"You come?" tanya Demon saat melihat siapa yang baru saja membanting pintu ruang kerjanya.
Lera menghela napas, dia sedang memperhitungkan apa yang harus ia lakukan untuk mengenyahkan wajah penuh kesombongan pria itu. Rasanya Lera ingin sekali melukai ego-nya, ingin sekali membuat seorang Demon Estanbelt berada di bawah kakinya.
Tenaganya mungkin mampu untuk membuat si b******k Demon berada di bawah kakinya, akan tetapi ... setumpuk uang yang pria itu punya membuatnya tidak bernyali. Ya, jangan membuat masalah dengan Demon kalau tidak mau ekosistem keuangan menjadi terganggu.
"Of course," ujar Lera sambil mengulas senyum manis. "Aku sangat, sangat, sangaaat merindukan sepupuku tercinta." imbuhnya kemudian.
Mendengar omong kosong itu Demon hanya bisa berdecak kesal. Lera selalu mempunyai cara untuk membuatnya luluh, dia adalah Erry versi dewasa. Rengekannya teramat sangat sulit untuk ditolak kalau tidak mengeraskan hati.
Mengambil dokumen dari dalam laci, Demon lekas melemparnya pada gadis itu.
"Woaa ... Kau sangat kasar, sepupu!" protes Lera, dia tidak terima dengan sikap b******k Demon barusan. "Apa ini?" ia kemudian bertanya.
Demon mengembuskan napas, menekan perasaan kesal yang sebenarnya sudah mencapai ubun-ubun. Gadis kurang ajar itu sebenarnya sudah tahu, tapi dia masih berpura-pura bodoh.
"Nah, itu yang akan aku tanyakan. Coba kau buka kemudian jelaskan angka-angka sialan yang tertulis di sana, Lera."
Lera menggaruk tengkuknya gugup. Oke, ini sudah dalam mode serius jika melihat ekspresi Demon saat ini. Bagaimanapun ia tidak akan bisa kabur, tidak akan pernah bisa.
Membuka map berwarna hijau yang tadi dilemparnya, Lera kemudian disuguhkan dengan deretan angka dari atas sampai bawah dan itu tidak hanya satu lembar, melainkan ada 3 lebar kertas dengan detail yang sama.
Apa itu benar-benar ulahnya?
Sebanyak itu?
Masa iya?
Pikir Lera tidak percaya karena seingatnya ... ya, seingatnya ia tidak begitu banyak belanja. Jadi kenapa tagihan kredit card-nya sebanyak itu? Lalu rekap dari debit card juga? Apa itu tidak salah?
"Jadi?" suara Demon yang begitu dingin menusuk telinganya, menyadarkan gadis itu dari berbagai macam alasan yang sedang dikarangnya untuk meloloskan diri.
Tapi sialnya dia tidak tahu harus mengatakan apa karena ia merasa tiba-tiba saja mati otak. Lera tidak menemukan kata-kata yang pas untuk dikatakan agar sepupunya tersebut tidak marah.
"Lera ...." Demon kembali memanggilnya, kali ini dengan geraman yang membuat bulu kuduk meremang.
Ayo Lera, pikirkan sesuatu untuk menyelamatkan dirimu!
"Kau tahu Em, para wanita cenderung menggila saat berbelanja." ujar Lera seraya menatap Demon dari balik bulu matanya. "Aku benar-benar tidak sadar, tahu-tahu sudah banyak yang aku beli."
Demon mendengarkan sambil mengetuk kukunya di atas meja kerja, menimbulkan suara yang sangat amat menganggu dan memberikan tekanan yang semakin buruk.
"Jadi ... saat itu kau sedang gila?" sarkasme lolos begitu saja dari mulutnya.
Lera mengangguk dengan cepat. Seperti ada sensor otomatis di belakang lehernya.
"Kalau begitu, haruskah aku meminta Lucas untuk memesan satu kamar rawat di rumah sakit jiwa?"
God!
Itu candaan yang sangat tidak lucu tahu!
"Itu hanya perumpamaan, Emo! PE.RUM.PAMAAN!!!" Lera berseru kesal.
Demon menggeleng, kemudian dia bersandar sambil bersedekap d**a. "Aku tidak butuh perumpamaan, yang aku butuhkan hanya penjelasan yang masuk akal."
Lera mengerang frustasi karena kali ini Demon tidak bisa dihadapi dengan mudah. Tidak biasanya dia seketat ini mengenai keuangan karena jelas dia memiliki segudang uang yang bahkan tidak pernah menyusut walau sering digunakannya untuk menjajani para wanita j4langnya.
Lalu kenapa? Kenapa kali ini berbeda? Kenapa dia melakukan ini padanya?
"Kau sungguh tidak mau bicara? Apa perlu Lucas turun tangan untuk mengorek semua informasi atas tindakan gila mu?"
"Aku akan memberitahu!" seru Lera dengan cepat, kalau Lucas turun tangan maka keadaan akan semakin kacau. "Aku ... memakai debit dan credit card itu untuk berbelanja dan mentraktir teman-teman."
"Mentraktir siapa?" ulang Demon tak percaya, iris pekatnya sudah melebar sempurna.
Wah, hebat sekali! Sepupu gilanya itu memang teramat sangat dermawan sampai mentraktir teman-temannya menggunakan uang perusahaan dan uang miliknya.
"Jadi, gadis di rumah itu ...."
Gadis di rumahnya? Chika?
"No!" Lera dengan cepat membantah. Kesan Demon pada Chika sejak awal sudah cukup buruk, ia tidak mau membuat sepupunya semakin berpikir buruk tentang Chika. "Bukan dia! Ini tidak ada hubungannya dengan temanku yang di rumah."
Satu alis pria itu menukik, meminta penjelasan yang lebih masuk akal padanya. "Lalu teman yang kau maksud itu siapa?"
Lera menghela napas, menggigit bibir dan mencuri pandang ke arah Demon hanya untuk menebak suasana hatinya saat ini.
"Aku mentraktir teman satu kelas dan beberapa kali membuat pesta dengan anak satu jurusan." cicit Lera berharap pria itu tidak mendengarnya dengan jelas.
"APA KAU SUDAH TIDAK WARAS?!"
Pada akhirnya Demon tidak bisa untuk tidak meledak pada gadis itu. Dia benar-benar tidak habis pikir. Mentraktir teman memang tidak ada salahnya, tapi kalau sampai mentraktir puluhan orang dan menghabiskan uang puluhan juta? Rasanya itu sudah tidak beres.
"Wah, kau benar-benar membuatku sakit kepala!" erang Demon, dia beberapa kali meremas rambut cepaknya karena emosi.
Lera menundukkan kepala, tidak berani menatap pria itu secara langsung. Anggap saja dirinya memang sudah gila, tapi Lera pikir dengan mentraktir teman-teman kelasnya dan mengadakan acara party satu jurusan akan membuat Kenan ikut bergabung. Namun pada kenyataannya, uang sudah habis banyak, cowok yang ditaksirnya tetap tidak kelihatan batang hidungnya.
Sebelum Demon semakin murka, Lera segera mengambil tindakan. Dia lekas berlutut tepat di bawah kaki pria itu sambil menangkup kedua tangannya.
"Maafkan aku! Emo, aku benar-benar minta maaf."
Hanya kata-kata itu yang dapat ia ucapkan untuk keluar dari masalah. Tidak apa-apa, mengemis maaf pada Demon tidak membuatnya menjadi buruk.
Demon memejamkan mata sambil mengatupkan kedua rahangnya. Apa yang bisa dia lakukan sekarang? Tentu saja tidak ada!
Lagi pula Sinta memintanya untuk meloloskan Lera kali ini, anggap saja itu adalah hadiah ulang tahunnya yang lebih awal.
"Apa mereka menekan mu? Memaksa untuk diberi makan gratis setiap hari?"
Lera terkesiap, kepalanya lekas menggeleng dengan cepat. Asumsi itu bagaimana bisa terlintas di otak cerdas seorang Demon Estanbelt? Dia seharusnya tahu kalau dirinya tidak bisa ditindas dengan mudah, dan ia tidak akan mengeluarkan sepeserpun uang hanya untuk mendapatkan teman bermain.
"Tidak tuh."
Demon masih memberikan tatapan menyelidik, salah gesture sedikit saja maka apapun yang disembunyikan gadis itu akan terbongkar.
"Lalu apa? Apa alasan kau mentraktir semua orang setiap minggunya?"
Tidak, jelas Lera tidak akan memberitahu alasan yang sebenarnya. Demon akan semakin murka kalau tahu apa yang ia lakukan semata-mata hanya untuk mendapatkan perhatian seorang laki-laki. Lebih parahnya, pria itu pasti akan mencari tahu identitas laki-laki yang dimaksud. Lera tidak mau Kenan berada dalam masalah karenanya.
"Tidak ada, aku hanya ingin bersenang-senang saja. Menunjukkan pada semua orang kalau aku adalah cucu perempuan satu-satunya keluarga Estan sehingga tidak ada seorang pun yang bisa meremehkan ku di kampus."
Alasan itu terdengar cukup meyakinkan. Demon mengangguk setuju, mem-bully keturunan Estanbelt terdengar mustahil juga. Memangnya siapa orang yang berani melakukan hal itu? Jika ada, maka dialah orang pertama yang akan menyeret orang tidak tahu diri itu kemudian melemparnya ke jurang.
"Pulanglah ke rumah dan temui Omah." Lera hendak memberikan protes namun segera dia potong, "kau tahu, Omah dapat melakukan apapun diluar akal sehatmu kalau sedang kesal. Jadi Lera ... aku harap kau pulang dan meminta ampun pada Omah."
Meminta ampun katanya?
Kalaupun Lera melakukan hal itu, rasanya tidak akan mungkin wanita tua itu mau memberi ampun dengan mudah. Ada harga yang harus dibayar dengan setimpal, begitulah cara kerja di keluarga Estan yang tersohor.
"Aah ... bunuh saja aku sekarang!"