"Kau sudah mendapatkan apa yang aku minta?"
Demon meletakkan koran pagi yang tadi dibacanya ke atas meja saat mendapati sosok kaki tangannya datang menghadap.
Ya, ini tentang gadis kemarin sore di kediaman Lera. Demon tentu saja tidak bisa melepaskannya begitu saja. Siapapun yang terlibat dengan anggota keluarga Estan patut diselidiki. Anggap saja apa yang Demon lakukan adalah bentuk dari rasa pedulinya terhadap keluarga. Dia tidak mau kecolongan lagi seperti dulu, dia tidak akan membiarkan siapapun memporak-porandakan keluarga Estan.
Lucas memberikan sebuah flashdisk kepada atasannya tersebut. "Saya sudah mengumpulkan beberapa informasi penting." jelasnya kemudian.
Demon menyeringai puas. Memang tidak bisa dipungkiri bahwa kinerja tangan kanannya begitu sigap dan tepat. Mungkin ini bentuk timbal balik dari apa yang dia keluarkan untuk para pegawainya.
Memasukkan FD ke komputer, Demon lekas membuka satu-satunya dokumen di sana. Ketika halaman terbuka, iris kelamnya seketika itu disuguhkan potret gadis yang familiar.
Benar, dia gadis yang sama dengan yang ia lihat kemarin, bedanya ... gadis di potret itu terlihat jauh lebih ekspresif daripada yang ia temui sebelumnya. Senyum manisnya seperti memiliki magic, membuat siapapun yang melihatnya ingin ikut tersenyum juga.
Tidak, Demon tidak sedang tersenyum kalau itu yang kalian pikirkan. Terlebih di ruangannya ada Lucas yang masih berdiri di depan meja sambil mengawasinya.
Grachika Dedrick, itu nama yang lumayan lucu. Sangat cocok dengan tatapan dan wajahnya yang lugu.
"Apa ini serius?" Demon bertanya setelah membaca beberapa informasi yang tertulis. Dia menatap Lucas dengan satu alis terangkat, "Sebanyak itu?"
Lucas menganggukkan kepalanya cukup yakin yang artinya apa yang dia tulis bukanlah omong kosong belaka.
"Belum lama ini Ayahnya bangkrut, lebih tepatnya kena tipu. Dikaranakan tidak dapat menutup hutang pada pihak Bank, rumah mereka akhirnya disita."
Hn, begitu ya?
Demon sekarang cukup mengerti situasinya, alasan yang gadis itu katakan kemarin sore adalah ini. "Dan Ayahnya benar-benar kabur?"
Tunggu, bukankah kondisi seperti itu terlalu klise?Perusahaan bangkrut karena hutang, rumah di sita dan ayah kabur ... cerita seperti itu sering ia temui pada drama kacangan yang ditonton neneknya.
Apakah ini sebuah taktik? Bagaimana kalau gadis licik itu bersekongkol dengan Ayah-nya untuk mendekati Lera? Bagaimana kalau mereka merencanakan sesuatu?
"Saya sudah mencari tahu, dari beberapa pihak memberikan informasi bahwa Ayah gadis itu memang pergi secara diam-diam. Bahkan dia masih berupaya mencari keberadaan Ayahnya tersebut."
Asumsi di otak Demon kemudian berhenti setelah mendengarkan penjelasan Lucas. Untuk sesaat ia tidak tahu harus memberikan tanggapan apa.
Bersandar pada sandaran kursi, Demon kemudian memejamkan mata. Entah bagaimana ini bisa terjadi, bayangan gadis itu tiba-tiba saja berhamburan di dalam kepalanya. Tatapan mata yang penuh ketakutan dan ketidakyakinan, senyum yang mempunyai banyak luka dan gestur tubuhnya yang tidak nyaman benar-benar mengusiknya.
"Tuan ...."
"Kirim seseorang untuk mengawasi kediaman Lera."
Walaupun informasi itu benar, akan tetapi Demon tidak bisa untuk tidak bertindak. Dia hanya perlu mengawasi dari jauh untuk menjaga keselamatan sepupunya karena biasanya seseorang akan bertindak kejam saat sedang berada dalam situasi terjepit.
.
.
.
"Hey, kau masih kesal gara-gara kemarin?" tanya Lera seraya mencolek lengan tangan sahabatnya.
Faktanya, saat Chika mengirim pesan bahwa ada seseorang yang datang ke huniannya, saat itu posisi Lera sudah sampai di lobby. Lera memutuskan bersembunyi dan tidak naik ke atas sampai si setan itu turun dan meninggalkan area gedung apartemen.
Katakanlah Lera jahat, namun dia benar-benar tidak mau menghadapi Demon yang sedang murka. Itu sangat merepotkan dan melelahkan.
"Ya, aku sangat, sangat kesaaal!" seru Chika sambil meninju bantalan sofa berkali-kali, andai saja dia berani maka wajah pria kemarin sudah ia hadiahi tinju seperti ini.
Setiap kali mengingat wajah dan tatapan pria kemarin sore — tatapan yang begitu merendahkan, tatapan yang seolah-olah menuduhnya telah berbuat macam-macam di kediaman Lera, tatapan yang seakan bicara 'pencuri cilik'— itu membuat Chika merasa marah.
Tapi yang membuat Chika merasa sangat marah karena kebodohan dirinya yang hanya bisa bungkam saat mendapat perlakuan menyebalkan kemarin.
Lera mengambil camilan di toples dan memangkunya di atas paha sebelum kembali bertanya, "Memangnya dia bilang apa padamu?"
"Tidak ada." jawab Chika.
Memang benar kok pria itu tidak mengatakan apa-apa selain pertanyaan seputar keberadaan Lera, hanya saja ungkapan yang tersirat di mata hitamnya kala itu membuat Chika tahu apa yang dia pikirkan tentang dirinya walau tidak diungkapkan secara gamblang.
Chika cukup sadar diri dan tidak perlu mengelak karena memanglah benar, di sini dia adalah parasit. Dia akan merugikan Lera secara finansial dan non finansial.
"Lalu? Kenapa kau merasa kesal kalau dia tidak mengatakan apapun?"
"Justru karena itu aku kesal!" sungut Chika, "mulutnya memang tidak banyak mengoceh, tapi tatapan matanya seolah mengatakan semua yang ada di kepalanya!"
Lera benar-benar menyesal atas kejadian kemarin. Dia sangat tahu bagaimana temperamen sepupunya itu. Melihat orang asing berada di kediamannya pasti membuat Demon kaget dan berasumsi macam-macam. Untungnya si setan itu tidak melakukan apa-apa pada Chika, dia tidak bisa membayangkan kalau Demon bertindak kejam seperti ... menyeret paksa Chika keluar dari kediamannya.
"Aku minta maaf mewakili pria menyebalkan itu, ya." bujuk Lera.
Chika memicingkan kedua matanya, "Kenapa jadi kau yang meminta maaf. Lagi pula, kau kenal pria menyebalkan dan tidak sopan itu di mana sih, Le?"
Lera sedikit kaget, baru kali ini ia mendapati sosok Chika yang penyabar jadi marah-marah. "Bagaimana aku mengenal pria itu? Urm ... Itu cerita yang teramat sangat panjang, Chika." jawabnya sambil mengukir senyum misterius.
"Kau mau kemana, Le?" Dia bertanya saat melihat Lera sibuk berdandan.
Lera menatap Chika dari pantulan cermin rias dimana dia sedang sibuk memoles lipstik di bibirnya. "Aku harus pergi menghadap pria menyebalkan kemarin, kalau aku tidak datang maka aku akan mati." Dia menjelaskan sambil memeragakan lehernya yang digorok dengan tangan.
Chika nampak terkejut, "Apa perlu aku temani?"
Kalau saja tidak menghadap Demon Estanbelt, Lera merasa sangat senang jika Chika ikut. Tapi berhubung dia akan masuk ke kandang singa, maka sangat riskan untuk membawa kelinci. Jadi, biarlah macan sendirian yang bertemu dengan singa.
"Tidak perlu, aku bisa menghadapinya sendiri." jawab Lera cepat, saat ini dia memegang kedua bahu Chika sebelum mengatakan— "Dengarkan aku Chika, jika kau bertemu dengan pria yang kemarin dimana pun itu, kau harus lari sejauh yang kau bisa. Kau mengerti?"
"Kenapa aku harus lari? Memangnya aku salah apa?"
"Seekor singa tidak membutuhkan alasan untuk menerkam mangsanya!"
Chika mengernyitkan dahi, dia sama sekali tidak begitu mengerti maksud dari ucapan Lera barusan. "Akan aku usahakan." namun begitu ia tetap menanggapi peringatan gadis itu karena dia yakin apapun yang dimaksudkan Lera, itu pasti untuk kebaikannya.