikembalikan, ya!" Wow, Lera tercengang bukan main. Itu suatu hal yang teramat sangat langka. Seorang Sinta Estanbelt menyodorkan salah satu kartu pamungkas yang dijaganya selama berpuluh tahun dengan cuma-cuma? Lera bisa mencium bau uang yang melimpah dari kartu itu, dan ia tidak akan melewatkan satu keajaiban tersebut. "Le, apa yang lupa?" suara Chika kembali menarik Lera dari ceceran ingatannya beberapa jam lalu. Lera tersenyum, dia masih dalam suasana hati bahagia. "Setelah kencan dengan Nate nanti langsung pulang yah. Aku membutuhkan ide-ide cemerlang-mu." ujarnya seraya menyerahkan kartu bersisi nama gedung. "Ide cemerlang untuk apa?" "Kau melupakan hari yang sangat istimewa dalam hidupku?" Sebelum Lera melancarkan serangan, Chika lebih dulu menghentikan tangan gadis itu. Jari-jari yang terlihat lembut milik gadis itu sebenarnya memiliki efek maut. Dulu Chika pernah mendapatkan cubitan dari jemari yang terlihat lembut dan halus itu, Chika kira cubitannya tidak akan ada rasanya. Tapi ternyata dia salah, sangat salah, cubitan Lera ternyata lebih sakit daripada disengat lebah. "Aku bercanda, aku akan segera pulang setelah selesai bertemu Nate." Lera memberikan sentuhan terakhir pada wajah Chika —blush on— kemudian berkata, "Jangan terlalu malam, oke?" "Akan aku usahakan." jawab Chika seraya mengedipkan mata.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD