"Oh, Gosh!" mulut cerdas gadis itu baru saja mengumpat saat tangannya berhasil membuka lemari baju milik Lera.
Ini lebih dari gila! Pikirnya nyalang.
Sebelumnya Chika memang sudah membayangkan apa isi dibalik lemari baju seorang Lera Neurasasta jika melihat bagaimana gadis itu memiliki obsesi berbelanja. Ya, seharusnya Chika tidak perlu kaget saat mendapati deretan gaun yang bahkan masih berbandrol dan terbungkus plastik di dalam sana.
"Oh, Tuhan ... seharusnya Lera membuka jasa sewa gaun." Chika mengoceh sambil menyentuh gaun-gaun super trendy tersebut.
Burberry, Hermes, Dior?
Chika hanya bisa menganga kala membalik tag gaun yang masih terpasang di sana. Ia pernah kaya, sungguh. Tapi jika harus membeli brand-brand super mahal itu? Tidak, tentu saja tidak sama sekali terpikirkan olehnya. Chika lebih memilih membelanjakan uangnya untuk hal yang lebih berguna daripada menghabiskannya untuk barang-barang seperti itu.
Sebenarnya barang-barang itu juga berguna, kalau mereka di jual kembali ... harganya pasti tetap mahal kan? Terlebih lagi tag bajunya masih tetap menggantung.
"Mungkin bisa mendapatkan setengah harga dari masing-masing gaun itu." pikirnya nyalang, sedang membayangkan setumpuk uang berada dalam dekapannya.
Oh, tidak, tidak!
Hentikan pikiran gila itu Chika!
Chika segera menggelengkan kepalanya kuat-kuat, mengenyahkan ide gila tentang menjual gaun Lera dan menggunakan uangnya untuk membayar hutang.
Sebenarnya ... jika setengah dari gaun di lemari menghilang, Chika sangsi kalau Lera akan menyadarinya. Akan tetapi, ia tidak mau menjadi teman yang tidak tahu diri. Sudah bagus Lera mau menampungnya di tempatnya.
Menutup pintu lemari, gadis itu lekas berjalan ke sisi lainnya. Lera bilang pakaian santai tersimpan di lemari pintu nomor 12, entah Lera sedang mengerjainya atau apa tapi Chika mulai menghitung pintu lemari satu per satu.
"Ada apa sih dengan selera Lera?" Chika kembali berdecak saat pintu lemari nomor dua belas berhasil dibuka dan isinya tetap sama, terlalu banyak baju sampai ia bingung sendiri untuk memilih satu diantara mereka untuk dikenakan.
"Oke, mari pilih secara acak."
Chika menutup mata, sedangkan tangannya bergerilya diantara jejeran baju di dalam sana. Menghitung dalam hati, saat berhenti di angka tiga kemudian tangannya akan mengambilnya secara asal.
"Argh!!!!" Chika mengerang kesal karena baju yang ia dapatkan adalah sebuah baju rajut yang ukurannya seperti baju raksasa.
Baju rajut tersebut kalau dipakai Lera mungkin panjangnya hanya mencapai paha bagian atas, tapi saat dikenakan oleh Chika ... entah bagaimana bisa panjangnya mencapai bawah lutut.
"Aku benci dengan tinggi badanku yang sangat minim." gumamnya sebal.
Setelah menghabiskan waktu sepuluh menit hanya untuk melihat isi lemari dan memilih pakaian, Chika memutuskan untuk turun ke bawah. Perutnya sudah melakukan protes sejak tadi dan kalau tidak salah ingat, terakhir kali ia mengisi perutnya yaitu kemarin sore dengan empat buah gorengan yang ia beli di pinggir jalan.
Namun, getaran yang berasal dari ponselnya membuat Chika mengurungkan niat awalnya tersebut. Ia berjalan ke arah meja rias untuk mengambil ponselnya dan melihat siapa yang baru saja mengirim pesan.
Lera_ 14.50
Kenan tidak datang ke kampus hari ini ?
Chika tersenyum saat membaca pesan dari Lera. Gadis itu rupanya masih belum menyerah untuk mengejar sosok Kenan yang terbilang cuek dan pendiam. Bahkan saking cueknya sampai rasanya mustahil jika pemuda itu menyadari keberadaan Lera di sekelilingnya.
Menasehati Lera?
Rasanya sudah sangat bosan, karena apapun yang ia katakan tidak akan bisa masuk dengan benar ke telinga gadis yang sedang dimabuk cinta.
Chika_ 14.51
Seharusnya kau cek jadwal dulu sebelum berangkat.
Lera_ 14.53
Itulah kebodohan ku!!!
Aku lupa kalau hari ini Kenan tidak ada jadwal bimbingan!!
Chika_ 15.05
Jadi? Kau akan pulang sekarang?
Lera_ 15.07
Mana mungkin!
Si botak membuatku bekerja keras hari ini!!!
Dia bilang tidak ada yang boleh pulang sampai revisi selesai ??
Chika tidak bisa untuk menahan gelak tawa saat membacanya. Si botak adalah julukan yang diberikan oleh anak-anak fakultas Manejemen kepada Mr.Tedy. Selain itu, Chika mendengar gosip kalau Mr.Tedy memang orang yang sangat ketat, dia akan menghabisi proposal setiap anak yang dibimbingnya tanpa belas kasihan. Namun dibalik sikapnya tersebut, para mahasiswa dalam bimbingannya bisa lulus tepat waktu dan ... mereka memperoleh nilai yang bagus.
Chika_ 15.10
Semangat!!!
Lera_ 15.15
Kau akan merasakannya nanti! ?
Chika meringis saat membaca pesan terakhir yang di kirim Lera karena ... Itu adalah harapan yang sia-sia. Selain karena mereka berada di jurusan yang berbeda, Dosen di fakultas sastra tidak sekejam dosen fakultas management. Kemudian fakta menyakitkannya adalah ... skripsinya baru akan ia mulai di semester depan.
Sial, lagi-lagi uang menjadi penghalangnya!
Oke, lupakan masalah proposal yang tertunda lebih dulu karena saat ini ada hal yang lebih mendesak. Perutnya sudah tidak bisa di kompromi, cacing-cacing di dalam perut sedang sekarat minta segera diisi.
Tepat di undakan tangga, Chika menemukan sebuah Bluetooth Speaker milik Lera yang tergeletak di atas meja.
"Aku tahu apa yang harus aku lakukan agar acara memasak ku menjadi menyenangkan."
.
.
.
Tidak membutuhkan waktu yang lama untuk membuka akses pintu hunian Lera, gadis itu bisa saja mengganti password ribuan kali namun Demon itu tetap akan bisa masuk. Lera tidak tahu dan jangan sampai tahu kalau setiap hunian memiliki akses card cadangan.
Ingatkan Demon untuk memberikan apresiasi pada Hanna, dia patut diberikan hadiah atas pekerjaannya yang begitu cekatan.
Saat pintu berhasil dibuka, kedua telinga pria itu langsung diserbu suara musik yang begitu memekakkan telinga. Keningnya lekas berkerut, itu jelas bukan genre musik kesukaan sepupunya.
Apa Lera sedang mengadakan pesta? Inikah alasan kenapa dia tidak menyadari bahwa ada seseorang yang sedang membobol rumah-nya?
Berbagai asumsi mulai berseliweran di otaknya. Dalam kondisi ini memang sangat menguntungkan untuknya karena ia tidak harus repot-repot menangkis segala macam jurus yang akan Lera gunakan untuk bisa membanting tubuhnya ke lantai.
Namun di sisi lain, kebiasaan Lera yang kurang aware ini cukup berbahaya. Bagaimana jika orang lain yang bermaksud membobol pintu rumahnya? Walaupun Lera terbilang bisa bela diri, tapi bagaimana kalau para perampok yang masuk membawa senjata?
"Hentikan! Aku berpikir terlalu jauh!" gerutunya pada diri sendiri.
Saat langkahnya semakin jauh ke dalam, ia kemudian mendapat serangan kedua. Hidungnya mencium bau masakan dan hal itu membuat keningnya kembali mengerut secara spontan.
Perlu kalian tahu, Lera tidak bisa masak, bahkan Demon masih ingat saat sepupunya itu membuatkannya telur goreng 10 tahun lalu, bukannya kenyang, Demon justru dilarikan ke rumah sakit karena menelan cangkang telur yang tidak dibuangnya.
Dan serangan ketiga ... kedua mata Demon menemukan sosok asing di pantry. Dia sedang memasak sesuatu, sambil menggoyangkan pinggulnya kalau kalian perlu tahu.
Kepala pria itu spontan bergerak miring, kembali menoleh ke arah pintu masuk tadi. "Aku tidak mungkin salah masuk hunian Apartemen kan?"
Sepertinya tidak mungkin karena nomor hunian di depan pintu tadi sudah benar. Jadi ... sangat tidak masuk akal kalau ia salah masuk. Selain itu, foto yang menggantung di atas tembok ruang tengah itu adalah bukti konkret bahwa hunian ini masih milik sang sepupu, belum dipindah tangankan.
Tapi ... siapa gadis itu?
Dia yakin kalau sosok itu bukanlah sepupunya karena dia tahu betul bagaimana sosok Lera. Gadis itu jelas memiliki tubuh tinggi, dia tidak pernah memakai sweater di dalam rumah, dan Lera tidak pernah sudi menggelung rambutnya —yang sudah ia rawat seperti merawat anaknya sendiri itu— rambut yang sudah menghabiskan berjuta-juta uangnya!
Sedangkan sosok yang saat ini tengah asik memasak sambil menggoyangkan pinggul itu ... dia menggelung rambutnya ke atas cukup kuat dan sweater yang menenggelamkan sebagian tubuhnya itu ... jelas dia lebih pendek dari Lera.
Demon tidak lekas menegurnya, justru yang pria itu lakukan adalah bersandar di sisi pintu sambil bersedekap d4da. Matanya kembali memindai gadis asing tersebut mulai dari bawah sampai ke ujung rambut. Ada beberapa spot menarik dari tubuhnya yaitu tengkuk seputih s**u, kedua kaki mulus tanpa balutan kain dan juga pinggul yang sedang bergoyang.
Kompor mulai dimatikan, wajan yang diangkat dan daging yang dipindahkan ke atas piring, Demon rasa acara memasak gadis tersebut sudah selesai. Gadis itu masih belum menyadari keberadaannya. Dia masih asik menggerakkan kepala sambil bersenandung kecil.
Demon cukup bersemangat untuk melihat reaksinya saat menyadari ada pria asing yang tengah memerhatikan kegiatannya sejak tadi.
Saat tubuh itu berbalik, dan saat kedua tangannya mencampakkan kedua piring yang dipegangnya ke atas meja, saat itu pula dia terperanjat kemudian berteriak. "Woaa!"