Maya buru-buru lari setelah melihat kejadian mengerikan di dalam gudang. Ia menaiki tangga dengan tergesa-gesa dan langsung menuju kamarnya. Menutup pintu kamarnya rapat-rapat dan menguncinya.
"Nggak … nggak mungkin tadi itu nyata." Maya menggelengkan kepala cemas. "Itu hanya khanyalan ku belaka. Iya … khayalan. Hantu dan semacamnya tidak ada di dunia." Maya mencoba meyakinkan dirinya sendiri.
Lantas, gadis itu menuju kamar mandinya. Membilas tubuhnya dengan shower. Namun, setiap ia memejamkan mata, bayangan kejadian menyeramkan tadi kerap terlintas di pikirannya. Suara tangisan bayi juga tangan yang mengerikan itu membuat dirinya cepat-cepat mematikan shower dan segera mengganti pakaian.
Maya keluar dari kamar mandi sembari mengeringkan rambutnya dengan handuk. Matanya itu langsung terfokus pada buku dongeng di atas meja. Maya berjalan, mendekat perlahan ke arah meja belajarnya itu.
"Tidak mungkin … buku ini tidak mungkin buku kutukan!" Maya mengambil cepat buku dongeng itu dan menimbunnya di antara buku-buku besarnya. Lantas, gadis itu meraih ponselnya.
Ia berniat menelepon Alex. Berkali-kali sudah ia mencoba namun tidak diangkat. Mungkin, pacarnya itu sudah terlelap.
"Sial!"
Maya kemudian berpikir untuk menghubungi Annie. Annie bilang kalau ada apa-apa, dia harus segera mengabarinya. Maya mulai memencet nomor Annie dan memanggilnya.
Telepon tersambung.
"Halo, Ann!" sapa Maya panik begitu Annie menerima panggilannya. "Ann, gue baru saja mengalami hal aneh, Ann!" katanya lagi gugup.
"Apa? Lo nggak apa-apa kan sekarang?" Annie terdengar panik dari seberang sana.
"Gue nggak apa-apa. Gue tadi mendengar ada bayi nangis. Dan bayinya ada di gudang rumah gue. Terus ada tangan besar serem banget." Maya memberi jeda sejenak. "Tapi setelah lampu menyala, nggak ada apa-apa. Apa mungkin itu hanya halusinasiku belaka?"
"Gue kemarin juga gitu, May. Gue mengira gue berhalusinasi, dan kalian juga berpikir seperti itu, kan. Tapi … itu seperti nyata. Sekarang lo percaya kan, kalau ada yang nggak beres sama buku dongeng itu?"
Maya berdiam sejenak. Kemudian ia berpikir, benar juga apa yang dikatakan sahabatnya itu. "Iya, Ann. Kayaknya memang ada yang nggak beres sama buku itu," ujar Maya akhirnya mengakui.
"Tapi syukurlah lo cuma diteror kayak gitu doang. Dia nggak ngejar kamu kan?" tanya Annie.
"Nggak, tenang kok. Aku sudah mengunci diri di kamar sekarang," jawab Maya sembari melirik pintu kamarnya.
"Lo nggak lagi di rumah sendirian, kan?" tanya Annie lagi.
"Orang tua gue kebetulan pergi ke luar kota, Ann. Ke rumah nenek. Jadi gue sendiri di sini. Tapi … ada banyak penjaga kok di luar."
"Ya sudah kalau begitu."
"Ann, lo mau tidur?"
"Tadinya iya. Setelah lo telpon, ngantuk gue ilang."
"Maaf ya, Ann, gue ganggu. Ya udah kamu lanjutin aja tidurnya. Gue juga mau tidur," ujar Maya. "Good night, ya!" tutup Maya kemudian mematikan panggilannya.
Angin malam menyibak tirai jendela dan memaksanya beterbangan. Hal itu membuat Maya terkaget dan langsung menatap jendela kamar yang terbuka.
Gadis itu bergerak, menuju ke arah jendela bermaksud menguncinya. Sesampainya di depan jendela, Maya terkejut saat matanya menemukan sosok besar di halaman rumahnya. sosok itu mirip seorang lelaki namun berbadan besar. Minimnya cahaya halaman membuat Maya tak bisa melihat wajahnya.
Maya buru-buru menelpon Annie lagi.
"Ann! Lo udah tidur?" tanya Maya sembari berbisik-bisik.
"Belum. Ada apa? Kok bisik-bisik gitu?" tanya Annie penasaran.
"Ann, di halaman rumah gue ada orang," kata Maya sembari mengintip di balik jendela kamar.
"Hah? Itu penjaga rumah lo kali," pikir Annie.
"Kayaknya bukan deh. Penjaga rumah selalu pakai seragam. Tapi ini nggak. Dia seorang pria, gede, dan rambutnya kayak berantakan gitu.
"Lo lihat mukanya?"
"Nggak. Nggak tahu juga kenapa lampu halaman mati. Jadi wajahnya nggak kelihatan. Eh tunggu dulu." Maya memperhatikan lagi sosok lelaki itu. "Ann, dia bawa sesuatu. Kayak benda tajam. Mungkin itu kapak," kata Maya dengan gemetar.
"Iya Ann, itu memang benar kapak!" ujar Maya membenarkan. "Gue takut, Ann!"
"Di luar ada penjaga rumah lo kan?" tanya Annie.
"Harusnya iya. Tapi nggak tahu kenapa ada orang asing yang bisa masuk."
"Perasaan gue nggak enak, May." Suara Annie terdengar cemas.
"Ann, lo kok ngomong gitu? Gue makin takut nih," ujar Maya merasa takut.
"Orang itu ngapain sekarang?" tanya Annie.
"Dia hanya diam. Tidak bergerak. Oh my God!" Maya membalikkan tubuhnya sembari bersembunyi di antara tirai jendela. "Dia menoleh ke atas, Ann. Kayaknya dia lihat gue. Gue jadi takut, Ann." Suara Maya begitu gemetar begitupun dengan tubuhnya yang mulai merinding.
"Terus reaksinya sekarang gimana?"
Maya kembali membalikkan tubuhnya, mengintip lagi keadaan luar. Gadis itu terkejut saat tak lagi menemukan bayangan lelaki misterius lagi. "Dia udah nggak ada, Ann," jawab Maya sembari menonjolkan wajahnya keluar jendela dengan perlahan.
"Mungkin sudah pergi," tebak Annie. "Ada tanda-tanda kalau dia pergi nggak? Misal suara atau apa gitu?"
"Nggak. Dia ngilang tiba-tiba. Tapi syukurlah. Gue tadi takut banget."
"Ya udah sekarang kunci jendelanya. Dan matikan lampunya, biar dia mengira kalau kamu sudah tidur, atau setidaknya mengira sedang tidak orang di rumahmu," saran Annie.
"Yakin? Kalau ternyata dia maling gimana? Ku rasa dia sudah tahu kalau keluarga Christopher sedang pergi. Jadi dia memanfaatkan keadaan ini untuk mencuri di rumahku," asumsi Maya.
"Tapi, May. Gue nggak yakin kalau dia manusia normal atau maling pada umumnya. Coba deh pikir, kalau dia maling kenapa dia bisa masuk? Bukankah ayahmu itu sudah mengerahkan para penjaga untuk menjaga rumahmu secara ketat. Secara keluargamu itu kan salah satu keluarga terpandang di kota ini."
Maya tampak berpikir, mencerna kata-kata Annie sembari berjalan menjauhi jendela. "Jadi, kalau itu bukan maling … terus siapa dong?" tanya Maya mengeryitkan dahi.
"Gue curiga … itu … tokoh dalam dongeng yang lo baca-"
"-Ann. Please, stop!" potong Maya dengan cepat. "Gue lagi sendirian di rumah, tolong jangan malah nakut-nakutin aku-"
Tirrr!!
Belum juga menyelesaikan perkataannya, Maya sudah dihentikan oleh bunyi pecahan kaca. Maya menoleh, melihat sebuah benda mendarat di dekatnya.
"Ann, ada yang melempar sesuatu dari luar," kata Maya dengan perasaan takut. Gadis itu memungut benda itu. "Ini kertas, Ann. Di dalamnya ada batu. Eh sebentar, kertasnya ada tulisannya." Maya memeriksa tulisan itu dan membacanya.
"Apa tulisannya, May?" tanya Annie penasaran.
Maya terperangah kaget membaca tulisan itu. Dengan gemetar, ia memberi tahu Annie. "T-tulisannya … cuma ... 'Timun Mas!' Tapi pakai noda darah," kata Maya gugup sekaligus takut.
"May, lo cepet hubungi orang tua lo!" saran Annie. "Perasaan gue nggak enak, May."
Guk … guk … gukk…!!! Suara Anjing di luar tiba-tiba mengagetkan Maya.
"Anjing di luar terus menggonggong, Ann. Biasanya, dia selalu menggonggong kalau memang ada seseorang yang masuk di ke halaman rumah."
Maya melangkahkan kakinya, terasa berat untuk sampai di jendela. Tubuhnya gemetaran dan jantungnya mulai berdetak tidak karuan.
"Ann, dia balik lagi!" kata Maya spontan saat melihat bayangan lelaki tadi terlihat di halamannya lagi.
"Dia ngapain, May?" tanya Annie.
"Dia hanya berdiri diam dan menatap ke jendela sini. Anjing penjaga terus menggonggong di dekatnya. Tapi orang itu tetep nggak berkutik." Maya menoleh ke arah lain. "Para penjaga rumah juga nggak terlihat. Aku takut … orang itu sudah melakukan sesuatu sama penjaga-penjaga," ujar Maya mulai panik.
"Oke lo tenang dulu. Lo udah matikan lampu kamar, kan?"
"B-belum. Gue takut kalau dalam keadaan gelap, apalagi di luar sana ada orang misterius bawa benda tajam."
"May, kalau lampunya menyala justru dia akan tahu kalau ada orang di dalam rumah. Meskipun itu maling, jangan pikirin dulu soal barang-barang yang bakalan hilang. Itu biar diurus ayahmu nanti, yang penting orang itu nggak tahu keberadaan lo dan lo bisa selamat."
"Bagaimana bisa nggak tahu, orang dia tadi udah ngirim pesan lewat kertas berisi batu dan bertuliskan 'Timun Mas'," sangkal Maya.
"Iya juga sih."
"Oh my God!" Maya membungkam mulutnya seraya menggeleng berkali-kali.
"Ada apa, May?"
"Orang itu, dia … dia melukai Anjing penjaga menggunakan kapaknya. Sekarang Anjing itu mati, Ann!" kata Maya semakin panik. Suaranya merintih khawatir. "Damn! Dia lihat ke atas. Aku rasa dia gue!" Maya buru-buru beranjak dari jendela dan menuju lampu kamar. Ia mematikannya hingga membuat kamarnya itu gelap total.
"Sekarang apa yang terjadi?" tanya Annie ikut panik.
"Gue udah ikutin saran lo matikan lampu kamar," jawab Maya tak tenang.
"Ok. Lo tutup teleponnya dulu, dan cepat hubungi orang tuamu!" pinta Annie.
"Iya." Maya mematikan panggilannya dan beralih memanggil ayahnya. Berkali-kali ia coba namun panggilannya itu selalu berada di luar jangkauan. Tak berhenti begitu saja, Maya memilih memanggil ibunya. Namun, malangnya ibunya itu juga tidak mengangkatnya.
Tirrr!!!
Suara pecahan kaca terdengar kembali. Bersamaan dengan itu, ada buntelan kertas seperti tadi.
Maya memungut buntelan kertas itu dan membukanya dengan gemetar. Ia gunakan senter ponselnya untuk menerangi tulisan itu. Gadis itu semakin panik setelah membaca isi pesannya.
"Tunggu aku, Timun Mas. Aku akan ke sana!" Maya menjatuhkan kertas itu begitu saja.
Benda dari luar menghantamnya lagi. Sama seperti tadi, buntelan kertas. Gadis itu buru-buru membukanya.
"Anjingmu sungguh lezat, memang cocok sebagai makanan pembuka. Sekarang, aku ingin makanan penutupku, Timun Mas. Apakah dagingmu itu enak? Ah, pasti lebih lezat daripada daging anjing!"
Tubuh Maya merosot begitu saja, dan ponsel yang dipeganginya ikut terjatuh. Namun untungnya tidak rusak. Gadis itu gemetar, meraba-raba mencari ponselnya. Begitu ditemukan, ia langsung menghubungi Annie lagi.
Annie dengan cepat menerimanya.
"May, gimana? Lo udah hubungi orang tua lo?" tanya Annie mendahului Maya.
"Ann … mereka nggak bisa dihubungi. Dan sekarang …gue takut, Ann. Orang itu ngirim pesan lewat kertas lagi. Dia bilang dia akan ke sini dan mengatakan soal makanan penutup. Dia mau membunuhku, Ann!" Suara Maya terdengar serak bersemu tangis.
"Apa?!" Annie terdengar kaget. "Okay lo tenang dulu. Lo udah kunci semua jendela dan kamar lo kan?"
"I-iya."
"Ok! Sekarang, ganjal pintunya. Pakai benda apalah yang berat, pokoknya yang penting lo ganjal pintu kamarmu agar tidak bisa dibuka dari luar. Dan ya, jangan bersuara!" saran Annie.
"Iya."
Maya segera bergerak ke arah meja belajarnya. Ia mendorong meja belajarnya dengan sekuat tenaga hingga sampai di depan pintu. Setelah meja itu menghalangi pintu, Maya mendorongnya agar menempel. Namun buku-buku di atasnya ikut jatuh berantakan. Terutama buku dongeng itu.
Maya langsung terfokus pada buku dongeng itu yang membuka. Ia terkejut mendapati buku dongeng itu membuka pada bagian akhir cerita Timun Mas.
"Nggak mungkin!" katanya sembari menggelengkan kepalanya.
"Kenapa, May?" tanya Annie terdengar keheranan.
"Ann, buku dongeng Timun Mas berubah endingnya. Gue yakin tadi gue baca kalau endingnya Timun Mas hidup bahagia sama ibunya. Tapi sekarang berubah, May. Di sini tertulis, jika Timun Mas ingin selamat, dia harus bisa menghadapi si raksasa."
Brak!!! Suara gebrakan pintu luar membuat Maya melotot seketika.
"Ann, sepertinya ada yang membuka pintu rumah," kata Maya pada Annie.
"Bukannya udah lo kunci?"
"Iya, tapi suaranya kayak ada yang buka." Maya mengusap air matanya yang hendak menetes. "Gue takut, Ann," lirihnya.
"Lo tenangin diri dulu, gue telepon polisi untuk segera ke rumahmu, Ok? Sekarang gue tutup teleponnya dulu."
"Tapi Ann…." Maya melihat ponselnya yang sudah tidak dalam panggilan lagi. Sembari menunggu Annie meneleponnya lagi, ia memilih untuk mencoba menghubungi kedua orang tuanya. Namun, sepertinya tetap tidak bisa. Kemudian gadis itu mencoba menelpon Alex. Sialnya pacarnya itu juga tidak mengangkat.
Maya semakin panik. Ia mengacak-acak rambutnya seperti orang gila. Namun ia tidak bisa berteriak karena takut jika orang misterius itu mendengarnya.
Dreett …. Dreeettt ….
Ponsel Maya berdering, membuat gadis itu mengangkatnya cepat. Annie yang meneleponnya kembali.
"Ann, gimana?" tanya Maya cemas.
"Gue udah hubungi polisi. Lima belas menit lagi katanya mereka akan sampai," jawab Maya.
"Lima belas menit? Itu waktu yang lama, Annie. Please … lakukan sesuatu …." Maya menghentikanya percakapannya saat mendengar derap langkah kaki yang menaiki tangga.
"Ann, dia sudah menaiki tangga. Dan sebentar lagi pasti akan sampai di kamarku," ujar Maya sembari berbisik. "Tolong lakukan sesuatu, Ann!" pintanya mengiba.
"Ok, gue akan ke sana. Lo tenangkan diri, oke. Jangan berisik, jangan sampai orang itu mendengarmu."
Maya mengangguk tanpa menjawab.
Krieek… Krieekk …
Suara seperti cakaran kucing itu memenuhi kamar Maya. Lebih nyaring di langit-langit kamarnya. Maya memandangi Langit-langit kamarnya sembari berkata, "Ann, ada suara aneh di sini. Suaranya kayak kucing mencakar-cakar gitu."
"Emang lo punya kucing di rumah?" tanya Annie. "Gue udah di mobil nih. Bentar lagi gue ke sana, tunggu ya!"
"Gue nggak punya kucing, Ann. Di rumah ini tidak ada hewan selain anjing penjaga. Dan anjing itu sekarang sudah mati dibunuh tadi," jelas Maya. Ia mulai tidak tenang lagi. Tubuhnya gemetar, sedangkan mulutnya menggigit-gigit kecil jarinya tanda cemas. Keringat juga mulai membasahi tubuhnya.
Tok! Tok! Tok!
Itu suara ketukan pintu. Maya menoleh ke arah pintu seketika. Terkesiap saat melihat bayangan dari sela-sela bawah pintu. Ia semakin panik, dan menggeser tubuhnya ke belakang.
"Ann, dia sudah sampai di depan pintu kamar," katanya pada Annie dengan berbisik.
"Apa?" Annie terdengar kaget.
"Timun Mas … buka pintunya, Timun Mas!"
Maya tersentak kaget saat mendengar suara serak nan berat dari luar kamarnya.
"Dia manggil gue Timun Mas, Ann!" bisik Maya di teleponnya.
"Iya gue juga denger," kata Annie. "Lo sekarang sembunyi. Di bawah kasur atau di mana lah. Pokoknya lo diam dan sembunyi. Jangan membuat kebisingan!" tekan Annie.
Maya kebingungan. Kepalanya celingukan mencari tempat sembunyi. Kemudian, ia memiliki ide untuk sembunyi di dalam lemari. Lekaslah gadis itu beranjak, menuju lemari dan membukanya perlahan. Kemudian dia bersembunyi di dalamnya dan menutup kembali pintu lemarinya.
"Timun Mas … cepat buka, atau kehancuran pintu ini!"
Dug! Dug! Dug!
Maya membungkam mulutnya agar tidak bersua. Air matanya mulai menetes, dan keringatnya bercucuran begitu deras. Bahkan jantungnya tak lebih dengan lari kuda marathon. Seluruh aliran darahnya mendesir sempurna.
"May, lo baik-baik saja, kan?" tanya Annie dari seberang telepon ketika tidak mendengar suara Maya lagi.
"Iya, Ann. Gue sekarang sudah sembunyi di dalam lemari," jawab Maya berbisik.
"Ok! Yang penting lo nggak kesusahan bernapas kan?" tanya Annie. "Sial! Jalanan pake macet lagi!" umpat Annie terdengar kesal.
Krieekkk….
"Ann … ada yang mencakar-cakar pintu lemari. Tapi gue nggak bisa lihat itu siapa," bisik Maya.
"Lo diam aja. Jangan bersuara. Jangan sampai raksasa itu menemukanmu!" pesan Annie.
"Raksasa? Maksud lo, raksasa yang ada di dalam dongeng itu?" tanya Maya lagi-lagi dengan berbisik.
"Firasat ku mengatakan seperti itu, May. Soalnya aku, Nichole, dan Jay juga diteror tokoh dalam dongeng itu. Dia memanggilmu Timun Mas, kan? Udah jelas itu pasti si raksasa yang ingin menangkapmu."
"M-maksudmu … aku adalah tokoh dalam dongeng itu? Dan aku Timun Mas?"
"Mungkin saja."
Maya menggeleng sembari terus berusaha untuk tidak bersuara kencang. Sejatinya dia ingin menjerit sekencang-kencangnya. Ia meraba tengkuknya yang mulai merinding.
Selang beberapa saat, suara seperti cakaran kucing juga gedoran pintu sudah lenyap. Keadaan menjadi sunyi.
"Ann, lo udah sampai mana? Suaranya udah nggak ada," kata Maya memberi kabar.
"Gue segera sampai. Gue cari jalan pintas, soalnya jalan utama macet." Annie memberi jeda. "Yakin suaranya udah nggak ada?"
"Kayaknya begitu. Aku tidak lagi mendengar apapun. Demi Tuhan ... di dalam terasa sesak sekali, Ann!"
Maya mencoba membuka pintu lemarinya sedikit, bermaksud mencari udara segar. Begitu lemari itu membuka sedikit, Maya mengintip dari sana dan terkesiap saat mendapati sesuatu di ranjangnya.
Di ranjangnya itu terdapat sesosok bertubuh besar dan jangkung tengah duduk di pinggiran ranjang. Dari dalam lemari Maya hanya bisa melihat kalau sesosok itu memiliki rambut yang berantakan.
Arrgghh….
Maya buru-buru menutup lemarinya kembali setelah mendengar eraman dari sesosok itu.
"Ann, ada orang di dalam kamar."
"Hah? Maksudmu … orang itu sudah masuk ke kamar?"
"Sepertinya iya. Tapi anehnya aku tidak mendengar kalau dia membuka pintu kamar. Dan sekarang sesosok itu di atas ranjangku." Maya menelan ludah. "Ann, apa itu hantunya?"
"Gue nggak mau lo berpikir aneh-aneh yang hanya akan membuatmu semakin panik, oke? Sekarang lo berdoa agar 'dia' cepet pergi."
"Ann, bagaimana kalau nanti orang itu menangkapku dan membunuhku? Aku takut, Ann!"
"Maya, lo kuat! Oke? Lo inget apa yang ada di dalam buku dongeng? Lo bilang Timun Mas harus bisa lolos dari raksasa kan, jika ingin selamat. Lo coba mengikuti kisah Timun Mas itu!" saran Annie.
"Baiklah, Ann. Gue akan berusaha."
Dengan gemetar, Maya membuka lemarinya sedikit. Memeriksa apakah sesosok bertubuh besar tadi masih ada atau tidak. Beruntungnya sesosok itu sudah menghilang. Maya membuka lebar-lebar pintu lemarinya. Kemudian dia menonjolkan kepala juga tangannya yang memegang ponsel. Ia menyinari kamar itu dengan cahaya ponsel.
Gadis itu keluar dari lemari setelah dirasa aman.
"Ann, dia udah nggak ad-"
Tit … tit … tit … Baterai ponsel Maya terdengar habis, dan ponselnya tiba-tiba mati.
"Sial! This is not f*****g funny!" Maya mengumpat pada ponselnya sendiri. Kemudian ia menaruh ponselnya itu di dalam saku jeans. Lantas, ia beralih mencari senter dan menemukannya.
Maya mulai mengendap. Berjalan ke arah pintu dengan pelan. Ia sudah tidak mendengar suara apapun lagi.
"Apakah orang itu sudah benar-benar pergi?" gumamnya dalam hati.
Maya memberanikan diri untuk membuka pintunya. Ia menggeser meja yang menghalangi pintu, kemudian membuka pintu kamarnya itu. Dilihatnya keadaan luar itu cukup terang. Namun, saat Maya melangkahkan kakinya keluar kamar, semua lampu tiba-tiba mati.
"Sial!" umpat Maya.
Ia memanfaatkan cahaya senter untuk memerangi keadaan. Maya mulai berjalan pelan. Suasana begitu sunyi dan gelap. Bahkan, Maya bisa mendengar suara derap langkahnya sendiri.
Gadis itu tersentak kaget saat melihat aliran darah yang mengalir di sepanjang tangga. Ia menyoroti tangga itu dengan membungkam mulutnya. Kemudian, ia mulai menuruni tangga dengan waspada. Sebenarnya ia takut, tapi ia beranikan diri.
Hingga di anak tangga terakhir, Maya mendengar suara deru mobil yang memasuki halaman rumahnya.
"Itu pasti suara mobil Annie," pikir Maya. "Atau mungkin polisi yang Annie kirim," duganya.
Tok! Tok! Tok! Suara ketukan pintu membuat Maya senang. Ia buru-buru bergerak ke arah pintu dan membukanya.
Kosong! Tak ada siapapun.
Maya melangkahkan tubuhnya keluar. Ia menengok ke kanan dan ke kiri yang sunyi. Tak ada siapapun. Bahkan ia tak melihat mobil yang berada di halamannya.
Lantas, suara mobil siapa tadi? Dan siapa yang mengetuk pintu?
Maya buru-buru masuk ke dalam dan mengunci pintunya kembali. Ia mengambil napas cepat sedangkan tubuhnya gemetar hebat.
"Timun Mas? Kenapa kau menutup pintunya? Apakah kau sudah siap menjadi santapanku?"
Suara serak nan berat membuat telinga Maya bergeming. Bukan dari luar, melainkan dari dalam. Maya membalikkan badannya cepat. Ia tersentak saat melihat penampakan di dalam rumahnya itu. Sesosok yang membuat jantungnya serasa berhenti untuk berdetak.
Tak jauh dari tempatnya berdiri itu, terdapat sesosok bertubuh besar dan jangkung. Sesosok itu memiliki kulit hitam dan berbulu. Memiliki dua siung yang menonjol dari mulutnya. Kedua matanya merah menyala, sedangkan rambutnya berantakan. Di kepalanya itu juga terdapat dua tanduk yang lebih besar dari tanduk kerbau.
Sesosok menyeramkan itu memperlihatkan kuku-kukunya yang panjang nan tajam. Kemudian mengeram ke arah Maya.
Aarghh ….
"Timun Mas, kau telah dijanjikan padaku ketika kau masih berbentuk benih. Sekarang kau sudah besar dan tubuhmu begitu sehat, pasti rasanya sangat lezat. Haha!" Suara tawa sosok itu begitu menggelegar.
Maya menciut nyali. Tubuhnya gemetar saat melihat lidah panjang yang keluar dari mulut sosok besar itu.
"R-raksasa?" kata Maya terbata-bata.
"Kau mengenaliku? Hahaha bagus! Sekarang, dongeng ini akan semakin menarik jika salah satu tokohnya mati! HAHAHA!"
"TIDAK! GUE BUKAN TIMUN MAS DALAM BUKU DONGENG ITU!"
Maya membalikkan tubuhnya dan mencoba membuka pintunya. Namun entah kenapa pintu itu sulit sekali terbuka.
"Please … don't make me crazy … come on!"
Terbuka!
Maya buru-buru lari keluar rumah. Namun raksasa itu terus mengejarnya. Tubuhnya semakin bertambah besar saat berada di luar. Kakinya yang lebar itu ia hantamkan ke tanah sehingga menciptakan getaran seperti gempa.
Maya terjatuh dan mengguling. Ia menatap ke atas, terkejut saat melihat tubuh raksasa semakin besar.
"Timun Mas! Mau lari ke mana kau?!"
Maya melihat tanaman-tanaman, dan ia berencana sembunyi di sana.
"Timun Mas! Sembunyi di mana kau? Aku sudah lapar dan tidak sabar ingin mencicipi dagingmu!"
Raksasa itu tidak bisa melihat tubuh Maya yang kecil bersembunyi di antara tanaman-tanaman.
Maya membungkam mulutnya itu tidak membuka suara. Napasnya begitu memburu. Ia telah menyesal karena tidak mempercayai Annie, Nichole, dan Jay soal buku dongeng itu. Kini ia merasakannya langsung, kalau buku dongeng itu benar-benar buku terkutuk.
Brug!!
Hantaman tangan sebesar ranjang itu mendarat tepat di samping Maya, membuat beberapa tanaman rusak. Maya menjerit saat raksasa itu berhasil menemukannya.
"Kau tidak bisa lari dariku, Timun Mas. Sekarang … dongeng ini akan sangat menarik jika aku berhasil memakanmu. Hahaha!"
"Persetan denganmu!" Maya mengambil batu dan melemparnya hingga mengenai mata raksasa itu. Perbandingannya, batu itu seperti sebuah kerikil yang mengenai mata. Namun, setidaknya batu itu mampu membuat mata raksasa itu bermasalah.
Raksasa itu mengucek matanya. Sembari itu, Maya buru-buru lari dari sana. Ia berlari tanpa mempedulikan apapun lagi. Pandangan lurus ke depan dan mencoba kaluar dari halaman rumah.
Brak!!!
Tubuh Maya terpental sedikit saat sebuah mobil tanpa sengaja menabraknya. Untungnya Maya tidak terluka, dia mencoba bangun dari jatuhnya.
Seseorang keluar dari mobil dan langsung menghampiri Maya. Dia … Annie.
"May, lo nggak apa-apa, kan?" Annie memeluk Maya, danmencoba membantunya berdiri.
"Gue nggak apa-apa, Ann. Buruan kita pergi dari sini sebelum raksasa itu mengejar kita!" Suara Maya terdengar berat.
"Oke, ayo!"
Annie membantu Maya berjalan dan bergegas masuk ke mobil. Kemudian, Annie melajukan mobilnya begitu kencang meninggalkan rumah Maya.
***
TO BE CONTINUED