"Sini ponselku." Suara Heri terdengar dingin dan rendah saat ia mengambil kembali ponselnya dari genggaman Sifa. Sifa tersentak, ada dorongan kuat di hatinya untuk merebut kembali benda itu dan menghentikan segalanya, namun tubuhnya justru membeku. Ia hanya bisa berdiri mematung. "Mas?" bisiknya dengan tatapan nanar, kepalanya menggeleng lemah seolah memohon agar Heri memikirkan ulang tindakannya. "Aku hanya akan memberi tahu Jonathan, Sif. Biar dia yang menanggung beban keputusannya sendiri," ucap Heri tanpa mengalihkan pandangan dari layar ponsel yang menyala. Jemarinya dengan cepat menekan nomor Jonathan. Tidak butuh waktu lama, bahkan sebelum nada dering kedua selesai, panggilan itu langsung tersambung. "Kenapa kau membuatku gila, Her!" Suara Jonathan meledak dari seberang sana, ka

