Si Bengkok Tua

2177 Words
Tieenggg!!! Nichole terkejut bukan main, saat suara keributan di dapurnya menampar gendang telinganya. Pria itu mengingat kata-kata Annie, kalau ada sesuatu yang aneh ia harus segera mengabari temannya itu. Nichole buru-buru meraih ponsel, mencari nomor Annie dan menekannya setelah menemukan. Namun sialnya Annie tidak menjawab teleponnya. Apakah anak itu sudah tertidur? batin Nichole. Pria itu melihat arloji yang mengikat di tangan kanannya dan menyadari kalau malam sudah larut. Saat itu jam sudah menunjuk pukul dua belas malam. Tieengg... Bruk !!! Suara itu kembali menggema dan berbeda-beda. Hal itu membuat Nichole semakin merinding. Pikirannya terbebani akan hal-hal yang seharusnya tak ia pikirkan. Namun, tekad pria itu lumayan berani. Ia memilih untuk mengecek apa yang sebenarnya terjadinya di dapur sana. Nichole mulai melangkah, melewati pintu kamar dengan was-was. Ia menengok ke kanan dan ke kiri, menyusuri lorong sembari memasang tatapan waspada. Dapurnya itu dua. Satu di lantai bawah dan satunya di lantai atas di ujung lorong. Walau akses dapur dan kamarnya itu lumayan jauh, tetapi suara seperti benda-benda jatuh itu terdengar nyaring. Tiba di dapur, Nichole tak berani masuk. Ia mengintip di balik dinding yang menghubungkan antara dapur dan ruang makan. Pria itu terkejut saat tiba-tiba lampu dapur meremang seperti hendak putus. Meskipun begitu ia bisa melihat benda-benda yang berantakan. "Ini ulah tikus apa kucing?" Nichole keheranan saat melihat benda-benda yang terbanting itu merupakan benda berukuran besar. "Ah, nggak mungkin keduanya. Ini lebih terlihat seperti ulah manusia," batin Nichole. Nichole kembali melangkah lebih dekat lagi. Baru setelah itu dia melihat sesuatu yang membuat jantungnya berdegup kencang dan bulu kuduknya berdiri. Sesosok wanita tua berambut panjang dan bertubuh bungkuk. Kakinya juga bengkok tak menyerupai kaki manusia pada umumnya. Sesosok itu mengenakan baju hitam yang sobek-sobek dan posisinya saat itu menghadap ke depan membelakangi Nichole. Nichole terus memandangi sesosok itu. Sepertinya sesosok itu tengah sibuk melakukan sesuatu. Nichole memicingkan mata, terfokus pada tangan wanita tua itu. Dia terkesiap saat menyadari wanita itu tengah sibuk memotong jarinya sendiri menggunakan pisau dapur. Nichole mundur satu langkah lantaran terkejut. Ia tersentak saat sesosok itu menyadari kedatangannya dan kini berbalik menatapnya. Di luar dugaan, justru wajah sesosok itu lebih mengerikan. Di samping wajahnya yang peot, matanya itu menyala merah dan mulutnya berlumur darah. "Hehehehe... sudah kubilang jangan suka mengintip, Anak nakal!" Sesosok itu bersuara dan membuat jantung Nichole seperti tersendat. Apalagi saat melihat pisau dapur itu dipukul-pukulkan pada tangannya yang berdarah karena ia lukai tadi. "Kau telah melanggar nasihat nenek, wahai Kurcaci!" Nenek itu kembali terkekeh. Nichole bergegas memutar tubuh dan berlari tunggang langgang. Ia menerobos benda-benda seperti kursi dan tak mempedulikan apapun kecuali lari dari sesosok itu. Pria berhasil memasuki kamar dan menguncinya rapat-rapat. Tubuhnya gemetar dan langsung menaiki kamar. Ia mematikan lampunya dan bersembunyi dalam selimut. Dug! Dug! Dug! Suara dari luar kamar terdengar nyaring mencoba mendobrak pintu. Suara itu membuat telinga Nichole menciut nyali. Tubuh pria itu gemetar hebat dan mulai bercucur keringat. Bahkan keringatnya sampai merembes ke selimut. Ia tak pernah menyangka kalau bakal mengalami dan bertemu dengan sesosok mengerikan seperti tadi. Nichole menepuk-nepuk kecil pipinya memastikan kalau dia tidak sedang bermimpi. Namun suara di luar kamar semakin berat nan nyaring. Dug! Dug! Dug! "Wahai Kurcaci manis, bolehkah aku mencicipi dagingmu?" Nichole membungkam mulutnya rapat-rapat. Ia memilih untuk diam tak bersua. Jangan sampai sosok di luar sana mendengar suaranya. Napasnya begitu memburu dan keringatnya semakin bertambah deras. Pria itu berpikir untuk menelpon Annie. "Di mana ponselku?" batinnya. Ia baru ingat kalau ponselnya itu ada di atas meja belajarnya begitupun dengan buku dongengnya. Yang bisa ia lakukan saat ini adalah pasrah dan menunggu sosok nenek menyeramkan itu pergi dari rumahnya. Atau setidaknya orang tuanya itu cepat pulang. Hampir sepuluh menit Nichole membungkus tubuhnya dengan selimut. Dia seperti bermandikan keringat dan mulai kesusahan bernapas. Namun, kabar baiknya dia tidak lagi mendengar suara gebrakan pintu maupun suara nenek-nenek itu. Apakah si nenek tua sudah pergi? Nichole mulai membuka selimutnya perlahan. Ia mengintip dari sela-sela selimut. Keadaan di luar itu sangat gelap. Maklum, dia sengaja mematikan lampu kamarnya tadi bermaksud mengelabuhi si nenek agar mengira kalau tidak ada orang di dalam kamar. "Sepertinya nenek sialan itu sudah benar-benar pergi," gumam Nichole dalam hati. Nichole membuka selimutnya lebar-lebar. Namun, dugaannya itu salah besar. Bukan udara kebebasan yang ia dapatkan, melainkan sesosok mengerikan yang membuat jantungnya teringin meloncat keluar. Di atasnya itu terdapat sosok nenek tua mengerikan mengenakan jubah hitam. Rambutnya yang putih panjang itu terurai berantakan. Kulitnya keriput dan matanya menyala merah. Sedangkan mulutnya membuka memperlihatkan taring-taring yang berlumur darah. Sosok nenek tua itu dalam posisi merangkak dan tangan kanannya memegang pisau dapur yang diarahkan tepat pada wajah Nichole. "Bolehkan aku mencongkel matamu itu? Kelihatannya sangat lezat." Nenek itu berkata sembari menjilat sia darah di sudut bibirnya. "Aaahh!" Nichole berteriak ketakutan dan refleks menendang sesosok itu. Lantas, ia segera meloncat dari ranjang dan berlari keluar kamar. "Mau ke mana kau Kurcaci manis?" Sesosok itu berusaha mengejarnya. Nichole terus berlari sekencang mungkin. Menyusui lorong kamar yang mulai gelap, lantaran satu persatu lampu tiba-tiba padam seketika. Nichole menengok ke belakang, memastikan apakah nenek tua itu mengejarnya atau tidak. Ternyata dia harus mengencangkan larinya lagi karena nenek itu benar-benar mengejarnya. Bunyi suara hentakan kaki nenek itu terasa memenuhi ruangan. Kedua kakinya itu bengkok. Menghadap berlainan arah dan lututnya seperti sudah patah. Namun tenaganya masih begitu kuat jika digunakan untuk berlari. Nenek bengkok itu berlari sembari memegang pisau dapur yang diangkat setinggi bahu. Sementara itu Nichole terus berlari. Hingga keadaan menjadi aneh. Tempat-tempat yang pernah dilewatinya itu mulai tumbuh jamur dan jamur-jamurnya mulai membengkak tumbuh besar. Bahkan lebih besar dari ukuran tubuh manusia. "Wahai Kurcaci manis, kau menginginkan jamur ajaib kan? Lihatlah ke belakang, ada banyak jamur yang bisa kau ambil," kata Si nenek bengkok itu sembari tertawa. "Aku bukan Kurcaci. Aku juga tidak sedang mencari jamur. Bukan aku tokoh dalam dongeng itu," bentak Nichole sembari terus berlari. Kali ini ia menuruni tangga. "Oh benarkah? Tapi kau sangat manis. Kau sangat cocok memerankan kurcaci itu." Nenek bengkok itu terkekeh. Nichole semakin ketakutan. Kini ia sudah sampai di anak tangga terakhir, dan rencananya mau bersembunyi. Ia melihat sebuah tempat yang cukup gelap. Tepatnya di bawah tangga bagian sudutnya. Pria itu mengira kalau dia bersembunyi di tempat gelap nenek bengkok itu tidak bakalan bisa melihat. Karena yang ia tahu, seorang nenek-nenek pada umumnya itu penglihatannya mulai rabun di usianya yang sudah lanjut. Tak membuang waktu, Nichole dengan gesitnya mendepis di bawah tangga dan membungkam mulutnya rapat. Bahkan, ia berusaha untuk tidak bernapas. Karena hebusan napasnya itu bisa didengar oleh sang nenek. Nenek bengkok itu sampai di tangga. Namun ia tak menemukan mangsa yang ia cari itu. Sosok berkaki bengkok itu mulai menuruni tangga dengan perlahan dan mulutnya bersenandung ria. "Nenek nenek si bongkok tiga Siang mengantuk malam berjaga Mencari cucu di mana ada Nenek ku kawin dengan anak raja Cucu cucu tak dapat lari Nenek tua banyak sakti Sekarang juga nenek ku cari Siapa kena dia yang menjadi." Hehe... "Kurcaci manis, ke mana kau?" Nichole mulai gemetar saat merasakan di atasnya tengah ada sosok menyeramkan yang sedang memburunya. Ia menutup mata rapat-rapat dan jantungnya berdegup kencang. Jlep! Sebuah pisau tampak menembus anak tangga yang terbuat dari kayu. Si nenek bengkok itu telah menusuk-nusuk tangga itu. Kemudian ia merangkak menuruni tangga dengan gerakan aneh. Nichole yang sedang bersembunyi di bawah tangga itu mulai tak tahan terus-terusan membungkam mulutnya. Tak sadar ia melepas suara. Dan itu membuat si nenek bengkok bereaksi. "Kau mau bermain petak umpet dengan ku, Kurcaci manis?" Nenek itu meloncat sampai ke anak tangga terakhir dan mulai mengendus. "Aku bisa mengendus aroma daging Kurcaci yang lezat. Pasti daging itu sangat empuk bila aku cincang." Si bongkok itu terkekeh-kekeh. Tidak kalah dengan wajahnya, bahkan suaranya itu terdengar menyeramkan sehingga membuat bulu kuduk Nichole berdiri. Nichole melotot hebat saat melihat benda-benda di rumahnya mulai ditumbuhi jamur. Dan jamur-jamur itu semakin bertambah besar seperti diberi ramuan penggemuk tumbuhan. Tidak hanya benda-benda, namun jamur itu merambat sampai ke lantai dan kini mulai merayap ke tempat persembunyian Nichole. Nichole mencoba memindahkan kakinya ke tempat lain karena tempat yang digunakan berpijak kini mulai ditumbuhi jamur. "Kena kau!" Nenek itu berhasil menarik tangan Nichole. Kuku yang dimiliki nenek bengkok itu sangat tajam nan runcing sehingga membekas saat dirinya mencengkeram lengan Nichole. "AHH! LEPAS!!!!" Nichole mencoba melepas diri. "Kau menginginkan jamur ajaib, bukan? Lihatlah di sekelilingmu, semua jamur-jamur ini adalah milikmu seorang. Tapi, kau harus menjadi hidangan penutupku. Hehehe." "Aku tidak menginginkan apapun dari mu!" Nichole menendang kaki si nenek hingga tulangnya terdengar patah. Bukan hanya terdengar, namun kaki itu benar-benar patah. Lantas pria itu kembali berlari. "Kurcaci! Kau tidak bisa lepas dariku!!!" Nenek bengkok itu berteriak. Ia mencoba berjalan walau hanya dengan satu kaki. Nichole mulai panik saat seluruh rumahnya mulai ditumbuhi jamur raksasa. Ia mencoba berlari dan nasib malang menimpanya. Ia terjatuh tersandung jamur-jamur yang mulai tumbuh. Kakinya itu seperti terkilir dan mengharuskan dia berjalan merayap. Kress! Satu sayatan berhasil Nenek itu goreskan pada kaki Nichole. "AAARGH!!" Pria itu berteriak histeris sedangkan si nenek bengkok tertawa puas. "Dongengnya belum berakhir, kau mau lari ke mana?" "TOLONG!!" Nichole berteriak meminta tolong sembari terus menggeser kakinya yang mulai mengucur darah. "Sudah kubilang, jangan pergi sebelum menyelesaikan dongengnya. Jangan nakal kalau jarimu tidak mau dipotong. Jangan mengintip kalau matamu tidak mau dicongkel. Tapi kau membangkangnya. Jadi, jangan salahkan aku jika menginginkan daging mu!. Hehehe." Sekarang Nichole mengerti nasihat yang nenek itu sampaikan pada si kurcaci. Nenek itu mengatakan jangan pergi sebelum memakan masakannya, itu artinya Nichole tidak boleh pergi sebelum menyelesaikan dongengnya. Tapi dia membangkang saat mendengar suara aneh dari dapur tadi. Jangan mengintip kalau tidak mau matamu dicongkel, tetapi Nichole telah mengintip si nenek waktu di dapur. Jangan nakal kalau jarimu tidak ingin dipotong, dan kali ini Nichole telah berbuat nakal dengan mencoba lari dari si nenek. "Dongeng ini akan seru jika aku bisa mendapatkan kurcaci itu dan menghukumnya. Aku akan memotong jarinya, mencongkel matanya, dan mencincang tubuhnya, baru setelah itu ku makan dagingnya. Aku pasti akan kenyang." Satu-satunya jalan saat ini Nichole harus sampai di pintu utama. Mungkin saja ia bisa meminta bantuan penjaga di luar sana. Namun jarak antarnya dirinya saat ini dengan pintu masih lumayan jauh. Apalagi dengan keadaannya seperti sekarang ini, ia akan sulit mencapai pintu. Dia juga harus balapan dengan jamur-jamur yang mulai tumbuh menyebar. Kalau jamur itu sampai menumbuhi pintu, maka semua rumahnya itu akan menjadi hutan jamur milik si nenek bengkok. "Aarghh!" Nichole terus berusaha mendirikan tubuhnya. Begitu berhasil ia langsung berlari menuju pintu walau pincang. Tangannya itu ia ulurkan memegangi gagang pintu dan membukanya. Berhasil! Nichole segera keluar. Nenek bengkok itu tampak murka dan melempar pisau dapurnya, namun Nichole berhasil menutup pintu itu tepat waktu dan membuat pisaunya menancap pada pintu. Lantas, Nichole segera berlari, memekik di tengah malam mencari bantuan. Hingga datang sebuah mobil yang memasuki halaman rumahnya. Nichole tahu betul itu mobil ayahnya. Ia buru-buru menghampirinya. "Mom! Dad! Help me!" rintihnya. Ibunya yang saat itu duduk di depan melihat anaknya dengan heran. Setelah mobil itu berhenti, ayah dan ibunya Nichole segera keluar dari mobil dan berlari menghampiri putra semata wayangnya. "Nichole, what the hell is going on?" Nichole memeluk ibunya. "Mom, a-da ... ada jamur... dan nenek bengkok di sana," ujarnya gugup. Ayah serta ibu Nichole tak mengerti dengan omongan anaknya itu. "Mom, lihat kakiku." Nichole menunjukkan kakinya yang disayat pisau oleh nenek tadi. Namun anehnya kini luka itu menghilang. Dan seperti tidak terjadi apa-apa. "Kaki mu baik-baik saja, Nic," ujar ayahnya. Nichole pun heran dengan perubahan kakinya itu. Bagaimana luka di kakinya itu bisa sembuh total. Namun, walau tidak membekas luka, ia tetap merasakan pedih di kakinya. "Mom, Dad, ayo kita masuk ke rumah. Di sana ada banyak jamur raksasa dan nenek bengkok yang wajahnya serem banget." Nichole menjelaskan pada orang tuanya dengan gugup. Ayah dan ibunya itu saling pandang dan akhirnya mereka merangkul anaknya. "Ayo kita masuk!" ajak sang ayah. Mereka pun berjalan bersama. Tiba di depan pintu Nichole terkejut tak menemukan pisau dapur yang harusnya menancap di tengah pintu. Saat pintunya dibuka pun, keadaannya sangat berbeda dengan yang seharusnya. Jamur-jamur itu menghilang dan kini suasana rumah seperti sedia kala. Bahkan si nenek bengkok sudah tak ditemukan lagi. "Lihat, nggak ada apa-apa, kan." Ibunya itu mengusap pelipis Nichole yang basah akan keringat. "Kamu habis mimpi buruk, ya?" tanyanya kemudian. Nichole menggeleng namun juga tak menjawab. Bahkan ia sendiri tak mengerti, apakah tadi sebuah mimpi atau nyata. Tapi rasanya itu benar-benar nyata. Dan satu hal yang ia tahu, bahwa apa yang dikatakan Annie itu memang benar adanya, kalau buku dongeng itu memang buku kutukan. "Sekarang kembalilah tidur. Besok kamu harus bangun pagi dan berangkat kuliah," tutur ayahnya. Nichole berjalan sendiri, meninggalkan kedua orang tuanya yang masih berdiam di tempat. Ia tidak bisa cerita pada mereka berdua karena mustahil bisa membuat mereka percaya. Lagi pula ia tak punya bukti apa-apa. Hanya Annie. Dia yang bisa mengerti dan percaya akan ceritanya besok. Past! TO BE CONTINUED
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD