Pagi itu merupakan hari sabtu, dan perkuliahan libur selama weekend. Maya tengah duduk di depan jendela dengan terbengong. Wajahnya kusut tak ada seulas senyum yang tergores. Setelah kejadian tadi malam, benar-benar membuatnya ketakutan.
"May, nih aku bawain teh hangat." Annie menyodorkan secangkir teh hangat pada sahabatnya itu. Lantas, gadis itu duduk disampingnya setelah Maya menerima tehnya.
Maya menyeruput teh itu kemudian kembali menatap jendela. "Tadi malam gue benar-benar kayak orang gila, Ann. gue takut banget." Maya melihat Annie dengan tatapan sayu. "Aku nggak pernah menyangka kalau aku akan mengalami hal semenakutkan ini."
Annie menyentuh pundak Maya dan mengelusnya. "Sudah, nggak usah dipikirin. Anggap saja ini sebuah mimpi buruk," kata Annie mencoba menenangkan.
"Tapi gue takut kembali pulang, Ann. Bagaimana kalau raksasa itu masih di rumah?" Maya mengerjap dan mencoba mengatur napasnya. Setelah mereka pergi tadi malam, kini Maya menginap di rumah Annie.
"Lo boleh kok menginap di sini sampai orang tuamu balik," ujar Annie tersenyum ramah.
"Makasih, Ann." Maya kembali menyeruput teh hangatnya lagi.
"Oh iya. Kita turun yuk! Mama udah masakin banyak tuh buat sarapan," ajak Annie.
Maya memandang Annie seraya tersenyum. Kemudian gadis itu mengangguk dan menaruh secangkir teh yang masih tersisa di atas meja. Lantas, mereka berdua pun beranjak keluar kamar bersama.
"Wah, aroma masakannya sedap sekali, Tante. Pasti rasanya enak," puji Maya begitu sampai di meja makan. Gadis itu mencoba menutupi ketakutannya dan bersikap biasa-biasa saja.
"Eh, Maya. Kamu sudah bangun?" Megan menyapa teman putrinya itu dengan senyuman. "Maaf, ya … Tante tadi malam nggak lihat kamu saat dateng. Tadi pagi, Annie baru ngasih tahu Tante kalau kamu menginap. Oh iya, Tante udah masakin banyak nih. Semoga kamu suka, ya!" seru Megan.
"Iya, Tante. Tadi malam aku datang sudah larut banget. Hehe," kata Maya bernada canggung.
"Ya sudah ayo duduk." Wanita paruh baya itu menyuruh Maya duduk di kursi ruang makan. "Ann … kamu juga duduk. Kita akan sarapan bareng, ok?"
"Iya, Ma!" Annie mendudukkan tubuhnya di sebelah Maya.
"Ann, Veronica ke mana? Kok belum turun?" tanya Maya membuat Annie berubah ekspresi.
"Masih molor kali!" jawab Annie begitu saja, membuat ibunya melirik ke arahnya dengan diam.
"Selamat pagi, Ma!" sapa Veronica begitu sampai di ruang makan. Gadis itu terkejut melihat Maya yang duduk rapi di sana. "Eh, Kak Maya? Kapan dateng?" sapa Veronica ramah.
Maya menoleh ke arah Veronica. "Sebenarnya aku datang tadi malam dan menginap di sini, hehe,". jawabnya seraya tersenyum.
"Oh, pantas aku nggak lihat datengnya." Veronica berjalan ke arah meja makan dan duduk di sebelah kiri Veronica.
"Sekarang sudah kumpul semua. Mari kita makan bersama!" ajak Megan semangat.
Selesai sarapan Annie dan Maya tampak mengobrol bersama di kamar. Mereka membahas buku dongeng yang terkutuk itu juga masalah tentang Annie dan adiknya.
"Ann, lo masih sering berantem sama Veronica?" tanya Maya membuat mood Annie memburuk.
"Ya gitu deh," jawab Annie dingin. "Sama Mama sendiri aku masih nggak terlalu akrab."
"Ann, saran gue sih mending kalian coba bicara bersama. Maksudku, hilangkan jarak di antara kalian." Maya memegang tangan Annie. "Gue nggak bermaksud mau ikut campur masalah keluarga lo. Tapi, kau tahu. Aku bisa melihat di mata Tante Megan, kalau beliau sangat menyayangi kalian berdua. Tante Megan nggak mungkin membedakan antara kamu dan Veronica."
Maya melepaskan pegangan tangannya dan berganti menata suasana luar dari jendela. "Kau tahu, kau itu beruntung Ann, bisa lihat orang tua lo. Sedangkan gue…" Maya menyudutkan senyumnya. "Dari bayi gue nggak pernah melihat orang tua kandung gue." Maya mengusap air matanya yang berkaca-kaca. Lantas gadis itu menatap Annie.
"Tapi gue seneng, Ann, bisa memiliki orang tua seperti keluarga Christopher. Bukan karena mereka memiliki banyak harta, tapi karena mereka baik orangnya. Kami saling mengisi kekosongan kami. Kau tahu, kadang hubungan kita bisa dibilang sebuah kompromi. Keluarga Christopher yang mendambakan seorang anak, dan aku yang mendambakan orang tua. Tapi, sejatinya bukan kesepakatan seperti itu. Kami selalu menjalani kehidupan bertahun-tahun seperti keluarga kandung sendiri."
Annie mendengarkan dengan saksama cerita Maya.
"Ann, gue tahu lo belum bisa menerima kesalahan Veronica. Tapi lo coba pikir, apa Veronica sengaja melakukan hal itu? Ayahmu juga ayah dia, Ann. Nggak mungkin kan kalau Veronica…." Maya tak berani melanjutkan kata-katanya.
"Aku hanya butuh waktu, May. Aku masih belum bisa melupakan kejadian itu." Annie mnegerjap, mengingat akan kejadian memilukan yang tengah merenggut nyawa ayahnya.
"You know, keluarga adalah segalanya. Walau kita memiliki harta bahkan segalanya pun, tapi kalau tidak ada keluarga kita yang bersama kita, itu sama saja dengan kekalahan." Maya menarik napasnya perlahan dan membuangnya. "Aku sendiri masih mencoba untuk mencari orang tua kandungku. Tapi yah … mungkin Tuhan tidak mengizinkannya. Atau mungkin, orang tuaku yang sekarang jauh lebih baik daripada orang tuaku sendiri.
"Kamu yang sabar ya, May!" Sekarang, giliran Annie yang menguatkan Maya. "Kita memang ditakdirkan untuk kehilangan orang yang kita sayangi."
Maya tersenyum dan mengangguk. Lantas, mereka berpelukan.
Suara dering ponsel membuat mereka melepaskan pelukan. Telepon Maya yang berdering. Alex yang memanggilnya. Maya buru-buru mengangkatnya.
"Honey, are you okay?" Suara Alex terdengar panik dari seberang sana. "Gue lihat ada banyak panggilan masuk darimu dan juga chat. Maaf tadi malam aku ketiduran."
"Gue nggak apa-apa, kok. Sekarang, gue lagi di rumah Annie," kata Maya.
"Syukurlah kalau kamu tidak apa-apa. Oh iya, gue ke sana ya."
Maya menatap ke arah Annie dan berbisik, "Dia mau ke sini."
Annie mengangguk tanda setuju.
"Ok, Lex. Gue tunggu ya!" kata Maya pada Alex.
"Ok!"
Setelah mematikan panggilannya, Maya menatap ke arah Annie lagi. "Ann, gue nggak jadi nginap di rumah lo, ya. Gue nanti pulang saja," kata Maya.
"Serius, lo? Nggak takut?" tanya Annie menaikkan jidatnya.
Maya tampak berpikir sebelum menjawab. "Nggak," jawabnya sembari menggeleng. "Gue tadi udah menelpon ayah. Katanya, mereka nggak jadi liburan lama di rumah nenek. Mungkin, besok pagi mereka pulang."
"Ya sudah. Tapi, kalau ada apa-apa nanti kasih tahu gue lagi ya!" pinta Annie.
"Iya, tenang aja."
***
Tiga puluh menit kemudian akhirnya Alex telah tiba. Megan yang mengetahui kedatangannya, ia memberitahu putrinya itu.
"Sayang, teman-teman kamu dateng tuh di bawah," kabarnya lantas wanita paruh baya itu berlalu.
"Teman-teman?" Annie tampak keheranan.
"Kayaknya Alex nggak sendirian deh!" tebak Maya.
Annie dan Maya lekas turun ke bawah. Sesampainya di di teras mereka terkejut bukan hanya Alex yang datang, melainkan ketiga teman lainnya juga ikut. Yaitu, Jay, Nichole, dan Rio.
"Gue tadi ngajak mereka. Mereka ingin melihat keadaan mu, Honey," kata Alex pada Maya.
"Hi, Annie!" sapa Jay dengan senyum ramahnya.
"Hi, Nichole! Rio!" Bukannya menjawab sapaan Jay, Annie malah menyapa Nichole dan Rio. Itu membuat teman-temannya menahan tawa.
"Hi, Annie!" sapa Rio dan Nichole bersamaan.
"Ayo masuk dulu!" Annie mempersilakan teman-temannya itu untuk masuk kw rumahnya.
Mereka semua pun masuk ke dalam.
"Halo, Tante!" sapa mereka saat melihat ibunya Annie datang membawa minuman di nampan.
"Hi, semuanya. Ayo duduk. Nih, Tante kasih jus segar buat kalian," sapa Megan ramah.
"Makasih, Tante," ujar Jay tersenyum lebar.
"Kamu, yang namanya Jay, ya?" tanya Megan sembari memastikan kalau itu Jay.
"Iya, bener banget, Tante," jawab Jay cengengesan. "Saya, yang deket sama anak Tante, hehe."
Annie menginjak kaki Jay, membuat pria itu mengaduh pelan.
"Anak yang mana nih? Annie… apa Veronica?" tanya Megan pura-pura tidak tahu.
"Tentu saja Annie dong Tante. Aku kan yang sering bareng Annie. Hehe," jawab Jay diakhiri kekehan pelan. Namun, senyumnya itu mengerut saat Annis memicingkan mata ke arahnya.
"Kirain … sama Veronica." Maya terkekeh.
"Kalau itu, sama saya Tante." Rio tiba-tiba menyahut saat mendengar nama Veronica. Namun, teman-temannya malah menyorakinya.
"Tante, jangan biarkan anakmu kena virus buaya darat!" seru Alex setelah meneguk jusnya.
"Memangnya ada virus buaya darat?" tanya Megan.
"Tuh! Si Rio!" jawab Jay disambut gelak tawa semuanya.
"Kalian ini ada-ada saja. Kasihan loh nak Rio. Ganteng-ganteng gini, dipanggil biaya darat," bela Megan pada Rio.
"Tau tuh, teman-teman pada nggak ada akhlaq! Denger tuh kalian, Tante Megan aja bilang kalau gue ganteng. Emang pada sirik mereka, Tante!" ujar Rio belagu.
"Tapi … masih gantengnya Jay sih," sahut Megan lagi membuat Jay cengengesan dan Rio menelan ludah.
"Mama!" Annie melirik ke arah matanya dengan geram.
"Hehe…. Tante cuma bercanda kok. Ya sudah, lanjutkan ngobrol-ngobrol kalian, Tante pamit ke belakang dulu ya!" pamit Megan pada semuanya. Lantas wanita paruh baya itu masuk ke dalam.
"Baik, Tante!" ucap mereka serempak.
"Ann, Mama lo asyik juga ya!" kata Nichole memuji ibunya Annie.
"Calon mertua gue emang gitu. Kayak menantunya ini. Baik dan ramah. Iya kan, Annie?" Jay berkata ke arah Annie dengan bangga.
"Mimpi lo!" cerca Annie.
"Tau tuh! Kalau halu jangan maksimal!" sahut Rio.
Setelah mengobrol banyak, akhirnya mereka berpamitan untuk pulang. Bukan pulang, mereka berniat untuk mengunjungi rumah Maya dan melihat apakah ada bekas tentang kejadian tadi malam di rumah Maya atau tidak. Bahkan Annie pun ikut. Dia satu mobil sama Jay. Sedangkan Maya sama Alex, dan Nichole berdua sama Rio.
Sesampainya di rumah Maya, mereka memarkirkan mobilnya di halaman. Iantas semuanya turun dari mobil dan jalan bersama.
"Honey, yakin lo tadi malam diteror di sini?" tanya Alex yang saat itu merangkul pacarnya itu.
"I am very sure, Baby. Tadi malam raksasa itu mengejarku di halaman ini," jelas Maya.
"Tapi aku nggak melihat ada bekas kerusakan di sini. Kalau dalam film-film, kaki raksasa itu kan besar banget. Pasti ada bekasnya lah di sekitar sini," ujar Rio sembari melihat sekelilingnya.
"Tapi-" Maya hendak berbicara namun terhenti saat mendengar suara mobil polisi memasuki halamannya. Mereka semua menatap terkejut ke arah mobil polisi itu.
Salah seorang penjaga rumah menghampiri Maya. "Nona Maya!" Penjaga rumah itu tampak terkejut melihat Maya. "Nona Maya dari mana saja? Anda baik-baik saja kan?" tanya penjaga itu.
"Iya, aku baik-baik saja. Terus siapa yang manggil polisi?" tanya Maya pada penjaga itu.
"Saya yang memanggilnya, Nona. Saya pikir Anda telah hilang diculik. Pintu rumah juga terbuka. Terus ada…." Penjaga itu tak jadi melanjutkan perkataannya saat polisi itu menghampiri mereka.
"Selamat pagi. Saya dari kepolisian mendapat laporan kehilangan, apa itu benar?" tanya salah satu polisi itu.
"Maaf, Pak. Sebenarnya … penjaga rumah saya yang melaporkan. Dia mengira kalau saya diculik, padahal saya lagi menginap di rumah teman saya, Pak. Dan keluarga saya juga lagi liburan di luar kota, jadi maklum kalau penjaga rumah panik." Maya mencoba menjelaskan pada polisi itu.
"Berarti ini hanya kasus salah paham saja?" tanya polisi.
"Bisa dibilang begitu, Pak." Maya mencoba mengasih kode pada penjaga rumahya untuk menjelaskan pada polisi.
"I-iya … Pak! Saya yang telah melaporkan dugaan kehilangan itu. Tapi sekarang orangnya sudah balik, Pak. Jadi nggak perlu dilakukan penyelidikan lagi. Saya mohon maaf Pak!" kata penjaga itu sedikit gugup.
"Baiklah kalau begitu, kami undur diri," kata polisi itu lantas berjalan ke arah mobilnya kembali.
"Maaf, Nona Maya. Habis pembantu rumah saat datang pagi-pagi dia panik tidak melihat Nona," ujar penjaga itu membela diri. "Oh iya, Non. Tadi malam katanya juga ada polisi ke mari. Tapi mereka balik lagi. Mereka balik lagi setelah mendapat telepon dari seseorang."
"Gue yang nyuruh polisi itu balik, May. Lagian lo kan udah selamat ada di rumah gue," bisik Annie pada Maya.
"Oh My God!" Seorang tukang kebun rumah tampak terkejut setelah melihat sesuatu.
Maya menoleh cepat ke arah tukang kebun itu yang berdiri halaman bagian kanan. Mereka semua bergegas menghampiri tukang kebun itu. Mereka terkejut bukan main saat melihat seekor anjing tergeletak mati dengan mengenakan. Bagian kepalanya putus dan perutnya sobek seperti habis dicabik-cabik dengan benda tajam. Bahkan usus-ususnya ikut keluar. Baunya pun tak sedap membuat lalat-lalat mengerumuninya.
Mereka semua menurut mulut dan juga hidung.
"Siapa yang melakukan ini?" tanya penjaga rumah.
"Diam! Kau yang bertanggung jawab atas semua ini. Di mana kau tadi malam?" tanya Maya sedikit marah.
"Maaf, Non. Tadi malam kepalaku mendadak pusing. Aku mungkin pingsan setelah itu. Aku bangun-bangun tiba-tiba ada polisi datang." Penjaga rumah itu membela diri.
"Cepat beresin semua ini. Kubur anjingnya dengan layak dan bersihkan juga sisa-sisa darah ini!" perintah Maya lantas mengajak teman-temannya masuk ke dalam rumah.
"Tadi itu apa, May?" tanya Rio tak mengerti.
"Raksasa itu yang membunuhnya," jawab Maya sembari mengontrol diri untuk tidak muntah setelah melihat keadaan anjingnya tadi.
"Raksasa dalam dongeng?" tanya Nichole.
"Iya, Nic!" jawab Maya. "Ternyata kalian benar, kalau dongeng itu benar-benar buku terkutuk."
"Sekarang di mana buku dongengnya?" tanya Alex.
"Ada di atas. Di kamar!" jawab Maya.
"Lex, lo percaya?" tanya Rio menaikkan jidat.
Alex memandang Maya sebelum menjawab. "Tadinya enggak. Tapi, setelah melihat keadaan Maya. Mungkin apa yang mereka bilang itu benar," ujar Alex.
"Itu memang benar, Lex!" yakin Jay.
"Aku nggak mau kita membicarakan soal dongeng itu lagi." Maya menarik naps panjang. "Kurasa kita harus buang buku itu!" Maya menatap Annie bermaksud meminta persetujuan.
Annie mengangguk dua kali. "Iya, kita harus membuang jauh-jauh buku dongeng terkutuk itu!"
"Kalau begitu, ayo! Kita ambil bukunya di atas!" ajak Maya.
Mereka pun mulai menaiki tangga. Setelah tiba di depan pintu kamar, mereka masuk satu persatu. Dilihatnya kamar Maya yang berantakan. Maya merapikan kamarnya itu dibantu oleh Alex. Sembari itu, Maya mencari buku dongengnya. Namun, anehnya buku dongeng itu tidak ditemukan.
"Guys! Buku dongengnya hilang!" kata Maya pada teman-temannya.
"Hah? Kok bisa? Lo taruh di mana memang tadi malam?" tanya Nichole.
"Gue nggak inget. Gue melempar buku itu entah ke mana saat melihat buku itu memberikan ending yang berbeda. Lagipula, saat itu lampu kamar dalam keadaan mati."
"Kita coba ikut nyari!" usul Annie.
Mereka pun langsung mencarinya. Namun tak ada satupun dari mereka yang menemukannya.
"Apa mungkin buku itu tahu kalau kita akan membuangnya?" asumsi Nichole.
"Hah? Emang bisa begitu? memangnya bulunya punya telinga?" kata Rio bernada bercanda.
"Tapi bagus juga sih. Jadi kita nggak perlu sibuk memikirkan untuk membuangnya kan?" sahut Alex.
"Bener juga!" balas Maya.
"Kok perasaan gue nggak enak ya?" ujar Annie.
"Kurang gula kali. Coba sini aku kasih gula. Atau mau ciuman dari gue?" canda Jay.
Brakk!!!
Suara dari bawah tiba-tiba mengagetkan mereka. Mereka pun bergegas keluar kamar dan menuruni tangga.
***
TO BE CONTINUED