Veronica berbalik, hendak pergi dari istana gelap itu. Namun, tiba-tiba gerbang pintu istana tertutup. Bersamaan dengan itu, terdapat sebuah tulisan besar bernoda darah yang masih segar.
"KAU SUDAH DATANG, JADI KAU HARUS MENJADI BAGIAN DARI DONGENG KEMATIAN INI! KARENA SIAPAPUN YANG SUDAH MEMBACA DONGENG KEMATIAN, DIA HARUS MENJADI BAGIAN DARI DONGENGNYA!"
"Tidak! Tidak!" Veronica menggeleng berkali-kali. Gadis itu panik, menggedor-gedor tembok besar gerbang istana, namun tak mau juga membuka. Ia menoleh ke belakang. Telinganya itu merasakan derap langkah kaki yang begitu besar dan merasuk sampai ke ulu hati.
Veronica mengarahkan senternya ke depan, memeriksa sesuatu yang menghampirinya. Gadis itu tersentak kaget, saat sebuah siluet hitam besar tambak berjalan ke arahnya. Dari kejauhan bayangan itu seperti monster. Veronica semakin panik.
Dug! Dug! Dug!
Gadis itu kembali menggedor gerbang yang terbuat dari besi kuno berlapis semen.
"Tolong! Tolong buka pintunya!" rintihnya.
Bayangan monster itu semakin lama semakin mendekat. Tangannya yang panjang diarahkan ke depan, agaknya sudah tak sabar untuk menyabet tubuh Veronica.
"Aarghh!"
"Aahhh!" Veronica menjerit seraya menutup matanya rapat-rapat. Namun, begitu ia membukanya lagi, bayangan itu sudah lenyap.
Veronica mencari-cari dengan senternya, namun tak ditemukan juga. Hanya kegelapan dan kesunyian.
Tiba-tiba, srettt…
Kaki Veronica serasa ada yang menariknya dan tubuhnya ikut terseret. Debu-debu di alas tergeser habis oleh tubuh gadis itu. Teriakan lengkingannya menggema di segala penjuru. Ketakutan membuatnya menjerit-jerit.
"Tolonggg!"
Brak! Tubuh langsingnya itu terperosok jatuh ke dalam liang. Bukan liang, lebih tepatnya sebuah labirin yang mengurungkan di antara tembok-tembok.
Veronica mencoba terbangun. Menyingkirkan debu-debu yang membengkas di baju juga lengannya. Napas gadis itu begitu memburu, hingga peluh keringatnya mulai bercucur.
"Di mana lagi aku?" gumamnya bertanya. Ia menyoroti sekitarnya, hanya ada tembok-tembok besar nan tinggi yang tak bisa dijangkau. Dia benar-benar seperti dalam tahanan. Namun, anehnya di bawahnya itu terdapat mawar-mawar yang berserakan dan memenuhi tempat tersebut. Sayangnya, mawar-mawar tersebut busuk dan berbau tak sedap.
"Bagaimana aku bisa ada di sini? Mama?! Kak Annie?!" Veronica begitu ketakutan. "Semua ini gara-gara buku dongeng itu. Setelah membacanya, aku jadi mengalami hal-hal aneh seperti ini. Sekarang aku yakin kalau buku dongeng itu benar-benar buku terkutuk!"
Arrgghh….
Suara auman dari jauh mulai terdengar melalui gendang telinga Veronica. Gadis itu menoleh, mencari tahu dari mana asalnya suara bak binatang buas itu.
Arrgghh ….
Veronica mendengarnya lagi. Ia yakin, kalau suara itu berasal dari utara sana. Veronica mulai menggunakan senternya lagi, untuk menerangi sekitarnya. Kakinya itu melangkah, menyempar mawar-mawar busuk yang menghalangi jalannya.
Dia mulai berjalan ke utara. Hingga di sebuah tempat, terdapat sebuah tangga yang menjulang ke atas. Tanpa pikir panjang, Veronica menaikinya.
Perlahan, ia menyusuri tangga dari bebatuan itu. Tangannya terus memegangi senter yang diarahkan ke depan. Jauh di sana, hanya ada kegelapan. Dan mungkin, dia hanya sendirian.
"Ke mana ujungnya tangga ini?" gumam Veronica bernada kesal. Ia sudah mulai letih setelah menaiki puluhan anak tangga namun tak ditemukan ujungnya jua.
Aarghh…
Suara itu terdengar kembali. Sebuah cahaya biru tiba-tiba muncul entah dari mana. Kemudian, cahaya itu berpindah dari tempat ke tempat lain dengan meloncat-loncat. Veronica berinisiatif untuk mengikutinya.
Setelah jauh cahaya itu membawanya, kini cahaya itu masuk menembus sebuah tembok. Veronica mencoba mengejarnya, namun ia tak sadar di depannya itu sudah berdiri dinding tebal.
"Auuuh! Sial!" ia mengumpat setelah tubuhnya menatap tembok.
Veronica meraba tembok-tembok tersebut, hingga tangannya berhasil menemukan sebuah lubang. Veronica mendekat, memposisikan matanya tepat di lubang sebesar kepalan tangan itu. Ia mengintip dari sana. Veronica tertegun, saat melihat cahaya biru tadi ternyata begitu banyak jumlahnya. Dan semuanya mengerumuni sesosok yang begitu besar bak monster.
Veronica menganalisa tubuh besar yang membungkuk itu. Kalau ia tidak salah, itu seperti bayangan yang hendak meraihnya tadi. Gadis itu tidak bisa melihat wajahnya, karena sesosok bertubuh besar itu menghadap belakang. Ia hanya melihat, kalau tubuh besar itu penuh dengan bulu-bulu lebat berwarna hitam, dan di kepalanya memiliki dua tanduk.
Tingg…. Senter Veronica tak sengaja terjatuh, bergesekan dengan batu di bawahnya.
Arghh … Agaknya, sesosok bertubuh besar itu mendengar ada yang tidak beres di belakangnya. Entah kenapa, telinganya itu begitu jeli sampai benda yang jatuh dari balik tembok pun masih terdengar.
Veronica membungkam mulutnya, saat melihat sesosok itu mulai memutar kepalanya ke belakang. Gadis itu menggeleng, berjalan mundur dan hendak lari. Namun, kakinya itu tersandung batu dan membuat tubuhnya mengguling.
Brak! Lagi-lagi tubuh Veronica terjatuh entah di tempat apa. Ia pingsan setelah tubuhnya menggelinding cukup lama dari atas hingga kini terperosok ke bagian bawah.
"Aahh!" Veronica tersadar, menggerakkan tangannya dan membuka matanya. Namun, hanya kegelapan yang didapatinya. "Ada di mana lagi aku?"
Veronica menggerakkan kakinya, mencoba bangun. Ia terkejut saat menyenggol benda-benda di dekatnya. Tiba-tiba, sebuah api menyala. Jumlahnya tiga, sehingga bisa menerangi keadaan di sana sedikit.
"Ada manusia!" Suara itu tiba-tiba muncul. "Ada manusia! Ada manusia!" Semakin lama semakin beramai-ramai.
Veronica kebingungan, mencari sumber suara yang kedengarannya dekat, namun jauh di mata. Ia memposisikan dirinya duduk tersimpuh, sembari matanya mengekspos keadaan sekitarnya. Beberapa saat, baru ia mengira kalau suara itu bersumber dari tiga lilin di depannya.
Veronica menjelikan matanya. Tangannya mencoba mengambil lilin yang terpasang di tempat besi dan menyatu. Lilin itu bisa bergerak dan membakar pucuk jari Veronica yang hendak menyentuhnya.
"Auhhh!" Veronica menarik tangannya dan mengibas-ngibaskannya.
"Jangan sentuh aku!" Suara itu muncul kembali.
Veronica terkejut saat menyadari ternyata tempat lilin itu yang berbicara. Gadis itu mengernyitkan dahi. "Kau bisa bicara?" tanyanya pada tempat lilin tersebut. Veronica lebih terkejut lagi saat menyadari tempat lilin tersebut juga memiliki mata juga mulut.
"Makhluk apa kau? Dan aku ada di mana?" ujar Veronica seraya memandangi sekitarnya yang gulita.
"Kau berada di negeri dongeng." Suara dari arah lain mengagetkan Veronica. Bersamaan dengan itu, munculah sebuah gelas yang melompat-lompat. Veronica menelan ludah, saat menyadari gelas itu yang bersuara dan juga memiliki mata dan mulut.
"A…" Veronica melotot tak mampu berkata-kata lagi.
"Dan ini adalah istana tuan kita!" Sebuah teko air muncul dengan suara yang besar.
Veronica menggeser tubuhnya ke belakang dengan ketakutan. Namun, di belakangnya itu ia juga dikagetkan dengan suara lagi.
"Jangan menyentuhku!" Sebuah garpu tiba-tiba berada di pundak Veronica. Gadis itu tersentak kaget, melihat garpu itu tersenyum sinis padanya. Suara garpu itu bernada wanita.
"Ada apa ini ribut-ribut?" Sebilah pisau muncul dari kegelapan dan mendekati tempat lilin. "Siapa dia?" tanyanya setelah melihat Veronica.
"Kalian yang siapa?!" tanya Veronica dengan sedikit membentak, membuat suaranya menggema.
"Apa dia Tuan putri yang sedang dicari-cari oleh Tuan?" Garpu itu meloncat dari pundak Veronica dan mendekati tempat lilin. Mereka tampak berdiskusi.
"Kurasa begitu," Teko air dan gelas menyahut bersamaan.
Veronica terdiam menggigil. Ia masih ketakutan dan tak mengerti apa yang sebenarnya terjadi padanya. Ia mencoba mengingat, dan sekarang ia tahu. "Apa mereka ada hubungannya sama dongeng Beauty and The Best yang aku baca tadi?" gumamnya dalam hati.
"Kau benar!" Para benda-benda di depannya itu berucap bersamaan dan menatap Veronica.
Veronica tertegun. Bahkan mereka mengetahui suara hatinya.
"Kami adalah benda-benda yang bisa berbicara seperti dalam dongeng," ujar si tempat lilin.
"Dengar, aku tidak tahu kenapa dan bagaimana aku bisa masuk ke dalam dunia dongeng kalian. Tapi, bisakah kalian membantuku untuk keluar dari sini?" tanya Veronica pada mereka bernada ramah.
"Apa kau Tuan Putri Belle?" sahut Si teko bertanya.
Veronica berpikir sejenak. Ia mengingat kalau dalam dongeng Beauty and The Best, benda-benda yang bisa berbicara itu baik hati dan sangat menyukai Tuan Putri Belle. Mungkin, jika Veronica mengaku sebagai Belle, mereka akan membantunya.
"Iya, aku Belle." Veronica mengangguk-angguk.
Mendengar jawaban Veronica, para alat-alat dapur itu berkumpul dan berdiskusi. Veronica heran melihatnya.
"Sekarang, apa kalian akan membantuku keluar dari sini?" tanya Veronica membuat mereka menatapnya.
"Kami pasti akan membantumu, Tuan putri. Tapi katakan pada kami, apakah kau ingin menjadi bagian dari dongeng ini?" tanya si gelas.
Veronica tampak berpikir. Namun ia mengiyakan setelah tidak ada pilihan lain selain menyetujuinya. "Baiklah. Aku akan menjadi bagian dari dongeng ini," katanya tersenyum ramah.
"Bagus! Sekarang, kau harus merasakan ini!" Si pisau tiba-tiba meloncat dan mengiris lengan Veronica. Lantas, ia meloncat turun lagi.
"Ahh! What the hell! Apa yang kau lakukan?" Veronica memegangi lengannya yang mulai berdarah itu.
"Kau bilang kau adalah tuan putri Belle, jadi kami akan menyiksamu!" ujar si Teko.
"What? Bukankah dalam dongeng kalian sangat baik dengan Belle. Lalu kenapa sekarang kalian menjadi jahat?" tanya Veronica tak mengerti seraya menahan pedih di lengannya.
"Kau lupa, Tuan putri kalau ini bukan dongeng anak-anak. Ini adalah dongeng kematian!" sahut Si garpu. Lantas, garpu itu meloncat ke arah wajah Veronica dan menggunakan tiga ujung runcingnya untuk menyayat pipi Veronica.
"Oh no!!! Sakit!" Veronica memegangi pipinya seraya merobohkan tubuhnya. Darahnya itu mulai mencuat keluar. "Ini tidak adil! Kalian telah menyalahi dongengnya!"
"Tidak ada yang salah di sini, Tuan putri! Karena dalam dongeng ini, tokoh utamanya harus mati!" Si gelas memecahkan dirinya, setelah itu melompat tubuh Veronica. Ujung runcingnya mulai menancapi lengan Veronica yang mulus.
"Apa kau butuh minum?" Teko itu ikut meloncat. Ia mulai menuangkan air yang begitu panas pada pipi Veronica yang bekas tergores garpu runcing tadi.
Pipi Veronica terasa melepuh. Rasa pedih tak bisa tergambarkan lagi. Tidak hanya pipinya, namun luka-luka yang lain juga disiram oleh si teko dengan air panas.
"Sekarang, giliranku menciptakan sebuah neraka dalam tubuhmu!" Tempat lilin itu mendekat, membakar luka-luka Veronica dengan nyala apinya.
"Aahhh! Tolong hentikan!" Veronica hanya bisa mengerang kesakitan.
"Mari kita lakukan bersama-sama lagi, teman-teman. Kita habisi tuan putri Belle dan kita bawa mayatnya pada Tuan!" kata si pisau.
"Tolong hentikan! Aku bukan Belle. Aku telah berbohong, aku adalah Veronica! Namaku Veronica!"
"Jangan berbohong!" Sebilah pisau menusuk bahu Veronica.
"Ahhh!" Veronica mencoba bangun. Jika ia tidak melawan, maka benda-benda sialan ini akan menghabisinya.
Veronica mencabut pisau di bahunya, walau itu terasa pedih namun ia mencoba menahannya. Lantas, pisau tersebut ia lempar pada garpu yang hendak meloncat ke arahnya.
Veronica berdiri, menendang benda-benda tersebut dari hadapannya. Namun, sialnya benda-benda tersebut bertambah banyak dan menghalangi jalan Veronica.
Gadis itu mengambil batu di sekitarnya, ia hantamkan batu-batu tersebut ke arah benda-benda itu hingga mereka saling pecah. Lantas, Veronica bergegas lari dari sana.
Veronica berlari terseok-seok lantaran kakinya banyak mengalami luka-luka. Ia tak mempedulikan apapun di depannya. Gadis itu terus berlari, sesekali kepalanya menoleh ke belakang memastikan apakah benda-benda hidup tadi masih mengejarnya atau tidak.
Brak!!!!
Tubuh Veronica tak sengaja menabrak sesuatu. Bukan batu, tetapi berbulu namun juga tidak empuk. Veronica mencoba melihat ke depan, matanya melotot saat menyadari di depannya itu merupakan sesosok bertubuh besar yang ia intip tadi.
Sesosok itu mulai membalikkan tubuhnya, memperhatikan Veronica yang tengah ketakutan. Matanya yang besar menyala merah itu menatap wajah Veronica. Mulutnya tersenyum namun gigi-giginya. Sesosok itu tertawa membuat taringnya terekspos. Tawanya yang begitu menggelegar membuat Veronica hampir terpental.
"Belle?" Sesuai dengan tawanya, suaranya itu juga begitu besar. "Kau kah itu?"
Veronica mengambil langkah mundur. Namun sesosok monster itu malah berjalan mendekatinya.
"Tidak! Aku bukan Belle!" jawab Veronica tegas.
"Lantas, siapa kau?"
"Aku adalah penyihir!"
"Penyihir?" Mangkuk besar itu tampak ketakutan begitu mendengar kata penyihir. "Penyihir yang menyihirku seperti ini?" tanyanya.
"I-iya…."
"Bohong! Pasti kau telah berbohong! Penyihir tidak mungkin datang kembali! Kau adalah Belle!"
Jika Veronica mengaku sebagai Belle, maka tidak menutup kemungkinan kalau monster di depannya itu akan memakannya. Karena, saat ia mengatakan pada benda-benda hidup tadi kalau dia Belle, justru benda-benda itu menyerangnya. Kini Veronica sudah mengerti, kalau dalam dongeng ini … alur ceritanya telah terbalik.
"Aku benar-benar penyihir. Dan Belle tidak ada di sini!" kata Veronica sedikit takut.
"Kalau kau benar-benar penyihir, lalu kenapa dari nada bicaramu itu sangat gemetar?"
Veronica tertegun. Kemudian ia mencoba menegakkan tubuhnya. "Apa kau tidak percaya kalau aku penyihir?" katanya dengan penuh keberanian. "Lihat! Wajahku begitu buruk rupa. Hanya penyihir yang memiliki wajah seperti ini. Belle tidak mungkin berwajah penuh luka seperti ini!" kata Veronica tegas.
Monster besar itu memperhatikan wajah Veronica yang berdarah dan penuh luka-luka. Ia mulai ragu.
"Jika kau berani mendekat, maka aku akan menyihir wajahmu lebih buruk lagi sehingga putri Belle tidak akan mau melihat wajahmu!" ujar Veronica bernada angkuh.
"Jangan!" Monster besar itu tampak ketakutan. Baru kali ini Veronica melihat monster yang ketakutan. "Jangan sihir aku lagi! Aku tidak ingin Belle menjauh dariku!"
"Kalau begitu, biarkan aku pergi!" ujar Veronica. "Katakan, di mana gerbang utamanya?"
"Kau tidak bisa pergi begitu saja!"
"Kenapa? Apa kau ingin aku menyihirmu terlebih dahulu baru setelah itu kau membolehkanku pergi?"
"Bukan begitu!" kata monster itu. "Tolong bawakan Belle padaku dulu!" pintanya.
"Baiklah! Tapi … tunjukkan dulu di mana gerbang utama?"
"Ada di sana! Kau luruslah ke depan, nanti kau akan sampai di gerbang utama. Dan kau bisa pergi dari sana!"
Tak membuang waktu lagi, Veronica bergegas berlari ke depan. Ia berlari sekuat tenaganya yang masih tersisa.
"Tuan! Tuan! Tuan Beast!" Suara benda-benda tadi mulai terdengar kembali. Mereka berlari rombongan dengan keadaannya yang tidak utuh lagi. Mereka berbondong-bondong menghampiri monster itu.
"Tuan Beast, jangan biarkan lari. Dia adalah tuan putri Belle. Kau telah ditipu, Tuan!"
"Iya, Tuan! Kau akan kehilangan makan malammu!"
"Hentikan dia, Tuan!"
Suara-suara benda itu telah sampai di telinga monster itu. Monster itu murka, ia berbalik melihat Veronica yang terus berlari dengan terseok-seok.
"LANCANG! BERANINYA KAU MEMBODOHI KU, BELLE! KAU TIDAK AKAN PERNAH SELAMAT!"
Monster itu mulai berlari mengejar Veronica. Veronica menjerit, ia terus mengencangkan larinya. Hingga sampailah ia di gerbang pintu utama. Namun, pintu itu masih tertutup rapat.
Veronica menggedor-gedor gerbang pintu tersebut.
Dug! Dug! Dug!
"Tolong!!!!!"
"Kau tidak akan bisa lari dariku, Beauty!"
ARRGGHH!
Monsters buruk rupa itu meloncat hendak menerkam Veronica.
"Aaaa!!"
***
TO BE CONTINUED