"Nenek Bengkok?" Annie mengeryitkan dahi saat mendengar cerita Nichole soal tadi malam yang ia diteror nenek bengkok.
"Iya, Ann. Dan sekarang gue percaya kalau buku ini memang buku kutukan!" ujar Nichole sembari membanting buku dongengnya di meja.
Saat itu mereka berdua sedang duduk di kantin seperti biasa. Sedangkan teman-temannya masih belum datang. Mereka tengah mengobrol serius sembari ditemani minuman serta makanan ringan. Tak terkecuali juga buku dongeng itu ada di atas meja.
"Lo emang nggak salah, Ann. Hantu dan makhluk supranatural itu memang ada. Gue kira hanya dongeng semata. Tapi gue tidak bisa memastikan kalau yang terjadi tadi malan itu benar-benar nyata atau tidak, yang jelas setelah membaca dongeng itu semuanya benar-benar aneh. Apa yang seharusnya ada di dalam dongeng, justru aku yang mengalaminya sendiri." Nichole mengerjap, berusaha melupakan wajah nenek bengkok yang menerornya tadi malam. Namun, sepertinya wajah seram itu tidak bisa hilang dari pikirannya.
"Gue kan juga sudah bilang, lo jangan baca bukunya. Lagian lo ngeyel sih." Annie meletakkan kedua tangannya di atas meja.
"Gue kan penasaran, Ann. Soalnya gue salah satu orang yang awalnya nggak percaya hal begituan. Gue cuma percaya adanya alien dan makhluk luar angkasa." Nichole memang mahasiswa jurusan ilmu fisika, jadi dia tahu akan hal-hal luar angkasa.
"Terus, kaki lo, masih sakit nggak?" tanya Annie kemudian. Ia telah mendengar banyak cerita dari Nichole soal nenek bengkok yang memburunya
"Nah ini yang aneh. Kalau memang tadi malam itu hanya halusinasi gue belaka, lalu kenapa saat nenek bengkok itu mengiris kaki gue, masih merasakan pedih sampai sekarang?" Nichole menyandarkan punggungnya di sandaran kursi dan membuang napas.
"Lo udah periksa ke dokter?" tanya Annie menaikkan alisnya.
"Udah. Tapi dokter bilang nggak kenapa-kenapa. Lagian dari luar kaki gue juga kelihatan baik-baik saja. Nggak mungkin juga gue bilang semuanya pada dokter kalau nenek bengkok itu yang sudah membuat luka di kakiku."
"Terus, orang tua lo? Tahu soal semua ini?" tanya Annie lagi.
"Percuma. Aku sudah berusaha menjelaskan, tapi mereka tetep mengira aku sedang mimpi buruk." Nichole memberi jeda, menyemburkan napasnya. Ia terlihat agak kesal. "Sebenarnya gua males sama mereka. Mereka nggak pernah punya waktu sama gue. Yang diurusin cuma pekerjaan mulu. Bikin muak!"
Annie mengerti dan menunduk. Ternyata, nggak hanya dirinya yang memiliki masalah keluarga. Tetapi, sejatinya memang semua orang pasti memiliki masalah keluarga.
"Lo yang sabar ya, Nic." Annie mencoba menguatkan Nichole tentang keadaannya sekarang ini.
"Lagian gue juga bodo amat, Ann. Terserah mereka, masih ingat kalau punya anak apa nggak." Nichole memalingkan wajah kesal.
"Itu mereka sudah datang!" seru Annie saat melihat teman-temannya berjalan ke arahnya.
Alex dan Maya tampak berjalan berdua dan saling merangkul, sedangkan Jay dan Rio berjalan di belakang membuntutinya.
"Lo kenapa, Bro? Muka lo kusut banget? Hahaha!" sapa Rio pada Nichole. Pria itu duduk di samping Nichole dan menepuk bahunya. "Muka lo kecut banget kayak tanggal tua. Hahaha!" kata Rio lagi sambil memegang janggut Nichole untuk dihadapkan padanya.
"Iya. Lo kurang tidur, ya?" tanya Alex keheranan melihat keadaan temannya itu.
"Pasti kebanyakan begadang lo. Mikirin gimana caranya bisa tinggal di Mars. Hahaha," canda Jay yang disahut gelak tawa Alex dan Rio.
Nichole masih terdiam. Maya mengerutkan dahi, dan menarik sedikit baju Annie. "Kenapa dia?" tanyanya.
Annie hendak berbicara, namun Nichole langsung mendorong buku dongeng di depannya, sehingga membuat mereka semua terfokus pada buku dongeng itu.
"Gue diteror!" ujar Nichole begitu saja.
Teman-temannya itu mengeryitkan dahi, kecuali Annie yang sudah tahu semuanya.
"Tadi malam gue diteror dan diburu sama nenek-nenek tua yang wajahnya serem dan kakinya bengkok setelah membaca buku ini." Perkataan Nichole itu membuat semuanya terdiam sejenak.
Selang beberapa detik, Rio tertawa. "Bro! Lo nggak sakit kan? Lo belom gajian? Atau lo habis dimarahin dosen killer kemarin?" Rio mengecek kening Nichole yang sama sekali tidak sedang demam.
"Gue tahu kalian nggak percaya. Tapi ini benar-benar terjadi. Aku dan Annie sudah merasakannya langsung." Nichole mencoba menceritakan semuanya yang terjadi tadi malam kepada mereka. "Tadi malam gue habis baca dongeng kurcaci dan jamur ajaib, setelah itu aku mendengar suara aneh di dapur. Aku penasaran, karena orang tuaku tidak sedang di rumah dan pembantuku lagi cuti. Aku beranikan diri mengecek ke dapur, dan aku melihatnya."
Nichole menggeleng serta mengerjap. Wajah seram nenek bengkok itu mulai terbayang lagi.
"Lo percaya gue lihat apa? Gue lihat ada nenek-nenek tua, pakai baju hitam yang sobek-sobek, dan kakinya itu bengkok. Dia sedang mengiris jarinya sendiri."
"Dan itu hanya ilusimu!" sahut Jay masih tak percaya.
"Bro! Gue berani sumpah gue lihat dengan mata gue sendiri kalau itu benar-benar nyata. Dan anehnya, nenek itu yang ada di dalam buku dongeng yang gue baca. Lebih mencengangkan lagi, gue seperti menjadi tokoh kurcaci dalam dongeng itu."
"Nenek itu memburumu kerena mengira lo kurcaci?" Maya menaikkan alisnya tak mengerti.
"Emang wajah lo mirip kurcaci ya? Perasaan wajah lo lebih buruk dari kurcaci. Hahaha." Rio masih saja bercanda dan itu membuat Nichole kesal.
"Very funny!" kata Nichole kesal. "Gue nggak bercanda guys, dan gue nggak lagi mengada-ada."
"Apa yang dikatakan Nichole itu benar." Annie angkat bicara. "Ada sesuatu dalam buku ini. Semacam energi supranatural. Dan gue berani sumpah buku ini juga berpindah tempat," imbuh Annie meyakinkan.
Rio memandangi buku dongeng bersampul warna hitam itu dan berniat mengambilnya. Namun langsung dihentikan oleh Annie secara tiba-tiba.
"Gue cuma mau lihat." Rio berkata pada Annie.
Annie menggeleng. "Jangan. Gue nggak mau kalian mengalami seperti yang aku dan Nichole alami. Buku ini sangat berbahaya," sergah Annie.
Rio menarik lagi tangannya dan pasrah. Namun satu ide terbesit dari pikirannya. "Gue ada ide. Bagaimana kalau nanti malam gue baca dongeng di buku ini, dan gue akan rekam semuanya. Kalau memang benar aku diteror, maka ada bukti video rekamannya. Gimana?" Rio memandangi semua temannya bermaksud meminta persetujuan.
"Nggak!" Annie langsung berkata tegas.
"Kenapa, Ann. Kalau memang benar, kan itu bisa dijadikan bukti pada kita semua," usul Maya.
"Gue hanya nggak mau ada korban lagi."
"Korban apa? Buktinya kalian nggak kenapa-kenapa kan?" Alex angkat bicara.
"Men. Mengertilah, ikuti nasihat Annie kalau kalian nggak mau celaka." Nichole menyahut.
"Ok, stop! Gue nggak mau denger ribut ataupun omong kosong apapun dari kalian. Sekarang lupakan soal dongeng kematian itu, dan mending kita bicarakan hal-hal yang sering kita bicarakan saja." Jay menengahi mereka. "Bagaimana kalau kita pergi party? sudah lama kita nggak party," usul Jay.
"Nah, ini gue setuju banget. Ide bagus!" Rio bersorak setuju. "Gue udah lama nggak cuci mata lihat cewek-cewek cantik."
"Huu ...dasar!" Semuanya bersorak pada Rio.
Annie mengambil buku dongeng itu dan memasukkannya ke dalam tasnya.
"Mau lo apain buku itu?" tanya Jay.
"Gue yang bawa buku ini, jadi ini tanggung jawab gue," katanya dingin. Gadis itu masih belum cair dengan Jay. Ia masih belum menyadari kalau Jay menaruh hati padanya. Atau menang pura-pura tidak menyadarinya?
Jay memutar mata bosan. "Ya udah. Kapan kita party?" tanya Jay pada teman-temannya.
"Of course minggu ini dong!" semangat Alex.
"Gimana, Nic?" tanya Jay.
"Boleh. Lagi pula gue juga mau lupain soal nenek bengkok itu," katanya kurang semangat.
"Bentar-bentar, Annie bilang dia diteror Kakek bungkuk, dan Nichole diteror Nenek bengkok. Kenapa ga kalian jodohin aja mereka?" ujar Rio bercanda.
"Maksud lo, Annie sama si cupu itu?" Jay tampak emosi.
"Bukan. Maksud gue si kakek bungkuk sama nenek bengkok. Kenapa nggak kalian nikahin aja mereka berdua. Haha. pasti seru." Rio tertawa pecah.
"Dan mereka punya anak kurcaci juga hewan peliharaan kancil," sahut Alex disambut gelak tawa Rio, Jay, dan Maya.
Annie dan Nichole hanya terdiam. Sepertinya teman-temannya itu tidak pernah percaya dengan ceritanya bahkan mereka malah mempermainkannya.
"Upzz... sorry ...sorry ...gua hanya bercanda kok." Alex berujar pada Annie dan Nichole.
"Ann, lo ikut party, kan?" tanya Jay pelan.
Annie masih terdiam belom menjawab.
"Udahlah, Ann. Ikut aja, pasti seru. Kasihan tuh pangeran nggak ada pasangannya," ucap Alex seraya tertawa.
Annie melirik ke arah Maya. Maya tersenyum seraya mengangguk bermaksud memberinya kode untuk menyetujuinya.
"Ya udah deh." Akhirnya Annie menyetujui permintaan mereka.
"Yes!" Jay tampak senang.
"Kalian habis ini ada kelas nggak?" tanya Annie pada mereka.
"Gue ada sih," jawab Maya.
"Gue juga!" seru Alex.
"Gue pun." Nichole tampak mengangguk.
"Gue ada apa nggak ya?" Rio malah bertanya-tanya.
"Elo mah ada sama tidak nggak ada bedanya!" Nichole meraup wajah Rio.
"Gue udah nggak ada. Kalau begitu gue pulang duluan, ya!" ujar Annie sembari membereskan sampah-sampah tisu di depannya.
"Gue juga udah selesai. Kita bareng yuk!" ajak Jay sembari mengedipkan matanya berkali-kali.
"Mata lo keliliban?" tanya Maya pada Jay.
"Ah elo, kayak nggak tahu buaya darat lagi merayu bunga mawar aja." Rio ikut berkomentar.
Jay memicingkan mata pada mereka. Lantas terpaku pada Annie lagi. "Mau ya? Please!" mohon Jay sembari melipat tangan.
Annie tampak menimbang-nimbang. Ia melihat mata Jay yang penuh sayu kemudian menyetujuinya. Tanpa bicara, hanya anggukan dua kali Annie langsung berjalan.
"Yes!" Jay langsung membuntutinya.
"Dasar!" Teman-temannya itu tertawa seraya menggelengkan kepala.
***
"Ann, tipe cowok idaman lo itu seperti apa sih?" Jay mencoba mencairkan suasana dengan bertanya tentang pertanyaan yang memang ia ingin tanyakan sejak lama.
"Kenapa memangnya? Kepo banget," jawab Annie judes.
"Tanya saja. Siapa tahu aku masuk dalam kriteriamu. Hehe." Jay cengengesan.
Annie mengehentikan langkahnya, dan menoleh ke arah Jay. "Kalau mimpi jangan di tengah siang bolong dong, jatuhnya halu."
"Nggak apa-apa halu. Asal haluin kamu," ujar Jay tersenyum.
"Kalau halu jangan maksimal!" timpal Annie yang langsung berjalan cepat meninggalkan Jay.
"Annie kok gitu sih...."Jay berusaha mengejar Annie.
"Mobil lo mana?" tanya Annie sembari menutupi wajahnya yang diterpa sinar mentari.
"Lo tunggu sini, pangeran akan segera kembali dengan kendaraannya," ujar Jay bercanda lantas pergi mengambil mobilnya di parkiran.
Annie mencoba mencari tempat teduh di bawah tiang. Baru berdiri beberapa detik di sana, gadis itu sudah dikagetkan oleh suara klakson mobil. Kaca mobil itu membuka dan menampilkan wajah Jay sok tampan.
Annie memutar mata bosan kemudian berjalan memasuki mobil. Mobil pun langsung melaju menyusuri perjalanan. Jay sengaja memutar musik romantis, namun Annie masih acuh tak acuh.
Setelah menempuh perjalanan, akhirnya mobil Jay sampai di halaman rumah Annie. Jay keluar mobil lebih dulu dan membukakan pintu untuk Annie. Annie langsung turun begitu saja.
"Gue nggak disuruh mampir nih?" tanya Jay sok baik.
"Nggak usah. Lagi nggak menerima tamu songong."
"Hmm... ya udah." Jay membuang napas pasrah.
"Tas gue?" Annie baru menyadari kalau tasnya masih tertinggal di mobil.
"Eh, biar gue ambilkan aja." Jay langsung bergerak cepat dan membuka pintu mobilnya. Ia mencari tasnya Annie.
"Jay, buruan! Panas nih. Ngambil tas doang lama banget." Annie berteriak setelah menunggu agak lama.
"Iya, iya ini bentar!" Jay buru-buru menghampiri Annie dengan tas milik gadis itu. "Nih, tasnya."
"Lama banget sih."
"Tadi ... mm..."
"Ya udah gue masuk dulu ya. Bye!"
"Eh, Ann. Say thanks-nya mana?" teriak Jay pada Annie yang sudah melangkah berjalan.
"Thanks!" kata Annie kencang.
Jay tertawa dan langsung pergi ke mobilnya lagi.
***
Malam itu Annie tengah duduk meja belajarnya. Ia menghadap laptop dan bersiap mengerjakan tugas-tugas kuliah. Ia bermaksud mengambil buku catatan dari tasnya. Namun, ia malah kehilangan sesuatu.
Buku itu! Buku dongeng itu tidak ada di dalam tas Annie.
Annie kebingungan. Ia menumpahkan semua isi tasnya tapi tetap tidak menemukan buku itu. Padahal ia yakin kalau ia sudah menaruh buku itu dalam tasnya.
Lalu, ke mana larinya buku itu sekarang?
TO BE CONTINUED