Siang itu mereka masih berkumpul bersama, membahas tentang cerita yang baru saja Annie bacakan pada mereka.
"Dongeng Kematian? Gue rasa itu hanya omong kosong belaka." Jay menyandarkan punggungnya di sandaran kursi sembari melipat tangannya berlagak angkuh.
"Iya, penyihir dan semacamnya ... itu benar-benar kisah fiksi. Dunia sudah modern, 2020 di mana kecanggihan tekhnologi lagi memuncak pesat, nggak mungkin ada hal supranatural semacam itu," asumsi Alex.
"Tapi sejarah akan makhluk-makhluk purba itu memang benar sih, cuman kalau teori soal gaib, aku belum sepenuhnya percaya." Maya pun ikut berkomentar. "Bagaimana menurut mu, Ann?" tanya Maya sembari menoleh ke arah Annie.
Annie sebenarnya bingung mau jawab apa. "Entahlah, aku juga belum pernah bertemu langsung sama mereka yang berasal dari dunia lain. Selama ini aku hanya tahu tentang mereka lewat bacaan maupun film. Tapi ... aku percaya akan adanya dunia lain selain dunia kita."
"Untuk membuktikan kalau dunia lain itu ada atau tidak, bagaimana kalau kita bertemu langsung dengan penghuninya?" Nichole angkat bicara dan membuat semua temannya menatapnya heran.
"Maksudmu?" tanya Jay dengan kening yang berlapis-lapis.
Nichole meletakkan kedua tangannya di atas meja, mendekatkan diri pada teman-temannya. "Jadi begini, gue pernah baca di internet, kalau mereka ingin melihat hantu, harus melakukan uji nyali," jelas Nichole serius.
"Uji nyali? Uji nyali bertemu hantu maksud lo, Bro?" tanya Rio sembari menepuk bahu Nichole.
Nichole mengangguk. "Iya."
Rio tertawa mengejek. "Bro, gue kira lo orangnya modern, ternyata lo sama kayak Annie, masih percaya hal begituan. Kuno!"
"Gue nggak bilang gue percaya. Tapi gue cuma mau buktiin aja apa mereka benar-benar ada atau tidak. Setelah itu, baru kita bisa mendapatkan pencerahan soal hal gaib," jawab Nichole membela diri.
"Terus ... rencana lo apa?" tanya Maya yang mulai serius.
Nichole menjelaskan, "Begini, kita bisa ke tempat-tempat angker, yang memang di percaya berhantu. Kita harus pergi ke sana malam-malam, biar kita bisa melihat langsung."
"Stop ... stop ... stop ... ke tempat angker malam-malam? Norak tahu nggak sih. Kayak nggak ada kerjaan lain aja." Jay masih bersikap tak acuh.
"Exactly! Lebih baik kita pergi ke bar ketemu cewek-cewek seksi. Ngapain malam-malam ketemu hantu, nggak ngotak. Hahaha." Rio tertawa renyah.
Maya melempar steak ke arah Rio. "Huu ... dasar. Cewek mulu yang ada dipikiran lo."
"Tau tuh, otak m***m!" cerca Alex seraya terkekeh.
"Bagaimana menurutmu, Ann?" tanya Nichole meminta pendapat Annie.
"Hmmm." Annie tampak berpikir. "Aku rasa itu tidak buruk sih. Yah, kali-kali kita liburan gitu ke tempat-tempat angker biar hidup kita berwarna, nggak mesti ke tempat-tempat wisata mulu."
"Ann, lo sudah eror ya? Liburan tuh di pantai, hotel, bukan tempat-tempat angker yang aneh kayak gitu. Memangnya setan-setan mau kita kunjungi?" kata Jay benar-benar tak setuju dengan ide itu.
"Siapa tahu ada hantu cantik, lo bisa kepincut nanti. Hahaha," sahut Alex membuat semuanya tertawa.
"Jadi gimana?" tanya Maya kembali pada rencana pembicaraan.
"Bentar, emang lo tahu tempat angker mana yang bisa kita kunjungi?" tanya Annie pada Nichole.
Nichole merogoh ponsel di sakunya dan membukanya. "Ada sih. Kemarin aku lihat di i********: ada tempat yang katanya angker banget dan tidak ada seorang pun yang berani ke sana," kata Nichole sembari bermain ponselnya.
"Mana coba lihat?" Rio mendekat ke arah Nichole dan melihat isi ponsel temannya itu. "Eh gila. Itu tempat serem banget keliatannya. Yakin lo mau ke sana?"
"Kenapa? Lo takut?" ejek Jay.
"Justru yang serem gini yang kita cari," timpal Nichole.
"Mana coba lihat!" pinta Alex.
Nichole memberikan ponselnya pada Alex dan digilir ke teman-teman lainnya agar mereka juga melihat.
"Terus rencananya kapan?" Annie bertanya setelah melihat tempat yang ada di ponsel Nichole.
"Malam ini!" jawab Nichole mantap. "Malam ini kan malam Jum'at, jadi biar aura horornya terasa kita pergi malam ini aja," usul Nichole.
"Boleh." Annie mengangguk setuju. Lainnya juga mengiyakan.
"Eh, Ann. Lo ajak adik lo yang cute itu, ya!" pinta Rio berlagak gemas.
"Veronica?" tanya Annie malas.
"Iya!" Rio mengangguk semangat.
"Hati-hati, Ann. Adik lo bisa dia sakitin entar. Hahaha," canda Alex.
Annie memutar mata bosan. "Kalau nggak ada yang dibicarakan lagi, gue pergi dulu ya. Kayaknya kelas gue sudah masuk." Annie menata tas kecilnya dan memasukkan buku ceritanya di dalam tas itu.
"Ok. Kita juga sebaiknya bubar." Jay berkata sembari berdiri. Ia menghampiri Annie dan berbisik tepat di telinganya. "Aku akan menjemputmu nanti."
Annie tak membalas, dan hanya memutar mata bosan. Kemudian gadis itu kembali melangkah meninggalkan Jay.
"Ann! Tunggu!" Maya berteriak dan menghampiri Annie. "Bareng yuk, gue juga mau ke kelas," ajak Maya yang kebetulan fakultas mereka dekat.
"Ann, lo masih belum akur ya sama adikmu?" tanya Maya merujuk pada Veronica.
"Males gue ngomongin dia. Gue belum bisa maafin dia. Dia yang sudah merenggut ayahku dariku." Wajah Annie berubah kesal saat mengingat kejadian pilu setahun lalu.
"Tapi dia kan adik kandungmu, Ann. Ayahmu kan juga ayah dia." Maya berusaha mengingatkan fakta kalau Veronica adalah saudara kandung Annie.
"Kalau aku melihatnya, aku masih ingat saat kecelakaan itu. Aku yakin dia yang menyebabkan kecelakaan itu. Dia itu kurang apa sih. Dulu kehidupanku enak, May. Tapi semua berubah setelah Veronica lahir. Ibu lebih menyayangi dia. Dia memang anak kebanggaan. Hanya ayah yang peduli denganku. Dia tidak pernah membedakan kami. Tapi ... malam itu Veronica merenggut segalanya. Kalau saja dia tidak nekat nyetir mobil sendiri, pasti ayahku masih ada bersamaku sekarang ini." Annie mengerjap, meloloskan butiran air mata yang muncul akibat mengingat kejadian setahun lalu.
Maya memegang kedua bahu Annie dan mengelusnya. "Kamu yang sabar ya. Aku yakin ayahmu itu sudah tenang di alam sana."
Annie mengangguk, dan tersenyum pada Maya. Lantas mereka lanjut berjalan. Teman-teman cowok lainnya juga berjalan di belakang mereka berdua. Sampai di bawah anak tangga, Annie menghentikan langkahnya saat melihat adiknya berbicara dengan teman-temannya. Kebetulan adiknya itu juga kuliah di satu universitas dengan Annie.
"Hi, Kak!" sapa Veronica saat melihat kakaknya baru saja turun dari tangga.
Annie tak merespon dan malah melengos pergi.
Hal semacam itu bukan kali pertama Veronica dapat dari kakak kandungnya itu. Acap kali mereka bertemu, mereka tidak pernah mengobrol banyak. Saat hendak makan pun Annie memilih meninggalkan meja makan saat Veronica bergabung untuk makan. Tetapi, untungnya Veronica tidak pernah membenci kakaknya itu.
Veronica itu gadis yang baik. Dia cantik, memiliki rambut hitam yang panjang dan berpakaian cenderung sopan. Banyak juga cowok-cowok kampus yang tergila-gila dengannya. Termasuk Rio, teman Annie.
"Veronica!" Itu suara Rio. Dia berlari cepat menghampiri Veronica saat melihat gadis itu yang bersandar di tiang bangunan. "Hi!" sapanya sok manis.
"Hi!" Veronica membalas dengan canggung.
"Veronica, aku peringatkan untuk hati-hati dengan buaya darat ini," canda Alex saat dia dan Nichole sampai di sana. "Bro, gue cabut dulu ya!" lanjutnya pada Rio kemudian berlalu bersama Nichole dan Jay.
"Kamu nggak ada kelas?" tanya Rio basa basi.
"Sebenarnya ada. Tapi katanya dosen nggak datang-"
"-Jadi sekarang free dong!" seru Rio memotong perkataan Veronica.
Gadis itu mengangguk.
"Jalan yuk!" ajak Rio.
"Memangnya kamu nggak ada kelas?" kata Veronica balik tanya.
"Untuk kamu mah bodo amat sama kelas. Lagian percuma aku masuk kelas kalau cuma numpang tidur. Hehe."
Veronica tertawa.
"Gimana? mau?"
"Boleh."
"Yes!"
Akhirnya mereka pun berjalan bersama. Rio memang pandai dalam merayu gadis. Dia memang terkenal playboy di kampusnya. Bahkan Jay masih kalah dengannya kalau soal menaklukkan hati cewek.
Sebenarnya penampilan Rio tidak sekeren itu. Bahkan dia jauh lebih tampan dari Jay, Alex, juga Nichole. Dia yang paling pendek dari ketiga temannya. Tubuhnya standar, dan rambutnya sengaja dicat biru muda. Dia juga bodoh. Tapi, entah kenapa seperti ada sihir dalam perkataannya. Terutama saat dia menggoda para-para cewek.
Dari ketiga cowok teman Annie, yang paling tampan dan cool adalah Jay. Dia tinggi juga kekar. Alex juga sama, tubuhnya tinggi dan atletis. Sedangkan Nichole anaknya suka memakai kaca mata. Padahal matanya itu tidak bermasalah. Karena itulah dia sering dicap cupu dari ketiga temannya itu.
***
Malam itu mereka sudah berkumpul. Annie terkejut saat melihat Veronica yang ternyata juga ikut. Awalnya dia marah, tetapi Maya berhasil meredam amarahnya dan membujuknya.
Mereka semua ada delapan orang. Ada tiga mobil yang mereka tunggangi. Nichole bertugas sebagai petunjuk jalan karena memang dia yang tahu tempatnya.
Akhirnya mobil mereka sampai di sebuah tempat yang gelap. Mereka pun keluar dari mobil satu persatu. Semuanya melihat keadaan sekitar. Dilihatnya terdapat sebuah bangunan tua yang sudah kumuh. Lebih tepatnya rumah besar yang sudah tak berpenghuni.
"Lo yakin, Nic, kita akan masuk ke sana?" tanya Rio yang terbilang penakut.
"Ngapain kita ke sini kalau tidak yakin," balas Nichole.
"Mari kita masuk!" Annie mulai berjalan di depan. Yang lainnya membuntutinya dari belakang.
"Veronica, ayo!" ajak Rio saat melihat Veronica masih berdiam di tempat. "Kamu takut, ya?" tanyanya kemudian.
"Lo ngapain ngajak orang penakut? Bikin masalah saja!" ketus Annie menyindir adiknya.
"Nggak kok." Veronica berusaha tersenyum dan menyembunyikan ketakutannya. Dia mulai berjalan bersama Rio.
Mereka semua kembali berjalan. Kebetulan rumah tua itu juga tidak tertutup. Jadi mereka bisa mengakses ke dalam dengan leluasa.
Mereka mulai memasuki rumah itu. Hawa dingin mulai menerpa setiap kulit dan memasuki pori-pori. Semuanya saling memandangi interior bangunan tua itu yang berdebu nan gelap itu.
"Terus apa yang akan kita lakukan selanjutnya?" tanya Jay. Suaranya begitu nyaring dan mendengung saat berada di dalam sana.
"Apa kita akan menunggu sampai salah satu dari hantu penunggu di sinu muncul?" tanya Maya sembari memerhatikan langit-langit rumah yang sudah bocor dan dipenuhi sarang laba-laba. Sedangkan tangannya saling meraba lengan guna mengusir ketakutan juga dinginnya udara malam itu.
"Kurasa itu yang bisa kita lakukan sekarang," sahut Annie terdengar pasrah.
Mereka mulai memanfaatkan senter ponsel guna menyorot keadaan sekitarnya. Jay berhasil menangkap bayangan sesuatu, namun saat didekati itu hanya tikus dan hewan pengerat lainnya. Satu persatu dari mereka mengekspos tempat itu. Kadang mereka juga mengambil gambar melalui ponsel.
Sudah cukup lama mereka berada di dalam sana. Bahkan sudah hampir satu jam. Namun apa yang mereka cari belum berjumpa juga. Malam pun semakin larut dan suasana semakin mencekam ditambah hawa dingin yang bertambah menyeruak menyapa pori-pori merek.
"Malam sudah semakin gelap dan dingin. Tapi setan itu belum muncul juga. Sebenarnya ada nggak sih, setan itu?" Jay mulai frustasi.
"Iya nih. Hampir tengah malam," sahut Alex sembari melihat jam di ponselnya yang menunjuk pukul setengah dua belas malam.
"Sebaiknya kita sudahi saja omong kosong ini!" ujar Maya terdengar kesal.
Alex mendekati gadis itu dan merangkulnya dari samping. "Kita pulang saja," usulnya pada semua temannya.
Rio ikut menyahut, "Setan itu nggak ada. Dia takut sama kita. Mana mungkin dia berani muncul di depan kita!"
Brak!
Tiba-tiba bunyi benda jatuh terdengar dari belakang dan mengagetkan mereka. Jay dengan cepat mengecek dengan senternya.
"Ada apa, Jay?" tanya Annie sembari melangkah menghampirinya
"Nggak. Nggak ada apa-apa. Mungkin hanya benda jatuh saja," kata Jay setelah dirasa tidak ada sesuatu yang perlu dicurigai.
"Baiklah kita pulang saja!" ajak Nichole memutuskan.
Mereka pun memilih untuk meninggalkan tempat itu. Annie berjalan paling belakang bersama Jay. Lainnya sudah hampir mencapai pintu keluar.
Srekkk ....!
"Aduhhhhhh..."
"Ada apa Ann?" tanya Jay saat melihat Annie hampir terjatuh.
Annie mengarahkan senter ponsel ke bawah. Cahaya itu berhasil menangkap sebuah benda persegi panjang yang tebal. Seperti sebuah buku. Annie langsung mendekatinya.
Benar adanya. Sebuah buku lusuh terdampar di alas berdebu. Buku itu tampak kuno sekali, namun cukup tebal. Sampulnya berwarna hitam.
"Apa itu?" tanya Jay.
"Kurasa ini sebuah buku." Annie memungut buku tersebut. Membersihkan debu yang menyelimutinya hingga judul buku berwarna merah itu dapat dibaca.
"Dongeng kematian." Annie membaca judul dari buku itu dengan jidat berkerut. "Guys!" teriaknya sembari berjalan menghampiri teman-temannya yang sudah hampir keluar. Sedangkan Jay mengikutinya dari belakang.
"Gue nemu sesuatu," seru Annie pada mereka.
"Apa itu?" tanya Alex.
"Buku. Buku yang ada dalam cerita yang aku bacakan tadi siang. Buku ini, buku terkutuk itu. Dongeng kematian!" ujar Annie mantap.
Semua teman-temannya melihat buku itu satu persatu dengan heran.
"Siapa pemilik buku ini?" tanya Nichole.
"Gue juga tidak tahu. Bagaimana kalau kita bawa pulang saja?" usul Annie.
"Jangan, Kak. Itu bukan milikmu." Veronica tiba-tiba melarang Annie dan itu membuat Annie marah.
"Diam lo! Tau apa kau soal milik memilik?!" ketus Annie.
Veronica hanya terdiam menunduk.
"Ann, apa sebaiknya kita jangan bawa buku ini?" kata Maya ikut berasumsi.
"Ah, gue tidak peduli dengan buku itu mau lo bawa apa nggak. Yang penting kita pergi dari sini buruan!" Rio mulai tak sabar untuk segera pulang.
"Bawa aja udah!" ujar Jay dari belakang Annie.
Akhirnya mereka pun memutuskan untuk pulang dan membawa buku dongeng tersebut.
TO BE CONTINUED