Antonio Jayco Pamungkas. Itu adalah nama lengkap Jay. Entah kenapa dia lebih suka dipanggil Jay, daripada Antonio. Pamungkas adalah nama ayahnya, dan ibunya bernama Elena. Namun sayang, kedua orangtuanya itu memilih mengakhiri hubungannya saat Jay masih berumur sepuluh tahun. Perbedaan pendapat sering membuat rumah tangga hancur, terutama ditambah dengan bumbu perselingkuhan, hal itu telah membuat Jay menjadi anak broken home sejak kecil. Meskipun begitu, kedua orangtuanya itu tetap memilih untuk berkomitmen dalam memerankan sosok ayah dan ibu bagi Jay walau tidak lagi tinggal satu atap.
Jay diberikan sebagian warisan ayahnya dan juga ibunya. Saat ini pria itu hanya tinggal sendirian di rumahnya yang terbilang cukup besar. Jay sebenarnya anak yang dewasa pemikirannya, karena itulah sejak kecil ia sudah bisa menerima keputusan kedua orangtuanya untuk berpisah. Daripada dia harus melihat mereka sering bertengkar, lebih baik mereka menjalani hidup mereka masing-masing yang memang mereka inginkan.
Beranjak remaja Jay mulai menata hidupnya sendiri. Ia biasa bertemu ayahnya seminggu dua kali, sedangkan ibunya tiga kali seminggu. Orang tuanya itu juga sudah memilih jalan hidupnya sendiri, mereka menikah dengan orang pilihan mereka masing-masing. Namun, saat ini ayah Jay harus sendiri lagi lantaran istri keduanya mengalami kecelakaan dan meninggal setahun yang lalu.
Acap kali ayahnya itu meminta Jay untuk tinggal bersamanya, namun Jay menolak. Buatnya, kesendirian itu lebih baik daripada bersama tetapi tidak pernah bahagia. Jay sudah merasa sendiri sejak ia kecil, dan itu sudah terbiasa.
Drett... Dreettt...
Suara dering ponsel terdengar bergetar. Jay melirik ponselnya yang berada di atas meja makan lalu meraihnya. Terdapat nama Annie yang sedang memanggilnya, dan itu membuat Jay gembira.
"Hi!" sapa Jay terlebih dahulu. Ia mengangkat kakinya untuk di tumpangkan di kursi lainnya, dan mulai menyandarkan punggungnya dengan santai. "Tumben banget nelpon? Kangen ya?" canda Jay seraya terkekeh.
"Jay!" Annie berteriak dari seberang sana.
"Iya, ini gue. Lo nggak salah tekan nomor kok." Jay terkekeh. "Ada apa nelpon?" tanyanya.
"Diem lo songong!" Suara Annie terdengar emosi. "Lo yang ambil buku dongeng gue ya?" tanyanya tegas.
Jay melirik buku dongeng yang tergeletak di antara gelas-gelas berisi minuman. Kemudian, ia mengingat kejadian tadi siang. Saat tas Annie ketinggalan di mobilnya, Jay bermaksud mengambilkannya. Ketika Jay hendak menyetuh tas itu, tas itu jatuh dari kursi mobil dan buku dongengnya ikut keluar dari tas. Jay memperhatikan buku itu kemudian meraihnya. Lantas, ia sengaja meninggalkan buku dongeng itu di mobilnya kemudian ia buru-buru mengambil tas Annie untuk diberikan kepadanya.
"Kenapa sih?" Jay mencoba sok bodoh.
"Jay, jawab gue. Lo yang ngambil kan?!" tuding Annie. "Gue sudah tanya sama temen-temen, tapi mereka bilang nggak tahu. Dan lo kan yang nganterin gue pulang tadi." Annie semakin ngotot.
"Iya, iya gue yang bawa." Akhirnya pria itu mengaku.
"Terus bukunya sekarang di mana?" tanya Annie lagi.
"Tuh di depan gue," jawab Jay seraya terfokus pada buku dongengnya.
"Jangan bilang lo mau baca tuh buku!"
"Hahaha!" Jay tertawa. "Gue baca buku itu? Kayak nggak ada kerjaan lain saja. Lagian, kalau mau lihat hantu gue bisa nonton film horor, ngapain harus capek-capek baca buku. Apalagi, buku dongeng konyol kayak gitu." Jay tampak meremehkan.
"Syukurlah kalau begitu." Annie terdengar lega. "Tapi, kalau nggak lo baca, ngapain lo ngambil buku itu dari gue?"
"Ya... itu ... mmmm... gue tuh bosan tahu nggak sih, buku itu mulu yang jadi pembicaraan kita ketika di kampus. Gue cuma ingin kamu nggak terobsesi sama buku itu lagi. Makanya gue bawa," jawab Jay beralasan.
"Gue mencium bau-bau kebohongan," kata Annie curiga.
"Astaga! Masak lo nggak percaya sama gue sih." Jay membuang napas sejenak. "Ya udah besok gue kembalikan. Mending lo sekarang cepet tidur deh, biar nggak capek. Atau lo mau ngobrol-ngobrol berdua sama gue? Gue bersedia kok menemanimu sepanjang malam." Jay tampak bahagia.
"Ogah! Gue dah ngantuk! Bye!" tutup Annie.
"Yah ... udah dimatiin," ujar Jay kecewa seraya melihat ponselnya. Lantas pria itu meraih segelas jus jeruk dan meneguknya. Ia menghentikan minumnya setelah matanya terfokus pada buku dongeng itu lagi.
Jay mengambil buku dongeng itu dan mengamati. "Apa betul buku dongeng ini buku kutukan?" Jay memandangnya dalam-dalam, seolah buku itu menginginkan untuk dibaca.
"Ah, nggak mungkin!" Jay membuyarkan tatapan pakunya pada buku dongeng itu dan beralih melihat jam di ponselnya. "Sudah pukul setengah sepuluh, mending aku masuk kamar saja."
Jay beranjak, membereskan semua sisa-sisa makan malamnya kemudian membuangnya ke dalam tempat sampah. Lantas, ia membawa ponselnya dan tak lupa menyongsong buku dongeng itu. Ia mulai melangkah menuju kamarnya.
Tiba di kamarnya, Jay melempar buku dongengnya di ranjang dan ia pun membanting tubuhnya di atas ranjang juga. Ia membuang napas panjang bersiap untuk tidur. Namun, hal itu harus urung saat buku dongeng di sampingnya merebut perhatiannya.
Jay menatap fokus pada buku yang sudah tampak lusuh itu. Jay merasa, seolah-olah buku itu berbisik padanya dan meminta Jay untuk membacanya. Jay menggelengkan kepalanya bermaksud menyadarkan diri.
"Ah, bulshit!" umpat Jay.
Pria itu beralih pada lampu tidurnya berniat mematikannya. Namun ia berhenti tiba-tiba dan malah memilih mengambil buku itu.
Dia membukanya!
"Kisah Pangeran Kodok dan Puteri Raja!"
Jay mengeryitkan dahi saat membaca salah satu judul dalam dongeng itu. Namun, sialnya judul itu telah mengundang rasa penasaran Jay. Pria itu pun memilih membaca dongengnya.
Pada zaman dahulu kala, hiduplah seorang raja dan putrinya yang cantik jelita. Raja itu sangat menyayangi putrinya itu karena hanya dia keluarga yang dimilikinya. Ratunya sudah lama meninggal karena penyakit.
Di dekat istana sang raja, terdapat hutan yang rimbun dengan pepohonan yang rindang. Salah satu pohon di hutan itu memiliki daun berbentuk hati. Di bawah pohon tersebut, terdapat sumur yang jarang diketahui orang-orang, bahkan keluarga kerajaan kecuali sang putri.
Saat musim panas tiba, sang putri sering datang ke hutan itu, tepatnya di dekat sumur. Dia sangat senang bermain di sana setelah bosan di lingkungan kerajaan. Tidak bisa dipungkiri, udara di dekat sumur itu sangat segar nan sejuk. Terlebih di bawah pohon rindang berdaun bentuk hati.
Suatu ketika, angin menerpa begitu kencang hingga rambut sang putri terkibas beterbangan. Hal itu membuat tusuk konde emas Sang putri terjatuh dan masuk ke dalam sumur. Mengetahui tusuk konde emasnya jatuh , Putri sangat bersedih dan menangis. Namun, tiba-tiba sang putri mendengar suara aneh.
“Putri yang cantik jelita, mengapa kau menangis?” tanya suara tersebut.
“Aku menangis karena tusuk konde emasku terjatuh ke dalam sumur saat ada angin kencang tadi,” jawab Sang putri sambil menangis tersedu-sedu.
Sang putri pun kebingungan. Siapa yang berbicara dengannya, padahal tak ada seorang pun di sana selain dirinya. Putri cantik itu terus melihat ke sekelilingnya. Hingga ia matanya yang indah itu menemukan seekor kodok di dekatnya.
“Apakah kau yang baru saja berbicara denganku?” tanya Sang putri dengan heran.
“Iya, Tuan putri," jawab kodok itu. "Tenang saja, Tuan putri. Aku akan mengambilkan tusuk konde emas itu untukmu. Tetapi, jika aku berhasil, apa yang akan kau berikan padaku?” lanjut sang kodok bertanya.
“Aku akan berikan apa pun yang kau inginkan. Mutiara, perhiasan, atau bahkan emas yang kupakai ini, dengan senang hati akan kuberikan padamu,” jawab Sang putri meyakinkan.
“Baiklah. Tapi aku juga ingin kau dengan senang hati menerimaku sebagai teman bermain, dan memperbolehkanku untuk makan bersama denganmu. Tentunya dengan piring emasmu. Aku ingin minum dari satu gelas untuk kita berdua. Aku pun ingin bisa tidur di ranjang indahmu. Jika kau berjanji akan mengabulkan semua keinginanku ini, aku akan mengambilkan tusuk konde emas itu untukmu,” kata si kodok percaya diri.
“Baiklah. Aku berjanji akan melakukan semua hal yang kau inginkan itu,” ujar Putri tanpa pikir panjang.
Setelah mendengar janji Sang putri, si kodok segera meloncat ke dalam sumur guna mengambil tusuk konde emas yang terjatuh tadi. Beberapa saat kemudian, si kodok keluar dari sumur sambil membawa tusuk konde emas kesayangan Putri.
Betapa gembiranya Sang putri mendapatkan tusuk konde emasnya kembali. Tapi, Putri tampaknya lupa dengan janjinya kepada si kodok. Tanpa menghiraukan si kodok, ia meninggalkan sumur begitu saja.
Keesokan harinya, saat Putri sedang makan bersama dengan Raja. terdengar suara yang memanggil-manggil dari luar.
“Tuan putri cantik, bukakan pintu untukku,” ucap suara tersebut.
Sang putri yang mendengar suara tersebut pun bergegas membuka pintu. Namun, saat dia melihat seekor kodok di hadapannya, dia langsung menutup pintu. Dengan perasaan gelisah, Sang putri kembali duduk di kursinya.
“Ada apa denganmu, anakku?” tanya Sang Raja yang melihat kecemasan di wajah putrinya itu.
“Tidak, aku tidak apa-apa, Ayahanda. Tadi ... ada kodok yang berusaha masuk,” jawab Sang putri dengan gugup.
“Lalu, apa yang kodok itu inginkan?” tanya Raja kembali.
“Oh, Ayahanda ... saat aku bermain, tanpa sengaja tusuk konde emas kesayanganku teejatuh ke dalam sumur. Saat aku menangis, Si kodok datang dan berusaha menolongku. Tapi, dia mengajukan berbagai persyaratan. Kupikir dia tak akan datang kemari, karena tak mungkin kodok meninggalkan air,” jawab Putri dengan tertunduk sedih.
Untuk kedua kalinya, Si kodok mengetuk pintu. “Putri Raja yang cantik jelita, biarkan aku masuk! Apa yang pernah kau janjikan kepadaku?” teriaknya.
“Biarkan dia masuk. Kau harus penuhi janjimu,” ujar Sang Raja kepada putrinya.
Dengan terpaksa, Sang putri pun membuka pintu. Ia membiarkan si kodok masuk. Si kodok lalu melompat dan mengikuti Putri. Tibalah mereka di meja makan.
“Putri, bisakah kau mengangkatku agar aku duduk bersamamu? Dan tolong piringmu dekatkan lagi denganku,” pinta Si kodok.
Dengan wajah murung, Putri menuruti permintaan Si kodok.
“Terima kasih, Tuan putri. Aku sangat senang sekali. Tetapi, aku lelah. Tolong bawa aku ke kamarmu. Aku ingin beristirahat di ranjang indahmu,” kata Si kodok membuat Putri geram.
Awalnya Putri merasa enggan. Dia hanya terdiam di kursinya. Namun, ayahnya terus mendesaknya untuk membawa si kodok ke kamar Putri. Dengan mata berkaca-kaca, Putri akhirnya membawa kodok itu.
Ditaruhlah kodok itu di sudut kamar Putri. Karena Putri juga merasa lelah, ia pun membaringkan tubuhnya di atas ranjang.
“Putri, aku pun ingin tidur sepertimu. Angkatlah aku. Jika tidak, aku akan memberitahukan hal ini kepada sang Raja,” celetuk si kodok.
“Diam kau, kodok cerewet!” teriak Sang putri marah.
Dengan emosi, Sang putri melemparkan kodok itu ke tembok hingga terjatuh ke Iantai. "Aku tidak lagi mau melakukan apapun yang kau suruh!"
Tiba-tiba ... kodok tersebut berubah menjadi seorang pangeran yang amat tampan. Sang putri pun sangat kaget dibuatnya.
"Kau ... s-siapa kau?" tanya Sang putri keheranan.
"Aku seseorang pangeran," jawab Pangeran itu seraya bahagia. Ia memperhatikan seluruh tubuhnya yang berubah total.
"Pangeran?" Sang putri masih tak mengerti.
Pangeran itu berjalan mendekati sang putri. "Iya, aku pangeran dari negeri seberang. Seorang penyihir yang jahat telah merampas kerajaanku dan menyihirku menjadi seekor kodok. Mereka juga membunuh orang tuaku," kata Sang pangeran menceritakan.
Sang putri belum bisa mengendalikan keterkejutannya. "Tapi, kenapa penyihir itu menguasai kerajaanmu dan menyihirmu?" tanya Sang putri.
"Penyihir itu ingin menikahi ku. Karena aku membangkang, dia murka dan mulai membunuh semua keluarga kerajaan dan menyihir rakyat-rakyat ku. Termasuk aku." Pangeran tampak sedih saat mengingat kejadian mencengangkan itu.
"Oh, aku minta maaf telah melemparmu tadi." Sang putri yang sejatinya memiliki hati yang baik, meminta maaf pada sang pangeran.
"Tidak apa-apa. Justru, karena kau lempar, aku menjadi terbebas dari kutukan itu," ujar Sang pangeran tersenyum. "Maukah kau menolongku lagi?"
"Apa?"
"Maukah kau mengizinkanku tinggal di kerajaanmu?" tanya Sang pangeran mengiba.
"Boleh. Tapi aku harus izin pada ayahanda dulu," jawab Sang putri.
Sang putri pun lekas memberitahukan semuanya pada Sang Raja. Sang Raja yang baik hati dan bijaksana itu akhirnya menyetujui permintaan putrinya. Pangeran pun tampak senang diizinkan tinggal di kerajaan dan diperlakukan layaknya seorang pangeran.
Berjalan seiringnya waktu, sang putri jatuh hati dengan sang pangeran. Sang putri pun memberitahu ayahandanya untuk menikahkan dirinya dengan sang pangeran. Sang Raja menyetujui asal pangeran itu mau menerimanya.
Akhirnya, pangeran pun menyetujuinya karena dia juga mulai jatuh hati pada sang putri. Raja pun menikahkan mereka dan hidup bahagia.
Tamat!
"Dongengnya masih belum berakhir!"
Suara bisikan tiba-tiba mengagetkan telinga Jay. Pria itu menoleh ke belakang, namun ia tak menemukan apapun.
Tok! Tok! Tok! Kali ini suara ketukan pintu kamar terdengar nyaring.
Jay menutup buku dongengnya, dan beringsut dari ranjang. "Siapa di sana?" tanya Jay dengan suara sedikit kencang.
"Pangeran, ini aku tuan putri!" jawab seseorang di balik pintu kamar itu dengan suara lirih.
Jay mengeryitkan dahi. Saat itu yang ada dipikiran Jay adalah orang di balik pintu sana mungkin maling ataupun penjahat. Bukan hantu atau semacamnya, karena memang pria itu tidak percaya sekalipun tentang hal-hal mistis maupun dunia gaib.
"Pergi! Atau aku akan menelpon polisi!" ancam Jay tak takut.
"Pangeran, aku istrimu putri dari kerajaan. Kenapa kau mengusirku?"
"Are you crazy?!" Jay tak tahan dan dia mengambil seonggok besi kemudian dengan cepat membuka pintunya.
Kosong! Tidak ada siapapun di luar pintu.
Jay mulai melangkah maju, menengok ke kanan dan ke kiri sambil menggenggam seonggok besi dengan waspada. Namun nyatanya ia tak menemukan apapun. Jay memilih untuk mengeceknya keluar. Ia menyusuri tangga dengan waspada. Semua ruangan sudah ia pergok, namun ia tak menemukan siapapun atau pun hal aneh. Bahkan ia juga memeriksa jendela serta pintu rumahnya, dan semuanya masih terkunci rapat. Mustahil maling bisa masuk.
Lantas, siapa yang mengetuk pintu serta yang berbicara padanya tadi?
Tak mau berpikir aneh-aneh, Jay memilih kembali ke kamarnya karena ia sudah letih dan mulai mengantuk. Pria itu memasukinya kamarnya, namun terkejut saat mendapati kamarnya dalam keadaan gelap total. Padahal, ia tidak mematikan lampu tidurnya tadi.
Jay melihat sesuatu yang bergerak di atas ranjangnya. Sesuatu itu menonjol layaknya tubuh manusia yang duduk di atas ranjang namun tubuhnya tertutup selimut. Jay penasaran, ia pun mulai melangkah sembari mengangkat tongkat besinya agar jika orang itu maling ia langsung bisa memukulnya.
Hihihi... Sesuatu di balik selimut itu tampak terkikik.
Jay semakin penasaran. Ia mengulurkan tangannya, hendak menyingkap siapa yang telah berani masuk ke kamarnya dan naik di ranjangnya, bahkan menggunakan selimutnya. Begitu tangan Jay menyentuh selimut itu, ia langsung menariknya.
Jay tersentak kaget menyadari akan sosok menyeramkan di balik selimut itu. Bahkan pria itu sampai mundur ke belakang dan terjatuh.
"Pangeran kodok, kemarilah! Tuan putri sudah menunggumu sedari tadi. Mari kita tidur satu ranjang. Hehe."
Sesosok itu seorang wanita memakai gaun layaknya putri raja. Rambutnya panjang berwarna putih. Sedangkan kulitnya berdarah-darah dan rusak. Saat terkekeh, giginya itu tampak berwarna hitam.
"Kemarilah, Pangeranku!" Sesosok itu mulai turun dari ranjang dan berjalan menghampiri Jay.
Jay histeris. Ia mencoba membangunkan tubuhnya dan bermaksud lari keluar kamar. Namun sebelum tubuhnya itu sampai di ambang pintu, pintu kamar tiba-tiba tertutup dengan sendirinya.
"Buka! Buka!" Jay mencoba membuka pintu itu bahkan menggedornya namun pintunya tetap tak bisa terbuka.
"Kenapa kau lari, Pangeran. Bukankah kau yang bilang kau mau menjadi temanku, meminum di gelas yang sama denganku, dan juga membagi ranjang bersama?" Sesosok yang mengaku putri raja itu terkekeh sembari terus berjalan ke arah Jay.
Jay ingat. Dalam dongeng yang ia baca tadi, sang kodok membuat perjanjian dengan sang putri tentang semua hal itu. Kemudian ia mengingat akan cerita Annie dan Nichole, kalau setelah membaca dongeng mereka akan menjadi tokoh dalam dongeng itu dan diteror habis-habisan. Mungkinkah sekarang dia akan mengalami seperti apa yang kedua temannya itu alami?
"Nggak! Aku bukan kodok! Aku manusia!" Jay berteriak pada wanita berwajah mengerikan itu. "AKU BUKAN PANGERAN KODOK DALAM DONGENG ITU!" Jay menegaskan.
"Tidak ... tidak ...." Wanita itu menggeleng. "Kau adalah pangerannya. Kau cocok memerankan pangeran kodok!"
"Tapi dongeng itu sudah berakhir. Tokoh dalam dongeng itu sudah hidup bahagia!" sanggah Jay.
"Sayangnya ... ini bukan dongeng anak-anak. Tetapi, ini adalah DONGENG KEMATIAN!" ujar sosok itu mantap. Lantas, tangannya bergerak, mengambil benda di rambutnya.
Benda itu tidak terlalu panjang namun memiliki ujung yang runcing. Warnanya emas dan mengkilap. Benda itu tak lain adalah tusuk konde.
Jay langsung menganalisa, kalau itu adalah tusuk konde emas milik Sang putri yang ada di dalam buku dongeng. Mata Jay melotot melihat sosok wanita berwajah mengerikan itu mengangkat tusuk kondenya setinggi kepala.
"Kau telah mengambilkan tusuk konde emas ini untukku, sekarang ... biarkan aku membalas kebaikanmu. Sepertinya, tusuk ini sangat menginginkan darahmu! Hahaha!"
"Tidak. Tolong jangan lakukan itu!" Jay masih mencoba membuka pintunya. Bahkan ia memukul-mukul pintu dengan besi di tangannya.
"Percuma, Pangeran. Kau tidak bisa keluar dari kamar ini. Sang Raja sudah menikahkan kita, alangkah baiknya kalau kita tinggal bersama dan saling mencintai." Wanita itu terkekeh.
"Bulshit! Kalau gue tidak mau lo mau apa!" bentak Jay dengan suara tinggi.
Wanita itu tertawa. "Maka aku akan membuatmu menjadi kodok lagi. Hahaha!"
"Oh ya? Gue nggak percaya hal begituan. Itu semua hanya dongeng belaka dan tidak akan menjadi nyata!" sangkal Jay. "Ayo, Jay! Bangun dari mimpi buruk mu! Ini semua hanya mimpi buruk!" Jay menampar berkali-kali wajahnya namun semua itu masih sama. Tidak ada yang berubah. Justru, ia melihat sesosok berpakaian layaknya putri raja itu sudah sampai di depannya.
"Aarghh! BAJING*N!!!" Jay mengayunkan besinya tepat mengenai tubuh sesosok itu. Tidak hanya sekali, namun berkali bahkan mengenai kepalanya.
"DASAR PANGERAN KODOK!" Sesosok wanita itu mengayunkan tusuk kondenya dan tepat mengenai bahu Jay.
"AAARGH!" Jay berteriak histeris.
"Kau mau jadi anak baik atau tidak?!"
"Baiklah! Baiklah aku akan menuruti perintahmu!"
"Bagus! Buang besi di tanganmu itu!"
Awalnya Jay ragu, namun tusukan konde yang sesosok itu tusukan ke bahu Jay semakin dalam membuat Jay menyerah. Ia melepaskan besi di tangannya dan mengangkat kedua tangannya itu.
"Itu baru pangeranku!" Sesosok itu terkekeh. Menjabut tusuknya dari bahu Jay, dan itu membuat Jay merasakan pedih. Lantas, wanita itu menundukkan kepalanya, berbisik tepat di telinga Jay. "Kau tahu, kau itu sangat tampan, Pangeran. Tapi, sayangnya kau tidak mau dinasihati. Terpaksa aku melakukan ini!" Wanita itu menggoreskan tusuknya pada punggung Jay membuat garis miring. Runcing ujung tusuk itu, mampu menembus kaus Jay dan menyapa kulitnya.
"Aarghh!" Jay merasakan sakit yang teramat pedih.
"Aku sudah membebaskan kutukan itu dari sang penyihir, lantas apa yang kau berikan padaku sebagai imbalan?" bisik wanita itu. Kali ini di telinga bagian kirinya.
"K-kodok itu ... maksudnya aku ... a-aku sudah mengambilkan tusuk konde emas mu, kan?" ujar Jay gemetaran. Bola matanya melirik ke kanan dan ke kiri ketakutan.
"Bagus, Pangeran kodok. Tapi, aku masih punya satu permintaan untukmu."
"APA?!" Jay berteriak. "Maksudnya ... apa permintaanmu?" tanya Jay kali ini dengan suara pelan dan gemetar.
"Maukah kau menyelesaikan dongeng ini?"
"Bagaimana caranya?"
"Caranya sangat mudah. Tapi kau harus mengikuti permainannya. Syaratnya, harus ada salah satu tokoh dalam dongeng itu yang mati. Karena ini adalah dongeng kematian!"
"A-pa? T-tidak!"
"Tidak?! Kau bilang tidak?!" Wanita itu menggoreskan tusuk kondenya lagi pada punggung Jay. Kali ini berlainan arah sehingga membentuk garis silang.
"AAARGH! Baiklah! Baiklah!" kata Jay menyetujui.
"Itu yang ingin tuan putri dengar!" Wanita itu terkekeh sadis. Lantas, ia berjalan di hadapan Jay dan menunduk, menyamakan tingginya dengan Jay yang sedang menekuk kakinya menumpu lantai.
"Sekarang katakan, tokoh siapa yang harus mati? Ceritakan dongengnya kepadaku!" Wanita itu berkata tepat di hadapan muka Jay.
Bibir Jay gemetar. "E... e ...."
"Ayo cepat ceritakan atau tusuk konde ini akan mencicipi darahmu lagi?" Wanita itu mengacungkan tusuk kondenya yang ujung runcingnya bersimbah darah Jay.
Jay pun mulai membuka mulut untuk bercerita. "Setelah sang putri dan pangeran me-nikah, lalu ... pangeran sangat marah dan melukai Tuan putri!" Jay mengambil tongkat besinya kembali dan langsung memukul wanita itu kuat-kuat. "Pangeran memukuli tuan putri hingga tuan putri itu lenyap!!!" Jay memukul tangan wanita itu hingga tusuk kondenya tersempar. Lantas, pria itu berdiri.
"Kau bilang dongeng ini akan seru jika salah satu tokoh dalam dongeng itu mati, iya kan, Tuan putri jelek!" Jay terlihat begitu marah. "Maka baiklah, aku akan menuruti perkataanmu itu. Sekarang dongeng ini akan sangat menarik jika kau yang mati!!!" Jay terus memukuli kepala wanita itu kuat-kuat hingga membuat kepalanya itu putus dari lehernya kemudian menggelinding.
"Sekarang dongengnya sudah tamat! Happy ending!" Jay meludahi tubuh wanita itu.
Lantas, pria itu buru-buru lari menuju pintu kamar. Ia mendobrak pintu itu dengan besi yang dipegangnya. Nasib berpihak padanya, pintu itu berhasil terbuka dan Jay bergegas lari keluar kamar.
"LANCAAAANG!!!!" Suara wanita itu masih menggema di setiap sudut ruangan.
Jay berlari secepat kilat tak mempedulikan keadaan sekitar. Bahkan ia tak lagi menengok ke belakang dan hanya fokus ke depan. Tiba di pintu utama, dia berusaha membuka pintunya. Namun ia baru ingat kalau pintu itu dalam keadaan terkunci. Sebelum sesosok wanita mengerikan itu kembali, ia segera mengambil kunci yang ia taruh di dekat tangga. Setelah mendapatkannya, Jay segera bergegas menuju pintu lagi dan membukanya.
Kini ia berhasil keluar dan mengunci pintu rumahnya lagi.
Pria itu menuju ke bagasi mobil, dan masuk ke dalam mobilnya. Ia segera mengemudikannya, namun mobil itu tiba-tiba berhenti di halaman rumahnya.
"s**t! s**t!" Jay memutar-mutar kemudi mobil namun masih tidak bisa berpindah. "Please, come on! Damn s**t!!!" Jay menggebrak setir mobilnya dan menundukkan kepala pasrah.
"AAARGH!!!"
TO BE CONTINUED