BRAKK! Pintu besar gereja terbuka menghantam dinding, memutus kalimat Pendeta dengan kasar. Beberapa pasang mata seketika menoleh ke belakang. Di sana, Jonathan berdiri dengan d**a naik-turun yang liar. Kemejanya yang tadi rapi kini tampak kusut, dan rambutnya berantakan diterpa angin jalanan. "Hentikan!" suara Jonathan menggema, parau namun penuh otoritas yang tak terbantahkan. Ia melangkah maju menyusuri lorong tengah, langkah kakinya berdentum keras di atas lantai marmer. Zee berbalik dengan gerakan lambat, wajahnya pucat pasi. Air mata yang sejak tadi ia tahan kini jatuh, membelah riasan di pipinya. "Pernikahan ini tidak boleh terjadi," ucap Jonathan lagi, kini suaranya melunak namun tajam saat ia menatap tepat ke arah orang tua Zee dan David yang mulai berdiri dengan wajah murka.

