Timun Mas

2522 Words
Pada zaman dahulu, hiduplah janda tua sebatang kara. Namanya Mbok Sumy. Janda itu tinggal di sebuah desa kecil di pinggir hutan. Ia sangat menginginkan kehadiran seorang anak, agar dapat merawat dirinya yang sudah mulai tua. Namun, itu semua mustahil karena ia tidak mempunyai suami. Setiap hari Mbok Sumy tiada henti selalu berdoa pada sang Maha kuasa. Ia pergi ke hutan untuk mencari kayu bakar, di setiap perjalanan ia berdoa, “Ya Tuhan, karuniai seorang anak padaku. Sesungguhnya hidupku sangat sepi. Jika engkau mengaruniai aku seorang anak tentunya aku akan semakin bersyukur dan taat kepadamu.” Suatu hari, seorang raksasa besar menyeramkan kebetulan lewat di sana dan mendengar lantunan doa Mbok Sumy. Tubuh raksasa itu begitu tinggi melebihi pohon-pohon di hutan. Kulitnya gelap penuh dengan bulu yang kasar. Mulutnya terdapat sepasang taring yang sagat tajam menonjol keluar. Kukunya pun panjang dan kontor. Mbok Sumy sangat ketakutan dibuatnya. Tubuhnya gemetaran melihat mahluk yang sangat besar itu. Raksasa itu berkata dengan suara yang sangat membahana,” Hei, perempuan tua! Jangan takut, aku tidak akan memakanmu. Kau sudah terlalu tua. Dagingmu keras dan tidak enak. Aku datang kesini hanya ingin memberikan sesuatu padamu.” "A-pa?" tanya Mbok Sumy terbata-bata. “Wanita tua! Apakah kau sungguh-sungguh menginginkan seorang anak?” tanya Sang raksasa dengan suara yang menggelegar. Mbok Sumy terkejut. Dengan gemetar, ia menjawab, “Benar sekali. Aku mendambakan seorang anak yang bisa menemaniku. Namun sepertinya hal itu tak mungkin, usiaku sudah tua, dan suamiku telah meninggal.” “Ha … ha … ha… aku bisa mengabulkan keinginanmu dengan mudah, tapi tentu ada syaratnya. Apakah kau bersedia?” tanya si raksasa. “Baiklah, aku bersedia,” sahut Mbok Sumy menjawab tanpa pikir panjang, walau hatinya itu takut melihat sosok raksasa yang besar dan seram. Raksasa itu memberikan beberapa butir benih tanaman mentimun dan berkata,”Tanamlah benih ini dan rawatlah dengan baik dan kau akan mendapatkan semua yang kau inginkan selama ini. Tapi ingat, kau tidak boleh menikmatnya seorang diri. Kau harus memberikannya kepadaku juga sebagai tanda terima kasih kelak!” Mbok Sumy hanya mengangguk. Ia langsung pulang membawa benih mentimun itu ke rumahnya. Setibanya Mbok Sumy di rumah, sesuai dengan petunjuk si raksasa itu, ditanamlah benih-benih tersebut. Ajaibnya, keesokan harinya, benih tanaman itu telah tumbuh menjadi tanaman mentimun yang subur. Buahnya besar-besar. Jika terkena sinar matahari, warnanya bersinar seperti emas. Karena penasaran dengan dengan buah mentimun itu, akhirnya dipetiklah satu yang paling besar. Ketika dibelah, Mbok Sumy sangat terkejut. Di dalam timun tersebut ada seorang bayi perempuan yang sangat cantik. “Jadi ini maksud dari ucapan Si raksasa?” ujarnya dalam hati. Betapa senangnya Mbok Sumy. Tidak pernah terbayangkan akan mempunyai seorang anak perempuan yang sangat cantik. Karena lahir dari buah mentimun berwarna keemasan, anak itu diberi nama Timun Mas. Keesokan harinya, di hutan, Mbok Sumy bertemu kembali dengan Raksasa besar itu. Raksasa itu berkata, ” Engkau sudah mendapatkan apa yang kau inginkan selama ini. Sesuai dengan janjimu, engkau harus membaginya denganku.” Mbok Sumy bingung harus berbuat apa. Ia pun berkata, ” Bagaimana mungkin seseorang bayi perempuan bisa dibagi? Biarkan aku merawatnya terlebih dahulu.” Raksasa itu tampak berpikir. Benar juga apa yang dikatakan janda tua itu. “Baiklah! Kau boleh merawatnya sampai usia 17 tahun. Selanjutnya, anak itu harus kau berikan padaku dan menjadi santapanku. Haha!" “Baiklah raksasa. Aku akan merawat anak itu, dan menganggap anak itu seperti anakku sendiri sampai usia 17 tahun,” ujar Mbok Sumy begitu saja. Kemudian ia lekas pergi dari sana. Hari berganti hari, bulan berganti bulan, dan tahun berganti tahun. Timun Mas tumbuh menjadi seorang gadis yang sangat baik hati dan cantik jelita. Kulitnya kuning langsat. Tubuhnya tinggi semampai. Rambutnya hitam berkilau. Semakin hari kecantikannya, semakin terlihat memesona. Timun Mas juga sangat rajin membantu ibunya. Ia selalu menemani ibunya mencari kayu bakar di hutan. Kebaikan hati Timun Mas membuat Mbok Sumy khawatir akan kehilangannya. Ia sangat menyayangi Timun Mas seperti anak kandungnya sendiri, dan sangat disayangkan kalau gadis cantik itu harus menjadi santapan Si raksasa. Seiring bergantinya masa, kini Timun Mas sudah menginjak usia 17 tahun tepat. Sudah waktunya bagi raksasa itu untuk mengambil Timun Mas. Di pagi yang cerah, tiba-tiba terdengar suara dentuman yang sangat keras memasuki desa. Itu adalah suara langkah kaki si raksasa. Mbok Sumy gemetar ketakutan dibuatnya. Ia tahu, pasti raksasa itu hendak mengambil Timus Mas darinya. Karena itulah, ia menyuruh Timun Mas bersembunyi. “Hai perempuan tua! Mana anak perempuanmu yang telah kau janjikan kepadaku?” teriak raksasa itu kencang. “Dia sedang mandi di kali, Tuan raksasa. Tubuhnya sangat bau. Kau pasti tidak akan suka memakannya," ujar Mbok Sumy mencoba mengelabuhi Raksasa. “Baiklah. Aku akan kembali seminggu lagi. Pastikan ketika aku kembali dia sudah siap untuk ku bawa ke hutan," ujar raksasa. “Tentu saja, Tuan raksasa. Aku tidak akan mengecewakanmu," ujar Mbok Sumy ragu. Maka, pergilah raksasa itu kembali ke hutan. Mbok Sumy dan Timun Mas sangat lega. Mereka masih punya waktu seminggu untuk bersama. Hari berganti begitu cepat. Seminggu yang dijanjikan oleh Mbok Sumy pada sang raksasa pun telah tiba. Raksasa itu datang menagih janji. Namun, Mbok Sumy masih tidak ingin berpisah dengan Timun Mas. Janda tua itu menyuruh Timun Mas kembali bersembunyi. Kali ini di dapur, di dalam tempayan air yang kosong. ”Hai perempuan tua! Aku kembali untuk menagih janjimu! Cepat serahkan anak perempuanmu itu!” terriak si raksasa tidak sabaran. ”M-maaf, Tuan raksasa. Timun Mas sedang menjual kayu ke kampung seberang. Bila saja engkau datang lebih pagi, engkau pasti bertemu dengan dia," ujar Mbok Sumy beralasan. Dengan setengah marah raksasa itu berteriak, ”Baiklah! Ku beri waktu satu minggu lagi. Jika anakmu tidak kau serahkan kepadaku, maka akan ku hancurkan rumahmu.” Sepeninggal raksasa, Mbok Sumy mencari akal untuk menyelamatkan Timun Mas. Ia juga berdoa supaya Tuhan memberinya jalan keluar. Suatu malam, Tuhan menjawab doanya. Mbok Sumy bermimpi bertemu dengan seorang pertapa di gunung. Pertapa itu menyuruh Timun Mas untuk menemuinya. Ia akan menolong Timun Mas. Saat Mbok Sumy terbangun, ia merasa tak ada salahnya untuk mencari pertapa itu. Mbok Sumy lalu menceritakan semuanya pada Timun Mas, termasuk perjanjiannya dengan raksasa. Timun Mas memang anak pemberani, ia tak takut ketika tahu bahwa raksasa akan menyantapnya. Timun Mas bertekad untuk menemui pertapa di gunung. Sebelum berangkat, ia memohon restu pada ibunya. Setelah berhari-hari mendaki, Timun Mas akhirnya mencapai puncak gunung. Ia melihat seorang lelaki tua berambut putih dan berjubah putih. “Permisi, Kek. Namaku Timun Mas. Ibuku bilang, Kakek akan membantuku melawan raksasa jahat yang hendak menyantapku,” sapa Timun Mas. “Oh, kau yang bernama Timun Mas? Ya, aku memang mendatangi ibumu lewat mimpi. Cucuku, jika raksasa itu kembali, berlarilah dengan kencang,” pesan si pertapa itu. “Langkah kaki raksasa itu lebar, aku pasti mudah tertangkap,” kata Timun Mas heran. “Ambillah empat buah bungkusan kecil ini. Lemparkan satu persatu ketika kau melarikan diri,” jawab pertapa itu dengan tegas. Timun Mas paham. Ia lalu pamit pulang setelah berterima kasih. Seminggu kemudian, raksasa itu datang kembali. Kali ini, si raksasa sudah tidak dapat menahan emosinya. Kakinya yang besar, dihentak-hentakan ke tanah sehingga bumi bergetar seperti gempa. “Cepat serahkan anakmu atau ku hancurkan rumah beserta dirimu! Aku sudah sangat lapar!” teriak raksasa pada Mbok Sumy. "Kumohon, jangan makan dia,” pinta Mbok Sumy memelas “Enak saja! Kau sudah berjanji, kau tak boleh mengingkarinya!” jawab raksasa marah. ”Maaf, Tua raksasa. Tapi, anakku sudah berjalan ke hutan. Kembalilah engkau ke hutan tempat tinggalmu. Timun Mas sudah berada di sana," kata Mbok Sumy berbohong. Pada saat itu, Timun Mas sudah keluar rumah melalui pintu belakang. Ia membawa semua benda yang diberikan oleh kakek sakti dari gunung itu. Ketika akan kembali ke hutan, si raksasa melihat Timun Mas berlari dari belakang rumah. Di kejarlah Timun Mas. “Hahaha… ibumu benar-benar merawatmu dengan baik. Badanmu cukup berisi, pasti dagingmu nikmat sekali," ujar raksasa begitu melihat Timun Mas. Timun Mas menjawab, “Dasar raksasa rakus, makanlah aku jika kau bisa!” Setelah berkata demikian, Timun Mas lari sekencang-kencangnga. Dengan marah, raksasa itu segera mengejarnya. Timun Mas terus berlari dan berlari. Namun, ia mendengar Iangkah kaki raksasa itu semakin mendekat. Timun Mas segera membuka bungkusan pemberian kakek pertapa itu. Bungkusan pertama, ternyata berisi biji mentimun. Ia melemparkannya ke arah raksasa. Keajaiban pun terjadi. Biji mentimun itu berubah menjadi ladang timun yang buahnya sangat banyak. Langkah raksasa tertahan oleh ladang timun itu. Dengan susah payah ia harus melewati rintangan dan batang-batang pohon yang meliliti tubuhnya. Namun, ia berhasil meloloskan diri. Ia bertambah marah. Timun Mas menoleh ke belakang. "Gawat! Raksasa itu berhasil lolos. Aku harus segera membuka bungkusan kedua,” pikirnya. Bungkusan kedua itu berisi jarum. Timun Mas melemparkan jarum- jarum itu. Jarum-jarum itu berubah menjadi pohon-pohon bambu yang tinggi dan berdaun lebat. Raksasa harus bekerja keras menerobos pohon-pohon bambu itu. Badannya terluka karena tergores batang-batang bambu. Meskipun tubuhnya berdarah, ia pantang menyerah. Justru larinya semakin kencang setelah berhasil melewati hutan bambu yang dibuat Timun Mas. Ia kesal karena dipermainkan oleh Timun Mas. Timun Mas membuka bungkusan ketiga. Sambil terus berlari, ia melemparkan isi bungkusan itu, yaitu garam. Lagi-lagi keajaiban terjadi. Garam itu berubah menjadi lautan yang luas. Namun, lautan itu tak menjadi penghalang bagi raksasa. Ia berenang melintasi lautan itu, dan berhasil mencapai tepi. Raksasa mulai kelelahan, tapi mengingat lezatnya daging Timun Mas, ia kembali bersemangat berlari. Timun Mas ketakutan melihat kekuatan raksasa itu. Bungkusan terakhir adalah harapan satu-satunya. Sambil berdoa, Timun Mas membuka bungkusan keempat. Isinya terasi. Sekuat tenaga, Timun Mas melemparkan terasi itu ke arah raksasa. Terasi itu berubah menjadi lautan lumpur yang panas mendidih. Raksasa yang berlari kencang tak dapat menghentikan langkahnya. Ia pun terperosok ke dalam lumpur. Ia berteriak dan meronta. Namun semakin ia meronta, semakin dalam lumpur itu mengisap tubuhnya. Ia akhirnya tenggelam ke dalam lumpur panas. Timun Mas menghentikan langkahnya. Ia lega karena berhasil menyelamatkan diri. Dengan kelelahan ia berjalan pulang ke rumahnya. Mbok Sumy yang terus menangisi Timun Mas, sangat bahagia melihat kepulangan putrinya. Mereka berpelukan dan mengucap syukur pada Tuhan atas pertolongan-Nya. Sejak saat itu, Mbok Sumy hidup bahagia bersama Timun Mas. Tamat! Maya menutup buku dongengnya dan memperhatikannya dengan dahi berkerut. "Buku ini baik-baik saja. Tidak ada hantu yang keluar atau bahkan datang menemui ku." Maya meletakkan buku dongengnya di atas meja. "Annie pasti sudah berkhayal soal buku ini," ujarnya sembari tersenyum miring. Lantas, gadis itu meraih ponsel di dekatnya. Ia mencari kontak Annie dan menekannya. Beberapa saat kemudian, Annie menerima panggilan Maya. "Halo, May! Lo baik-baik saja kan?" tanya Annie panik. Maya tersenyum santai. "Gue baik-baik saja, Ann. Dan gue sudah selesai baca buku dongengnya. Gue baca dongeng Timun Mas, tapi nggak ada apa-apa tuh sekarang. Gue baik-baik aja, dan nggak ngerasain hal aneh," ujarnya. "Yakin lo, May? Lo nggak ngerasa ada something wrong gitu di dekatmu? Atau suara-suara aneh?" tanya Annie dari seberang sana. "Nggak ada apa-apa, Ann. Jangan bilang lo berpikir kalau raksasa dalam dongeng itu muncul dan menerorku? Hahaha." Maya tampak tertawa. "Ann, gue rasa lo cuma berhalusinasi deh soal buku ini. Maaf bukan bermaksud mengejek, tapi mungkin lo cuma berkhayal aja-" "-May!" Annie menyelak perkataan Maya yang belum usai. "Bukan hanya gue, May, yang diteror. Nichole dan Jay juga. Nggak mungkin dong kami bertiga ngerencanain prank pada kalian?" "Okay … okay … gue nggak mau berdebat lagi. Gue nggak mau pertemanan kita yang bertahun-tahun bubar gara-gara buku dongeng ini." Maya menarik napas panjang. "Ya udah, lo tidur aja kalau ngantuk. Gue mau mandi dulu." "Malam-malam begini mau mandi?" tanya Anniw terdengar heran. "Kenapa? Jangan bilang kalau mandi malam bakalan dihantuin, diintip, atau hantunya ikut mandi? Iya? Annie … Annie … ini tahun 2020, Ann. Bukan zaman purba lagi. Hantu semacamnya udah nggak ada." Maya tertawa meremehkan. "Ya bukan gitu juga, May. Mandi malam kan nggak baik untuk kesehatan." "Iya juga sih. Tapi gue terpaksa. Nggak seger kalau nggak mandi dulu sebelum tidur. " Maya memberi jeda sejenak. "Ya udah ya, gue tutup dulu teleponnya. Keburu kemalaman nanti dingin banget." "Jangan lupa kabarin gue ya kalau ada apa-apa." "Iya, iya … bawel. Lo udah kayak polwan aja," canda Maya. "Ya, udah. Bye!" Maya mematikan panggilannya dan menaruh ponselnya di atas meja. Lantas, gadis itu bergerak, berjalan menuju kamar mandinya. Ia menyalakan shower air hangat dan mengguyur tubuhnya. Ia pijat rambut kepalanya. Kemudian ia berpikir, "Kenapa aku tidak berendam di bathtub saja?" Maya beralih menuju bathtub di sana. Kamar mandinya itu sangat besar. Terdapat bathtub di sana dan juga shower. Di bagian lainnya yang tertutup ada juga toilet dengan closet duduk. Maya menyingkap tirai yang menutupi bathtub lantas masuk ke dalam. Kemudian ia berendam dengan air mawar. Maya begitu asyik bermain busa-busa sabun dan juga gelembung air. Hingga sekelebat bayangan hitam dari balik tirai mengagetkannya. Maya menoleh seketika. Ia memeriksanya namun tak menemukan apapun. Hanya suara sisa air shower yang menetes pelan. Gadis itu tak memikirkan hal-hal negatif. Ia memilih melanjutkan berendam, merilekskan tubuh dan pikiran dengan memejamkan mata. Beberapa saat kemudian, suara dari lantai bawah menembus gendang telinganya dan membuat Maya membuka matanya. Gadis itu membangunkan tubuhnya, mengambil handuk di sampingnya dan mengenakannya untuk menutupi setengah tubuhnya. Lantas, ia keluar kamar mandi dengan perlahan. Lampu kamar tiba-tiba mati membuat Maya menjerit. Ia berjalan di tengah kegelapan mencari ponselnya. Namun, sayangnya ponselnya itu berada di meja belajar yang memang agak jauh dari tempatnya berdiri sekarang. Lantas ia memilih mengambil senter yang tergantung di dekat pintu. Maya menyalakan senternya. Ia mulai berjalan keluar kamar dengan bantuan cahaya senter. "Para penjaga rumah kemana sih? Kok nggak cepet dibenahi lampunya?" gumam Maya kesal. Gadis itu berniat memeriksa sekering listrik. Mungkin saja ada kabel yang putus. Ia menuruni tangga yang gelap dengan perlahan. Tiba di anak tangga terakhir, Maya mendengar sebuah suara misterius bersumber dari gudang. Suara itu seperti suara tangisan bayi. Suara misterius itu telah mengalihkan perhatian Maya, hingga membuat gadis itu memilih untuk mengecek di gudang. Terdapat sebuah gudang di ujung ruangan sana. Maya harus melewati lorong yang lumayan panjang untuk sampai di gudang. Karena penasaran, gadis itu menyusuri lorong yang gelap dengan bantuan cahaya senter. Angin sepoi-sepoi menerobos masuk entah dari mana dan menyapa kulit Maya yang belum sepenuhnya kering. Angin itu meresap membuat pori-pori gadis itu mengeras dan bulu kuduknya berdiri. Maya masih mencoba mencapai gudang dengan langkah perlahan. Ia takut kalau ternyata ada maling atau apa di dalam sana. Semakin dekat suara tangisan bayi semakin kencang. Maya mempercepat langkahnya sedikit. Sesampainya di gudang, Maya meraih kenop pintunya. Awalnya ia berpikir kalau gudang itu bakalan terkunci, ternyata tidak. Maya membuka gudang itu perlahan menghasilkan suara decitan pintu yang mengalun bersamaan suara tangisan bayi dari dalam. Ia menyoroti dalam gudang itu dan tertegun melihat begitu banyak tanaman rambat berbuah mentimun. Maya terkesiap dan menelan ludah saat melihat sebuah mentimun besar terbelah dan di dalamnya terdapat seorang bayi mungil yang meringik tangis. Bayi itu berlumur darah. Kemudian, dari atas muncul tangan besar yang memiliki kuku panjang hendak menyentuh sang bayi. Tangan itu mencengkeram perut sang bayi dan kukunya menembus sampai ke dalam. Lantas, merogoh organ dalamnya dan menarik usus-ususnya. "Aaaaaa!" Maya menjerit histeris. Lampu rumah tiba-tiba menyala kembali dan keadaan menjadi terang. Semua hal mengerikan yang ada di dalam gudang tadi lenyap begitu saja saat lampunya menyala. Maya hanya melihat barang-barang usang berdebu yang memang sejak lama berada di gudang. Brak!!! Gadis itu buru-buru menutup pintu gudang dan berlari dari sana. *** TO BE CONTINUED
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD