Makan Malam Penentu

1602 Words

“David akan kembali ke Jakarta... dia akan mengambil penerbangan malam ini,” ucap Sifa dengan nada yang amat hati-hati. Setiap katanya terdengar seperti langkah kaki di atas kaca tipis, takut jika satu kesalahan ucap saja akan menghancurkan hati Zee. Sifa menunduk sejenak, tak berani menatap langsung ke dalam mata Zee yang mulai dipenuhi kecemasan. “Dia berpesan padaku untuk menjagamu. Dia juga bilang... dia ingin minta maaf padamu,” lanjut Sifa lirih. Mendengar itu, Zee menggeleng lemah. Dadanya terasa sesak seolah oksigen di ruangan mewah itu tiba-tiba menghilang. “Harusnya aku yang meminta maaf,” bisik Zee. Suaranya pecah, sarat dengan beban rasa bersalah yang teramat dalam. Seketika, Zee kembali terguncang. Pertahanannya runtuh total; matanya yang sembap kini kembali berkaca-kac

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD