Bab 8: Penyusup

1289 Words
Chika masih merasakan degupan kencang di balik tulang rusuknya. Tidak pernah terpikirkan olehnya kalau akan ada seorang pria yang menerobos masuk ke tempat ini, tempat yang katanya memiliki keamanan paling ketat. Entah apa status hubungan pria itu dengan Lera, namun apa yang sudah ia lakukan sangat tidak sopan. Membobol pintu masuk? Chika yakin pria itu sudah gila. Sedangkan Demon, dia masih bertahan dengan kegiatannya, yaitu mengamati gadis asing di depannya. Gestur itu —kedua kaki yang bergerak tidak nyaman dan kedua tangan yang tengah meremas handphone—menjelaskan bahwa dia merasa tidak nyaman. Awalnya Demon berpikir bahwa gadis itu adalah asisten rumah tangga Lera. Akan tetapi, melihat pakaian yang dia kenakan ... dia rasa bukan. Itu pakaian milik Lera, sejak kapan Lera mau meminjamkan barang-barang miliknya pada orang asing? "Jadi? Kau teman Lera?" pada akhirnya Demon memutuskan untuk bertanya. Dia sudah terlalu pusing memikirkan keberadaan Lera, dia tidak ingin menambah kepusingannya dengan keberadaan gadis itu juga. Gadis itu mengangguk dengan cepat, "Ya-ya, benar, saya teman Lera." jawabnya tergagap sambil menatap pria di seberang dari balik bulu matanya yang lentik. Iris cokelat terangnya bergerak tidak nyaman saat berserobok dengan iris pekat milik si pria. Demon mendengkus, respon seperti itu sudah biasa ia lihat. Ya, kebanyakan gadis yang berhadapan dengannya akan memberikan respon yang sama. Mereka pada awalnya akan bertingkah malu-malu kemudian lambat laun akan berubah tidak tahu malu. Demon mengambil cangkir berisi cairan pekat yang masih mengeluarkan uap di atas meja tanpa memutus kontak dari objek di depannya. Saat cairan pekat itu menyentuh lidahnya, sontak kedua matanya terpejam. ' Sial, ini terlalu manis!' Dia menggerutu dalam hati. "Apa Anda butuh tambahan gula?" suara lembut mengetuk telinganya, membuat pria itu kembali membuka mata. "Tidak perlu." Demon menahan mati-matian untuk tidak berkata kasar atau bernada ketus saat menanggapi. "Jadi, bagaimana kau bisa tinggal di sini?" Perlu kalian tahu bahwa dia bukan tipe orang yang mudah percaya pada orang lain —tentu setelah mendapat penghianatan dari orang terdekatnya dulu— terlebih lagi pada orang asing yang baru ditemuinya. Bagaimana kalau gadis itu sedang membohonginya? Bagaimana kalau dia sebenarnya adalah perampok? Bagaimana kalau sebenarnya Lera ada di suatu ruangan dengan tangan dan kaki terikat serta mulut yang dibungkam? Ya, benar. Itu tidak menutup kemungkinan. Demon sering menonton acara berita kriminal di TV yang mengatakan bahwa penjahat di era sekarang lebih banyak bertampang manis, cantik dan sok polos. Padahal mereka adalah orang yang berbahaya. Chika menangkap sinyal itu, sinyal permusuhan dari sosok pria di seberang sofa. "Aku memiliki keadaan yang sulit untuk aku jelaskan, namun beruntungnya Lera mau membantuku dan mengizinkan aku untuk tinggal di sini sampai aku memiliki cukup uang untuk menyewa tempat tinggal sendiri." Ia memberi tahu kondisinya dengan sangat jujur. Begitu huh? Suatu keadaan yang sulit dijelaskan dia bilang? Demon mengetuk jemarinya di lengan sofa sambil menilai ucapan gadis di depannya itu. "Lalu? Dimana Lera sekarang?" tanyanya kemudian. Oh, ya, benar, Lera! Chika melupakan fakta itu, mengenai keberadaan Lera saat ini. Setengah jam yang lalu Lera bilang masih sibuk konseling dengan dosen pembimbing di kampus, gadis itu sama sekali tidak mengatakan jam berapa akan pulang dan sejak tadi pun ia sudah mengirim pesan namun masih belum ada jawaban. "Begini, Lera saat ini sedang pergi keluar." Chika memberi tahu, namun rupanya pria itu tidak mempercayai apa yang ia katakan. Tidak perlu berkata secara terus terang untuk membuat Chika tahu apa yang sedang pria itu pikirkan tentangnya, hanya melihat kerut halus yang terlukis di keningnya sudah cukup untuknya. "Jam berapa dia akan pulang?" Pria itu kembali bertanya, suaranya terdengar sedikit kesal. "Aku tidak tahu, sebelumnya dia hanya mengatakan akan pulang terlambat." Bukan kah itu hanya alasan? Demon kembali berasumsi. "Bagaimana aku bisa mempercayai omong kosong-mu?" Iris coklat terang gadis itu kembali berpendar, kali ini mimik wajahnya benar-benar menunjukkan rasa tidak suka pada lawan bicaranya. Tanpa banyak bicara, Chika lekas menyalakan ponselnya kemudian menunjukkan foto dirinya dan Lera yang mereka ambil di hari ulang tahunnya 6 bulan lalu. "Apa ini cukup membuat Anda yakin?" ujarnya sebal. Pria itu tidak memberi tanggapan, namun jika dilihat dari sorot matanya yang mulai melunak mengindikasikan bahwa dia percaya. 'Bagaimana bisa dia menaruh curiga seperti itu padaku? Apa aku memang terlihat begitu miskin sampai dia mengira aku seorang pencuri di rumah kekasihnya ini?' gerutu Chika. Dia sangat kesal karena telah dicurigai, benar-benar kesal sampai rasanya ingin menyiram wajah tampan itu dengan segelas kopi di depannya. Hal yang membuatnya semakin kesal karena sampai detik ini Lera sama sekali tidak membalas pesannya padahal ia sudah memberitahunya bahwa ada seorang pria yang datang ke rumah mencarinya. Dalam situasi ini Chika sangat ingin mengumpat. Lera sangat menyebalkan, sungguh! Hanya karena dia ingin membuat Kenan cemburu dan menyadari keberadaannya, Lera kerap kali bergonta-ganti pasangan. Chika kira targetnya hanya seputar cowok di area kampus, tapi ia tidak tahu kalau Lera juga bermain-main dengan pria dari luar kampus, pria yang sudah tergolong matang seperti itu. Kalau Lera hanya ingin main-main, kenapa sampai harus sejauh ini? Chika sangat yakin bahwa Lera tidak kekurangan uang karena keluarganya sudah kaya raya. Lalu, apa alasan dia berkencan dengan pria sepertinya? Getaran yang berasal dari handphone membuat Chika tersentak kaget. Dia mencuri pandang pada sosok pria di seberang sofa, dan benar saja ... pria itu masih mengawasi dirinya dengan kedua mata tajamnya. Lera_ 17.15 Bagaimana ciri-cirinya? Kening Chika berkerut saat menerima balasan dari Lera. Memangnya sebanyak apa kekasih gadis itu di luar kampus sampai-sampai harus menanyakan ciri-ciri orangnya? Chika kembali mencuri pandang ke arah pria di seberang. Jika dilihat dengan seksama, pria itu cukup tampan, tidak, dia sangat, sangat tampan. Outfit yang santai namun terlihat mahal, dia pastilah orang yang memiliki pekerjaan bagus. Wajahnya seperti dipahat secara khusus—kedua iris pekat yang memabukkan, bibir tipis berwarna merah muda, alis yang lebat dan menukik, garis rahang yang tegas dan hidung tinggi menjulang— pastilah dia berdarah campuran. Chika_ 17.22 Dia tinggi, tampan, kaya dan terlihat galak. Lera_ 17.23 Bisa kau kirim fotonya padaku? Apa Lera sudah gila? Chika mengerang saat membaca balasan gadis itu. Coba pikir, bagaimana mungkin dan bagaimana caranya ia mengarahkan ponselnya ke arah pria itu disaat kedua mata elangnya sama sekali tidak luput mengawasi? Handphone di atas pangkuan kembali bergetar dan Chika melihat ada pesan baru dari Lera. Chika lekas membukanya dan seketika itu kedua matanya disuguhkan foto seorang pria. Lera_ 17.30 Apa dia orangnya? Kalau benar, tolong suruh dia segera pergi dari sana Buat alasan apapun agar dia pergi pliiis Katakan saja kalau hari ini aku tidak pulang. Chika menutup mulutnya dengan tangan, sedangkan kedua matanya mulai memandang foto dan sosok di depan sana secara bergantian. Yup, tidak salah lagi, dia orang yang sama dengan foto yang dikirim Lera. Apa yang harus ia lakukan? Apa yang harus ia katakan untuk membuat pria itu pergi dari tempat ini? "Apa itu Lera?" tiba-tiba saja pria itu bertanya dan sialnya Chika belum memikirkan hal apapun untuk menyangkal. "Ya." Oh, mulut sialan! "Berikan padaku." ucapnya seraya menyodorkan tangan, meminta ponselnya. "Apa?" Pria itu memutar bola matanya jengah sebelum memutuskan bangkit dari sofa dan mulai berjalan ke arahnya. Tunggu, apa yang akan dia lakukan? Chika benar-benar sudah terpojok, dia bahkan tidak dapat bergeser ke mana pun saat ini apalagi mencoba kabur, itu sangatlah mustahil untuk ia lakukan. "Hei!" Chika berseru saat pria itu mengambil ponselnya dengan kecepatan kilat kemudian menekan tombol dial. "Halo, Chika, apa si setan itu sudah per—" "Ya, setan ini sedang bicara denganmu yang artinya dia belum pergi!" Chika memejamkan matanya saat mendengar erangan kesal Lera. 'Matilah aku! Lera pasti akan mengamuk saat pulang nanti.' "Aku beri waktu, jika sampai besok kau tidak menunjukkan batang hidung-mu Lera, tamat riwayatmu!" "Emo!" "Aku tunggu di kantorku besok, jam 09.00 pagi." Setelah sambungan diputus secara sepihak, pria itu lekas mengembalikan ponsel itu pada sang empunya tanpa mengucapkan terimakasih maupun kata maaf.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD