Pria itu mengerutkan keningnya saat kembali mendengar suara yang sama dari sambungan telepon sejak 15 menit lalu. Bukan, suara itu bukan Lera, namun operator sialan yang memberitahunya— Maaf, nomor yang Anda tuju sedang sibuk, cobalah beberapa saat lagi —untuk menelpon Lera kembali secara berkala.
"Sialan!" Dia mengumpat karena terlalu kesal.
Harinya sudah cukup menyebalkan sejak pagi dan dia tidak mau menutupnya dengan keadaan yang sama. Setidaknya, jika dia dapat menangkap Lera dan membawanya kehadapan sang nenek, suasana hatinya akan sedikit membaik.
Menoleh ke bangku kemudi, dia kembali bertanya pada Lucas. "Kau yakin kalau Lera ada di dalam?"
Lucas meneguk ludahnya, tatapan yang semula fokus mengawasi satu-satunya pintu masuk basement seketika teralihkan. Dia beberapa kali membuka mulut tapi tidak ada suara yang keluar.
Demon yakin saat ini Lucas merasa ragu dengan apa yang akan dia ucapkan karena ... walaupun keadaan sudah dipantau sedemikian rupa, bahkan dia mengerahkan bawahannya untuk berjaga, tapi tetap saja celah itu pasti ada dan bagaimana kalau orang yang mereka cari memang tidak ada di sana?
Oh, percayalah, Lera tidak bisa diremehkan jika itu menyangkut hal-hal seperti melarikan diri dan bersembunyi.
"Mungkin Nona Lera sedang tidur siang?" jawab Lucas tidak begitu yakin, suaranya bahkan terdengar bergetar.
Kening Demon kembali mengerut saat mendengar jawaban Lucas, jawaban yang terdengar bodoh namun dilain sisi cukup masuk akal juga mengingat bagaimana Lera akan berubah menjadi permen karet kalau sudah menempel pada kasur.
Istilahnya, kalau tidak ada yang mendobrak pintu kamarnya maka dia akan mati membusuk dalam balutan selimut sutranya.
Menghela napas, Demon memutuskan untuk keluar dari mobil dan mengeceknya langsung. "Dengar, lakukan apa pun kalau kalian melihat Lera coba melewati pintu keluar gedung ini."
Lucas menangguk, "Saya sudah menempatkan orang di beberapa titik, Sir." Dia memberitahu, "tapi ... bagaimana kalau Nona Lera memberikan perlawanan?"
Ya, ya, itu tentu saja akan terjadi. Memangnya kapan seorang Lera tidak membangkang dan memberontak? Anak itu tidak akan sudi untuk menyerah tanpa perlawanan, dia akan memilih babak belur daripada egonya tersentil keras.
Demon jelas tahu betul bagaimana karakter Lera, mereka tumbuh bersama sejak kecil, bahkan Paman Adi dan Nenek mereka saja tidak bisa memahami Lera sebaik dirinya.
"Jangan sungkan untuk membekuknya sampai tidak berkutik, bila perlu ikat tangan dan kakinya. Kalau dia masih tetap memberontak, buat dia pingsan!" titahnya tanpa ragu-ragu.
Lucas masih terlihat tidak yakin, namun dia tetap menganggukkan kepalanya. "Saya mengerti."
"Good." ucap Demon kemudian keluar dari mobil dan menutup pintunya cukup kencang.
Bagus, setelah dua bulan absen dari kegiatan olahraga, hari ini ketangkasannya akan diuji. Lera ... gadis itu tidak bisa diremehkan. Walaupun dia terbilang manja dan kekanakan, tapi dia bisa mematahkan tangan dan kaki lawannya kalau sedang marah mengingat dia pernah ikut kelas gulat.
Pintu lift terbuka sesaat setelah dia menekan tombol open. Seorang wanita berdiri di sisi lain lift, dia mengenakan pakaian yang bisa membuat mata para lelaki tidak bisa berkedip. Demon sering mendapati wanita semacamnya di kelab malam.
“Lantai berapa?” wanita itu bertanya saat ia masuk ke dalam lift.
“Empat puluh tuju.” jawab Demon acuh tak acuh.
Sosok yang tadi sibuk berkaca pada dinding lift —yang memang terbuat dari lapisan kaca— saat ini dia tengah memaku matanya pada sosoknya yang berdiri dengan penuh arogansi. Wanita itu sedang menilai dirinya dari kaki sampai ujung rambut, ya ... tipikal gadis matre seperti pada umumnya.
Demon berdecak, jika wanita ini sedang mencari sepatu mengkilap, celana bahan dan jas yang disetrika rapi maka dia tidak akan menemukannya karena sebelum pergi ke sini Demon sudah berganti pakaian. Dia tidak mau mengambil resiko jas mahalnya robek karena amukan Lera.
“Kau tinggal di sana?” Wanita itu bertanya, suaranya terdengar begitu antusias.
Demon menyeringai ke arahnya, daripada tinggal di sana, sebetulnya dia adalah pemilik saham dan desainer dari gedung ini. Aditama Group adalah bagian dari Estan Group, hanya saja Aditama Group bergerak dalam bidang perhotelan, sedangkan Estan Group memfasilitasi pembangunan dan perancangannya. Gedung ini adalah satu dari sekian gedung yang di desain dengan tangannya sendiri.
Pusat perbelanjaan, perkantoran hingga hotel dan penthouse ada dalam satu gedung yang memiliki 57 lantai keseluruhan. Lantai 47 adalah lantai yang di desain khusus atas permintaan Paman Adi, di lantai tersebut hanya ada 2 hunian yang ditinggali oleh orang-orang yang ingin menghabiskan uang mereka, salah satunya ditinggali oleh Lera sebagai anak semata-wayang Paman Adi.
Ding!
Lift berdenting saat mencapai lantai 30, pintu sudah terbuka lebar namun wanita yang sejak tadi berdiri di sampingnya belum juga keluar. Demon menoleh dan menaikkan satu alisnya tinggi, 'Apa yang sedang wanita ini tunggu?' pikirnya.
"Hubungi aku kalau kau kesepian.” ucap wanita itu sambil menyelipkan kartu nama pada jemarinya. Sebelum pintu lift tertutup, dia mengulum senyum dan mengedipkan mata.
Kesepian? Apa aku terlihat seperti pria yang kesepian?
Demon mengumpat sesaat setelah pintu lift tertutup, setumpuk pekerjaan dan rengekan Erry membuatnya lupa untuk sekedar bersenang-senang selama satu bulan terakhir ini.
.
.
.
Verification Failed
Verification Failed
Verification Failed
"Sialan!" umpat Demon seraya memandang kesal pintu di depannya.
Lera cukup cerdas juga karena mengganti kenop pintu dengan smart lock menggunakan sidik jari. Dia memang sangat penuh perhitungan, tipikal keturunan Estan.
"Tck, kalau dia mengganti kenop pintu dengan tujuan untuk membuatku tidak bisa mengusiknya, maka Lera salah besar!"
Demon segera mengambil ponsel yang tersimpan di saku celana kemudian segera mencari kontak exsecutive manager untuk meminta duplicate card hunian nomor 4703 sialan di depannya. Lera tidak tahu kalau secanggih apapun handle pintu yang ia gunakan, tetap saja hunian ini bisa dibuka dengan pass card.
Pass card sangat berguna saat keadaan darurat, misalnya penghuni apartemen sedang sekarat dan butuh bantuan, maka pihak executive dapat membuka pintu hunian dengan pass card. Ya, setiap hunian apartemen sudah terdaftar di database dan memiliki duplicate card masing-masing yang dipegang oleh tim executive.
"Maaf membuat Anda menunggu lama, Tuan Estan."
Demon menoleh ke arah pintu lift yang baru saja terbuka. Seorang wanita yang baru saja keluar dari dalam lift segera berlari kecil ke arahnya.
'Lima belas menit, dia membiarkanku menunggu di depan pintu sialan ini seperti orang bodoh!' rasanya dia ingin mengumpat namun harga dirinya tidak membuatnya melakukan hal itu.
"Ini duplikat card untuk membuka pintu." ujarnya kemudian memberikan card itu. "Tapi Nona Lera ...."
Melirik bagian name tag yang terpasang manis di blazer mengkilapnya, Dia mengetahui nama wanita di hadapannya, Executive Manager, Hanna.
"Kau boleh pergi, Hanna." potongnya cepat.
Pegawai wanita tersebut langsung menelan kembali kata-kata protesnya, dia tersenyum canggung. "Saya undur diri kalau begitu." Hanna sedikit membungkukkan tubuhnya sebelum berbalik.
Begitu Hanna menghilang dibalik pintu lift, Demon segera melakukan aksinya. Card yang diberikan Hanna tadi lekas ia tempel di titik pindai.
Klik!
Dan pintu bodoh itu pada akhirnya terbuka. Lera harus mengingat ini, seorang Demon Estanbelt selalu mendapatkan segalanya jika ia ingin.
Saat membuka pintu dan melangkah masuk ke dalam, dia merasakan adrenalinnya terpacu dua kali lipat. Lera pasti akan sangat terkejut dan marah karena dia berhasil membobol pertahanannya.