Annie dan Veronica memasuki rumah bersama. Tiba di tangga ia disambut oleh ibunya yang baru dari dapur.
"Kalian dari mana?" tanya Megan pada mereka.
Annie buru-buru menyembunyikan tangannya yang kotor. "Mama sudah pulang?" katanya mengalihkan perhatian.
"Iya, tadi pagi-pagi sekali Mama pulang." Megan memperhatikan kedua anaknya itu yang terlihat berbeda. Mereka seperti sudah dekat kembali. "Kalian dari mana?" tanyanya lagi.
"Mm ... kami...." Suara Veronica terbata-bata.
"Kami tadi lagi mengecek tanaman-tanaman, Ma!" ujar Annie cepat. Gadis itu tersenyum sumbang.
"Oh.... ya sudah, kalian bersiap-siap dulu. Nanti kita sarapan bareng, Mama lagi menyiapkan makanan nih," seru Megan. "Oh iya, kalian masuk kuliah, kan?" tanyanya kemudian.
Kedua gadis itu mengangguk serempak. "Iya, Ma!" Setelah itu mereka bergegas menaiki tangga dan memasuki kamar Annie. Mata mereka langsung terfokus pada buku dongeng yang tergeletak di sampingnya ranjang.
"Apa yang harus kita lakukan sekarang, Kak? Aku takut kalau buku itu akan meneror kita lagi." Veronica memegang lengan Annie dengan cemas.
"Aku juga tidak tahu apa yang harus aku lakukan pada buku itu. Nanti kita diskusikan sama teman-teman kalau sudah di kampus." Annie menatap adiknya. "Kamu buruan siap-siap. Kalau masih takut ke kamarmu, kamu boleh kok, pakai kamar mandiku," serunya.
"Nggak usah, Kak. Aku coba beranikan diri aja." Veronica tersenyum, lantas berjalan keluar kamar.
Annie masih terfokus pada buku dongeng itu. Ia semakin geram dibuatnya. "Sebenarnya, siapa pemilik buku ini? Kenapa bisa ada kekuatan supernatural di dalamnya? Kenapa setelah membaca dongengnya orang itu akan diteror dan menjadi tokoh dalam dongengnya?"
Gadis itu berjalan mendekat, lalu menunduk dan mengambil buku tersebut. Ia memperhatikannya. "Drama buku ini harus segera diakhiri!" Annie buru-buru membawa buku dongeng itu dan memasukkannya ke dalam tas kuliah. Ia sudah muak dengan semua ini. Satu persatu dari mereka sudah merasakan teror yang berbeda-beda dari buku dongeng itu.
***
Setelah bersiap, Annie dan Veronica tampak tergesa-gesa berjalan menuruni tangga.
"Sarapan sudah siap. Ayo kita sarapan dulu," seru Megan pada kedua putrinya itu.
"Iya, Ma!" jawab Annie dan mengajak adiknya untuk sarapan terlebih dahulu.
Selesai sarapan Annie dan Veronica tampak berbincang di dekat mobil. Megan yang baru menyelesaikan pekerjaan merapikan meja makan, bersiap untuk mengantar kedua anak gadisnya ke kampus. Wanita itu melihat putri-putrinya itu yang tengah berbincang.
"Aku tidak mengerti, saat aku tinggal tadi malam mereka menjadi akrab lagi. Apa yang telah terjadi semalam sehingga mereka melupakan kebencian masing-masing?" Megan tampak berpikir. "Tapi syukurlah. Aku senang melihat mereka bersama-sama lagi." Megan tersenyum kemudian mengunci pintu rumahnya. Lantas wanita itu berjalan menghampiri anak-anaknya.
"Sudah siap?" tanyanya ramah.
"Iya, Ma! Ayo!" kata Veronica yang disahut anggukan Annie.
Mereka berdua segera masuk ke dalam mobil. Megan juga masuk setelah mereka. Mobil pun melaju menuju kampus.
***
Pada jam istirahat, anak-anak sudah berkumpul di taman kampus. Di sana sudah ada Maya, Alex, Jay, Nichole, dan Rio. Hanya Annie saja yang belum kelihatan. Alex dan Rio juga sudah tampak membaik luka-lukanya, namun Rio masih memakai perban di lengannya. Mereka semua duduk di kursi-kursi yang melingkar dan di depannya terdapat meja bundar.
"Annie lama banget sih? Katanya dia bilang ada yang ingin dibicarakan," kata Nichole seraya menengok ke sekitarnya.
"Sabar. Maybe dia belum selesai kelasnya," ujar Maya sembari memainkan handphone.
"Oh iya, Rio ... lo kenapa bisa nekat sih baca buku dongeng itu?" ucap Jay pada Rio.
"Gue penasaran aja. Ternyata ... hasilnya buruk sekali. Keadaanku jadi seperti ini," kata Rio bernada menyesal sembari memandangi lengannya yang masih diperban.
"Lagian sih, lo pakai bawa buku itu segala. Harusnya biarin terbuang di jalanan kemarin." Alex ikut berkomentar.
Nichole ikut menatap Rio. "Eh Bro, soal ibumu gimana? Ya bukan maksud gue mau ikut campur masalah keluarga lo, tapi ... kita sebagai teman turut prihatin sama lo," katanya.
"Kalau masalah itu sudah kelar. Kalian percaya nggak, setelah membaca dongeng Malin Kundang, gue jadi takut. Makanya, gue mau maafin ibu gue. Dan sekarang ... ayah gue sama ibu berencana mau nikah," terang Rio.
"Bagus, dong. Lo sekarang punya orang tua lengkap!" komentar Maya.
"Iya, sih. Tapi ... ibu kandung gue juga punya anak dari suami pertamanya. Anaknya cowok. Yang bikin gue kesel, kemarin dia kayak deketin Veronica mulu. Gue takut dia ngambil Veronica dari gue." Rio berkata dengan nada kesal.
"Tumben lo takut kesaing. Biasanya ... lo paling terdepan kalau soal cewe. Memangnya dia jauh lebih keren dari lo?" tanya Jay.
"Elah.... gantengan gue kemana-mana lah!" bela Rio dengan bangga.
"Jangan sok deh! Muka lo kayak tikus kecebur got!" hardik Nichole seraya tertawa.
"Daripada lo, kayak kucing abis diusir majikan! Hahaha!" balas Rio membuat teman-temannya tertawa.
"Eh, guys. Itu Annie!" tunjuk Alex seraya memandang ke arah jalanan taman.
Mereka semua menoleh, memandangi Annie yang berjalan terburu-buru ke arah taman.
"Dan juga bidadari surga!" seru Rio setelah melihat Veronica di belakang Annie. Rio tersenyum, hatinya terpesona saat melihat rambut Veronica yang panjang itu terurai diterpa angin tipis.
"Kalau halu jangan maksimal!" Nichole menyadarkan Rio dengan mengusap kasar wajahnya.
"Ann!" Maya berteriak pada Annie. "Kita di sini!" sambungnya lagi seraya melambaikan tangan. Ia menurunkan tangannya kembali begitu Annie melihatnya dan berjalan cepat menghampirinya. Maya mengerutkan keningnya, ia merasa heran dengan kedekatan Annie dan Veronica yang terlihat akur.
Annie dan Veronica telah sampai di sana. Mereka mempersilakan kedua kakak beradik itu duduk terlebih dahulu, sebelum akhirnya Alex bertanya.
"Kenapa, Ann? Kok kayak ada masalah serius dari raut wajahmu?" tanya Alex.
"Dia habis ngerjain tugas kali, makanya mukanya masam!" timpal Jay.
Annie tak mau membalas candaan Jay. "Guys, kita harus secepatnya menyelesaikan masalah buku ini." Annie mengeluarkan buku dongengnya dan menaruhnya di atas meja. "Tadi malam Veronica diteror setelah membaca dongengnya."
"Kamu nggak apa-apa kan Veronica?" tanya Rio cemas.
Veronica tersenyum. "Aku baik-baik saja."
Annie kembali berbicara. "Tadi malam gue dan Veronica mencoba mengubur buku ini. Tapi, tadi pagi buku ini tiba-tiba ada di bawah kolong tempat tidur gue. Dan saat kami membongkar kuburannya, isinya malah tulang-tulang binatang!" jelas Annie membuat mereka tertegun.
"Kalian merasa aneh nggak sih. Buku ini itu hanya mengincar kita!" kata Nichole membuat pandangan teman-temannya beralih padanya.
"Maksudmu?" tanya Rio tak mengerti.
"Coba kalian pikirkan. Kita yang menemukan buku ini, dan kita juga yang diteror. Maksudnya, walaupun buku itu awalnya hilang, tapi tetap ada di tangan kita. Dan kita tetap saja membacanya dan diteror. Itu berarti, buku ini sengaja membuat kita merasakan satu persatu terornya," terang Nichole membuat mereka terdiam.
"Tapi apa kesalahan kita? Hanya karena membacanya, kenapa kita diteror habis-habisan?" heran Maya.
"Karena kita yang membawanya dari tempat angker itu!" sahut Rio.
"Dan satu-satunya jalan ... kita harus mengembalikan buku ini ke tempat angker itu," usul Annie. "Siapa tahu, kalau kita mengembalikan buku dongeng ini ke tempat semulanya dan meminta maaf pada penunggu tempat angker itu, kita bisa terbebas dari semua teror," lanjutnya.
"Aku setuju sama Kak Annie!" sahut Veronica.
"Ya sudah. Kita sudah putuskan kalau kita bakalan mengembalikan buku ini ke tempat asalnya. Lebih cepat akan lebih baik. Bagaimana kalau nanti malam?" usul Jay.
"Lo yakin, Jay? Nanti malam kan malam Jum'at!" Rio tampak protes.
"Kita nggak bisa menunda lagi, Rio!" ujar Jay ngotot. "Iya kan teman-teman?"
"Jay benar!" Alex angkat bicara. "Secepatnya buku itu lepas dari kita itu lebih baik." Alex menghela nafas. "Guys, apa kalian tidak rindu dengan kehidupan kalian seperti dulu? Kita semua bersenang-senang. Kita traveling, party, ketawa bareng, kalian nggak rindu? Kalian nggak bosen terus mikir soal hantu dan buku itu?"
"Alex dan Jay benar. Kita selesaikan semuanya malam ini!" tekan Maya. "Bagaimana?"
Mereka semua mengangguk setuju.
"Kita melakukan bersama-sama, jadi kita juga harus mengembalikan buku ini bersama-sama," pungkas Annie.
"Sial!" Rio mengumpat kesal.
"Kenapa lo? Nggak setuju?" tanya Nichole pada Rio.
"Bukan begitu, tuh lihat!" Rio menunjuk ke arah pria yang tengah menarik perhatian semua gadis-gadis kampus. "Itu yang gue ceritain tadi, adik tiri gue. Namanya Sammy. Lihat, bagaimana dia sok keren di depan gadis-gadis," umpat Rio kesal.
Mereka semua memandangi pria tampan berjaket dengan kombinasi kaus putih itu. Pria itu telah menjadi pusat perhatian semua orang yang ada di taman itu. Terutama para gadis-gadis.
"Ngapain adik tirimu ke sini?" tanya Jay.
"Dia mau pindah kuliah di sini. Kayaknya dia tadi baru daftar ulang," ujar Rio seraya memandangi adik tirinya itu dengan kesal.
"Terus diterima begitu saja sama rektor?" Annie keheranan.
"Gue juga nggak tahu. Kayaknya dia pakai jalur orang dalam. Setahuku ayah dia kan juga seorang dekan di kampusnya, dan mungkin punya hubungan erat sama para pejabat kampus sini. Bener-bener sialan memang!" kesal Rio dengan tangan mengepal.
"Kalau boleh jujur, dia memang lebih tampan dari lo, hahaha!" canda Annie membuat Rio dan Jay berwajah kecut.
"Lihat, dia mau ke sini!" bisik Alex pada semuanya.
"Keterlaluan!" Rio mengadu gigit.
Sammy tampak tersenyum, apalagi saat melihat Rio bersama teman-temannya. Pria itu langsung berjalan menghampiri mereka. Sesampainya di sana, Sammy menyapanya.
"Hi!" sapa Sammy ramah. "Kak Rio, aku boleh gabung nggak?" tanyanya polos.
Rio hendak menolak, namun Veronica tiba-tiba berbicara.
"Boleh kok!" seru Veronica. "Duduk saja sini! Bolehkan?" Veronica memandang mereka semua bermaksud meminta izin. Mereka semua mengangguk kecuali Rio yang masih kesal.
"Eh, Veronica? Kita ketemu lagi, hehe." Sammy duduk di sebelah Veronica seraya memamerkan senyumnya.
"Wahh ... kau punya saingan, Bro!" bisik Nichole tepat di telinga Rio.
"Kenalin, namaku Samuel Johnson. Tapi kalian bisa memanggilnya Sammy agar lebih akrab, hehe." Sammy mengenalkan diri pada mereka. Hal itu membuat Rio muak.
"Sammy, kenalin ... ini kakakku, Annie!" seru Veronica mengenalkan Annie pada Sammy. Annie pun mengatakan 'Hi' pada Sammy. Kemudian Veronica lanjut mengenalkan yang lainnya.
"Itu Kak Maya, Kak Alex, Kak Jay, dan Kak Nichole."
Mereka semua tersenyum setelah mengatakan 'Hi' pada Sammy.
"Kamu pindah kuliah di sini ya?" tanya Veronica pada Sammy.
"Iya. Barusan, dan syukurnya langsung diterima. Bahkan besok sudah bisa mulai perkuliahan," jawab Sammy.
"Kamu ngambil jurusan apa?"
"Sosiologi!"
Veronica dan Sammy tampak mengobrol bersama, sedangkan yang lainnya hanya mendengarkan.
"Apinya semakin membara di sini!" sindir Nichole pada Rio yang muak dengan kedekatan antara Veronica dan Sammy.
"Kayaknya bakalan meledak bomnya," bisik Jay membuat semuanya tertawa dalam diam.
***
TO BE CONTINUED