Malam itu Nichole tengah sendirian di kamarnya. Sehabis mengerjakan tugas kuliah, ia segera membereskan buku-bukunya kembali. Setelah semua bukunya beres, ia melihat buku dongeng yang ia pinjam dari Annie dan mengambilnya.
Nichole mengamati buku itu. Ia bergumam sendiri. "Apa iya buku ini buku kutukan? Kalau dari judulnya sih emang horor. Tapi, ini kan hanya kisah fiktif belaka. Ah, nggak mungkin buku ini bisa meneror orang." Nichole meletakkan bukunya kembali.
Dreeettt... Drettt...
Ponsel Nichole terdengar bergetar di iringi nada panggilan yang masuk. Ia langsung meraih dan mengeceknya. Terdapat nama Annie di layar ponselnya itu. Nichole buru-buru mengangkatnya.
"Hi, Ann. Tumben lo nelpon gue malam-malam. Pasti ada yang penting ya?" tanya Nichole sembari menyandarkan punggungnya di kursi.
"Lo udah baca buku dongeng itu?" tanya Annie dari seberang telepon.
"Belom nih. Tuh bukunya ada di depan gue," kata Nichole sembari matanya terfokus pada buku dongeng di depannya.
"Lo berencana mau baca?" tanya Annie lagi.
"Hmm... gue sih penasaran. So ... yah, daripada nggak bisa tidur nanti gue rencananya mau baca."
"Mending jangan deh, Nic." Suara Annie terdengar khawatir.
"Ann, gue cuma mau buktiin tentang cerita lo tadi siang. Kalau benar aku diteror setelah membaca dongeng ini, berarti teori tentang hantu dan semacamnya itu memang ada." Nichole memberi jeda sejenak. "Tenang saja, gue nggak akan kenapa-kenapa kok," imbuhnya.
"Setelah baca dongeng itu, kabarin gue ya. Terutama kalau lo mulai merasakan hal-hal aneh," pinta Annie cemas.
"Iya, tenang saja."
"Tapi lo nggak di rumah sendirian kan?" tanya Annie lagi.
"Emm... gua di rumah sendirian sih. Soalnya ibu dan ayahku lagi menghadiri pesta temannya. Yah, mungkin mereka pulangnya malam banget kalau nggak pasti besok pagi baru pulang." Nichole terdengar malas kalau membicarakan soal orang tuanya.
Nichole termasuk orang yang kurang dalam asuhan. Dia kurang dekat dengan kedua orang tuanya. Orang tuanya itu tajir, punya banyak bisnis, jadi mereka lalai dalam mengasuh anaknya. Nichole selalu menyendiri dan menyimpan semua masalahnya sendiri.
"Perasaan gue nggak enak, Nic. Mending jangan baca deh," sergah Annie.
"Ann. Lo nganggep gue cupu juga? Gue nggak secengeng itu, Ann. Meskipun gue jarang jalan sama cewek-cewek, tapi gue nggak secupu yang kau kira, Ann."
"Ya udah deh. Tapi ... janji ya kabari aku kalau ada sesuatu yang aneh setelah membaca dongeng itu."
"Siap!"
"Ok! gue tidur dulu ya. Gue takut kalau harus dengar suara-suara aneh lagi. Bye!"
"Bye!"
Setelah Nichole mematikan panggilannya, ia meletakkan ponselnya di meja lagi. Lantas pandangannya terfokus pada buku dongeng yang tergeletak di atas meja depannya.
Nichole mengambil buku itu dan mulai membukanya.
"Kurcaci dan Jamur Ajaib."
Nichole mengernyitkan dahi setelah membaca salah satu kisah dalam buku dongeng itu. "Judul macam apa ini. Ini lebih pantas sebagai dongeng anak-anak. Lalu apa yang disebut horor?" Nichole tampak meremehkan.
Pria itu penasaran dengan ceritanya. Lantas, ia mulai membaca cerita tersebut.
"Dahulu kala, hiduplah seorang kurcaci yang tinggal bersama pamannya. Mereka hanya tinggal berdua di tempat terpencil karena takut dengan penyihir. Kedua orang tua kurcaci itu sudah meninggal dibunuh penyihir dan hanya pamannya saja yang merawatnya selama ini. Namun, saat ini pamannya sedang sakit keras. Beliau hanya bisa disembuhkan oleh jamur ajaib yang tumbuh di hutan seberang. Sayangnya, hutan itu dijaga oleh penyihir jahat.
Untuk menyelamatkan sang paman yang sudah merawatnya selama ini, Kurcaci itu rela melakukan apa saja. Termasuk mencari jamur ajaib di hutan seberang sana.
Berangkatlah sang kurcaci setelah berpamitan dengan pamannya. Kurcaci itu tidak mengatakan kalau ia akan mencari jamur ajaib, karena kalau kurcaci itu jujur, pamannya itu tidak akan mau mengizinkannya pergi. Karena pamannya tahu, di seberang sana tinggal seorang penyihir jahat.
Kurcaci itu pergi membawa sekantong buah-buahan untuk dimakan saat perjalanan.
Hari demi hari telah kurcaci itu lalui. Hingga sampailah ia di perbatasan hutan. Di tengah perjalanan, sang kurcaci bertemu seorang nenek-nenek tua yang kesakitan. Nenek itu kelaparan karena sudah beberapa hari tidak makan.
"Cucu, tolong aku." Nenek itu merintih saat sang kurcaci melewatinya.
Kurcaci itu menghentikan langkahnya dan menghampiri si nenek tua. "Nenek butuh makanan? Ini aku kasih buah untukmu." Kurcaci itu mengambil buah apel dari kantongnya dan memberikannya pada sang nenek.
Dimakanlah buah apel itu dengan sangat lahapnya. "Terima kasih, Cucu. Kau sangat baik sekali," ujar nenek itu ramah.
"Itu sudah menjadi tugasku, Nek," kata Kurcaci seraya tersenyum.
"Kau mau ke mana?" tanya si nenek.
"Aku mau pergi ke hutan sana guna mencari jamur ajaib. Aku sangat membutuhkan jamur itu untuk menyembuhkan penyakit pamanku," kata si Kurcaci.
"Tapi di hutan sana ada penyihir. Kau akan dimakan penyihir."
"Itu yang aku takutkan, Nek." Kurcaci itu tampak sedih.
"Jangan khawatir, nenek akan mengantarmu sampai ke sana. Penyihir itu tidak akan memakanmu," ujar nenek itu.
Mendengar kebaikan sang nenek, tentulah membuat kurcaci itu gembira. Berangkatlah mereka berdua memasuki hutan. Sudah lama mereka berjalan, dan sepanjang perjalanan hanya pohon-pohon besar yang mereka temui.
"Tempatnya masih jauhkah? Kita sudah menghabiskan setengah hari. Dan persediaan makananku hampir habis karena kau sepanjang perjalanan ini kau sudah makan begitu banyak jatahku." Kurcaci itu tampak frustasi.
Nenek itu berhenti mendengar kata-kata sang kurcaci. Nenek itu memutar kepalanya ke belakang. "Apa kau tidak ikhlas memberikannya padaku?" tanya nenek itu sedih.
"Bukan begitu. Aku tidak membawa banyak persediaan makanan. Aku takut kita akan kelaparan sebelum sampai," kata si Kurcaci.
"Kau tenang saja. Rumahku tidak jauh dari sini. Aku memiliki banyak persediaan makanan. Ada tumpukan buah-buahan dan gandum di gudangku." Nenek itu menghampiri sang kurcaci. "Maukah kau mampir di gubukku?" tanya nenek itu ramah.
Sepertinya tidak ada jalan lain selain menyetujui tawaran nenek tua itu. Daripada harus kelaparan, sang kurcaci akhirnya mau diajak di rumah nenek itu.
Mereka berdua mulai berjalan menuju rumah sang nenek. Menepis beberapa ilalang dan tetumbuhan liar.
Sesampainya di rumah sang nenek, mereka berdua memasukinya. Rumah nenek itu tampak tua dan terbuat dari kayu-kayu kering.
"Masuklah, Cu. Istirahatlah sebentar, aku akan mengambilkan beberapa makanan untukmu," kata Nenek itu dan beranjak pergi.
Kurcaci itu duduk di batu bermaksud mengistirahatkan tubuh setelah berjalan lama sembari menunggu si nenek.
Tak lama nenek itu datang dengan sebuah nampan yang berisi banyak makanan. Makanan itu berupa daging-daging yang masih segar.
"Ini, Cucu. Makanlah. Kau pasti sangat lapar. Anggap saja ini adalah imbalan atas kebaikan mu pada ku tadi," ujar si nenek.
Kurcaci itu begitu gembira. Ada banyak makanan di depannya. Kebetulan perutnya itu juga sudah sangat lapar. Ketika Kurcaci itu hendak mengambil makannya, ia tidak jadi.
"Nek, katamu kau memiliki buah dan gandum. Lalu dari mana kau mendapatkan daging-daging segar ini?" tanya si Kurcaci.
"Aku suka berburu. Jadi aku menyimpan banyak daging buruan di gudang," jawab nenek itu sembari terkekeh.
Kurcaci itu memandangi makanannya lagi. Ia melihat daging kecil-kecil berwarna merah keunguan. Daging itu menyerupai potongan jari-jari.
"Itu daging apa, Nek?" tanya si kurcaci sembari menunjuk daging kecil-kecil menyerupai jari itu.
"Em... itu jari monyet. Monyet yang nakal," jawab Si nenek sembari terkekeh.
"Kalau itu?" Kurcaci itu menunjuk bola kecil berlendir.
"Itu mata panda. Panda yang suka mengintip," jawab si nenek lagi.
Brak!!! Tieng!!!
Suara benda jatuh tiba-tiba mengagetkan mereka.
"Itu suara apa, Nek?" tanya si Kurcaci.
"Itu mungkin suara kucing yang nakal. Sepertinya dia sudah tidak sabar untuk dicincang dagingnya," jawab sang nenek. "Sebentar ya, nenek tinggal dulu. Jangan kemana-mana sebelum menyelesaikan makanmu. Jangan nakal kalau jarimu tidak ingin dipotong. Jangan mengintip kalau matamu tidak mau dicongkel. Ingat nasihat nenek."
Setelah mengatakan itu nenek itu lantas pergi dan meninggalkan kebingungan pada Sang kurcaci. Kurcaci pun hanya bisa menunggu. Ia tak berani mengambil makannya lantaran daging-daging itu mengeluarkan bau tak sedap.
Kurcaci itu tak mau makan. Ia bahkan tak tahan lagi berada di sana. Akhirnya kurcaci itu pun membangkang nasihat sang nenek. Dia meninggalkan tempat makanan tanpa memakannya sedikit pun. Ia memilih mencari tahu apa yang tengah nenek itu lakukan.
Kurcaci itu berjalan ke belakang. Ia berniat mengintip nenek itu. Dilihatnya nenek itu sedang membawa pedang yang panjang nan runcing. Nenek itu berjalan menuju tempayannya. Ia merogoh tempayan itu bermaksud mengambil sesuatu. Betapa terkejutnya kurcaci itu saat melihat benda yang keluar dari tempayan.
Nenek itu mencengkeram leher seorang anak kecil dan menebas lehernya begitu saja. Darahnya menciprat ke mana.
Kurcaci itu terkesiap melihat aksi brutal sang nenek. Hingga tak sadar ia menjatuhkan sebuah benda di sampingnya.
Tienng!!!
Nichole terkejut saat mendengar sebuah benda terjatuh yang bersumber dari dapurnya sana. Ia berhenti membaca dongengnya dan terdiam sejenak. Pria itu memainkan indra pendengarannya, memastikan kalau suara itu benar-benar dari dalam rumahnya.
Tieengg!!!
Nichole kembali mendengar. Ia linglung sejenak dan memikirkan kata-kata Annie.
"Suara apa itu?" gumamnya dalam hati.
TO BE CONTINUED