“Gue tahu di mana Zee.” Heri mengulangi kalimat itu dengan penekanan yang tegas, mengabaikan keraguan yang sempat melilitnya. “Gue sekarang ada di Surabaya, dan gue—” Belum sempat Heri menuntaskan kalimatnya, sebuah tangan menyambar ponsel itu dengan gerakan secepat kilat. Sifa merampas benda itu dengan paksa dari genggaman Heri. “Mas Heri!” Suara pekikan Sifa yang melengking tajam menembus hingga ke telinga Jonathan di seberang sana. Begitu nama itu terucap, sambungan telepon seketika terputus—senyap, hanya menyisakan nada datar yang memuakkan. Di depan pagar yang gelap, tubuh Jonathan menegang kaku. Ia dengan kalap mencoba mendial kembali nomor Heri, namun suara operator dingin menginformasikan bahwa ponsel itu tidak dapat di hubungi. “s**t!” Umpatan kasar meluncur dari bibir Jonatha

