Malam ini, tepat malam Jum'at. Sesuai rencana, Annie dan teman-temannya berniat untuk mengembalikan buku dongeng yang mereka temukan beberapa hari yang lalu di sebuah tempat angker. Di tempat yang sama pula, mereka akan mengembalikannya sekarang.
Dua mobil melaju dengan kecepatan lumayan tinggi, menyusuri jalanan yang sepi penuh pepohonan. Tempat angker yang terletak jauh dari kota dan tepatnya di pinggiran hutan itu memiliki jalanan yang tidak rata. Mobil mereka berkali-kali berhenti tiba-tiba, namun untungnya mereka bisa memperbaikinya.
"Masih lama kah tempatnya?" tanya Annie pada Nichole yang tengah mengemudi. Gadis itu duduk di bangku depan samping Nichole, dan di bangku belakang ada Jay dan Veronica. Sedangkan di mobil satunya ada Alex, Maya, dan Rio.
"Bentar lagi sampai. Perasaan kemarin jalannya nggak seburuk ini deh." Nichole tampak kesal karena mobilnya itu beberapa kali sudah menabrak bebatuan di tengah jalan.
Annie melihat pemandangan luar dari balik kaca mobil. Di luar sana sangat gelap dan rindang. "Aku takut kita salah tempat," gumam gadis itu.
"Nggak mungkin, Ann. Gue yakin tempat di sini. Kalau ada sebuah papan penunjuk jalan, berarti benar tempatnya," ujar Nichole. "Jay coba kamu teliti setiap pinggir jalan," pintanya pada Jay yang berada di bangku belakang.
"Lo kira dari tadi gue tidur? Gue juga masih berusaha mengingat jalanannya sambil lihat kaca jendela," ujar Jay sedikit emosi karena sudah lelah dari tadi mereka hanya dihadangkan dengan bebatuan.
Dreet ... Dreett... Ponsel Annie terdengar bergetar. Ia mengambilnya dan melihat Maya yang menelpon.
"Halo, May?"
"Ann, ini bener nggak sih jalanannya. Coba tanya Nichole. Dari tadi Alex marah-marah nih gara-gara jalannya buruk banyak bebatuan," ujar Maya dari seberang telepon.
Annie melihat mobil temannya yang berjalan di belakangnya itu dari spion mobil.
"Kita nggak salah jalan kok, tenang aja!" Nichole menyahut pertanyaan Maya dengan suara kencang.
"Yakin lo, Nic? Awas aja kalau tersesat!" balas Maya.
"Percaya sama gue!" kata Nichole lagi sembari terfokus pada kemudinya.
"Eh, guys! Itu kayaknya papan penunjuknya!" Jay bersorak dari bangku belakang sembari menunjuk ke luar kaca mobil.
Mereka semua menengok.
"May, kayaknya kita sudah hampir sampai," kata Annie mengabari lewat telepon.
"Lo bener Jay, memang itu papan penunjuknya." Nichole membenarkan ucapan Jay. "Tapi, kayaknya mobil kita nggak bisa masuk deh," lanjutnya frustasi.
"Nggak bisa masuk gimana?" tanya Maya menyahut dari telepon.
"Nggak bisa gimana sih, Nic?" Annie ikut bertanya.
Nichole berusaha melajukan mobilnya lagi namun entah kenapa mendadak tidak bisa bergerak. " Sepertinya ada yang mengganjal di bawahnya. Kita turun aja dulu!" kata Nichole seraya mematikan mesin mobilnya.
"May, aku matikan dulu ya panggilannya," kata Annie pada Maya lewat ponselnya. Setelah itu gadis itu mematikan ponselnya.
Nichole turun dari mobil diikuti dengan Annie.
"Ah, mobil apaan sih yang lo punya ini? Mobil rongsok masih aja dipelihara!" umat Jay kesal sembari membuka pintu mobilnya. Lantas ia turun. Veronica juga ikut turun dari arah sampingnya.
Alex menghentikan mobilnya setelah melihat mobil Nichole berhenti di depannya. Dia, Maya, dan Rio kemudian turun dari mobil lantas berjalan menghampiri teman-temannya di depan sana.
"Kenapa? mogok?" tanya Alex setelah sampai di dekat Nichole.
"Nggak. Kita tidak bisa masuk ke dalam. Jadi mungkin kita meninggalkan mobil di sini dan kita jalan kaki ke sana," kata Nichole pada semuanya.
"Are you crazy?" Rio tampak menolak.
"Kenapa kita bisa lewat sini sih? Bukannya kemarin waktu kita datang ke nggak lewat sini?" tanya Maya heran.
"Gue juga nggak tahu kenapa jalannya berubah seperti ini, tapi memang ini tempatnya." Nichole berusaha membela diri.
Veronica memandangi sekitarnya. "Tapi memang benar tempatnya ini guys. Aku juga masih ingat ada papan penunjuk dan pohon besar tanpa daun itu!" Veronica menunjuk sebuah pohon besar tak berdaun dan di bawahnya ada papan penunjuk.
"Iya, kalau diingat-ingat memang benar ini tempatnya." Annie ikut membenarkan.
"Ya sudah sekarang daripada kita ribut, buruan kita ke sana, ke bangunan tua kemarin dan mengembalikan bukunya. Setelah itu selesai kita langsung pulang! Okay?" ujar Alex menengahi.
"Sekarang bukunya ada di mana?" tanya Rio tiba-tiba.
"Ada di tasku. Aku akan mengambilnya!" kata Annie. Lantas gadis itu bergerak ke arah mobil dan membuka pintu depan. Ia mengambil tasnya yang tergeletak di depan dan membukanya. Ia mencari-cari buku itu. "Guys! Bukanya nggak ada!" Annie menjadi panik setelah tidak menemukan buku dongeng itu di dalam tasnya.
"Nggak ada bagaimana?" Maya menghampiri Annie.
"Haduh... sekarang masalah apa lagi sih!" Rio tampak kesal dan ikut menghampiri Annie begitupun dengan yang lainnya.
"Lo yakin lo sudah taruh bukunya di dalam tas tadi?" tanya Maya pada Annie.
"Gue yakin banget, May! Nggak mungkin dong aku lupa membawanya!" tegas Annie sembari mencari-cari bukunya.
"Cari di bawah kursi mungkin jatuh," usul Nichole. Lantas ia menyalakan lampu mobil dalam.
"Coba aku bantu cari!" Veronica masuk ke dalam mobil. Ia menyalakan senter ponselnya untuk membantu penerangan. "Ini!" Veronica berhasil menemukan buku itu yang jatuh di bawah kursi mobil bagian belakang.
"Syukurlah!" Semua mengucap syukur.
"Bagaimana buku ini bisa jatuh? padahal tas ku aku tutup rapat, dan tadi pun masih tertutup rapat," heran Annie.
"Sudah jelas arwah dalam buku itu tahu kalau kita akan mengembalikan bukunya. Makanya dia mencoba menghalangi kita. Buktinya, jalanan yang awalnya mulus jadi seperti ini," kata Jay berasumsi.
"Mau sampai kapan kita berdebat?" Rio berkata di tengah-tengah mereka. "Malam sudah semakin gelap, sebaiknya kita buruan ke bangunan itu!" ujarnya lagi lantaran pria itu sudah mulai takut.
"Oke, ayo kita ke sana sekarang!" ajak Nichole.
Veronica menyerahkan bukunya pada Annie. Mereka pun berjalan bersama. Setiap orang menggunakan senter ponsel untuk menerangi jalanan. Setelah melewati rerumputan liar juga pepohonan, akhirnya mereka sampai di tempat yang mereka tuju. Namun, mereka dikejutkan hal aneh.
"Nggak mungkin!" Semuanya menggeleng tak mengira.
"Bagaimana bangunannya bisa hilang?" Jay tampak bingung.
"Tolong jangan bilang kita ke tempat yang salah!" Rio mulai tidak tenang.
"Kita di tempat yang sama, Rio. Aku juga nggak tahu bagaimana bisa bangunan tua itu menghilang begitu saja!" sahut Nichole.
"Gue juga merasa kalau memang tempatnya di sini." Alex ikut berkomentar.
"Tapi buktinya mana?" Maya terdengar emosi.
"Apa yang harus kita lakukan sekarang?" Veronica menatap Annie.
"Nggak mungkin kita membuang bukunya di sana. Nanti kalau-" Annie tak jadi melanjutkan perkataannya begitu matanya menangkap sebuah bayangan di antara pepohonan. "Sebentar, sepertinya ada orang di sana," kata Annie seraya menunjuk bayangan itu.
Mereka semua melihat bersamaan, dan memang benar ada bayangan sosok lelaki di sana yang berdiri hampir tertelan kabut malam.
"Kita coba tanya orang itu. Apakah dia tahu soal bangunan tua di sini atau tidak," usul Annie. "Bagaimana?"
"Yakin lo? Kalau itu manusia?" Rio tampak bimbang.
"Kita nggak akan tahu kalau kita nggak samperin," ujar Jay.
"Perasaanku nggak enak." Veronica terdengar gemetar.
"Please! Jangan menambah kita semakin takut!" sinis Annie pada adiknya itu.
"Ya udah kita beranikan diri aja tanya ke sana. Kalau pun dia bukan orang kan dia cuma sendirian, sedangkan kita bertujuh. So ... ngapain harus takut?" Nichole mencoba berani.
"Okay, ayo!"
Annie dan teman-temannya itu mulai melangkah, menghampiri bayangan yang masih berdiri menghadap ke depan sehingga mereka hanya bisa melihat dari belakang saja. Angin malam mulai menerpa sedikit kencang, membuat pori-pori mendirikan bulu roma. Udara malam itu benar-benar sejuk nan dingin seperti ada di tengah hutan. Suara hewan malam juga membuat suasana semakin seram.
"Pak, bolehkah kami bertanya? Apakah Bapak melihat bangunan tua di sekitar sini?" tanya Annie sedikit kencang setelah mereka hampir mendekat pada bayangan itu.
Kabut mulai menerpa mereka. "Pak, bisakah kau membantu kami?" tanya Jay sembari menepis kabut tipis dengan tangannya.
Bayangan sosok pria itu masih terdiam tak menjawab. Mereka mencoba memajukan langkahnya lagi lebih dekat.
"Gue ngerasa dia bukan manusia, guys!" bisik Rio seraya meraba lengannya guna mengusir ketakutan.
"Guys, sebaiknya kita mundur saja!" usul Maya yang mulai merasa tidak nyaman.
"Biar aku tanya lebih dekat saja!" ujar Jay sembari melangkah lebih dekat. Annie mengikutinya dari belakang.
"Halo, Pak! Apa kau mendengarku? Kami hanya ingin bertanya, Pak!" kata Jay.
"Pak apa kau melihat ada bangunan tua di sekitar sini?" tanya Annie untuk kesekian kalinya.
Namun pria itu masih membungkam tak merespon. Annie terheran, lantas ia melirik tangan pria itu. Gadis itu melotot saat menyadari pria misterius itu membawa sebuah benda tajam menyerupai pedang namun ukurnya lebih besar. Annie semakin tertegun begitu melihat tangan satunya yang menyongsong sebuah kepala manusia yang penuh darah.
Annie menarik jaket Jay bermaksud menunjukkan apa yang sedang dibawa oleh pria misterius tersebut.
"Oh my God!" Jay meneguk ludah begitu melihat pedang tajam serta kepada manusia berlumur darah di tangan pria itu.
Lantas, perlahan pria misterius itu mulai menggerakkan lehernya ke belakang. Ia menoleh, dan menatap Jay dan Annie dengan tatapan buas. Sudut bibirnya itu tersenyum sinis, mengandung seribu makna.
Jay dan Annie terkesiap melihat wajah pria itu yang beringas. Ada darah di mulutnya serta pipinya. Tatapan matanya juga begitu menusuk tajam.
"Kita harus segera pergi dari sini, Jay!" ajak Annie mulia panik.
Pria itu mulai membalikkan tubuhnya seutuhnya mengahadap Jay dan Annie. Pria itu mulai menggerakkan tangannya yang memegang pedang untuk diarahkan di wajahnya sendiri. Lantas, ia menjilat noda darah yang ada di bidang tajam pedang tersebut.
"Jay, buruan kita pergi!" Annie menarik tangan Jay dengan panik.
"Iya! Ayo!"
Jay dan Annie mulai membalikkan badannya dan berjalan pergi, namun pria itu mulai bereaksi. Jay dan Annie ketakutan saat menyadari pria itu mulai mengikutinya. Jay dan Annie berlari. Pria itu ikut mengejar.
"Guys lari!" Jay berteriak di antara kabut tipis yang menghadang malam itu.
Teman-temannya masih tak mengerti tentang aba-aba Jay. Mereka masih berdiri memandangi Jay dan Annie yang lari menghampiri mereka. Namun, mereka terkejut saat ada pria membawa benda runcing tengah berlari di belakang Jay juga Annie.
"Guys, buruan balik! Dia bukan manusia biasa!" teriak Annie pada teman-temannya.
"Lari! Lari ... lari....!" Alex memberi aba-aba dan mereka semua berbalik arah dan lari.
"Buruan kita lari!" Jay masih berteriak.
Mereka semua pun lari secepat kilat. Menerjang rerumputan liar juga bebatuan. Namun pria misterius di belakangnya juga tidak mau kalah. Ia terus berlari, bersamaan dengan itu, ia melempar kepala manusia berlumur darah ke arah mereka.
Brug! Sebuah kepala jatuh menggelinding tepat di depan mereka.
"Aaaa!" Veronica menjerit ketakutan.
"Ayo Veronica!" Rio menarik tangan Veronica dan mencoba mengajaknya tetap lari.
"Semuanya jangan ada yang pencar!" ujar Nichole dengan suara lantang.
Mereka bertujuh terus berlari tak memperdulikan apapun yang mereka terjang. Asal kaki masih bisa melangkah, mereka tetap mempercepat langkahnya. Tujuannya hanya satu, yaitu terbebas dari kejaran orang misterius pembawa pedang besar nan tajam.
Sesampainya di mobil mereka mereka segera menaiki mobilnya.
"Ayo semuanya naik!" Alex memberi aba-aba pada teman-temannya.
"Nic, Jay sama Annie mana?!" tanya Alex pada Nichole.
"Mereka masih belum sampai sini!" kata Nichole panik. "Mending lo buruan pergi, aku akan menunggunya di sini!" ujarnya.
"Tapi, Nic. Kami nggak bisa ninggalin kalian begitu saja!" Maya tampak menyangkal.
"Sudahlah! Kita akan bertemu di jalanan nanti." Nichole beralih menatap Veronica. "Kamu sebaiknya ikut mobil Alex. Biar aku yang menunggu Annie sama Jay!" ujarnya pada Veronica.
"Nggak. Aku akan tetap menunggu Kak Annie!" tolak Veronica keras kepala.
"Itu mereka!" sahut Rio.
"Jay! Annie! cepat!" teriak Nichole pada Jay dan Annie yang masih lari. Di belakangnya juga masih ada pria misterius itu.
"Lex, lo buruan kemudikan mobilmu!" pinta Nichole lagi.
"Sial!" Alex terpaksa harus menuruti perintah Nichole. Ia pun langsung mengemudikan mobilnya terlebih dahulu.
"Kak Annie! Ayo buruan!" teriak Veronica.
Annie dan Jay akhirnya sampai di mobil. Mereka berempat langsung buru-buru masuk mobil dan menutup pintunya. Jay bersama Nichole di bangku depan, sedangkan Annie dan Veronica di bangku belakang.
"Nic, buruan kemudikan mobilnya!" pinta Jay panik.
Nichole buru-buru menyetir mobilnya, namun sialnya ban mobilnya itu dihalangi oleh batu di bawahnya.
"Sial! Sial! Sial!!!" Nichole mengumpat kesal sembari terus mencoba melajukan mobilnya.
Sayangnya pria misterius sudah sampai di depan mobilnya. Mereka berempat ketakutan setengah mati di dalam mobil. Pria itu mulai mengitari mobil Nichole. Sampai di kaca belakang samping Annie, pria itu berhenti. Matanya melirik sebuah buku dongeng yang Annie pegangi.
Brak! Pria itu tiba-tiba menggedorkan kepalanya sendiri ke kaca mobil.
Dug! Dug! Dug! Berkali-kali kepalanya ia jedorkan hingga darahnya mulai keluar. Veronica dan Annie dibuat panik bukan main. Mereka berdua berpelukan erat.
"Nic, buruan!" kata Jay yang tidak sabaran.
Nichole berusaha sekuat tenaga. "b******n! come on ... come on!!!"
Akhirnya mobilnya itu mau melaju. Nichole segera mengencangkan mobilnya. Meninggalkan pria misterius jauh di belakang.
"Syukurlah!" Mereka semua tampak senang bisa selamat dari maut.
Namun, Veronica melotot saat melihat ke depan. "Kak!" katanya gemetar.
Di depan sana, tampak seorang pria berdiri di tengah jalan dengan membawa pedang. Mereka dibuat panik seketika. Tak peduli, Nichole tetap mengencangkan laju mobilnya. Hingga sampai pada pria itu, pria itu mengayunkan pedangnya pada kaca depan mobil. Namun Nichole juga terus mengencangkan mobilnya di atas rata-rata hingga menabrak pria di depannya itu. Tubuh pria itu terpental di atas mobil dan menggelinding jatuh.
Brak!
Tak peduli, mobil itu terus bergerak maju.
sesampainya di jalan utama, Nichole menghentikan mobilnya tiba-tiba saat melihat mobil Alex yang berhenti di tengah jalan. Mereka semua keluar mobil.
Alex, Maya, dan Rio menghampiri mobil Nichole yang berhenti.
"Kalian nggak apa-apa?" tanya Alex pada keempat temannya itu.
"Kami aman!" ujar Jay.
Maya dan Annie salin berpelukan. Kemudian bergantian dengan Veronica.
"Tadi aku menabrak pria itu!" kata Nichole sembari memandang bagian depan mobilnya yang sedikit peyok dan kaca depan mobilnya yang tergores benda tajam.
"Yang penting kalian selamat," kata Alex mencoba menenangkan.
"Tapi, Lex. Kenapa kalian berhenti di sini?" tanya Annie heran.
"Apa kalian berpikir akan pulang dengan buku itu lagi?" Alex membuat mereka bingung.
"Makaudmu?" tanya Jay.
"Kita sudah banyak merasakan teror. Sampai kapan kita akan mengalami semua ini. Aku sudah berjanji, buku itu harus lenyap sekarang juga!" ujar Alex sinis.
"Alex benar. Secepatnya kita singkirkan buku itu!" Rio menyetujui.
"Lalu, apa yang akan kita lakukan?" tanya Nichole.
"Membakarnya!" ujar Rio mantap.
"Exactly!" Alex membenarkan. "Kita harus membakarnya dan semua dongeng itu akan lenyap dan tamat untuk selama-lamanya!" imbuhnya.
"Kurasa itu ide bagus!" Jay tampak menyetujui.
"Baiklah sekarang bawa bukunya ke mari!" pinta Alex pada Annie.
Awalnya Annie tampak ragu, namun setelah ia berpikir tidak ada salahnya juga. Gadis itu segera berjalan menuju mobil dan mengambil buku dongengnya. Lantas bergerak kembali ke arah teman-temannya.
"Kita akan bakar di tempat sana!" ujar Rio sembari menunjuk pinggiran jalan yang kosong.
"Nichole siapkan bensin, dan Maya ambil korek api di mobil!" pinta Alex.
"Annie, mana bukunya!" Rio mengambil buku itu dari tangan Annie yang masih enggan. "Sudah cukup kau bermain-main dengan kami buku b******k. Sekarang, giliran ku untuk menunjukkan dongengnya!" tertawa sinis.
Lantas ia membawa buku itu ke pinggiran jalan. Teman-temannya mengikutinya dari belakang. Rio membanting buku itu di tanah dan menginjak-injaknya.
"Ini balasan karena telah berani membuat tanganku terluka!" Rio meludahi buku itu.
"Nic, mana bensinnya!" Rio mengulurkan tangannya ke arah Nichole.
Nichole memberi tabung bensin pada Rio. Rio langsung membuka tutupnya dan mengguyur buku dongengnya dengan bensin itu. "Sekarang, dongengnya akan tamat untuk selama-lamanya!" sinisnya.
Alex memberikan satu persatu sebuah kayu kering pada teman-temannya. "Guys, kita harus membakarnya bersama-sama," ujarnya.
Mereka mulai memegangi kayu kering itu. Maya juga mulai menyulutkan api satu persatu pada kayu-kayu yang dipegangi teman-temannya. Setelah apinya membara, mereka sama-sama melempar pada buku dongeng tersebut.
Terbakarlah buku tersebut hingga menjadi abu.
"Dongengnya sudah selesai. Happy ending!" kata Rio pada teman-temannya.
"Iya!"
"Kita sudah menyaksikan buku dongeng ini terbakar menjadi abu. Sekarang, mustahil buku itu bisa balik kembali! ujar Alex.
"Sebaiknya kita pulang sekarang!" ajak Maya.
"Ayo!"
Mereka pun segera masuk ke mobil dan pergi dari sana.
***
TO BE CONTINUED