Mengubur Dongeng

2235 Words
Dreett… Dreet… Suara getar ponsel telah mengganggu tidur Annie. Gadis membuka matanya malas, lantas membangunkan tubuhnya setelah bermimpi nyenyak. Ia meraba-raba nakas, meraih ponsel yang terus bergetar. Annie melihat nama Rio yang menghiasi layar ponselnya. "Kenapa Rio menelpon malam-malam begini?" gumamnya setelah melihat waktu di ponselnya itu sudah pukul sebelas malam. Annie mengangkatnya, seraya mencoba mengumpulkan nyawanya. "Ada apa?" tanyanya dengan suara malas. "Sorry, Ann. Gue ganguin elo malam-malam begini. Soalnya penting. Gue mencoba hubungi Veronica tapi nggak diangkat," kata Rio dari seberang sana. "Sudah tidur mungkin. Lo mah aneh-aneh, kalau mau godain dia ya inget waktu lah. Ini tuh udah jam sebelas ke atas, udah waktunya orang pada tidur," ujar Annie. Suaranya masih terdengar malas, ia juga menggesek rambutnya malas. "Sudah, mending lo tidur aja. Kayak nggak ada hari besok aja!" imbuhnya seraya menguap. "Syukurlah kalau Veronica memang sudah tidur." Suara Rio terdengar lega. "Oh iya, Ann. Awalnya gue nggak mau cerita, tapi entah kenapa perasaan gue memaksa untuk cerita semuanya ke elo," ujar Rio membuat Annie bingung. "Ada apaan?" tanya Annie dengan jidat berkerut. "Sebenarnya… gue yang kemarin nemuin buku dongeng itu, Ann. Gue nemuin di jalanan waktu malam-malam mabuk. Sehari setelah Alex diteror, malamnya gue baca buku dongeng itu. Dan gue benar-benar diteror, Ann. Sama seperti kalian yang juga diteror setelah membaca buku dongeng kematian itu." Annie melotot saat Rio menceritakan semua itu. "Hah? Serius lo? Terus keadaan lo bagaimana sekarang? Lo nggak apa-apa, kan?" Suara Annie berubah panik. "Gue nggak apa-apa, kok. Yah, hanya luka kecil saja dan sudah diperiksa dokter. Makanya, tadi aku nggak masuk kuliah." "Syukurlah kalau begitu. Terus, buku dongengnya sekarang ada di mana?" tanya Annie kemudian. "Bukannya sudah ada sama lo? Tadi pagi Veronica menjengukku, dia minta buku dongeng itu dariku. Katanya, dia mau ngasih ke elo karena memang lebih baik lo yang nyimpan buku itu. Memangnya belum dikasih ya?" Rio balik tanya. "Sumpah, anak itu nggak ngasih apa-apa ke gue!" Rasa kantuk Annie kini lenyap seketika. "Berarti masih dibawa Veronica dong? Ann, jangan sampai adikmu itu baca buku dongengnya!" ujar Rio menegaskan. "Aaaaa!" Suara teriakan Veronica menembus sampai ke kamar Annie. "Veronica!" kaget Annie. "Rio, sudah dulu ya. Veronica teriak-teriak." "Hah?" Annie buru-buru mematikan ponselnya dan beringsut dari ranjangnya. Ia segera bergegas keluar kamar dan berlari ke arah kamar adiknya. Tiba di depan pintu, ia menggedor-gedor daun pintu kamar Veronica. "Veronica! Are you okay?!" Dari dalam, Veronica bisa mendengar suara kakaknya. "Kak Annie, tolong aku! Ada monster yang ingin membunuhku!" Annie semakin panik. Di rumahnya itu saat ini hanya ada dirinya juga Veronica. Sedangkan ibunya ada acara dengan temannya dan mungkin besok pagi-pagi sekali baru pulang. Annie mencoba mencari cara untuk membuka pintu kamar adiknya itu. Ia berlari menuruni tangga dan kembali lagi membawa sebuah tongkat besi. Annie langsung menghancurkan kenop pintu kamar itu. Terbuka! Memperlihatkan kamarnya yang gelap dengan aroma mawar yang semerbak. Veronica muncul dari sana dan langsung memeluk Annie. "Kak Annie!" Suara Veronica begitu gemetar. "Veronica?" Annie terkejut melihat tubuh adiknya yang berantakan dan penuh luka-luka. "Kamu nggak apa-apa kan?" tanyanya. "Ada monster di sana, Kak!" Veronica menunjuk kamarnya yang masih gulita. Annie melangkah masuk ke kamar. Ia berjalan menuju arah saklar lampu dan menyalakannya. Kini kamar itu menjadi terang. Namun, ia tak menemukan sosok apapun di dalam kamar bahkan monster yang Veronica katakan itu tidak ada. Annie langsung terfokus pada buku dongeng yang tergeletak terbuka di atas ranjang. Ia mulai melangkah, memperhatikan buku dongeng tersebut dan mengambilnya. "Beauty and The Best." Annie membaca judul ceritanya. Setelah itu, lampu kamar tiba-tiba meredup namun tidak mati sepenuhnya. "Kak Annie," suara Veronica gemetar dari belakangnya saat melihat rambut panjang Annie seperti tertiup angin. Annie melirikkan bola matanya ke samping. Ia masih terdiam di tempat saat melihat beberapa rambutnya bergerak. Tiba-tiba, sreettt… Bagai ada yang menarik rambutnya dengan kencang, tubuh Annie ikut terpental hingga menghantam dinding dan terjatuh lagi. "Kak Annie!" teriak Veronica histeris. "Jangan mendekat!" Annie berteriak pada Veronica ketika adiknya itu hendak menghampirinya. Brak!! Tubuh Annie kembali terseret dan menghantam dinding lagi. Di kamar itu seperti ada energi entitas yang kuat dan ganas. Setelah tubuh Annie terjatuh ke lantai, ia mencoba bangun. Menegakkan tulang-tulangnya yang hampir patah. Veronica menghampirinya dan membantunya berdiri. Lima langkah dari mereka, tergeletak buku dongeng di atas lantai. Buku tersebut berputar-putar dan lampu kamar menjadi berkedip-kedip. Annie dan Veronica saling memeluk, matanya terfokus memperhatikan buku dongeng yang terus berputar. "Kita harus segera pergi dari sini!" Annie menggandeng tangan Veronica dan mengajaknya bergegas dari sana. Namun, tiba-tiba Veronica terjatuh, tubuhnya terseret ke belakang dan melayang terpental menatap dinding. "Veronica!" Annie hendak berlari ke arah adiknya, namun langkahnya terhenti saat sebuah makhluk besar tiba-tiba keluar begitu saja dari dalam buku dongeng. "Kakak, dia monsternya!" teriak Veronica sembari mencoba membangunkan tubuhnya. "Belle?" Monster buruk rupa itu berkata pada Annie. Gadis itu dibuat gemetar melihat monster bertanduk dan berbulu lebat di depannya. "Belle? Kau kah itu?" tanya Monster itu dengan suara besar ke arah Annie. "Kak! Lari dari sana!" pinta Veronica. Awalnya Annie tidak mau meninggalkan adiknya, namun saat Monster itu mencoba meraihnya, ia bergegas lari keluar kamar. Monster buruk rupa itu mengejarnya. Veronica mencoba meraih buku dongengnya, dan ikut mengejar mereka. Annie berlari secepat kilat menyusuri lorong kamar dan menuruni tangga. Ia menengok ke belakang, terkejut saat Monster itu melompat ke arahnya. "Kau tidak bisa lari dariku, Belle!" kata monter itu. "The Beast!" Veronica berteriak di pangkal tangga saat melihat monster itu hendak menerkam kakaknya. "Dia bukan Belle. Akulah Tuan putri Belle! Aku telah menipumu dan mengaku sebagai penyihir. Sebenarnya, akulah Belle! Ke mari dan tangkap aku!" bentak Veronica. Monster itu berubah pikiran. Ia tidak jadi menerkam Annie dan memilih untuk menghampiri Veronica. Ia meloncat, menaiki tangga dengan kukunya dan bergerak cepat ke arah Veronica. "Veronica!" Annie berteriak dari bawah sana. Kuku-kuku monster itu sudah tak sabar mencicipi darah segar Veronica. Ketika ia hendak menerkamnya, Veronica langsung membuka buku dongengnya dan mengarahkannya pada Monster itu. Keajaiban terjadi, Monster itu masuk ke dalam buku dongeng dan Veronica menutupnya rapat-rapat. Buku itu terjatuh. Annie bergegas menaiki tangga. Ia memeluk adiknya yang masih gemetar di sana. "Kamu tidak kenapa-kenapa?" tanyanya cemas. Veronica menggeleng. "Aku nggak apa-apa, Kak." Mereka berpelukan. "Sekarang, apa yang akan kita lakukan dengan buku itu, Kak?" tanya Veronica setelah mereka meluapkan ketakutannya. "Kita harus segera membuangnya!" Annie mengambil buku dongeng itu. "Ayo ikut aku!" ajaknya. Kakak beradik itu menuruni tangga dengan tergesa-gesa. Mereka berjalan menuju pintu belakang rumah. "Cari kuncinya!" pinta Annie pada Veronica. Veronica bergegas, menuju dapur dan mengambil kunci belakang rumah yang biasa diletakkan di dekat dapur. Setelah mendapatkannya, ia segera memberikannya pada Annie. Gadis itu membuka pintu belakang rumahnya. "Kita mau ke mana, Kak?" tanya Veronica tak mengerti. Ia ketakutan saat memandangi belakang rumahnya itu yang gelap dan banyak tertanam pohon-pohon. Annie tak menjawab, ia bergerak mengambil dua sekop yang berada di sudut tembok. Ia memberikan satu sekop itu pada adiknya dan satu untuknya. "Pegang ini!" suruh Annie pada Veronica. Veronica yang masih tak mengerti, menurut saja apa yang dikatakan kakaknya itu. "Ikuti aku!" ujar Annie kemudian. Ia berjalan menuju bagian belakang rumah sana. Veronica mengikutinya. Mereka berjalan menepik rerumputan liar yang sudah meninggi di belakang rumah. Di sana sangat sepi, dan gelap. Angin sepoi-sepoi mengiring dedaunan dan menerpa kulit mereka. Tiba di sebuah pohon besar nan rindang, Annie menghentikan langkahnya. Ia menatap ke arah Veronica dan berkata, "Kita akan timbun buku ini di sini." "Apa Kakak yakin?" Veronica masih ragu. "Iya. Ayo cepat kita gali lubangnya!" Mereka berdua segera menggali lubang tepat di bawah pohon besar menggunakan sekop. Angin malam semakin kencang menerpa, menembus pori-pori dan memaksa bulu roma untuk berdiri. Namun, hal itu tak membuat keduanya goyah. Mereka terus terfokus menggali lubang. Setelah dirasa cukup dalam, Annie segera meletakkan buku dongengnya ke dalam lubang. Lantas, mereka menguburnya. Setelah tertimbun, kedua gadis itu menginjak-injak tanahnya agar padat kembali. "Semuanya sudah selesai," seru Annie pada adiknya. Mereka pun berpelukan sebelum akhirnya enyah dari sana. Sesampainya mereka di rumah, mereka mengunci pintu belakang rapat-rapat. "Mama kenapa belum pulang, Kak?" tanya Veronica cemas. "Mungkin besok pagi dia pulang. Kamu nggak usah khawatir," kata Annie mencoba menenangkan adiknya. "Aku takut tidur di kamar lagi, Kak. Bagaimana kalau monster itu datang lagi?" "Kamu nggak usah takut. Kamu boleh kok tidur di kamarku malam ini." Annie memegang tangan Veronica. "Tapi aku obati dulu lukamu ya. Ayo!" Annie menggandeng adiknya menuju ke kamar atas. Sesampainya di kamar Annie, mereka segera masuk. Annie mengunci kamarnya, setelah itu menuju ke saklar dan menyalakan lampunya. "Duduklah dulu!" pinta Annie, lantas ia bergerak menuju ke arah meja. Ia mencari obat-obatan dan antiseptik di laci meja. Setelah itu dia menghampiri adiknya yang duduk di ranjang. "Luka bakarnya cukup parah. Kulitmu melepuh dan banyak goresan benda tajam, besok kita ke dokter ya?" kata Annie sembari mengaplikasikan obat anti nyeri pada luka Veronica. "Ahh!" Veronica menjerit kesakitan. Wajahnya itu menjadi rusak sebagian. "Sakit, ya! Kok bisa seperti ini sih? Padahal aku dulu waktu diteror nggak separah ini." Annie mencoba sebaik mungkin merawat luka-luka adiknya. Baru kali ini mereka terlihat akur kembali setelah setahun lamanya tidak saling sapa. "Kak, apa yang akan kita katakan pada Mama besok? Mama pasti akan bertanya soal luka-luka ini," ujar Veronica cemas. "Besok biar aku yang jelasin." Annie tersenyum. "Sekarang kamu istirahat tidur dulu. Jangan buat berbaring pasti sakit, kamu tidur bersandar saja, ya!" saran Annie. "Iya, Kak." Mereka pun menata posisi masing-masing untuk tidur. *** Keesokan harinya … Mentari bersinar terang menembus ventilasi kamar dan mencoba untuk masuk ke dalam. Veronica membuka matanya perlahan. Ia melirik kakaknya di sampingnya yang masih terlelap. Kemudian, ia mencoba menggerakkan tubuhnya. Tubuhnya itu terasa pegal-pegal. Gadis itu bergerak ke arah jendela. Ia membukanya dan membiarkan sinar sang surya mengekspos kamar. Angin pagi tampak sejuk kala itu. Setelah membuka semuanya, lantas ia bergerak menuju meja rias. Veronica duduk di kursinya. Ia menatap cermin yang memantulkan wajahnya. Kening gadis itu berkerut saat melihat wajahnya sendiri. Aneh, harusnya wajah gadis itu penuh luka-luka goresan juga lebam. Namun, semua luka itu sudah mengering. Veronica meraba wajahnya, semua bekas luka mulai berjatuhan dan wajahnya mulus kembali. Rasanya juga sudah tidak sakit lagi. Bagaimana bisa lukanya itu bisa sembuh hanya dalam beberapa jam? "Kamu sudah bangun?" Suara Annie mengagetkan Veronica. Gadis itu menoleh ke arah ranjang. Ia memperhatikan kakaknya yang mencoba merenggangkan otot-otot tangannya. "Kak!" panggilnya. "I-" Annie terdiam saat melihat wajah Veronica yang baik-baik saja. "Kak, kok luka-lukanya sudah nggak ada? Apa aku tidak salah lihat?" tanya Veronica sembari meraba pipinya. Annie beringsut dari ranjang. "Iya, wajahmu kembali normal seperti biasa," kata Annie. Annie bergerak ke arah Veronica. "Memang seperti itu sih. Nichole juga sepertimu, tapi dia masih merasa sakit katanya setelah bangun tidur. Kalau kamu?" tanyanya. "Nggak. Hanya pegal-pegal di tubuh saja." Veronica kembali menatap cermin. Tangannya itu masih meraba kulit wajahnya. "Rasa sakit yang seperti tadi malam sudah nggak berasa lagi sekarang," imbuhnya. "Kalau Jay malah dia nggak merasa sakit tapi ada bekas lukanya. Semua beda-beda sih. Bahkan Alex sampai masuk rumah sakit," ujar Annie. "Kemarin aku lihat Rio juga lukanya membekas, Kak." "Sudahlah. Yang penting, wajahmu itu sudah kembali seperti semula, kan?" Annie tersenyum ke arah Veronica. Lantas ia beralih menuju jendela kamar. Ia merasakan begitu segarnya udara pagi itu. Veronica tersenyum gembira sambil terus memandangi wajahnya di cermin. Namun, begitu melihat bagian dekat telinganya, bibirnya menjadi mengerucut. "Tapi masih ada yang lebam sedikit sih, Kak," katanya. "Parah nggak?" tanya Annie. "Enggak kok. Nggak sakit juga." "Ya sudah kamu tutupi pakai make up saja. Kalau mau pinjam make-u ku boleh kok!" seru Annie. "Thank you, Kak!" Veronica segera mengambil alat make up di meja kakaknya. Ia membukanya dan mengambil kuas. Ia terapkan make up pada bekas lebamnya itu hingga tak terlihat kembali. Saat Veronica melihat-lihat wajahnya lagi, ia tak sengaja menjatuhkan kuasnya. Kuas itu menggelinding sampai ke bawah kolong ranjang. Veronica berniat mengambilnya, ia menyingkap selimut yang hampir jatuh dan mengangkatnya. Lantas, ia berusaha melihat ke mana larinya kuas itu. Namun, saat ia melihat ke dalam kolong tempat tidur, Veronica terkesiap dan spontan menggeser tubuhnya mundur. "Ada apa?" tanya Annie keheranan. Veronica tak mampu berkata-kata. Ia hanya menunjukkan telunjuknya ke arah kolong ranjang. Annie bergerak, bermaksud melihat apa yang sebenarnya terjadi. Ia menengok ke dalam kolong. Sama seperti adiknya, gadis itu juga terkesiap. Tangannya itu meraba ke dalam, lantas mengeluarkannya lagi beserta sebuah buku lusuh bersampul hitam. Buku yang sama, yang ia kubur tadi malam. Dongeng kematian! "Bagaimana ini mungkin?" Annie menggeleng berkali-kali. Lantas ia bergerak, berlari keluar kamar tergesa-gesa. Veronica mengikutinya. Annie berlari menuju ke belakang rumahnya. Tepat di bawah pohon, Annie membongkar tempat yang sama yang ia gunakan untuk menimbun buku dongengnya. Ia mengaisnya dengan tangan. Sementara Veronica yang baru sampai di sana hanya terdiam melihat aksi kakaknya dengan memasang wajah ketakutan. "Nggak mungkin! Nggak mungkin!" Annie terus menggali seraya terus menggelengkan kepalanya. Sampi di dasar, Annie dikejutkan dengan tulang-tulang belulang yang berbau busuk. Bukannya buku yang ada di sana melainkan tulang-tulang binatang yang sudah tua. Namun tengkoraknya masih utuh. Annie menggeser tubuhnya. Veronica membantunya berdiri. Mereka saling terbatuk-batuk saat bau anyir dan busuk menyambar indra penciumannya. "Bagaimana sekarang, Kak?" Veronica tampak ketakutan. "Aku juga tidak tahu!" Annie membersihkan tangannya yang tertempel tanah-tanah kotor. "Kita pergi saja, Kak!" "Iya!" *** TO BE CONTINUED
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD