Di Altar Pernikahan

1160 Words

Sentakan tiba-tiba dari tubuh Jonathan membuat lututnya menghantam pinggiran meja dengan keras, menciptakan guncangan yang membuat permukaan kopi hitam dalam cangkir porselen di hadapannya bergelombang hebat, lalu tumpah melintasi kayu pelitur yang gelap. “Apa hasilnya?” Alvin bertanya, suaranya naik satu oktav. Ia mencondongkan tubuh, mencoba membaca raut wajah sahabatnya yang tampak kaku seperti batu. Napas Jonathan memburu, pendek dan berat, seolah oksigen di ruangan itu mendadak habis. Dadanya naik-turun dengan ritme yang kacau. “Aku harus ketemu Zee,” bisiknya, lebih kepada dirinya sendiri. Suaranya serak, sarat dengan tekad yang baru saja tersulut kembali. “Aku harus segera memberitahunya.” “Jo… tenang dulu,” Alvin berusaha menginterupsi, tangannya terangkat seolah ingin menarik

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD