Bergilir Dongeng

1376 Words
Pagi itu seperti biasa anak-anak kumpul di kantin setelah jam perkuliahan selesai. Annie, Maya, dan Jay tampak menikmati makanan ringan mereka sembari mengobrol. Nichole yang baru dari masuk kantin langsung menghampiri mereka. "Muka lo kenapa?" tanya Jay ketika melihat Nichole sampai di sana dengan wajah murungnya. Nichole meletakkan tas selempangnya di atas meja dengan kesal. Lantas ia mendudukkan tubuhnya. "Dosen ngasih tugas banyak tadi. Suruh penelitian, males gue!" gusar Nichole. "Ya udah nih minum dulu. Wajah lo kering tau, kayak tanaman kurang air!" Maya menyodorkan segelas jus leci ke arah Nichole. "Thanks!" Nichole langsung meminumnya melalui sedotan. "Eh, Nic. Kok sendirian? Di mana Rio?" tanya Annie pada Nichole. Setelah meminum jus itu, Nichole menatap Annie. "Memangnya, dia belum ke sini ya?" katanya balik tanya. "Kami nggak lihat Rio dari tadi pagi. Kalau Alex kan memang belum sembuh total," sahut Maya. "Kayaknya tuh anak emang nggak masuk kuliah," pikir Jay. Nichole mengangguk, dan berkata, "Oh iya, kemarin sih Rio bilang lagi ada problem sama keluarganya. Katanya ibunya tiba-tiba muncul dan ingin melihat dirinya." "Hah? Ibunya Rio?" kaget mereka bertiga serempak. "Bukannya Rio bilang ibunya sudah meninggal sejak ia kecil?" ujar Annie disahut anggukan Maya. "Iya awalnya gitu sih. Tapi Rio cerita padaku kalau ternyata ibunya itu masih hidup. Ibunya sengaja meninggalkan dia sejak lahir untuk diasuh ayahnya. Mungkin Rio masih belum bisa menerima semua ini kali," kata Nichole seraya menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi. "Semoga cepet selesai deh masalah dia," mohon Maya. "Kasihan ya Rio, nasibnya kayak gue. Bedanya, gue lebih parah. Sampai sekarang nggak tahu orang tua gue itu di mana," lanjutnya. "Be patient, ya, May!" Annie mengelus punggung Maya bermaksud menghibur. Maya tersenyum dan melanjutkan meminum jusnya. "Oh iya, May. Kalau Alex gimana perkembangannya?" tanya Annie pada Maya. "Sudah lebih baik sih. Lukanya itu sebentar lagi kering. Dia selalu minum obatnya soalnya," jawab Maya. "Sejak kapan tuh anak jadi rajin minum obat?" sahut Jay. "Sejak gue jadi pacarnya lah. Gue yang ngerubah kebiasaan buruk dia selama ini," ujar Maya dengan bangga dan diakhiri dengan tawa kecil. "Kalau misal aku diterima jadi cowok dia, aku juga bakal mengikuti apapun yang dia inginkan," sindir Jay ke arah Annie yang saat itu sibuk dengan ponselnya. "Mmm… kode tuh!" timpal Nichole. "Annie … lo pura-pura bodo amat ya?" canda Maya. "Apaan sih kalian?" kata Annie ketus. Namun, diam-diam ia tersenyum tipis. *** Tak jauh dari meja mereka, Veronica tampak duduk di sana. Tanpa sengaja ia mendengarkan percakapan mereka, terutama soal Rio. Gadis itu beranjak dari sana setelah menghabiskan makanannya. Ia menuju kasir dan membayar semua yang sudah ia beli tadi. Lantas, ia berjalan keluar kantin. Setibanya di luar kantin, ia duduk di kursi-kursi yang terdapat pinggiran jalan. Di sana juga banyak pohon-pohon hias yang sengaja ditanam sebagai penghijauan lingkungan kampus. Veronica mengambil ponselnya dari tas kecilnya. Ia berniat untuk menghubungi Rio. *** Di rumah Rio, pria itu merasa bosan selalu terbaring di atas ranjang. Saat ini ia tengah sendirian di kamarnya. Dreet … dreett … suara getar ponselnya mengagetkan lamunannya. Pria itu menoleh dan mengambil ponselnya. Rio begitu gembira saat mengetahui yang menelpon itu Veronica. Ia buru-buru mengangkatnya. "Hi, Veronica!" sapa Rio terlebih dahulu dengan semangat. "Hi, Rio. How are you?" tanyanya dari seberang. Rio memandangi keadaannya yang terbaring lemah di atas ranjang. "Kamu punya masalah ya?" tanya Veronica lagi. "Nggak … nggak kok. Aku baik-baik saja," kata Rio berbohong. "Alu tadi nggak sengaja mendengar pembicaraan Kak Annie dan teman-temannya. Mereka mencarimu. Kamudian Kak Nichole bilang kalau kamu sedang ada masalah. Ibumu yang sudah bertahun-tahun tidak bersamamu, muncul kembali ya?" tanya Veronica dari seberang telepon. Kini Rio tak bisa berbohong lagi. "Iya, tapi … sekarang sudah baik-baik saja kok. Maksudnya, kami sudah menyelesaikan masalah itu tadi." "Syukurlah." Suara Veronica terdengar lega. "Sayang kamu jangan lupa meminum obatnya ya biar lukamu itu cepet sembuh!" Tiba-tiba ibunya Rio masuk ke kamar dan menyuruhnya meminum obat. "Rio kamu nggak apa-apa kan? Kamu sakit?" tanya Veronica dari seberang telepon. Suaranya itu terdengar cemas. "Aduh!" Rio menggigit bibir bawahnya karena sekarang Veronica tahu soal lukanya. "Kamu lagi nelpon ya?" tanya ibunya. "Maaf ya Mama mengganggu. Ya sudah lanjutkan, Mama tinggal dulu." Ibunya Rio itu lantas keluar kamar. "Rio, kamu sakit?" Veronica masih mencoba menanyai Rio. "I-iya … tapi nggak parah kok," jawab Rio seraya menggigit bibir bawahnya. "Aku kasih tahu Kak Annie dan teman-temanmu, ya!" usul Veronica. "Eh jangan … jangan … jangan beritahu siapapun. Aku tidak ingin merepotkan mereka," kata Rio beralasan. Sejatinya ia tidak ingin teman-temannya itu tahu kalau ia terluka karena buku dongeng itu. "Kenapa? Ya sudah aku ke rumahmu, ya! Aku ingin menjengukmu," kata Veronica. "Boleh!" Rio tampak senang gadis pujaannya itu hendak main ke rumahnya. "Tapi, memangnya kamu udah nggak ada kelas?" tanya Rio kemudian." "Ada sih sebenarnya. Tapi nanti aku bisa izin sama dosen, kok." Selama ini Rio rela tidak masuk kelas demi mengajak Veronica jalan-jalan dan menghiburnya saat Veronica lagi sedih ketika dimarahi Annie. Sekarang, Veronica juga ingin membalas kebaikan Rio. Veronica yakin kalau Rio itu sedang butuh teman mengobrol. "Ya udah aku segera ke sana ya!" seru Veronica. "Hati-hati di jalan, ya!" "Iya!" *** Empat puluh menit kemudian. "Rio, ada temanmu nih!" Verna masuk ke kamar Rio bersama dengan Veronica. "Eh, Veronica!" sapa Rio gembira. "Aku tinggal dulu, ya!" Verna tersenyum dan mengelus rambut Veronica. Lantas, ia pergi keluar kamar lagi. "Hi!" sapa Veronica sembari berjalan ke arah ranjang. "Bagaimana keadaanmu?" tanyanya. "Kamu duduklah dulu," pinta Rio pada Veronica. "Aku baik-baik saja, kok!" serunya lagi setelah melihat Veronica duduk di kursi dekat ranjang. "Kenapa kamu bisa seperti ini?" tanya Veronica sembari melihat lengan Rio yang terbalut perban juga tampak bercak darahnya. "Mm … sebenarnya …." Rio memberi jeda sejenak. "Aku akan ceritakan semuanya padamu tapi janji jangan ceritakan pada Annie dan yang lainnya, ya!" pinta Rio. Veronica terdiam, lantas mengangguk seraya tersenyum. "Sebenarnya … aku seperti setelah membaca buku dongeng itu," kata Rio. Ia masih ingat betul kejadian mencekam tadi malam. "Buku dongeng yang kemarin itu?" tanya Veronica keheranan. "Kok bisa?" "Iya. Awalnya aku tidak percaya kalau buku dongeng itu benar-benar buku kutukan. Ternyata, Annie dan teman-temanku benar. Setelah membaca dongeng kematian yang judul cerita Malin Kundang, aku diteror wanita tua. Dia juga yang membuat keadaanku seperti ini." Veronica terdiam mendengarkan. "Aku tahu pasti kamu nggak percaya, kan?" tanya Rio. Veronica tersenyum. "Memang sulit dipercaya sih, tapi kalau bukan kamu saja yang mengalaminya … bisa jadi itu benar. Aku percaya kok," ujarnya. "Makasih ya!" "Oh iya, di mana buku itu sekarang?" tanya Veronica kemudian. Rio membuka selimutnya, dan mengambil buku dongeng yang ia sembunyikan di balik selimut tadi. "Ini!" Rio menyodorkan buku dongeng tersebut. Veronica menerimanya dan memperhatikannya. "Aku bawa, ya!" katanya kemudian. "Jangan! Aku tidak mau kamu mengalami nasib yang sama seperti kami," cegah Rio. "Tenang. Aku akan menyerahkan buku ini pada Kak Annie saja kok. Dia kan yang menemukannya, jadi mungkin akan menyimpannya," kata Veronica canggung. "Benar juga ya. Lebih baik buku ini ada pada Annie. Itu akan lebih aman." Rio mengangguk dua kali. "Ya sudah, kamu bawa juga. Tapi jangan dibaca ya. Bahaya soalnya. "Iya!" Veronica tersenyum. "Hi! Boleh masuk?" Sammy yang saat itu berada di ambang pintu mengagetkan mereka. Pandangan mereka berdua langsung terfokus pada pria yang tengah tersenyum lebar itu. "Dia-" "-Aku adik tirinya, Kak Rio!" seru Sammy memotong perkataan Rio. Lantas, pria itu masuk ke kamar begitu saja. "Perkenalkan, namaku Samuel Johnson. Tapi kau boleh memanggilku Sammy!" seru Sammy sembari mengulurkan tangannya pada Veronica. Veronica menjabat tangan Sammy. "Veronica!" serunya memperkenalkan namanya. "Nama yang bagus, cocok dengan wajahmu yang cantik itu," puji Sammy pada Veronica membuat Rio jengkel. "Thank you! Kamu juga tampan," balas Veronica tersenyum, hal itu semakin membuat Rio kesal. "Kau bisa saja!" Sammy tersenyum. "Itu buku apaan?" tanya Sammy ketika melirik buku dongeng yang dipegangi Veronica. "Dongeng kematian," Sammy mengeryitkan dahi membaca judulnya. "Dongeng kematian?" "Nggak. Ini hanya buku biasa kok!" Veronica langsung memasukkan bukunya di dalam tas kecilnya. "Ohhh! Judulnya aneh soalnya. Hehe." Sammy terkekeh. "Oh iya, aku boleh duduk di sini kan ikut mengobrol kalian?" Sammy memandang ke arah Veronica kemudian ke arah Rio. Sebenarnya Rio merasa kesal dan jengkel sama saudara tirinya itu. Ia sungguh keberatan jika Sammy berada di sana. Ia ingin menolak, namun… "Boleh kok!" seru Veronica pada Sammy. Rio memicingkan mata kesal. *** TO BE CONTINUED
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD