“Dibatalkan? Apa maksudnya ini! Aku tidak salah dengar, kan?!” Gunawan tersentak, ia langsung berdiri hingga kursi kayu yang didudukinya berderit keras. Wajahnya memerah, otot-otot di lehernya menegang karena keterkejutan yang luar biasa. Di sampingnya, Sella mematung. Dunia seolah berhenti berputar baginya. Ia tertunduk dalam, menyembunyikan wajahnya yang mendadak sepucat kertas, sementara jemarinya meremas kain taplak meja di bawah sana. “Iya, apa maksud Anda, Pak Aditya?!” Susan ikut berdiri, suaranya melengking tinggi menuntut penjelasan. Ia tak percaya harga diri keluarganya dipertaruhkan dalam satu kalimat singkat tersebut. Aditya tidak langsung menjawab. Ia melirik Sella sejenak dengan tatapan dingin yang menghakimi. Sella yang menyadari tatapan itu semakin menunduk, bahunya geme

