Kisah Sang Gadis dan Serigala [2]

2343 Words
"Lanjutkan ceritanya dong!" Nichole berteriak semangat layaknya anak kecil yang sedang dilanda penasaran. "Ok!" Annie mengiyakan. Gadis berambut pirang itu pun mulai melanjutkan ceritanya. *** "Sang gadis yang masih merapatkan mata itu mulai membukanya sedikit demi sedikit. Sang gadis masih bisa melihat kalau serigala di depannya kini berubah wujud menjadi manusia. Karena kebingungan, gadis itu pun akhirnya memberanikan diri untuk bertanya. 'Siapa sebenarnya dirimu?' Mendengar pertanyaan yang keluar dari mulut Sang gadis, membuat pria itu menoleh ke arahnya. Wajahnya sangat bahagia sekali. Seperti anak kecil yang mendapatkan mainannya kembali. 'Terima kasih. Terima kasih kau sudah mematahkan kutukan ini.' Pria itu mendekat girang sembari memegang bahu Sang gadis. Gadis itu masih kebingungan. 'Kutukan?' tanya Sang gadis. 'iya!' Sang pria menjawab pasti. 'Selama bertahun-tahun, aku telah dikutuk oleh penyihir jahat,' lanjutnya. 'Penyihir?' Sang gadis masih keheranan. Seolah dia belum percaya akan adanya penyihir. Namun yang jelas, dia harus percaya akan hal gaib dan semacamnya itu. Buktinya, dia menyaksikan sendiri akan kekuatan supernatural yang baru saja terjadi di depannya tadi. Yaitu, pertama serigala itu bisa berbicara layaknya manusia, kedua dia juga bisa berubah menjadi manusia seperti sekarang ini. 'Penyihir itu telah mengutukku menjadi serigala yang buas, dan menjadikanku sebuah dongeng. Menurut buku dongeng yang dibuatnya, kutukanku akan hilang jika dicium oleh seorang gadis. Dan kau telah menciumku tadi, itu artinya kau telah membantuku mematahkan kutukan itu,' jelas sang pria gembira. 'Baiklah. Sekarang sudah impas, biarkan aku pergi.' Gadis itu menggeser tubuhnya ke belakang, menghindar dari sang pria. 'Tunggu, biarkan aku juga membantumu.' Sang pria memberi penawaran. 'Apa yang bisa kau lakukan? Kau sendiri tak punya baju untuk menutupi tubuhmu. Lagi pula, aku juga tidak butuh bantuan. Aku hanya ingin pergi. Tolong biarkan aku pergi.' Gadis itu terus menggeser tubuhnya. 'Tapi ....' Gadis itu hendak berdiri, namun urung ketika melihat tangannya terluka. 'Aduh!' Gadis itu mengusap darah yang mulai keluar dari lengannya. Sepertinya, itu adalah luka akibat cakaran serigala tadi. 'Kau terluka, biarkan aku menolongmu,' tawar sang pria. 'Tidak perlu. Aku tidak apa-apa.' Sang gadis bersikeras, berusaha berdiri namun jatuh kembali saat terpeleset lembabnya tanah akibat hujan yang tak kunjung berhenti. 'Aduhhhh...!' Sang pria mulai bergerak, mendekat ke arah sang gadis dan mulai membantunya. Pria itu mencoba membopong tubuh sang gadis. 'Apa yang kau lakukan?' Garis itu hendak menolak, tapi ia tak bisa berbuat apa-apa ketika tangan kekar sang pria menguncinya. 'Aku hanya ingin menolongmu.' 'Aku tidak ingin-' '-Diam!' Pria itu langsung membawa sang gadis. Dia berjalan sembari membopongnya, memijak setiap genangan air, sedangkan pandangannya terus terfokus pada sang gadis yang terlihat cantik itu. 'Tubuhmu enteng juga, ya!' seru sang Pria. 'Lepaskan aku!' Gadis itu masih mencoba melepas diri. 'Aku tidak akan melakukannya. Karena ini akan menyalahi dongengnya,' kata Si pria. 'Dongeng?' Sang gadis bertanya penuh keheranan. Setelah kejadian supranatural dan kisah sang penyihir tadi, apa lagi akan dia dengar dari mulut si pria itu lagi. Sang pria menghentikan langkah kakinya. Matanya terfokus pada gadis yang sedang bergelantung di dadanya itu. 'Dalam dongeng itu, setelah kutukan ku dibebaskan, aku harus membantu gadis yang telah membebaskan kutukan ku itu,' kata pria itu. Dia melanjutkan perjalanannya. 'Apa itu perlu? Bagaimana kalau kau tidak membantunya? Apa kau akan berubah menjadi serigala yang buas lagi?' tanya Si gadis. Pria itu menaikkan kedua bahunya. 'Entah.' 'Lalu apa setelah itu?' tanya gadis itu. 'Aku akan menceritakan padamu nanti,' jawab sang pria. 'Kau akan membawaku ke mana?' tanyanya lagi. Pria itu menerawang jauh. Di antara butiran air hujan, dia melihat sebuah gubuk yang berdiri tak jauh darinya. 'Sepertinya di sana gubuk. Aku akan membawamu ke sana dan mengobati mu.' Pria itu terus berjalan, menerobos air hujan yang sudah mulai pudar. Langit saat itu dalam keadaan yang gelap total. Petir juga masih menyambar hebat. Sesampainya di sebuah gubuk, pria itu membawa sang gadis masuk ke dalam. Ada sebuah batu besar yang datar di dalamnya. Pria itu meletakkan gadis itu di atasnya. Batu itu sangat lebar dan menyerupai tempat tidur, jadi bisa digunakan berbaring. Dalam gubuk itu kosong kecuali hanya batu-batu. 'Tunggulah di sini, aku akan cari sesuatu.' Pria itu kembali keluar setelah menidurkan sang gadis. 'Kau mau ke mana?' Gadis itu berteriak padanya, namun pria itu tak menggubris dan langsung keluar. 'Ini bagus. Aku bisa pergi dari sini sebelum makhluk aneh itu kembali. Aku tidak pernah menyangka akan bertemu siluman seperti itu. Yah, dia memang tidak lebih dari siluman.' Gadis itu bergumam pada dirinya sendiri. 'Aku harus segera pergi. Iya!' ujarnya mantap. Gadis itu membangunkan tubuhnya. Ia berusaha menapakkan kakinya di tanah. Tubuhnya basah kuyup dan kakinya mengerut karena kedinginan. Ketika ia hendak berdiri, kakinya itu sakit lagi. 'Aduh!' rintihnya spontan. 'Apa yang akan kau lakukan?' Suara itu berasal dari pintu gubuk. Gadis itu terkejut mendapati sang pria sudah kembali. Dia kembali tidak dengan tangan kosong, tetapi membawa beberapa dedaunan di tangannya. Kini pria itu juga sudah tidak telanjang bulat. Ada rentetan dedaunan yang rangkai gua untuk menutupi k*********a itu. Pria itu berjalan, mendekati sang gadis. 'Jangan bilang kau akan pergi dari sini,' tebaknya. 'Aku benar-benar ingin pergi dari sini.' 'Sudah kubilang aku akan membantumu terlebih dahulu, baru setelah itu kau boleh pergi kemana pun kau suka nantinya.' 'Apa yang kau bawa itu?' tanya sang gadis setelah melihat dedaunan aneh di tangan kanan pria itu. Pria itu melihat daun yang dipegangnya. 'Ini daun dewa. Ini akan menyembuhkan lukamu.' Pria itu duduk di sebelah sang gadis. 'Kemarilah, aku akan mengobati kaki dan lenganmu.' Gadis itu masih tak menurut. 'Kau jangan takut padaku. Aku bukan penjahat lagi seperti serigala. Aku kini sudah kembali ke wujud asliku,' kata Si pria. Gadis itu mulai luluh. 'Di mana yang sakit?' Pria itu menyentuh kaki mulus sang gadis dan menaruhnya di pangkuannya. 'Di situ.' Gadis itu menunjuk betisnya. Pria itu mulai mengobatinya. Melembutkan dedaunan dan mengaplikasikannya pada betis sang gadis. 'Sebenarnya siapa kau ini?' tanya Sang gadis yang penasaran. 'Dulu aku adalah seorang putra Raja. Waktu itu aku sedang berburu di hutan. Aku melihat seekor rusa emas. Aku berusaha memburu rusa emas itu. Aku berniat memanahnya. Begitu anak panahku itu lepas dari busurnya, aku terkejut. Bukan rusa emas yang aku dapatkan, tetapi malah seekor serigala. Serigala itu kesakitan. Aku mendekatinya, berusaha menolongnya. Aku mencabut anak panah itu dari tubuh serigala. Setelah anak panah itu lepas, aku terkejut saat serigala itu tiba-tiba berubah menjadi manusia.' 'Seperti perubahan wujudmu tadi?' selak gadis itu bertanya. Pria itu mengangguk. 'Tapi, serigala itu bukan berubah menjadi manusia seperti ku, tetapi berubah menjadi manusia yang mengerikan. Seorang wanita berhidung panjang dan berambut panjang.' 'Apa itu penyihirnya?' 'Iya!' 'Sekarang aku tahu kenapa kau menjadi serigala. Penyihir itu marah dan mengutukku menjadi serigala. Benarkan?' tebak gadis itu. 'Iya. Tapi tidak sepenuhnya benar.' 'Maksudmu?' 'Setelah aku mengakui kesalahanku, aku mencoba meminta maaf pada penyihir itu. Tapi penyihir tidak mau memaafkan ku, karena dia sengaja melakukan hal itu. Dia sengaja mencari mangsa. Dia menyamar menjadi serigala, agar siapa pun yang telah melukainya baik disengaja maupun tidak disengaja, penyihir itu akan menjadikannya sebuah dongeng.' 'Aku tidak mengerti.' Gadis itu kebingungan. 'Maksudnya, aku akan dijadikan tokoh dalam dongengnya. Dalam dongengnya, aku akan bertemu dengan seorang gadis dan dia akan menciumku. Baru setelah itu aku akan terbebas dari kutukan itu. Setelah terbebas, aku harus membantu gadis itu. Seperti yang aku lakukan padamu saat ini.' Pria itu menatap dalam pada wajah sang gadis. 'Kau sudah sembuh,' serunya kemudian. 'Hah?' Gadis itu melihat ke arah kakinya. Ia mencoba menggerakkannya. Dan benar saja, kakinya itu sudah tidak sakit lagi. 'Sekarang giliran lenganmu.' Pria itu mendekat ke arah lengan sang gadis. Dia mengendusnya. 'Apa yang akan kau lakukan?' tanya sang gadis kaget. Pria itu melirik ke arah wajah gadis itu. Kemudian dia terfokus pada lengannya lagi dan mencium lengannya itu. Bukan mencium, lebih tepatnya menyedot darah yang mengalir dari lengannya. Awalnya gadis itu kaget dan hendak memberontak, tapi setelah menyadari lengannya juga bereaksi, ia membiarkannya. Mata gadis itu hanya terfokus pada sang pria. 'Sudah sembuh.' Pria itu mendongakkan kepalanya, dan menunjukkan lengan sang gadis yang sudah sembuh total seperti tidak pernah terluka. 'Bagaimana ini bisa?' Gadis itu tampak senang. Sedangkan pria itu tersenyum memandangi sang gadis. 'Lantas, apa yang akan terjadi selanjutnya? Apa kau sudah benar-benar terbebas dari kutukan itu? Apa dongengnya sudah tamat?' tanya si gadis. Pria itu menggeleng. 'Dongengnya belum sepenuhnya tamat. Ada yang harus aku lakukan lagi.' 'Apa itu?' 'Apa kau akan membantuku?' Gadis itu menunduk ke bawah sebelum menjawab. Dia melirik kaki dan lengannya yang sudah sembuh karena sang pria. Lantas, kedua matanya itu menatap wajah sang pria. 'Iya!' serunya sembari mengangguk setuju. 'Katakan apa yang harus kau lakukan dalam dongeng itu?' Sang pria tampak canggung mengatakannya. 'Kisah selanjutnya ... aku harus ... harus berhubungan intim dengan gadis itu atau setidaknya aku berhasil membuatnya jatuh cinta,' katanya gugup. 'Apa?!' Gadis itu berdiri seketika. 'Maukah kau menyelesaikan kisah itu? Maukah kau berhubungan intim denganku?' tanya Sang pria penuh harap. Dia mulai mendekati gadis itu dan memegang bahunya dari belakang." *** "Apa gadis itu akan menyetujui permintaan konyol pria itu?" Kali ini Maya bertanya di sela-sela cerita Annie. "Aku harap dia akan menerimanya dan pasti akan ada adegan hot nya, iya, kan, Annie?" Rio bersorak gembira. "Huu... Dasar, lo m***m aja yang ada di pikiranmu," ejek Alex. "Ayo Annie, lanjutkan ceritanya dong. Gue penasaran banget nih!" seru Jay yang mulai tak sabar mendengar kelanjutan ceritanya. Annie mulai melanjutkan membaca ceritanya. *** "Sang pria mulai membujuk sang gadis. Dia meraba lengan gadis yang lembut bak sutra itu. Kemudian dia berbisik tepat di telinganya. 'Kumohon, bantu aku mematahkan kutukan ini seutuhnya.' Pria itu meminta penuh harap. Akhirnya gadis itu pun menyetujuinya. Karena ternyata dia juga mulai jatuh cinta pada sang pria. Gadis itu benar-benar menginginkan pria itu. Mereka pun melakukan hubungan intim di bawah atap gubuk dan di antara rintik hujan yang permai. Waktu pun berlalu. Sang gadis tampak senang terbaring di pelukan sang pria. Dia membelai lembut pipi pria itu. Tangannya itu bermain-main dengan lihai, menjelajahi wajah pria yang mempesona. Tidak bisa dipungkiri, pria itu berwajah tampan sekali. Maklum, karena dia adalah seorang pangeran. Begitu asyiknya setelah bercinta, gadis itu menjadi sangat dekat dengan si pria. Namun, sialnya pria itu malah menepik tangan sang gadis dan menghentikannya. 'Sepertinya aku mulai jatuh cinta padamu, Pangeran,' aku gadis itu. Mendengar pernyataan sang gadis, pria itu langsung terbangun dari baringnya. Dia begitu marah. 'Kau tidak boleh melakukan itu!' katanya tegas. *** "Kenapa?" Lagi-lagi ada yang memotong cerita Annie. Kali ini Nichole yang berbicara. "Bukankah itu yang diinginkan si pria itu agar terbebas dari kutukannya?" tanya Nichole penasaran. "Gue juga nggak tahu. Lebih baik kita simak ceritanya lagi." Annie menegaskan. "Baiklah. Ayo lanjutkan, Annie," pinta Maya. Annie terfokus pada buku ceritanya lagi. *** "Gadis itu tampak bingung dengan sikap aneh yang pria itu tunjukkan tiba-tiba. Gadis itu pun bertanya pada sang pria. 'Bukankah kau yang bilang kutukanmu itu akan hilang jika aku jatuh cinta padamu?' 'Iya. Dan seharusnya itu tidak kau lakukan,' jawab si pria. 'Kenapa?' 'Karena kau belum mendengar dongeng selanjutnya.' 'Apa dongeng selanjutnya?' Pria itu berjalan menjauhi sang gadis. Dia menunduk, membuat gerakan aneh. Mengambil segenggam batu dan memukul-mukulkan pada tanah. Gadis itu pun kebingungan. Dia berjalan mendekati sang pria dan bertanya, 'Katakan apa dongeng selanjutnya?' Brug! Crat! Pria itu tiba-tiba berbalik menghadap sang gadis dan memukul kepala sang gadis dengan batu yang dipegangnya. 'Dongeng selanjutnya adalah gadis itu harus lenyap!' ucapnya mantap. 'Ahhh!' Gadis itu memegangi keningnya yang mulai mengucur darah. 'Apa?!' 'Bagaimana? Enakkan rasanya?' Pria itu menghantam kepala sang gadis dengan batu lagi. 'Sekarang, dongeng ini akan lebih menarik lagi. Hahaha!' Gadis itu mencoba berlari keluar gubuk, namun pria itu dengan cepat menghantamnya dengan batu. Kini lebih besar hingga membuat kaki gadis itu pincang. Gadis itu tersimpuh di tanah. Sang pria menghampirinya dengan buas. Dia menampar kepala gadis itu dengan lengannya dengan cukup kuat hingga membuat mulutnya berdarah. Gadis itu menggeser tubuhnya ke belakang. Sang pria terus mengejarnya. Dia mengambil batu runcing dan meloncat tepat di atas sang gadis. Dia menusuk mata kirinya dengan batu runcing itu hingga matanya rusak mengucur darah. Gadis itu mengerang hebat, meminta untuk dilepaskan, namun sang pria tidak mau. Pria itu justru terus memukuli gadis itu. Akhirnya gadis itu tak sadarkan diri." *** "Apa dia sudah mati?" tanya Alex tiba-tiba. "Nggak seru dong kalau gadisnya mati!" decak Rio bernada kecewa. Annie kembali bercerita. *** "Gadis itu masih bertahan. Dia mencoba meraba-raba sekitarnya. Akhirnya dia menemukan sebuah batu. Segera dia memukul kening pria itu. Pria itu bertambah murka. Dia mengambil batu yang begitu besar, dan langsung menjatuhkannya tepat di kepala sang gadis. Kepala gadis itu pecah tertindas batu besar hingga darahnya memuncrat mengenai wajah sang pria. Gadis itu akhirnya mati. Sang pria begitu senang bisa menghabisi gadis itu. Namun tidak berakhir di situ. Pria itu berubah menjadi mengerikan. Taring-taring mulai menonjol di mulutnya layaknya serigala. Tak membuang waktu lagi, pria itu menggigit perut sang gadis dan mencabik-cabiknya. Dia mulai memakan organ dalamnya. Mengunyah ususnya dan merogoh tulang-tulangnya. Kemudian tulang-tulangnya dipatahkan dan dijilat layaknya anjing. Setelah perutnya, gadis itu beralih ke kakinya. Dia mulai memangsa kakinya, menggigit jari-jarinya dan memakan tulangnya. Semua anggota tubuh sang gadis kini telah berantakan dan berserakan. Semuanya tak ada yang utuh, hanya tersisa tulang-tulang berlumur darah." *** "Ih. Ngeri bangetttt." Maya berderit. Dia mulai merasa kengerian setelah mendengarkan cerita Annie. "Apa itu benar-benar nyata?" "Lalu apa lagi yang terjadi?" "Harus gue akui ceritanya sungguh menarik." "Tunggu, dulu. Kalian belum mendengar kejutan ceritanya. Kalian mau tahu plot twistnya?" Annie memandang mereka dengan penuh semangat. "Bagaimana?" ujar mereka serentak. "Plot twistnya adalah, apa yang dikatakan oleh sang pria itu semua adalah bohong belaka. Dia telah menipu sang gadis dengan berdalih tentang sebuah kutukan. Karena ternyata dia sendirilah penyihir itu. Dia sengaja menjebak gadis itu agar dia bisa memakan darah sang gadis. Dia melakukan itu karena dia ingin kekuatan abadi. Dia akan bertambah kuat jika berhasil memangsa darah manusia. Dan yang lebih mencengangkannya lagi, sebenarnya cerita yang dia ceritakan pada sang gadis bukanlah dongeng tentang sang gadis dan serigala, tetapi, itu adalah DONGENG KEMATIAN!" "DONGENG KEMATIAN?!" Mereka berkata serempak dengan memasang wajah keheranan. "This is crazy!" kata Maya sembari mengerutkan dahi. "Exactly! f*****g crazy story." Alex menambah. *** TO BE CONTINUED
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD