Heri mematung, jemarinya mencengkeram ponsel dengan sisa tenaga yang seolah mendadak luruh. "Sayang... kamu sedang tidak bercanda, kan?" suaranya rendah, bergetar oleh desakan rasa tidak percaya yang menghantam tiba-tiba. Di seberang sana, terdengar helaan napas panjang Sifa, sebuah embusan napas yang terdengar berat dan sarat akan beban. "Aku pun masih sulit memercayainya, Mas..." "Tapi kenapa mendadak sekali?" cecar Heri. Dahinya berkerut dalam, mencoba mencari logika di tengah kabar yang terasa seperti petir di siang bolong itu. "Zee tidak memberi tahu alasannya," sahut Sifa, nadanya berubah sedikit merajuk, berlapis kelelahan yang nyata. "Aku sudah mencecarnya habis-habisan, Mas, tapi dia tetap gak mau ngasih tau." Heri melirik jam dinding yang berdetak monoton di kesunyian ruangan

