"Bukankah aku sudah menaruh buku ini di dalam lemari buku dan menguncinya rapat? Lalu bagaimana bisa buku ini sekarang ada di sini?" Annie tampak kebingungan. Mendapati buku dongeng yang ia bawa dari tempat angker semalam berpindah tempat.
"Apa buku benar-benar bisa berpindah tempat? Apa buku ini benar-benar buku kutukan?" Annie masih bermain dengan asumsinya. Ia meremas keningnya yang terasa pening. Kemudian pikirannya ingat akan kejadian tadi malam.
"Setelah membaca buku dongeng ini, tadi malam aku mendapat kejutan yang aneh. Aku melihat tulisan bernoda darah dan sebuah box berisi mayat kancil yang mengenaskan. Apa itu nyata?"
Annie berdiri dari tempatnya dan langsung bergegas keluar kamar. Ia berlari menyusuri lorong dan menuruni tangga. Gadis itu mencari-cari tulisan bernoda darah yang tergores di tangga tadi malam. Namun saat ini ia tak menemukan apapun. Dan tangganya masih bersih seperti sebelumnya.
"Annie, kau sudah bangun?" Mama Annie menyapanya setelah melihat putri sulungnya berdiri di tengah tangga. Beliau juga melihat wajah putrinya itu kebingungan. "Apa yang kamu cari, Sayang? Apa ada barangmu yang hilang?" tanya mamanya.
"Ma, apa mama tadi pagi yang membersihkan tangga ini?" ujar Annie balik tanya.
"Mama nggak membersihkan tangga. Dan tangga itu dari kemarin memang sudah bersih, Sayang. Mama cuma...."
Annie bergegas menuruni semua tangga dan membuat ibunya semakin kebingungan. Gadis itu bergegas keluar rumah dan mencari-cari sesuatu.
"Box itu pasti ada di sekitar sini! Aku harus mencarinya." Annie membuka semua tong sampah namun ia tak menemukan apa yang ia cari.
"Kamu cari apa, Sayang? Apa ada barangmu yang hilang?" Mama Annie masih berusaha menanyai putrinya itu.
"Ma, apa Mama tadi yang menyapu teras rumah?" tanya Annie mulai cemas.
"Iya, Mama tadi menyapu teras-"
"-Apa Mama melihat sebuah box?" tanya Annie lagi memotong ucapan ibunya.
"Nggak. Mama nggak lihat apa-apa. Dan memang nggak ada apa-apa di sini."
"Tadi malam aku melihat box, Ma. Dan di dalam box itu ada...." Annie tak jadi melanjutkan ceritanya.
"Ada apa, Sayang?"
"Lupakan. Terus kalau di tangga apa Mama melihat tulisan pakai noda darah?"
"Nggak ada apa-apa, Sayang. Mama bangun pagi tadi nggak menemukan apapun kecuali debu-debu." Wanita paruh baya itu mendekat ke arah Annie dan mengelus rambutnya. "Kamu kenapa? Apa ada barangmu yang hilang?" tanyanya pelan.
"Nggak, Ma. Nggak ada kok," jawab Annie dingin. Lantas, gadis itu kembali menaiki tangga.
Ibu Annie memandangi putrinya itu dengan wajah kecewa. Ibunya itu bernama Megan. Setelah kematian ayahnya, Annie memang jarang akrab sama ibu serta adiknya. Ia berpikir kalau ibunya itu terlalu memanjakan adiknya, dan mengabaikannya. Karena itulah, Annie sangat membenci Veronica.
Kini Annie sudah sampai di ujung tangga. Ia menyusuri lorong kamar dengan pikiran yang terbebani. Dikejar dan diburu petani bengkok itu memang mimpi, tapi kalau soal tulisan bernoda darah dan box berisi kancil mati itu seperti nyata. Annie yakin akan hal itu. Karena itulah dia menaruh buku dongengnya di dalam lemari buku dan menguncinya rapat-rapat.
Tapi kenapa setelah terbangun dari tidurnya semua menjadi berbanding terbalik. Buku yang berada di sampingnya, tulisan darah dan box yang hilang seketika, bahkan Annie juga tidur di bawah. Padahal, dia selalu tidur di ranjangnya dan selama ini tak pernah berpindah dalam tidur.
"Apa semua ini hanya halusinasiku belaka atau memang kenyataan?" Annie tampak berpikir sepanjang lorong.
"Si kancil anak nakal, suka mencuri timun. Ayo lekas dikurung, jangan diberi ampun!"
Annie tersentak kaget. Telinganya itu mendengar kalau ada suara nyanyian dengan lirik dan nada yang sama seperti dalam mimpinya tadi malam. Dan suara itu mirip sekali dengan suara Si petani bungkuk.
"Si kancil anak nakal, suka mencuri timun. Ayo lekas dikurung, jangan diberi ampun!"
Annie mencari-cari suara itu. Ia berjalan tergesa-gesa, sembari menengok ke kanan dan kiri. Hingga telinganya itu mendengar dengan jelas suara nyanyian itu. Suara itu berasal dari kamar Veronica. Annie bergegas lari ke sana.
Sesampainya di kamar adiknya, Annie membuka pintu kamar itu dengan keras. Ia kesal begitu matanya menangkap sebuah benda MP3 player yang memutar musik si kancil itu.
"What the hell is this?!" ujar Annie kesal seraya bergegas menghampirinya dan membanting MP3 Player itu ke ranjang.
"Kakak?" Veronica terkejut melihat aksi kakaknya itu. Saat dia tengah duduk di depan cermin dan sontak berdiri. "Kamu kenapa, Kak?" tanya Veronica tak mengerti.
"Lo yang kenapa? Kenapa lo putar musik itu?!" bentak Annie marah.
"Tapi setiap hari aku memutarnya, Kak. Dan Kakak nggak pernah semarah ini," kata Veronica membela diri.
Annie melirik MP3 Player itu dan tersentak. MP3 Player itu memutar musik barat lagu-lagu milik Zayn Malik. Dan memang setiap hari Veronica selalu memutar lagu-lagu Zayn Malik.
Annie menggeleng berkali-kali sembari menatap MP3 Player itu. Bagaimana bisa? Dia mendengar dengan jelas kalau lagu yang keluar dari MP3 Player itu adalah lagu si kancil yang dinyanyikan si petani bungkuk.
"Kamu kenapa, Kak?" tanya Veronica saat melihat kakaknya yang mulai menegang.
"Enggak. Enggak apa-apa." Annie memilih untuk berjalan menuju pintu keluar. Sedangkan Veronica hanya memandanginya heran.
"Si kancil anak nakal, suka mencuri timun. Ayo lekas dikurung, jangan diberi ampun!"
Annie mendengar lagu itu lagi. Mata gadis itu membola. Namun ia tak mau menghentikan langkahnya maupun menengok ke belakang. "Enggak. Nggak mungkin itu suara si petani bungkuk. Itu hanya halusinasiku belaka!" Gadis itu berusaha menyakinkan dirinya.
'Si Annie anak nakal, suka mencuri buku. Ayo lekas dikurung, jangan diberi ampun.'
Deg! Annie menghentikan langkahnya seketika. Jantungnya terkejut hebat saat telinganya mendengar lagu yang sama namu liriknya diganti dengan namanya. Ia langsung menengok ke belakang tepatnya pada MP3 Player.
"Kakak baik-baik saja, kan?" pertanyaan Veronica membuat Annie tersadar.
"Nggak. Nggak mungkin!" Annie menggeleng cepat dengan wajah kecemasan. Lantas, gadis itu tergesa-gesa meninggalkan kamar.
Veronica merasa heran. Ia berpikir pasti ada yang tidak beres dengan kakaknya itu. "Kira-kira Kak Annie kenapa ya?"
***
Annie masuk ke kamar dan matanya langsung terfokus pada buku dongengnya. Ia bergegas menghampirinya. "Kau memang buku kutukan!" umpatnya.
Gadis itu memasukkan buku dongeng itu ke dalam tas kuliahnya. Lantas ia buru-buru bersiap untuk mandi lantaran waktunya sudah termakan habis. Ia harus sampai ke kampus sebelum jam pelajaran dimulai atau Dosen tidak mengizinkannya masuk jika terlambat.
Di kamar mandi Annie mencoba melupakan semua hal yang terjadi padanya dan menganggapnya hanya mimpi belaka.
Selesai mandi Annie buru-buru bersiap. Setelah semuanya rapi ia mengambil tas kuliahnya dan bergegas keluar kamar. Tiba di ruang tamu ia melihat Veronica berdiri di samping mobil yang terparkir di halaman.
"Kamu nggak makan dulu?" tanya Megan mengangetkan Annie.
"Nggak! Udah ditungguin Tuan putri tuh!" ujar Annie dingin.
Ibunya itu tahu kalau Annie sedang menyindir adiknya. Beliau hanya bisa menghela napas.
"Ya sudah, Mama bawakan roti dan s**u ya?" tawar ibunya.
"Nggak usah. Aku bukan anak kecil lagi." Annie bergegas keluar rumah disusul ibunya dari belakang.
"Kakak kalau mau sarapan dulu nggak apa-apa, kok. Lagian Veronica juga nggak buru-buru," ujar Veronica ramah.
"Nggak usah. Gue dah telat!" jawab Annie dingin. Lantas gadis itu masuk ke mobil dengan kesal.
Veronica hanya bisa diam menghadapi sikap kakaknya yang membencinya selama setahun terakhir ini. Ia juga menyadari kesalahannya, kalau ayahnya itu meninggal gara-gara dia. Namun ibunya tetap menasihati kalau itu bukan sepenuhnya kesalahan Veronica. Semua itu sudah takdir kehendak sang kuasa.
Megan tersenyum pada putrinya, Veronica. Ia mengusap rambut kepala putrinya itu dan menyuruhnya masuk ke mobil. Selama ini Annie dan Veronica selalu diantar oleh ibunya ketika berangkat ke kampus. Namun kadang Annie juga memilih dijemput Jay kalau memang lagi kesal banget sama adiknya.
Setelah Veronica masuk mobil, Megan segera masuk juga dan mulai mengemudi.
Sepanjang perjalanan mobil itu selalu sunyi. Tidak ada keramahtamahan ataupun pembicaraan seperti keluarga pada umumnya. Annie selalu bersikap dingin dan cuek. Sedangkan Veronica memilih untuk bungkam. Daripada jika ia berbicara, itu malah membuat kakaknya semakin kesal.
Melihat dua putrinya yang tak akur itu tentu membuat hati Megan sakit bak tertusuk pisau. Hati ibu mana yang tega jika melihat kedua anak kesayangannya selalu bertengkar setiap hari. Padahal, Megan tak pernah membeda-bedakan antar keduanya. Ia menyayangi dan mencintai keduanya. Ia selalu berharap suatu saat nanti kedua putingnya itu bisa akur kembali layaknya saudara pada umumnya.
Saat itu Veronica asyik melihat-lihat pemandangan dari kaca mobil. Terdapat sekelompok penyayi jalanan yang tengah mementaskan lagu dan dikerumuni banyak orang.
Annie yang duduk di bangku belakang ikut melirik ke luar kaca yang di dekat Veronica. Namun entah kenapa telinga Annie seperti mendengar para penyanyi jalanan itu tengah menyanyi lagu tentang dirinya.
"Si Annie anak nakal, suka mencuri buku. Ayo lekas dikurung, jangan diberi ampun!"
"TUTUP!!!" Annie membentak pada Veronica hingga membuat ibunya menghentikan mobilnya.
"Kamu kenapa, Sayang?" tanya Megan sembari menengok ke belakang.
"Suruh anak manja itu menutup kaca mobilnya!"
Veronica hanya bisa terdiam. Gadis malang itu memandang ibunya yang mencoba mengisyaratkan untuk memenuhi keinginan kakaknya. Veronica pun menutup kaca mobil itu dan menunduk.
Megan tersenyum pada Veronica, sedangkan Annie memainkan bibirnya kesal. Mobil pun kembali melaju.
***
Tiba di universitas, Annie dan Veronica turun dari mobil. Megan pun ikut turun. Setelah bersalaman dengan ibunya, Annie bergegas menuju ke kampus.
"Kamu hati-hati, ya!" kata Megan pada Veronica saat putri bungsunya itu mengecup tangannya.
"Iya, Ma," jawab Veronica lembut.
"Kamu jangan ambil hati ya soal sikap kakakmu tadi. Seiring berjalannya waktu kakak mu pasti akan menyayangimu seperti dulu."
Selalu seperti itu nasihat yang Megan sampaikan pada putri bungsunya itu. Dan Veronica selalu mengiyakan dengan sopan. Walau, dalam hati kecilnya gadis itu juga mulai capek dengan sikap kakaknya terhadapnya.
"Nggak apa-apa kok, Ma. Veronica ngerti. Mungkin Kak Annie butuh waktu untuk memaafkan Veronica," kata Veronica seraya tersenyum.
Megan mengelus rambut Veronica dan tersenyum.
"Veronica ke kampus dulu ya, Ma!" kata Veronica lantas melangkah pergi.
"Take care!" ujar Megan sedikit kecang.
"Yes, Mom!" sahut Veronica sembari terus berjalan.
"Dasar anak manja!" Annie memicingkan mata dari jauh saat mendengar mereka. Kemudian seorang cowok menghentikanya dan berbicara padanya.
"Itu adikmu, ya? Cantik banget," kata cowok itu memuji Veronica.
"Itu bukan adik gue!" jawab Annie kesal lantas berlalu begitu saja.
"Ann!" Suara Maya menghentikan langkah Annie.
Annie menengok dan buru-buru menghampiri Maya. Ia langsung memeluk sahabatnya itu. "May, gue takut, May!" katanya gugup.
"Lo kenapa, Ann?" Maya mencoba menenangkan sahabatnya.
Annie melepaskan pelukannya. Matanya menatap Maya penuh iba. "Lo percaya sama gue kan?"
"Iya, tapi kenapa?"
"Tadi malam ... tadi malam-"
"Ann!" Suara seorang gadis memotong perkataan Annie. "Dosen udah on the way ke kelas. Buruan!" teriaknya memberi tahu Annie.
"Tuh udah masuk tuh kelas mu. Kita bicara nanti saja, ya. Tenangkan dirimu dulu." Maya mencoba menenangkan Annie.
Annie mengangguk dan memilih beranjak ke kelas sebelum kena marah dosen.
***
Siang itu seperti biasa anak-anak kumpul di kantin. Maya, Alex, Jay, Nichole, dan Rio duduk di satu meja sembari menunggu kedatangan Annie. Di tengah meja juga sudah dipenuhi berbagai makanan dan minuman ringan.
"Emangnya Annie mau cerita soal apa sampai ketakutan gitu?" tanya Jay pada Maya. Cowok itu terlihat cemas kalau menyangkut tentang Annie.
"Gue juga nggak tahu. Tapi dari wajahnya dia benar-benar ketakutan," kata Maya.
"Itu dia!" Nichole menyahut setelah melihat Annie berjalan ke bangku mereka.
Jay seketika berdiri melihat Annie yang buru-buru menghampiri teman-temannya.
"Guys!" Annie berkata cepat setelah sampai di sana. "Ada yang tidak beres!" imbuhnya.
"Kenapa, Ann? Apa yang tidak beres?" tanya Alex penasaran.
"Kamu duduk dulu, ya." Jay menyuruh Annie untuk tenang dan mendudukkan tubuhnya.
"Kalau aku cerita, kalian janji harus percaya padaku, ya!" pinta Annie serius.
"Katakan dulu apa masalahnya? Semua baik-baik saja, kan?" tanya Maya.
Annie mendekatkan kepalanya lebih dekat dengan mereka. "Tadi malam gue diteror!" ujarnya mantap.
"Hah?" ucap temannya serempak.
"Diteror?" Alex tak mengerti.
"Buku itu. Buku itu terkutuk!" kata Annie mulai cemas.
"Maksudmu buku yang kamu bawa pulang itu?" tanya Jay menebak.
Annie mengangguk pasti. "Iya. Buku dongeng kematian. Itu benar-benar nyata dan terjadi padaku," jelas Annie.
"HAHAHA!" Bukanya prihatin, teman-temannya itu malah menertawakan cerita Annie.
"Jangan ngaco lo, Ann! Lo kurang tidur ya?" sahut Rio tak percaya.
"Gue tahu kalian nggak percaya, tapi gue benar-benar berani sumpah gue mengalaminya." Annie berusaha menyakinkan.
"Coba ceritakan pada kami detailnya gimana?" Maya memegang bahu Annie.
"Semalam setelah pulang dari tempat angker itu aku tidak lanjut tidur. Aku membaca salah satu dongeng di buku itu. Judulnya 'Si Kancil dan Petan'. Setelah membaca setengah dari ceritanya, aku mendengar suara aneh. Aku pergi untuk mengeceknya, tapi aku melihat di tangga ada tulisan aneh."
"Tulisan apa?" tanya Maya memotong.
"Tulisan itu berbunyi..." Annie mencoba mengingat-ingat bunyi tulisan itu. "Kalau tidak salah tulisan itu berbunyi kalau aku telah mencuri mentimun milik petani yang ada di dalam cerita," jawab Annie.
"Dan kau percaya itu nyata?" Rio tampak meremehkan.
"Tapi tulisan itu bernoda darah. Tidak hanya satu, tapi berkali-kali aku menemukan tulisan itu. Setelah itu aku mendengar bel rumah berbunyi. Aku membukanya dan menemukan sebuah box. Saat aku buka, di dalamnya ada seekor kancil yang mati mengenaskan penuh darah."
Semua teman-teman Annie mulai serius mendengar ceritanya.
"Aku buru-buru menutup pintu dan kembali ke kamar. Aku langsung menaruh buku dongeng itu ke dalam rak buku dan menguncinya. Saat aku lanjut tidur, aku bermimpi buruk. Mimpi itu seram banget."
"Ketemu hantu?" tanya Nichole.
"Aku diteror petani bungkuk!" jawab Annie mantap.
"Petani bungkuk?" tanya mereka serempak.
"Iya. Wajahnya seram banget. Dia memburuku seperti memburu si kancil. Bahkan dia hampir memotong kakiku dengan cangkulnya. Yang tidak aku mengerti, kenapa cerita dalam dongeng itu aku yang mengalaminya. Padahal kan cerita itu si kancil yang mencuri mentimunnya."
"Petani itu mengatakan sesuatu?" tanya Maya lagi.
"Iya. Katanya aku telah mencuri bukunya."
"Apa mungkin karena lo membawa buku itu pulang dan penunggu tempat angker itu datang di mimpi mu?" ujar Nichole berasumsi.
"Jadi penunggu rumah angker tadi malam itu seorang petani tua?" Rio menebak.
"Mana ada. Itu hanya khayalan Annie saja. Dia kan habis baca kisah kancil dan petani, sudah jelas dia ke bawa mimpi." Asumsi Jay.
"Gue setuju dengan Jay," sahut Alex.
"Guys, gue tahu itu hanya mimpi. Tapi yang aku herankan soal tulisan berdarah dan box berisi kancil, itu seperti nyata!" Annie mencoba menyakinkan.
"Adik lo? Veronica juga diteror?" tanya Maya.
Annie menggeleng. "Aku nggak tahu. Kayaknya sih hanya aku."
"Syukurlah." Rio mengucap syukur namun malah dilempar gulungan tisu oleh teman-temannya.
Maya menyuruh Annie untuk tenang dan memberinya minuman ringan. "Ini minumlah dulu," katanya sembari menyodorkan soda pada Annie.
Annie mulai meneguk.
"Lo bawa bukunya sekarang?" tanya Nichole.
Annie mengangguk. Ia membuka tas selempangnya dan mengambil buku dongeng itu lantas ia taruh di meja. Nichole dengan cepat mengambilnya dan mengamatinya.
"Cupu, mau lo apain tuh buku?" Rio bertanya sembari memakan steak.
"Gue mau cari setan di dalamnya," balas Nichole dengan bercanda.
"Ya kali setan ngumpet di buku. Jangan-jangan ngada-ngada lo!" Maya melempar steak ke arah Nichole.
"Yah siapa tahu dia nguping pembicaraan kita tadi. Hahaha!" canda Nichole. "Eh, Ann. Gue pinjem bukunya, ya?"
"Lo ga takut?" tanya Annie serius.
"Ya ampun, Ann. Ini hanya buku, bukan dosen killer. Gua cuma mau buktiin aja, apakah ceritamu itu benar apa nggak."
"Tapi, Nic."
"Halah, udah. Gue balikin besok. Kalau benar buku ini berhantu kan aku bisa kasih ke dosen ku yang killer itu."
"Kenapa memangnya?" Jay mengerutkan dahi.
"Biar setannya neror tuh dosen. Hahaha!" Nichole tertawa terbahak-bahak sedangkan teman-teman malah terdiam dan duduk dengan anteng.
Nichole merasa heran. Maya melirikkan mata ke arahnya mencoba memberi tahu Nichole untuk menengok ke belakang. Begitu menengok ke belakang, Nichole terkejut menyadari dosen yang ia bicarakan sedang berdiri di belakangnya.
"Bapak dengar ada yang mau neror bapak. Apa itu benar?" tanya Dosen itu menyindir.
Nichole langsung meneguk ludah. "E-enggak kok, Pak. Enggak kan teman-teman. Hehe." Nichole mengedipkan mata ke arah teman-temannya lantas terfokus pada dosennya lagi. "Mungkin telinga bapak bermasalah kali. Hehe."
"Oh kamu mau ngatain telinga bapak tuli?"
"Enggak juga, Pak. Maksudku mungkin telinga bapak keseringan ditarik istri bapak. Makanya agak lebar. Hehe," kata Nichole sembari menggigit bibir.
"Apa kamu bilang? Kamu bilang telinga bapak lebar? Kamu kira telinga bapak ini gajah apa?!"
"e...."
"Siapa nama kamu?!"
"Nichole Putra Ajinomoto."
"Pantesan kebanyakan makan micin. Mulai sekarang nilai kamu Bapak kasih E!"
"Pak. Pak ... jangan gitu dong. Saya minta maaf, Pak."
Dosen itu tak menggubris dan langsung pergi. Semua teman-temannya tertawa terbahak-bahak saat itu.
"Mampus lo! Haha dapet nilai E." Rio mengejek Nichole.
"Dasar teman ga ada akhlaq. Bukannya belain malah ngetawain. Kalian teman apa setan sih?" Nichole tampak kesal.
"Hahaha. Lagian lo aneh-aneh aja. Btw, nama lo benaran Nichole Putra Ajinomoto?" tanya Jay.
"Ya nggak lah. Gue tuh dah bohong sama Pak dosen. Nama gue tub keren tau. Nichole Aliansky. Gue sengaja bohong karena tuh dosen bakalan ngasih nilai buruk ke gue. Mahasiswa dia kan banyak, biar dia tuh nama Ajinomoto sampai tumbuh uban kagak bakal ketemu. Hahaha."
"Cerdas juga otak lo," puji Alex.
Nichole menata kerah kemejanya berlagak bangga.
TO BE CONTINUED