Beauty and The Best

1859 Words
Pada zaman dahulu kala, di sebuah desa hiduplah seorang pedagang yang memiliki tiga putri cantik-cantik bernama, Pretty, Sweety, dan Beauty. Pedagang itu seorang pria tua yang merawat tiga putrinya sendiri karena istrinya sudah lama meninggal. Beauty adalah putri bungsu dan yang paling cantik di antara kakak-kakaknya. Namun, penduduk desa akrab memanggilnya Belle, nama lain dari Beauty. Suatu hari, ketika ayah mereka akan berangkat ke pasar untuk berdagang, ketiga putrinya meminta sesuatu ketika dia kembali. Pretty memintanya untuk membelikan sebuah gaun cantik, Sweety meminta kalung mutiara, tetapi Beauty hanya menginginkan setangkai mawar. Ayahnya itu pun menyetujui permintaan putri-putrinya. Ketika pedagang tersebut telah menyelesaikan bisnisnya, ia lekas pulang ke rumah. Namun, tiba-tiba badai menerjang dan memaksanya untuk berhenti di perjalanan dan mencari tempat berlindung. Kemudian ia melihat sebuah istana besar namun ia tidak menjumpai satu orang pun di sana. Akhirnya pria tua itu pun memutuskan untuk berlindung di istana tersebut. Keesokan harinya, ketika badai yang berhembus sudah reda, pedagang tersebut memutuskan untuk melanjutkan perjalanan pulang. Saat ingin keluar dari istana, ia melihat setangkai mawar yang sangat cantik yang terdapat di taman istana tersebut. Ingat janjinya kepada sang putri, Belle, ia memberanikan diri untuk memetik bunga mawar tersebut. Namun, tiba-tiba sesosok binatang buas yang sangat besar dan mengerikan keluar. Binatang buas itu begitu marah karena dia menemukan ada seseorang yang berani mencuri mawar miliknya. "Arrgghh!" Aumannya yang mengerikan membuat ayah tiga anak itu mengigil ketakutan. "Beraninya kau memasuki istanaku! Apalagi menyentuh bunga mawarku!" ujar Binatang itu marah. "Aku akan membunuhmu!" "Jangan! Ku mohon, jangan bunuh aku. Aku minta maaf karena telah lancang memasuki istanamu dan hendak mengambil mawarmu. Tapi aku terpaksa, aku tidak ingin pulang dengan tangan kosong. Pesanan yang diminta putriku belum aku penuhi, jadi agar tidak membuatnya sedih, aku hanya ingin minta setangkai mawar itu untuknya," ujar pria itu penuh iba. Monster mengerikan itu tampak berpikir. Kemudian, ia berkata, "Baiklah. Saya akan melepaskanmu, tetapi dengan satu syarat." "A-apa?" tanya pria pedagang itu dengan gemetar. "Bawa putrimu itu ke sini! Dia yang harus mengambil bunganya sendiri!" kata monster itu. Pedagang itu tertegun. "B-baiklah!" ucapnya itu terpaksa. "Kalau kau menghianati janjimu, kau akan membayar semuanya!" Lekaslah pedagang itu pergi dari istana dan melanjutkan perjalanan pulang. Di setiap perjalanan sampai datang kembali ke rumahnya, ia tampak begitu sedih memikirkan janji yang telah dibuatnya kepada sang monster itu. Belle yang merasa ada sesuatu yang disembunyikan ayahnya, ia bertanya langsung. Sang ayah pun kemudian menceritakan semuanya pada putri-putrinya. "Ayah, aku akan melakukan apa pun untuk Ayah. Jangan khawatir. Saya akan hidup bersama monster itu dan menyelamatkan hidup Ayah!" kata Belle rela. Dengan terpaksa, ayahnya pun mengizinkan putri bungsunya untuk pergi ke istana monster. Belle mulai hidup dengan monster buruk rupa di istana tersebut. Pada awalnya, Belle takut pada Monster buas itu, namun kemudian dia tahu bahwa sebenarnya Monster buruk rupa tersebut berhati baik. Dalam waktu singkat, Belle dan binatang buas itu menjadi teman baik. Belle terus menjalani hidupnya di istana yang terpencil dan sepi. Di sana, dia ditemani oleh barang-barang yang hidup dan bisa berbicara. Monster buas tersebut pun merasa senang sekali ada wanita yang mau hidup bersamanya. Kesendirian yang bertahun-tahun dialami kini sudah tiada. Suatu hari, Monster buruk rupa tersebut memberanikan diri untuk meminta Belle untuk menjadi istrinya. Terkejut, Belle menolak pinangan monster buas itu. Tapi monster buas tersebut tidak marah akan hal itu. Bahkan di hari berikutnya, sang monster buas membawakan Belle cermin ajaib yang bisa melihat keluarganya yang jauh di sana sebagai hadiah untuknya. Suatu hari, ketika Belle melihat cermin ajaib tersebut, dia melihat ayahnya sedang sakit parah. Dia meminta izin kepada monster buas tersebut untuk membiarkan dia merawat ayahnya. Monster buruk rupa itu tidak bisa menolak permintaan wanita yang dicintainya tersebut. Tetapi, Si buruk rupa tersebut meminta Belle harus kembali lagi bersamanya dalam tujuh hari. Belle sangat berterima kasih dan bergegas pulang ke keluarganya dan merawat ayahnya. Pedagang tersebut jatuh sakit karena patah hati mengetahui putrinya bungsu yang sangat dicintainya pergi dan hidup bersama binatang buas karena ingin melindungi dirinya. Ketika Belle tinggal bersamanya, kondisi pedagang itu mulai membaik. Namun, Belle lupa akan janjinya untuk kembali ke istana dalam tujuh hari. Di malam hari, Belle bermimpi buruk. Dia bermimpi bahwa sang monster buruk rupa sedang sekarat. Belle takut, maka ia memutuskan untuk kembali ke istana dengan segera. Di istana, dia menemukan monster tersebut terbaring di tanah dengan mata yang tertutup. Belle begitu sedih, kemudian dia memeluk Monster tersebut dan mengatakan bahwa dia akan menikahinya. Tiba-tiba keajaiban terjadi, Monster buas yang awalnya memiliki wajah buruk rupa tersebut, kini secara ajaib berubah menjadi seorang pangeran yang tampan. Belle pun terkejut dibuatnya. Pangeran sangat senang dengan perubahan wujudnya itu. "Terima kasih, Belle, kau telah mematahkan kutukan tersebut. Sebenarnya, aku adalah seorang pangeran dari istana ini. Seorang penyihir jahat mengubahku menjadi binatang dan hanya cinta sejati dari gadis yang bersedia menerimaku apa adanya yang bisa mengubahku kembali normal. Dan kau telah melakukan itu!" kata pangeran gembira. "Benarkah itu?" "Iya, Belle. Jadi, apakah sekarang kau mau menerimaku sebagai suamimu?" Belle jatuh hati dibuatnya. Kemudian ia menyetujui pinangan pangeran tersebut. Akhirnya, Belle dan pangeran menikah dan mereka pun hidup senang di istana selamanya. Tamat! *** Veronica menghela napas, tersenyum lebar setelah membaca dongeng 'Beauty and The Best' yang terdapat di buku dongeng kematian. "Andai kisah ini ada di kehidupan nyata, pasti akan seru!" seru Veronica seraya menutup buku dongengnya. Ia telah mengabaikan larangan Rio untuk tidak membaca buku dongeng kematian, dan sekarang ia telah selesai membacanya. Veronica Laverina Steve, merupakan anak bungsu dari pasangan Hendrik Steve dan Megan Steve. Dia menjadi yatim saat ayahnya mengalami kecelakaan setahun lalu, dan malangnya dia yang dituduh kakaknya sebagai penyebab kematian ayahnya itu. "Mereka bilang ini buku terkutuk, perasaan ini hanya buku dongeng biasa yang isinya hanya dongeng-dongeng anak." Veronica memperhatikan buku dongeng yang dipeganginya. "Dari judulnya memang serem sih, tapi isinya nggak begitu serem tuh. Bahkan aku sudah membaca salah satu ceritanya sampai tamat, dan tidak ada hal-hal aneh." "Dongengnya belum tamat!" Suara samar-samar tiba-tiba terdengar dari bawah kasur, dan berhasil membuat Veronica tersentak kaget. Gadis itu melepaskan buku dongengnya, menjatuhkan pelan di atas kasur. Ia terdiam sejenak, memastikan apakah suara itu benar-benar ada atau tidak. "Kemarilah … lihat ke bawah jika kau ingin mendengar kelanjutan dongengnya…." Jantung Veronica serasa berhenti sementara, saat telinganya dengan jelas merangsang suara dari bawah ranjang. Gadis itu merendahkan tubuhnya, mengambil posisi jungkir, ia berniat untuk menengok di bawah kasurnya. Perlahan, kepalanya mulai turun hingga rambutnya yang hitam panjang terurai ke bawah. Veronica memandangi bawah kolong tempat tidurnya yang lumayan gelap. Tiba-tiba, lampu kamar mati total. Veronica terkejut hingga tubuhnya jatuh ke bawah. Brakk!!! "Aduhh!!!" Gadis itu mengaduh pelan. Lantas, ia mendongakkan kepala, memandangi sekitarnya yang gulita. Keadaannya benar-benar gelap total. Veronica mencoba berdiri, ia meraba-raba sekitarnya. Harusnya tangannya itu bisa menyentuh benda-benda yang ada di kamarnya, namun anehnya ia tak menemukan apapun. Gadis itu mulai berjalan, hingga telapak kakinya menginjak sesuatu yang menancap sampai kulit kaki. "Ahh!" Veronica mengaduh lagi. Ia mengangkat satu kakinya untuk diperiksa. Tangannya itu bisa merasakan kalau ada setangkai bunga berduri yang sedang menempel di kakinya. Veronica mencabut tangkai bunga tersebut hingga duri di kakinya terlepas. "Auuh!" rintihnya. "Mawar?" Veronica keheranan. Ia yakin kalau yang menancapnya itu adalah bunga mawar. Dari baunya sudah bisa ditebak. Yang tidak ia mengerti, bagaimana mawar itu bisa ada di dalam kamarnya? "Bagaimana bisa ada mawar di kamarku?" Aroma harum menyengat tiba-tiba menghantam indra penciumannya. Gadis itu merasakan aroma mawar yang wangi memenuhi kamarnya. "Kok tiba-tiba ada wangi bunga mawar gini? Aduh aku merinding!" Veronica saling meraba lengannya yang mendadak dingin itu Saat ia melangkah satu langkah tadi, kakinya itu memijak hal serupa. Ia kesakitan dan memeriksanya. Ternyata setangkai mawar lagi-lagi mekukai telapak kakinya hingga mengeluarkan darah. Satu langkah lagi ia ambil, kini ia menyandung benda sedikit besar dari sebelumnya. Benda itu bercahaya setelah tak sengaja tersandung kakinya. Sebuah senter. Veronica memungut senter tersebut. Ia gunakan senter itu untuk menyoroti keadaan. Veronica terkejut bukan main saat cahaya senter ia arahkan ke langit-langit kamar, namun cahayanya itu seperti hilang di kegelapan. Dan sekarang ini, ia seperti tidak berada di dalam kamarnya. Semua benda-benda di kamar tak bisa tersorot oleh senter. "Aduh!" Lagi-lagi telapak kaki gadis itu tertusuk duri. Ia menggunakan senternya untuk menyoroti lantai kamar. "Oh my Gosh!" Veronica terkesiap saat melihat begitu banyak tangkai mawar yanh tersusun rapi memanjang hingga tak ada ujungnya. "Di mana aku!" teriaknya kencang. Bak dalam goa, suaranya itu terpantul kembali. Veronica menyorot tangkai-tangkai mawar tersebut. Salah satu mawar terdapat sebuah kertas yang mengikat di duri-duri tangkainya. Gadis itu menunduk, mengambil setangkai mawar itu dan juga kertasnya. Veronica tertegun saat melihat kertas tersebut ternyata ada tulisannya dengan noda darah. Sebuah pesan yang tak diketahui penulisnya. "Jika kau ingin tahu di mana, kau harus mengikuti setiap tangkai mawar dan membawanya." "Apa maksudnya?" Veronica kebingungan. Namun ia mencoba untuk menuruti tulisan tersebut. Siapa tahu ia mendapatkan jalan keluarnya. Veronica mulai berjalan di kegelapan dengan bantuan senternya. Ia berjalan sesuai arahan mawar-mawar yang tersusun, dan memungutnya untuk dibawa. Itu merupakan salah satu syarat yang tertulis dalam pesan tersebut. Sudah hampir tiga puluh lamanya, Veronica tetap berjalan namun belum menemukan tanda-tanda apapun. Ia juga mulai ketakutan dan tak mengerti sama sekali sedang berada di dunia mana. "Jangan bilang ini karena aku membaca buku dongeng itu!" gumam Veronica cemas. "Atau ini hanya sebuah mimpi? Tapi aku kan tadi tidak sedang tidur!" Gadis benar-benar pening dibuatnya. Sebuah kertas yang tertempel di tangkai mawar kembali Veronica temukan. Ia memungutnya dan membacanya pelan. "Sebentar lagi kau akan sampai di istananya!" "Istana?" Veronica bergumam ragu. "Maksudnya istana apa?" Veronica kembali menangkap kertas lagi. Ia buru-buru mengambil dan membacanya. "Istana sang pangeran!" "Pangeran?" Veronica tidak ingin terus berdiam di sana, ia memilih untuk melanjutkan perjalanannya lagi. Beberapa langkah kemudian, Veronica menemukan kertas lagi di tangkai mawar. Gadis itu buru-buru mengambilnya. Bibir meronanya itu membaca tulisan tersebut. "Selamat datang di istana kematian!" Veronica menyorot ke depan. Di depannya itu, terdapat sebuah bangunan megah kuno yang gelap. Bangunan itu memang menyerupai istana, namun tembok-temboknya sudah menua dan tak seperti istana-istana dalam dongeng maupun film. "Apakah ini istana pangeran itu?" gumam Veronica. Gadis itu mulai melangkah, menuju istana tersebut dan masuk ke gerbang pintunya. Di dalam sana begitu sepi. Tanaman rambat tampak memenuhi tembok-tembok besar dan menghancurkan bebatuannya. Lampu-lampu tampak pecah dan tak berfungsi lagi. Benda-benda yang ada di sana juga lusuh tak terawat. Hanya sarang laba-laba yang terpasang di langit-langitnya. "Halo? Apa orang di sana?!" Suara Veronica terdengar memantul. Veronica kembali berjalan. Ia menemukan kertas berisi pesan lagi di tangai mawar. Veronica dengan cepat mengambilnya. "Maukah kau menjadi tokoh dalam dongeng ini? Tapi, syaratnya … harus ada salah satu tokohnya yang mati!" Veronica gemetaran dan menjatuhkan kertas itu begitu saja. "Aku tidak mau!" Veronica berbalik, hendak pergi dari sana. Namun, tiba-tiba gerbang pintu istana tertutup. Bersamaan dengan itu, terdapat sebuah tulisan besar bernoda darah yang masih segar. "KAU SUDAH DATANG, JADI KAU HARUS MENJADI BAGIAN DARI DONGENG KEMATIAN INI! KARENA SIAPAPUN YANG SUDAH MEMBACA DONGENG KEMATIAN, DIA HARUS MENJADI BAGIAN DARI DONGENGNYA!" *** TO BE CONTINUED
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD