Dug Dug Dug!
"Jay! Jay!"
Dug! Dug! Dug!
"Jay!"
Jay membuka matanya setelah telinganya mendengar suara bising yang di sampingnya. Pria itu mendongakkan kepala, menyipitkan mata saat sinar terang sang surya menerpa wajahnya.
"Jay!" Suara seorang wanita membuat Jay spontan menengok ke samping.
Pria itu mengucek matanya, baru setelah itu bisa melihat dengan jelas kalau ada seseorang yang sibuk menggedor kaca mobilnya dan memanggilnya. Jay menganalisa wanita itu. Awalnya dia takut kalau itu wanita yang menerornya tadi malam, ternyata dia salah.
Ia buru-buru menurunkan kaca mobilnya dan berkata, "Mom!"
"Jay, kenapa kamu tidur di dalam mobil?" tanya wanita paruh baya itu yang merupakan ibu Jay.
Jay masih tampak malas. Ia membuka pintu mobilnya dan turun. "Tadi malam ... Jay ... ketiduran, Ma!" jawab Jay beralasan. Ia tidak ingin cerita soal kejadian tadi malam.
"Kamu mabuk ya?"
"Nggak kok, Ma! Nggak!" elak Jay, dan memang dia tidak sedang mabuk.
Elena, ibu Jay itu memeriksa kening putranya. "Kening kamu panas. Kamu demam, ya? Nanti Mama antar ke dokter, ya?" tawarnya setelah mengetahui kalau kening putranya itu panas dingin.
"Nggak usah, Ma. Lagian Jay baik-baik saja kok," elak Jay. "Mama ngapain pagi-pagi ke sini? Kalau memang mau ketemu Jay, Jay bisa ke rumah Mama kok. Nggak perlu ke sini."
"Mama hanya ingin menghabiskan waktu bersama dan melihat-lihat rumahmu saja. Sudah lama mama nggak ke sini," jawab Elena sembari memandangi rumah Jay. Lantas ia mengelus pipi Jay.
Jay melirik ke arah mobil putih yang terparkir tak jauh darinya.
"Mama hanya datang sendiri, dia tidak ikut kok," kata Elena tersenyum. Dia tahu kalau anaknya itu sedang mencari suaminya yang kedua.
Jay tersenyum, dan memeluk ibunya dari samping. "Ayo, Ma. Masuk!" ajak Jay.
Mereka pun berjalan bersama. Sesampainya di depan pintu, Jay ragu ketika hendak membuka pintunya. Ia mengingat kejadian tadi malam, kemudian berpikir apakah wanita mengerikan itu masih ada atau tidak.
"Kenapa, Jay? Something wrong?" tanya Elena sembari menatap putranya.
"Oh nggak kok, Ma!" Jay menggeleng, kemudian mencari kunci rumah di sakunya. Begitu ketemu ia langsung membuka pintu rumahnya.
Mereka berdua pun masuk ke dalam.
"Ma, besok carikan penjaga buat jaga di luar rumah ya!" pinta Jay. Matanya itu memandangi ruangan atas dengan cemas.
"Dari awal Mama kan sudah pekerjakan para penjaga untuk stay di rumah ini, tapi kamu sendiri kan yang memecat mereka. Waktu itu kamu bilang kamu sudah dewasa dan nggak perlu dijagain lagi." Elena menyentuh bahu Jay. "Kenapa tiba-tiba kamu minta pekerjakan mereka lagi? Memangnya ada maling ya?" tanyanya seraya menaikkan kedua alisnya.
"Ya... buat jaga-jaga aja, Ma. Jay kan sering pulang malem, takutnya nanti ada maling masuk." Jay beralasan.
"Baiklah, nanti Mama akan carikan penjaga rumah." Elena tersenyum. "Oh iya, ayahmu ... sering ke sini?" tanya Elena merujuk pada mantan suaminya, yang merupakan ayah kandung Jay.
"Kemarin sih menginap di sini, Ma," jawab Jay. "Ayah juga sering minta Jay untuk tinggal bersamanya, tapi ... Jay menolak."
Elena mengangguk-angguk. "Syukurlah!" katanya seolah senang kalau Jay nggak mau tinggal satu atap dengan ayahnya.
"Kasihan, Ma, dia sendirian. Apa sebaiknya Jay menerima tawaran ayah?" tanya Jay membuat Elena sontak menatapnya.
Wanita itu memegangi pipi Jay. "Sayang, kalau kamu tinggal sama ayahmu, nanti Mama nggak bisa ketemu kamu lagi dong."
"Emang kenapa sih, Ma? Bertahun-tahun kalian sudah cerai kan, apa masih punya dendam sama ayah? Apa kalian masih belum akur? Apa salahnya sih akur, ya setidaknya sebagai teman." Jay tampak kecewa.
"Bukan begitu, Sayang. Kami baik-baik saja kok." Elena mengerjap dan menarik napas. "Kalau kamu tetap tinggal di sini kan Mama bisa bebas seumpama mau ketemu kamu, Nak!"
Jay mengalihkan pandangannya ke arah lain dengan malas.
"Baiklah, lupakan bahasan ini." Elena menarik napas panjang. Kemudian, ia menarik tangan Jay dan menaruhnya di perutnya. "Kamu tahu nggak, kamu mau punya adik loh!" seru Elena gembira.
"Oh, iya?" Jay tersenyum tipis. Ia tak tahu harus senang atau tidak. Ia hanya takut, kalau nantinya anak itu lahir, pasti ibunya itu akan sibuk dengan bayi barunya dan suaminya yang baru. Dan mungkin akan melupakan Jay.
"Ma, kalau begitu Jay naik kw atas dulu, ya. Mau mandi. Hehe," ujar Jay mencoba mengalihkan pembicaraan.
Elena mengangguk seraya tersenyum. "Oh iya, Mama tadi bawa makanan, tapi masih di mobil. Bentar ya, Mama ambil dulu. Nanti kita bisa sarapan bareng."
"Ok, Ma!" Jay langsung beranjak naik ke lantai atas. Sedangkan ibunya keluar rumah untuk mengambil makanan di mobilnya.
***
Tiba di depan kamarnya, Jay membuka pintunya perlahan. Pria itu membiarkan kepalanya masuk terlebih dahulu, sembari mengekspos setiap sudut. Jay tak lagi menemukan wanita yang tadi malam menerornya. Ia hanya mendapati selimutnya yang terjatuh di lantai dan sebuah tongkat besi di tengah.
Jay melangkah masuk ke dalam. Ia mendekati jendela dan membukanya. Sinar mentari langsung menyinari kamarnya itu dengan cahaya terangnya. Jay beralih mengambil tongkat besi dan mengembalikan ke tempat asalnya. Kemudian ia juga mengambil selimutnya untuk ditaruh di atas ranjang. Mata Jay langsung terfokus pada buku dongeng di ranjangnya.
Ia tak mau memandangi buku dongeng itu terlalu lama, dan memilih menuju kamar mandi yang terletak di sudut kamar. Setelah Jay memasuki kamar mandi, ia membuka kausnya dan langsung mengguyur tubuhnya di shower. Setelah selesai ia beranjak mengambil handuk dan beralih di wastafel dengan kaca besar di dinding atas wastafel.
Jay mulai mengeringkan tubuhnya dengan handuk itu. Begitu melirik tampilan tubuhnya di cermin, ia terkejut melihat bahunya yang terdapat luka lebam namun kecil. Itu lebih mirip seperti bekas tusukan benda tajam. Kemudian Jay mengingat soal kejadian tadi malam, saat wanita mengerikan itu menusuknya dengan tusuk konde.
Jay meraba bahunya yang lebam itu, namun ia tak merasakan pedih sama sekali. Kemudian ia mengingat kalau punggungnya juga terluka tadi malam. Jay memutar tubuhnya membelakangi cermin, kemudian memutar kepalanya ke belakang. Matanya terfokus pada cermin yang menampilkan punggungnya terdapat goresan membentuk tanda silang. Jay meraba lukanya itu yang membiru.
Sama seperti bahunya, ia bahkan tidak merasakan sakit apapun saat jemarinya itu menyentuh luka di punggung kekarnya itu. Padahal, tadi malam ia merasakan sakit yang luar biasa saat wanita itu membuat tanda silang di punggung Jay dengan tusuk kondenya.
"Bagaimana ini mungkin?" Jay tampak bingung dan bertanya-tanya. Lantas, Jay mengambil kausnya tadi. Seharusnya kaus itu sobek saat benda tajam menembusnya. Namun ia mengecek kaus itu, tetapi tidak menemukan kerusakan apapun pada kausnya. Pantas saja tadi ibunya tidak heran.
"Ini nggak mungkin!" Jay menggeleng seraya memandangi cermin.
"Jay!" Suara ibunya terdengar dari lantai bawah.
"Yes, Mom! Sebentar!"
Jay buru-buru keluar kamar mandi dan menghampiri lemari. Ia segera berpakaian. Setelah cukup rapi, ia turun menuju lantai bawah. Dilihatnya ibunya itu tengah asyik menyiapkan sarapan pagi di meja makan.
"Wah, kelihatannya enak banget makanannya," puji Jay begitu sampai di anak tangga terakhir.
"Iya, dong." Elena tampak senang. "Jay kamu hari ini libur kuliah, ya? Kalau begitu habis sarapan nanti aku antar kamu ke dokter ya!" seru Elena sembari sibuk menyiapkan sarapan.
Jay menepuk jidatnya. Ia sampai lupa kalau harus pergi kuliah. Pria itu menengok jam tangannya yang menunjuk pukul sembilan pagi.
"Ma! Jay siap-siap dulu ya!" kata Jay bergegas buru-buru naik ke atas lagi.
Ibunya itu bingung memperhatikannya.
Jay segera masuk ke kamarnya dan mengambil jaketnya. Ia tergesa-gesa mengenakannya dan matanya terfokus pada buku dongeng di atas ranjang. Jay langsung memungutnya dan memasukkannya ke dalam tas. Bahkan Jay tak membawa buku-buku catatan kuliahnya. Lantas pria itu buru-buru keluar kamar.
"Jay, kamu mau ke mana?" tanya ibunya.
"Ke kampus, Ma!"
"Aku kira tadi kamu libur? Ini udah jam sembilan lebih juga. Nggak telat kamu?"
"Jay harus ke kampus, Ma. Penting soalnya."
"Ya sudah kamu sarapan dulu ya! Mama udah siapin-"
"-Nggak usah, Ma. Jay buru-buru!" Jay menghampiri ibunya dan mencium pipinya. "Bye, Mom!" kata Jay sembari bergegas pergi.
"Jay!" Elena ingin menghentikan Jay, tapi anaknya itu keburu pergi. Wanita itu hanya bisa memandangi semua makanan yang sudah disajikannya. Rencana sarapan bareng sia-sia. Elena duduk kecewa bertumpu tangan.
Jay segera mengemudikan mobilnya agar cepat sampai di kampus. Hari ini dia ngebet ke kampus karena ingin menceritakan semua yang ia alami tadi malam kepada teman-temannya.
***
Tiba di kampus Jay langsung memarkirkan mobilnya. Ia memandang kampus itu yang lumayan sepi, hanya ada beberapa mahasiswa yang seliweran, dan juga penjaga maupun cleaning servis. Jay berpikir pasti teman-temannya itu ada kelas pagi, dan memang seharusnya hari ini dia juga ada kelas pagi.
Jay memilih berjalan ke taman daripada masuk ke fakultasnya. Dia duduk di bawah pohon yang di sana terdapat kursi-kursi juga meja taman. Jay mengambil ponselnya dan mengirim pesan di grup chat yang berisi teman-teman setongkrongannya itu segera ke taman setelah selesai kelas.
Hampir empat puluh menit lamanya Jay menunggu, akhirnya dia melihat Alex yang menonjolkan batang hidungnya. Dia tidak sendirian, di sampingnya itu selalu ada Maya. Jay tampak senang, matanya juga menelisik di belakang Alex dan Maya ada Annie, Nichole, dan Rio.
Sekarang semua temannya lengkap.
"Bro? lo nggak masuk kelas? Bukannya lo juga ada kelas pagi ya?" sapa Rio dengan bertanya setelah sampai di sana.
"Gue kira lo nggak masuk tadi, Jay." Alex mendudukkan pantatnya bersamaan dengan Maya. Mereka duduk bersebelahan.
"Lo bolos ya, Jay?" Kini Nichole yang berbicara, sedangkan Annie hanya diam tak acuh dan tak mau berkomentar apapun soal Jay.
"Lupakan soal semua itu!" Jay membuka tasnya dan mengeluarkan buku dongeng. Ia melempar buku dongeng itu di atas meja, dan mendarat tepat di hadapan Annie, membuat gadis itu terkejut sedikit. "Sekarang kita bahas lagi soal buku terkutuk ini!" ujar Jay sembari menunjuk buku itu.
"Apa lagi yang buku itu berbuat?" Alex bertanya dengan santai.
"Tuduhan apa lagi yang akan buku malang itu terima sekarang?" Rio menyahut diakhiri dengan canda tawanya.
Jay menggeleng-geleng. "Okay! Aku percaya sama Annie dan juga Nichole soal buku terkutuk ini!" kata Jay membuat Annie terbelalak begitupun dengan Nichole.
"Lo baca dongeng itu!!" tuduh Annie dengan suara emosi.
Jay mengusap wajahnya sembari membuang napas. "Sorry, Annie. Aku minta maaf karena tidak mendengarkan nasihatmu. Dan guys, percaya atau tidak buku ini telah menerorku tadi malam."
"Cerita yang sama dan itu membuat kami muak!" Rio memutar mata bosan.
Jay kesal mendapat perlakuan acuh tak acuh dari Rio, Alex, dan Maya. Ia membuka jaketnya, menaruhnya di sandaran kursi dengan kesal. Kemudian ia mulai membuka kausnya.
"Jay, lo mau ngapain?" Maya keheranan melihat aksi temannya itu.
"Lo mau melakukan tindakan c***l ya? Atau lo mau memamerkan otot-otot dan perutmu yang sixpack itu pada Annie?" canda Rio dengan terkekeh.
"Atau lo gerah bodi?" sahut Alex tertawa.
Jay tak menghiraukan ejekan teman-temannya itu. Dia tetap membuka kausnya, lantas ia berbalik memperlihatkan punggungnya pada teman-temannya. Teman-temannya itu terkejut melihat luka lebam dengan tanda silang di punggung Jay. Mereka semua melotot dan berdiri seketika.
"Lihat bahuku juga!" ujar Jay menunjukkan bahunya membekas tusukan benda tajam.
"Jay, lo kenapa? Apa tokoh dalam dongeng itu yang melakukannya?" tanya Annie dengan cemas.
Jay berbalik, kemudian memakai kausnya kembali. "Annie benar. Tokoh dalam dongeng itu yang melakukannya!" jelas Jay membuat semuanya tercengang.
"Bentar-bentar ... apa maksudnya?" Maya menggelengkan kepala tak mengerti.
"Sama seperti yang aku dan Annie alami. Kini Jay juga mengalaminya." Nichole angkat bicara setelah lama terdiam.
"Itu luka cukup parah, Men. Lo udah periksa ke dokter?" tanya Alex serius.
"Tenang, ini nggak sakit," jawab Jay.
"Bagaimana nggak sakit? Itu kayak tertusuk gitu." Rio memotong ucapan Jay.
"Iya kelihatannya memang parah, dan tadinya emang sakit. Tapi, anehnya sekarang aku nggak merasa sakit apapun," ujar Jay bingung.
"Exactly! Gue juga mengalami hal yang sama." Nichole menyahut. "Namun, bedanya aku merasakan sakit tapi tidak ada lukanya. Saat nenek bengkok mengiris kakiku dengan pisau, itu jelas sekali kakiku ada bekas lukanya. Tapi setelah orang tuaku datang, semuanya lenyap. Tapi rasa sakitnya masih ada sampai sekarang!" Nichole beralih menatap wajah Jay dan bertanya, "Lo diteror apa?"
"Setelah membaca dongeng Pangeran Kodok dan Puteri Raja, aku mendengar suara aneh di luar pintu. Saat aku cek, tidak ada apapun. Dan saat aku balik lagi ke kamar, di atas ranjangku itu ada wanita wajahnya serem rambutnya putih panjang. Dia memakai pakaian putri kerajaan, dan dia mengaku sebagai tuan putri yang ada di dalam kisah dongeng itu. " Jay memberi jeda sejenak, mencoba mengingat-ingat detail kejadian tadi malam. "Wanita itu mengatakan kalau aku adalah pangeran kodoknya."
"Brr... hahahha." Rio tertawa saat mendengar soal pangeran kodok itu. "Sorry ... sorry ... lanjutkan," ujarnya takut saat melihat wajah Jay yang tegas.
"Wanita itu menerorku. Dia menyuruhku untuk menjadi tokoh dalam dongeng itu dan mulai melukaiku. Kedengarannya memang tidak masuk akal, tapi itu benar-benar seperti nyata!" Jay mencoba meyakinkan Alex, Maya, dan Rio.
Annie mendekat ke arah Rio yang sedari tadi seperti meremehkan cerita Jay. "Sekarang sudah ada tiga temanmu yang mengaku diteror setelah membaca buku dongeng ini. Sekarang kalian percaya kan?" tanya Annie sedikit mengencangkan suaranya sembari beralih menatap Alex dan Maya.
Alex dan Maya diam menunduk.
"Guys, please ... percaya sama kita. Buku ini memang buku terkutuk," ujar Annie memelas. "Kita semua temenan memang sudah lama. Tapi kenapa kalian nggak mempercayai kita, walau sedikit?"
Maya menyentuh bahu Annie dan mengelusnya. "Ann, gue tahu lo kecewa." Maya mengerjap sejenak. "Baiklah, anggap saja memang yang kalian alami itu benar-"
"-apa maksudmu dengan anggap saja?" Nichole memotong ucapan Maya. "Berarti lo masih nggak percaya kalau kita memang benar-benar diteror?" kata Nichole sedikit membentak.
"Bukan tidak percaya, tapi kami hanya belom yakin!" Alex menyahut bermaksud membela pacarnya.
"Halah!" Nichole membuang muka kesal.
"Guys! Kenapa kalian malah berantem hanya karena masalah sepele?" Rio bermaksud menengahi mereka yang mulai menciptakan suasana tegang.
"Sepele kata lo!" Jay menarik kerah baju Rio dengan emosi. "Kita diteror mati-matian, dan lo bilang ini masalah sepele? Lo temen kita apa bukan?!" bentak Jay semakin emosi.
"Jay … Jay … lepas!" pinta Nichole mencoba melerai.
"Jay, lepas!" Annie ikut melerai. "Jay, gue bilang udah, lepas!" bentak Annie pada Jay. Jay pun langsung melepas kerah Rio dengan emosi.
"Okey, sekarang mau lo apa?" tanya Maya pada Jay.
"Kami nggak mau apa-apa, May. Kami hanya mau kita semua saling percaya udah itu aja!" Annie menyahut.
Maya beralih menatap Annie. "Lo bilang buku itu berhantu, kan? Gue rasa, biar kita percaya … gue mesti baca buku ini." Maya mengambil buku dongeng yang ada di atas meja.
Annie tertegun. "May, ini bukan sembarang buku-"
"-Maya benar!" Alex berkomentar memotong ucapan Annie. "Cuma itu satu-satunya jalan untuk membuktikan kebenaran cerita kalian, iya kan?" Ucapan Alex membuat semuanya menunduk.
"Nanti malam gue akan baca dongeng ini!" ujar Maya yakin. Ia menengok jam tangan di tangannya dan kembali terfokus pada mereka. "Nggak ada yang perlu dibicarakan lagi, kan? Kalau nggak gue mau cabut. Gue masih ada kelas setelah ini, tugas-tugas kuliah gue masih belum kelar, dan gue masih ada presentasi sama dosen. So … perbincangan kita sampai di sini, oke?" Maya menaruh buku dongeng itu ke dalam tasnya. "See you!" ujarnya lantas berjalan pergi.
"Gue juga mau cabut." Alex menepuk bahu Jay, kemudian berjalan. "Sampai ketemu besok!"
"Dengan cerita dongeng yang sama lagi," gumam Rio membuat Jay menatap tajam ke arahnya. Rio tersenyum sumbang pada Jay. "G-gue… cabut dulu, ya!" Rio buru-buru kabur dari sana.
"May!" Annie mencoba memanggil Maya namun ia dihentikan oleh Jay.
"Ann, percuma lo ngeyakinin mereka. Karena untuk mempercayai dongeng kita, mereka harus mengalaminya sendiri."
"Jay benar!" Nichole melangkah tepat di samping Annie. Ia melipat kedua tangannya di perut, dan berkata, "Mereka baru akan percaya kalau sudah menjadi tokoh dalam dongeng itu!" ujar Nichole sembari memperhatikan ketiga temannya yang pergi itu.
"Dongeng kematian!" ujar Annie dalam hati.
***
"Kak Rio!" Suara seorang gadis menghentikan langkah Rio. Ia menoleh ke belakang, tersenyum gembira saat melihat Veronica yang memanggilnya.
"Eh, Veronica." Rio merapikan kerah baju dan juga rambutnya.
"Kak Rio!" sapa Veronica lagi setelah sampai di dekatnya.
"Kalau berdua gini, nggak usah panggil dong. Panggil namaku aja, biar kita berasa seumuran. Hehe," kata Rio terkekeh.
"Ok, Ri-o!" kata Veronica mengeja nama Rio agak canggung.
"Kenapa tadi manggil?" tanya Rio ramah.
"Aku hanya ingin tanya. Itu kenapa aku lihat kok kalian kayak berantem gitu? Baru kali ini loh aku melihat kalian berantem," ucap Veronica setelah diam-diam menyaksikan perdebatan Rio dan teman-temannya tadi.
"Oh itu. Biasalah, perbedaan pendapat," ujar Rio tampak menganggap ringan.
"Emang ada apa sih, kalau boleh tahu?" tanya Veronica pelan.
"Sebenarnya … kami hanya mempermasalahkan buku dongeng itu saja."
"Buku dongeng yang Kak Annie bawa dari tempat angker itu?" tanya Veronica cepat.
Rio mengangguk. "Iya. Annie bilang buku itu buku berhantu. Buku terkutuk! Yah, aku hanya kurang percaya aja. Masa iya setelah membaca buku dongeng itu langsung mengalami hal aneh. Itu kan hanya bulshit." Lagi-lagi Rio meremehkan tentang teror buku itu. "Kamu percaya nggak sama hantu? Atau kamu tahu waktu Annie katanya diteror?" tanya Rio kemudian.
Veronica merenung sejenak. Lantas ia ingat saat pagi itu Annie tiba-tiba marah masuk kamarnya dan membanting MP3 player miliknya. "Memang sih, sikap Kak Annie belakangan ini aneh. Dia kayak sering ketakutan dan marah gitu kalau aku memutar musik kencang," cerita Veronica pada Rio.
"Aku sih nggak percaya kalau buku itu benar-benar terkutuk. Maksudnya itu hanya buku dongeng biasa, mana mungkin hantu bisa muncul dari dalamnya dan memburu orang yang membaca dongengnya. Tahayul!"
Veronica hanya tersenyum mendengarkan pandangan Rio soal dunia gaib. Veronica sendiri kurang terlalu yakin akan adanya makhluk berbeda alam. Hal misterius itu masih susah untuk diterima akal secara sehat.
Veronica sendiri Mahasiswa jurusan Arsitektur semester lima. Satu tahun lebih muda dari kakak serta teman-teman kakaknya yang sudah semester tujuh.
"Sudah nggak usah dipikirin. Nanti kami juga baikan kayak biasanya," ujar Rio setelah melihat gadis di sampingnya lama menunduk. "Kamu udah selesai kelas, kan? Jalan yuk!" ajak Rio bersemangat.
Awalnya Veronica ragu-ragu, tapi akhirnya dia mengiyakan ajakan cowok yang terkenal playboy itu.
***
Malam sudah menjemput. Kala itu Maya terlihat di teras rumahnya dengan orang tuanya. Orang tuanya itu sepertinya hendak pergi dan berpamitan. Mereka adalah keluarga Christopher. Salah satu keluarga terpandang di kotanya.
"Kamu baik-baik, ya di rumah," seru wanita paruh baya itu pada Maya.
"Iya, Bu. Ibu dan ayah juga hati-hati ya di jalan. Titip salam juga untuk Nenek." Maya tersenyum pada mereka.
"Kalau saja kuliahmu itu libur, pasti kami akan mengajakmu." Pria yang merupakan ayah Maya itu mengusap rambut Maya. "Sayangnya… kamu harus menunggu lagi untuk main ke rumah nenek."
"Nggak apa-apa, Yah. Nanti kalau liburan kan kita bisa ke sana bersama," seru Maya.
"Kalau begitu kami berangkat dulu, ya!" Ibunya mengecup kening Maya dan memeluknya. Setelah itu dua pasangan suami istri itu memasuki mobil.
"See you!"
"Have a nice trip!" seru Maya sembari melambaikan tangannya.
Setelah memastikan mobil ayahnya itu meninggalkan pekarangan rumah, Maya kelas masuk ke rumah dan menguncinya. Kemudian gadis itu berjalan menaiki tangga untuk menuju kamarnya.
Maya tersenyum saat matanya menemukan sebuah benda bersinar di meja belajarnya. Ia berjalan dan duduk di kursi meja belajar.
Gadis itu menyentuh sebuah liontin dengan huruf R yang tergeletak di atas meja. Maya memungutnya dan memandanginya seraya tersenyum. Lantas, ia mengambil sebuah kotak yang ada di dalam laci meja. Ia membuka kotak tersebut. Kotak tersebut tidak kosong, melainkan ada sebuah kertas yang terlipat rapi.
Maya mencium huruf R pada liontin itu menaruhnya ke dalam kotak lalu menutupnya. Sebulir bening hendak menetes dari sudut pupilnya, namun jari telunjuk Maya dengan sigap mengusapnya.
"I miss you!" lirihnya dengan wajah sendu.
Sebenarnya, Maya bukanlah anak dari keluarga Cristopher. Dia adalah bayi yang ditinggalkan di sebuah panti asuhan. Karena keluarga Cristopher tidak memiliki keturunan, mereka berencana mengadopsi anak dari panti asuhan dan akhirnya memilih Maya sebagai anaknya.
Keluarga Maya sendiri tidak tahu berada di mana dan siapa. Maya ditinggalkan di panti asuhan dengan diam-diam saat masih bayi. Kala itu Maya ditaruh di dalam sebuah keranjang, dan di dalam kerajaan itu ada sebuah kotak. Kotak yang sama yang maya buka tadi, yaitu berisi liontin dengan huruf R.
Beranjak dewasa Maya berusaha mencari orang tua kandungnya namun tidak ditemukan sampai sekarang. Lagi pula, sekarang dia sudah bahagia dengan kedua orang tua angkatnya yang sudah Maya anggap layaknya orang tua kandung sendiri. Mereka juga hidup bahagia walau tanpa ikatan darah. Mereka menyayangi Maya bagaikan anak kandungnya sendiri. Bahkan, katanya Maya akan diberikan setengah harta dari keluarga Cristopher.
Mengingat kalau Maya bukan anak kandung keluarga Christopher, tentu membuat Maya bersedih. Seperti yang ia rasakan saat ini. Gadis itu memandangi namanya yang terpahat di gantungan gelang.
'MAYA ANGELINA CRISTOPHER'
Maya mengusap air matanya lagi ketika hampir menetes. Kemudian, pandangan beralih ke arah buku lusuh bersampul hitam di bagian buku-buku paling atas.
"Dongeng kematian!" gumam Maya membaca judul buku itu.
"Apa benar yang dikatakan Annie, Nichole, dan Jay tentang buku ini?" Maya bertanya-tanya sembari terfokus pada buku itu.
Drett… Dreeettt…
Suara dering ponsel mengalihkan perhatian Maya. Ia meraih ponselnya dan tersenyum melihat nama 'My Baby' di ponselnya. Maya langsung mengangkatnya teleponnya.
"Hi, Honey!" sapa Alex dari seberang sana.
"Hi, Baby!" jawab Maya tersenyum.
"Kamu nggak kenapa-kenapa, kan?" tanya Alex agak panik.
"Memangnya aku kenapa?"
"Siapa tahu kamu diteror setelah membaca buku dongeng itu."
"Aku belum membacanya, kok. Ini baru mau baca, eh kamu malah nelpon. Hehe."
"Aku ganggu, ya? Maaf ya, hehehe. Ya sudah lanjutin saja. Oh iya, nanti kalau ada apa-apa langsung telepon aku ya!"
"Kenapa kamu jadi parno gini? Kamu percaya buku ini buku terkutuk?"
"Ya nggak gitu, hanya memastikan aja. Hehehe. Ya udah aku tutup teleponnya dulu ya. Aku ngantuk nih, capek banget soalnya."
"Ok! Good night, Baby. Have a nice dream."
"You too… love you. Muachhh!"
"Love you too!"
Setelah mengobrol sejenak dengan pacarnya, Maya meletakkan ponselnya kembali. Dan kini, ia mengambil buku dongeng itu dan bersiap membacanya.
DONGENG KEMATIAN!
***
TO BE CONTINUED
@Ram_Zainians