Marlina tersentak, jemarinya yang sedang memegang serbet makan gemetar halus saat melihat Jonathan melangkah masuk. Lampu kristal ruang makan yang terang seolah menelanjangi wajah putranya, memar kebiruan dan luka lecet masih menghiasi wajah tampan itu, kontras dengan kemeja rapi yang ia kenakan. Belum sempat Marlina bersuara, Sella sudah lebih dulu menghambur. Dengan gerakan manja yang terasa berlebihan, ia merengkuh lengan Jonathan. "Sayang… wajahmu kenapa?" tanya Sella, suaranya melengking cemas sementara jemarinya yang terawat mulai meraba pipi Jonathan dengan sentuhan yang menurutnya penuh perhatian. Jonathan bereaksi secepat kilat. Ia menampik tangan Sella dengan kasar, sebuah gerakan penolakan yang membuat suasana ruangan seketika mendingin. "Aku tidak apa-apa," jawabnya pende

