Pada suatu hari, seorang petani menanam tanaman buah-buahan dan sayur-sayuran di ladangnya. Petani itu sangat rutin menyirami setiap hari. Petani merawat tanamannya itu layaknya anaknya sendiri. Hingga pergantian musim tiba, yaitu pada musim buah, tanaman yang petani tanam itu berbuah dengan sangat banyak dan segar. Petani senang sekali melihat hasil tanamnya sudah berbuah dan besoknya dia berencana untuk memanennya.
Pada pagi yang cerah seekor kancil yang cerdik sedang berjalan-jalan keluar hutan menuju arah perkebunan milik petani. Dengan seketika langkah sang Kancil terhenti begitu melihat kebun petani yang sangat subur dan banyak sayur serta buah-buahan. Terutama buah mentimun yang sangat lebat dan segar. Si kancil memandangi kebun mentimun itu sembari bergumam, "Wah mentimun nya segar sekali. Pasti enak sekali kalau dimakan. Kebetulan aku juga sangat lapar dan haus, mentimun itu cocok untuk menghilangkan rasa dahaga ini".
Setelah mengamati tidak ada pemilik kebun di sana, bergegaslah Si kancil itu mendekati kebun mentimun petani. "Aku rasa petani itu masih belum menengok kebunnya. Aku akan aman," ujar sang Kancil.
Tibalah di kebun mentimun, Si kancil segera mengambil mentimun yang besar dan segar-segar itu lalu dimakannya lahap-lahap. "Aduh yang ini kok kurang enak sih, coba yang satu lagi kelihatan besar dan kayaknya lebih enak dimakan," ujar Si kancil sembari memilih-milih mentimun yang besar-besar di sekitarnya itu. Tanpa sadar Si kancil telah merusak kebun itu dengan kakinya. Setelah kenyang dan mengambil beberapa mentimun untuk dibawa pulang kehutan lagi, bergegaslah Si kancil pergi meninggalkan kebun itu.
Pagi itu memang Petani mengurungkan niatnya untuk memanen buahnya, lantaran petani masih sakit pegal-pegal. Jadi pagi itu Si Kancil masih selamat tidak dipergoki. Namun perbuatan itu tidak membuat Si kancil jera, justru dia ketagihan untuk mencuri mentimun milik petani itu.
Keesokan harinya, Si kancil merencanakan untuk mencuri mentimun lagi. "Aku punya tempat makanan banyak jadi tidak perlu capek-capek lagi mencari makanan kemana-mana lagi, besok saya akan kembali untuk mengambili mentimun ini lagi," ujar Si Kancil sambil Pulang dengan perut kenyang.
Di siang harinya petani datang ke kebun untuk melihat hasil kebunnya apakah masih aman atau tidak. Setelah sampai di kebun mentimun miliknya, Petani itu sangat terkesiap. Petani itu melihat mentimun miliknya berserakan bekas gigitan hewan dan banyak juga mentimun yang hilang. Kebun itu telah dirusak.
Petani sangat marah melihat mentimunnya banyak yang hilang telah dicuri. Lantas petani pun mencari akal untuk menangkap si pencuri mentimunnya tersebut, sambil istirahat dia berpikir bagai mana mencari akal untuk menangkap si pencuri tersebut. Setelah beberapa lama berpikir sambil beristirahat, akhirnya petani mendapatkan ide untuk menangkap dengan jebakan untuk pencuri itu. Setelah membuat jebakan, petani lekas balik untuk pulang lantaran hari sudah mulai usai.
Malam pun tiba. Si kancil sudah menghabiskan semua persediaan makannya tadi siang, dan kini dia sudah mulai lapar lagi. Si kancil tidak bisa tidur dengan perut kosong, karena itulah dia berniat untuk pergi ke kebun milik petani dan mencuri mentimunnya lagi.
Berangkatlah sang kancil keluar hutan sendirian di tengah malam. Sesampainya di kebun, Si kancil langsung masuk ke lahan tanpa memedulikan apapun. Setelah memasuki lahan, tiba-tiba ...
Tok! Tok! Tok!
Annie berhenti membaca cerita itu seketika dan menutup bukunya. Gadis itu menoleh ke arah jendela kamar setelah mendengar suara ketukan dari luar.
Tok! Tok! Tok!
Annie beringsut dari ranjang, dan mulai berjalan. Ia melangkah menuju jendela berniat untuk mengecek siapa yang telah mengetuk jendela kamarnya. Begitu sampai di depan jendela, Annie membukanya perlahan.
Angin malam langsung menerobos masuk begitu saja. Dingin dan menusuk ke ulu hati. Dilihatnya di luar sangat gelap. Maklum, saat itu malam sudah larut sekali. Setelah pulang dari tempat angker tadi, Annie masih belum tidur. Ia memilih membaca buku dongeng yang dia temukan di bangunan tua tadi.
"Mungkin tadi hanya angin yang menerpa jendela saja," gumam Annie berasumsi.
Setelah dirasa tidak ada-ada, Annie kembali menutup jendelanya. Lantas gadis itu berjalan ke arah ranjangnya lagi, memperhatikan buku dongeng yang tergeletak di atas ranjang. Annie melirik ke arah jam beker di atas nakas. Jam itu menunjuk pukul 01.00 dini hari. Sudah selarut itu, tetapi Annie belum memilih untuk pergi ke alam mimpinya.
"Ahh... rasanya ngantuk sekali," ujarnya sembari menutup mulutnya. "Aku sudah ngantuk, tapi dongengnya belum selesai. Aku masih penasaran dengan kelanjutannya. Aku akan membacanya sampai kisah kancil dan petani ini berakhir, baru setelah itu aku akan tidur."
Annie langsung bergegas menaiki tempat tidurnya. Dia duduk bersila dan meraih buku dongengnya. Tak menunggu waktu lagi, akhirnya dia membuka halaman tadi dan membacanya.
***
"Aduhhhhhh!" Si Kancil menjerit saat menyadari ada sesuatu yang menyangkut di kakinya. Dia tidak tahu kalau dia sudah terjebak dalam perangkap petani.
Si kancil berusaha melepas diri, namun semakin dia berusaha melepas diri semakin pula kakinya itu terjerat. Si kancil berteriak minta tolong, tapi tidak ada satu pun hewan yang lewat di sana. Hingga datangnya sebuah bayangan hitam dengan membawa cangkul yang dipikul di bahunya.
"Mangsa sudah terjebak!"
***
Annie menutup bukunya kembali saat mendengar seseorang bersuara di kamarnya. Lantunan kalimat yang sama yang bayangan itu katakan pada Si kancil di dalam buku dongeng.
"Mangsa sudah terjebak!"
Annie tak mau ambil pusing, ia memilih melanjutkan membaca cerita itu. Karena ceritanya semakin seru dan menarik.
***
Bayangan itu mulai terlihat oleh cahaya rembulan. Ternyata itu adalah sang petani yang membawa cangkul. Dia datang untuk menangkap Si kancil. Mungkin juga beliau akan menghukumnya.
Si kancil terkesiap melihat kedatangan sang pemilik kebun. Sekarang dia berpikir kalau nasibnya tidak akan selamat lagi.
"Tolong lepaskan aku!" rengek Si kancil saat petani itu sudah dekat dengannya.
"Kau telah mencuri milikku, maka kau harus membayar semuanya."
"Apa yang harus aku bayar untuk menebus kesalahanku?" tanya Si kancil penuh iba.
"Kematian!" jawab petani mantap. Lantas, petani itu mengangkat cangkulnya dan hendak ditimpakan pada sang kancil.
Brug!!!
Bunyi benda jatuh terdengar dari samping Annie. Hal itu membuat gadis itu terkejut. Annie reflek menutup bukunya dan menengok ke bawah– tepat di samping bagian bawah ranjang. Sebuah jam beker telah jatuh dan pecah. Annie beringsut dari ranjang dan mengambil pecahan jam itu.
"Bagaimana jam ini bisa jatuh? Perasaan tadi tempatnya nggak di pinggir-pinggir amat," gumam Annie keheranan.
Krieekkk....
Suara decitan pintu mengalihkan perhatian Annie. Gadis itu menoleh perlahan, menatap ke arah pintu yang terbuka sedikit. Lantas, ia berdiri memilih untuk bergerak menghampiri pintu.
Sesampainya di ambang pintu, Annie menengok keluar kamar. Dilihatnya lorong kamar yang gelap nan sunyi. Ibu juga adiknya pasti sudah tidur dan lampu-lampu sudah dimatikan. Kecuali lampu merah yang tertempel di dinding kamar, yang sengaja dinyalakan saat waktu tidur.
Annie hendak berbalik dan mengunci pintu kamarnya, namun suara aneh tiba-tiba memaksanya untuk berhenti.
Tolong...
Suara itu begitu lirih. Nadanya lebih mirip seperti rintihan seekor kancil yang kesakitan. Tentu saja hal itu membuat Annie semakin penasaran. Bahkan kantuknya pun menghilang begitu saja.
Tolong ....
Lagi. Suara itu seperti berada di ujung lorong. Karena penasaran, Annie memutuskan untuk mengeceknya. Perlahan, Annie melangkah kakinya. Menapaki lorong kamar yang remang-remang. Sesampainya di ujung lorong, Annie tak menemukan apapun. Hanya ada anak tangga yang menjulang ke bawah dan itu menghubungkannya pada ruang tamu utama.
Deg! Deg! Deg! ....
Annie seperti mendengar derap langkah yang menuruni tangga dengan kuat. Bahkan dia merasakan kalau tangga kayu itu bergetar.
"Siapa di sana?" Annie mencoba berteriak. "Mama? Veronica?" Annie mengira itu adalah ibu atau adiknya. Tetapi tidak ada jawaban.
Annie adalah gadis yang pemberani. Dia menyukai hal gaib juga misteri-misteri tentang dunia lain. Tentu saja semua ini membuatnya semakin bertambah penasaran. Dan kini, gadis itu berniat untuk melihat siapa yang sedang bermain-main di bawah sana.
Annie mulai melangkahkan kakinya menuruni tangga. Ia menyisir setiap anak tangga dengan bimbang. Di tengah perjalanan, ia menghentikan langkahnya. Matanya menemukan sebuah tulisan aneh di anak tangga. Tulisan itu menggunakan darah kering. Tulisan itu berbunyi, 'Kau telah mencuri mentimunnya, jadi kau akan dihukum!'
Annie mengerutkan dahi. Apa maksud semua ini? Gadis itu tampak heran dan tak mengerti sama sekali. "Veronica, this not funny, okay!" Annie mengira itu adalah ulah adiknya. Gadis menoleh ke sekitar namun tak menemukan siapapun.
Annie kembali melangkah. Lagi-lagi langkahnya itu terhenti. Tulisan berbunyi lain tertangkap oleh matanya. 'Dasar pencuri!' bunyi tulisan itu.
Annie semakin geram. Gadis itu berpikir dia telah dipermainkan. Dengan amat kesal ia menuruni tangga dengan langkah cepat. Sesampainya di anak tangga terakhir, ia menemukan tulisan lagi. Kini tergores di lantai, dan kali ini menggunakan darah segar. Bahkan darahnya masih mengalir.
"Kau akan mendapatkan hadiahnya!" Annie membaca tulisan itu dengan tanda tanya besar di kepalanya.
Ting tung ... Bel rumah tiba-tiba berbunyi. Mata Annie spontan melirik ke arah pintu utama. Gadis beralih cepat ke depan pintu dan membuka kuncinya. Begitu pintunya terbuka, Annie tak menemukan siapa pun. Ia menengok keluar tetapi halaman rumahnya sangat sepi. Hingga akhirnya matanya itu melirik ke bawah.
Gadis itu terkesiap saat mendapati sebuah box cukup besar yang tergeletak di depan pintu. Disertai pula sebuah kertas yang tertempel di box itu. "Aku di sini!" Annie langsung mengambil kertas itu setelah membacanya dan langsung menyobeknya.
Dia mulai mengamati box itu. Penuh dalam dan fokus, hingga box itu seperti bergerak. Annie yakin ada sesuatu yang hidup di dalam box itu. Perlahan, ia ulurkan tangannya menyentuh box itu. Ia buka dengan hati-hati dan penuh keberanian.
Begitu box itu terbuka, betapa terkejutnya Annie. Hal yang seharusnya tak terpikirkan kini ia lihat di depan matanya. Seekor kancil kecil mati berlumur darah meringkuk di dalam box. Tubuh kancil itu penuh lika-liku. Matanya bolong serta keempat kakinya terpotong. Sedangkan perutnya sobek menampilkan organ dalamnya yang keluar.
Annie menjerit histeris dan spontan roboh ke lantai. Ia membungkam mulutnya dan menggeser tubuhnya ke belakang. Setelah itu ia buru-buru masuk ke rumah dan mengunci pintunya kembali.
Annie berlari tergesa-gesa menaiki tangga. Peluh keringatnya mulai bercucuran. Ia berlari hingga sampai di depan kamarnya. Napasnya tidak beraturan. Ia masuk ke kamar dan mengunci pintunya rapat-rapat.
"Apa itu semua? Apa maksud semua ini?" heran Annie dengan napas memburu.
Annie melihat bukunya yang tergeletak di atas ranjang. Ia mulai melangkah perlahan, menghampirinya dengan tubuh gemetar. Matanya terus terfokus pada buku itu. Terutama pada judul bukunya, 'DONGENG KEMATIAN'.
Annie buru-buru meraih buku itu dan kebingungan memandangi lemari. Ia bergerak cepat lantas memasukkan buku itu ke dalam rak buku yang ada pintunya. Lantas ia menguncinya rapat-rapat.
"Semua akan baik-baik saja. Iya!" Annie mencoba mengatur napasnya agar kembali normal. Setelah dirasa tenang, ia segera naik ke ranjang dan bersiap untuk tidur.
Gadis itu membungkus tubuhnya dengan selimut dan mencoba untuk terlelap.
***
Kau telah mencuri timunnya, kau tidak bisa lari!
Aku akan mengejar mu sampai mendapatkan apa yang aku inginkan!
Annie!
"Tidak!!!" Annie menjerit dan terbangun. Kini ia merasa kalau sedang tidak di tempat yang benar.
Annie melihat sekelilingnya. Ada beberapa tanaman rambat dan juga sayur-sayuran. Ia juga melihat buah-buahan yang busuk dan berantakan. Lebih sialnya tubuh Annie kini sedang diikat dan mulutnya dibungkam dengan kain. Annie mencoba membangunkan tubuhnya. Beruntung bungkaman di mulutnya itu terlepas setelah dia menggigitnya perlahan.
Annie kini dalam posisi duduk tersimpuh. Tangannya masih diikat ke belakang begitupun dengan kakinya. Ia menengok ke sekitar dan menganalisa. Ia merasa kalau dia pernah ke sini atau tahu tempat ini. Setelah melihat beberapa buah mentimun yang rusak, gadis itu baru menyadari kalau dirinya sekarang tengah berada di ladang milik petani.
Seperti yang ada dalam buku dongeng kematian, pada cerita 'Si kancil dan Petani' yang baru saja dia baca tadi.
Annie menengok ke sana kemari tapi tak menemukan siapapun. Ia sudah berteriak meminta tolong tapi tak ada yang merespon. Maklum, karena tempat itu sangat sepi dan gelap.
Hingga beberapa waktu kemudian, sebuah siluet hitam tampak berjalan dengan sebuah benda yang dipikulnya. Bisa dianalisa kalau benda itu adalah sebuah cangkul. Dan bayangan itu menyerupai manusia, hanya saja tubuhnya sangat kurus dan tinggi. Bayangan itu juga mengenakan capil.
Annie bisa menebak, kalau itu adalah petani yang ada di dalam cerita. Dan kejadian yang sedang dialami kini mirip sekali dengan kejadian kancil yang tertangkap perangkap petani.
Gadis itu semakin panik. Ia berusaha melepas diri namun tidaklah mudah. Satu hal yang ia tak tahu, kenapa dia bisa berada di sini.
"Si Kancil anak nakal, suka mencuri timun. Ayo lekas dikurung, jangan diberi ampun!"
Bayangan itu bersenandung ria bersamaan langkah kakinya yang terus menuju ke arah Annie. Suaranya begitu seram dan serak.
Annie semakin panik lantaran bayangan itu mulai dekat. Ia sudah mulai bisa melihat kalau dugaannya itu benar tentang bayangan itu. Namun, justru lebih mengerikan dari apa yang dibayangkannya. Bayangan itu menampilkan sesosok kakek tua dengan baju compang-camping dan celana sobek-sobek. Di punggungnya memikul sebuah cangkul yang tajam. Semakin dekat wajahnya semakin terlihat mengerikan.
Tubuhnya itu bungkuk kurus kering dan hanya menyerupai tulang saja. Kulitnya bahkan sangat hitam. Matanya yang tua tampak seperti tengkorak, namun menyala merah. Rahangnya juga tampak tulangnya, sedangkan giginya masih runcing. Mulutnya itu terus membuka sembari menyanyikan lagu yang sama.
"Si Kancil anak nakal, suka mencuri timun. Ayo lekas dikurung, jangan diberi ampun!"
Annie semakin panik. Ia terus berusaha untuk melepas diri. Keringatnya bercucur lebat dan jantungnya berdegup kencang. Napasnya pun tak beraturan.
"Si Kancil telah mencuri timun, tetapi apa yang telah aku curi? Kenapa aku dihukum seperti ini?" Annie menjerit tangis.
"Karena kau telah mencuri timunku!" Petani tua itu meloncat tepat di hadapan Annie dan membuatnya menjerit ketakutan.
"Aku bukan kancil. Bukan aku yang mencuri mentimun mu. Tolong lepaskan aku!" pinta Annie dengan ketakutan.
"Kau masih belum mengerti?!"
Clok!
Petani bungkuk itu mengayunkan cangkulnya hampir mengenai kaki Annie. Tapi justru itu menguntungkan Annie lantaran kakinya terbebas dari ikatan itu. Kini Annie bisa bergerak bebas sedikit. Tinggal tangannya yang masih diikat.
Annie mencoba menggeser tubuhnya. Petani bungkuk itu hendak menghantamkan cangkulnya lagi pada Annie, namun Annie dengan cepat menendang wajah petani itu. Lantas Annie segera melepas diri. Ia masuk ke dalam kebun berencana untuk bersembunyi.
Sejenak ia mengira sudah aman karena suara petani bungkuk itu sudah tak terdengar lagi. Hanya suara napas Annie yang memburu juga detak jantungnya bak lari kuda.
"Apakah petani sialan itu sudah pergi?" tanya Annie dalam hati.
Ia mencoba mendongakkan kepalanya dan menengok ke sekitar. Semuanya sunyi kecuali deretan tanaman yang digilir angin malam. Annie berniat kabur namun sesuatu tiba-tiba muncul di depannya.
"Aku di sini!"
"Aarghh!!" Annie menjerit ketika mendapati petani bungkuk itu tiba-tiba muncul di depannya, dengan memamerkan wajah seramnya. Annie segera berlari menjauh.
Namun, tiba-tiba tanaman-tanaman itu hidup dan menyerat tubuh Annie. Annie tak lagi bisa bergerak.
"Ku mohon lepaskan aku. Aku tidak mencuri apapun," pinta Annie dengan merengek.
"Kau sudah mencuri buku itu. Maka kau harus masuk ke dalam dongengnya dan menggantikan Si kancil," kata petani bungkuk itu.
"Buku?" Annie keheranan. "Maksudmu, buku dongeng yang aku bawa pulang itu?"
"Tidak usah banyak tanya!" Petani bungkuk itu mengayunkan cangkulnya pada Annie, namun dengan sigap Annie menangkisnya dengan tangannya. Dan itu berhasil membuat ikatan di tangannya terlepas.
Annie segera keluar dari dalam tanaman yang mulai menjeratnya itu. Namun petani bungkuk itu semakin murka. Dia terus mengejar tanpa henti.
"Kau harus mati! Baru dongeng itu akan seru!"
Annie mencoba berlari namun sialnya kakinya tersangkut tanaman dan terjatuh. Ia berusaha bangun kembali, tetapi tanaman milik petani bungkuk itu mulai menyerangnya. Mengikat kakinya dan mencoba masuk menembus kulitnya.
"Kau tidak bisa lari ke mana-mana. Hahaha!" Petani bungkuk itu tertawa sadis. Ia mengayunkan cangkulnya lagi pada Annie, tetapi lagi-lagi gadis itu berhasil menendangnya.
Brak!!! Petani bungkuk itu berhasil memukul kepala Annie dengan punggung cangkulnya.
Gadis itu mulai pusing. Penglihatannya mulai pudar. Kepalanya begitu pening dan keningnya mengucur darah.
"Bolehkah aku memotong kaki mu untuk kujadikan kayu tanamanku?" Petani itu berkata sadis dan tertawa.
Tak main-main, petani bungkuk itu benar-benar melakukannya. Ia mengayunkan cangkulnya dengan sangat kuat dan berhasil mendarat tepat di kaki Annie hingga kakinya terpotong. Cangkul runcing itu telah mencicipi darah gadis itu.
"TIDAAAAK!!!"
Annie menjerit histeris hingga terbangun dari tidurnya. Ia membuka mata dan mendapati dirinya sedang berada di dalam kamarnya. Namun bedanya ia tersimpuh di lantai.
Gadis itu ketakutan. Ia mulai mengecek kakinya dan meraba-raba tubuhnya. Semuanya masih utuh. Tidak ada bagian tubuhnya yang hilang. Juga tidak ada luka apapun. Itu artinya semua itu hanya mimpi buruknya belaka?
Annie melihat ventilasi jendela yang sudah terpancar sinar mentari. Itu artinya, hari sudah mulai pagi.
Annie mencoba membangunkan tubuhnya. Ia merasa sangat lelah dan energi seperti habis terkuras. Namun, ia juga mendapat kejutan. Matanya itu melihat sebuah buku dongeng yang tergeletak di sampingnya. Buku dongeng itu dalam keadaan membuka, dan tepat di halaman kisah Si Kancil dan Petani.
"Bukankah aku sudah menaruh buku ini di dalam lemari buku dan menguncinya? Lalu bagaimana bisa buku ini ada di sini?" Gadis itu tampak kebingungan.
TO BE CONTINUED