Sinar lampu ruang tamu yang temaram memayungi Jonathan yang tengah terkapar tak berdaya di atas sofa kulitnya. Ia berbaring terlentang, menatap kosong ke arah langit-langit dengan napas yang berat, sampai tiba-tiba getaran keras dari ponsel di atas di sampingnya menggaduh kesunyian. Dengan gerakan malas, Jonathan meraba-raba permukaan meja, meraih benda pipih itu tanpa minat. Namun, begitu nama "Reyhan" berkedip di layar, matanya langsung membelalak. "Ya, Rey? Ada kabar?" suaranya parau. "Aku sudah membawanya ke laboratorium. Mereka bilang prosesnya bisa dipercepat," suara Reyhan terdengar tenang, namun bagi Jonathan, itu adalah melodi paling indah. Mendengar jawaban di seberang sana, tubuh Jonathan seolah disengat listrik. Ia sentak menegakkan punggungnya hingga otot lehernya menegang

