Dua katup mata membuka sayu. Melihat samar-samar keadaan luar, namun menjadi jelas setelah beberapa detik.
"Rio? Kamu sudah bangun?" Seorang pria paruh baya duduk di pinggiran ranjang. Ia senang melihat putranya yang terbaring di ranjang telah sadar setelah beberapa lama.
"Pa-pa?" Suara Rio masih belum lancar. Ia melirik lengannya yang terbalut perban putih, juga ada noda merah yang melingkar.
Nando, ayah Rio tersenyum pada putranya. Ia mengelus tangan Rio penuh kasih sayang. "Syukurlah kamu baik-baik saja, Nak!" serunya.
"Rio, kenapa kamu melakukan hal senekat ini?" Seorang pria yang berdiri di belakang ayahnya itu bertanya pada Rio.
"Melakukan apa, Paman?" ujar Rio balik tanya pada pria yang merupakan pamannya itu.
"Iya, Nak. Kamu ada masalah apa sampai memutuskan untuk mengakhiri hidupmu sendiri?" ucap Nando bernada sedih.
"Untung pekerjaan kami ditunda, dan kami pulang tepat waktu. Kalau tidak, kami tidak akan tahu apa yang akan terjadi padamu," ujar pamannya.
Rio masih bingung dengan perkataan mereka. Seingatnya, tadi malam setelah membaca dongeng 'Malin Kundang', ada wanita tua yang datang dan mengaku sebagai ibunya. Setelah itu wanita itu meneror juga ingin membunuhnya. Lalu, Rio berusaha menyelamatkan diri. Dia jatuh dari tangga dan tidak ingat lagi setelah itu.
"Memangnya … Rio kenapa, Pa?" tanya Rio pada ayahnya.
"Kami menemukanmu tak sadarkan diri di bawah tangga. Di sampingmu ada pisau, dan lenganmu juga terluka. Ada bercak darah juga di bajumu." Nando mengusap bulir bening yang hendak menetes dari matanya. Sungguh, pria itu sangat emosional kalau menyangkut anak semata wayangnya. "Papa takut kehilanganmu, Nak. Jangan pernah mencoba melakukan hal ini lagi!" pintanya.
"Tapi, Pa. Melakukan hal apa? Aku tidak-"
"-Bukannya kamu berencana untuk bunuh diri?" selak Paman Rio memotong perkataannya.
"Bunuh diri?" batin Rio dalam hati. Pria itu tampak kebingungan.
"Kalau kamu ada masalah, cerita sama kami," tutur ayahnya. "Aku tahu, kamu pasti tertekan dengan hubungan ayah dengan ibumu, ya? Aku lihat ponselmu pada panggilan terakhirnya dia yang menelpon."
Rio memalingkan wajahnya saat ayahnya mulai membicarakan soal ibu kandungnya yang telah meninggalkannya sejak bayi. Pria itu melihat kaca jendela yang menampilkan suasana luar. Ia bergumam dalam hati, "Jadi, mereka berdua mengira kalau aku mencoba bunuh diri? Semua ini ulah wanita tua dari buku dongeng itu!"
"Kak, aku keluar sebentar ya, aku belikan makanan dulu!" kata paman Rio pada Nando. "Rio, jangan lupa minum obatnya! Dokter sudah memberikan resep padamu tadi," pesannya pada Rio, lantas pria lajang itu keluar kamar.
Rio mengangguk. Lantas terfokus pada ayahnya lagi.
"Pa-"
Drettt… Dreett…. Suara getar ponsel bergetar dari saku Nando membuat ucapan Rio terpotong. Nando merogoh ponselnya dari saku kemeja. Pria terdiam saat melihat nama Verna di layar ponselnya.
"Angkat saja!" ujar Rio pada ayahnya. Ia sudah tahu kalau yang menelpon pasti ibu kandungnya.
Nando pun langsung berdiri dari duduknya, dan berjalan menuju jendela. Ia mengangkat teleponnya.
"Halo, Nando? Bagaimana keadaan Rio? Anakku baik-baik saja kan?" tanya Verna dari seberang sana. Suaranya terdengar panik.
Nando melirik Rio sebelum menjawab. "Iya," katanya lewat telepon.
"Syukurlah. Aku sudah akan sampai di rumahmu. Aku ingin menjenguk Rio. Aku-"
"-tidak usah," ucap Nando memotong perkataan Verna. "Kamu nggak perlu ke sini. Rio sudah baik-baik saja. Dia sudah diperiksa dokter dan kamu tidak perlu khawatir dengan keadaannya lagi!" katanya menekankan. Ia tidak ingin Rio semakin emosi hingga membuat kesehatannya menurun jika ibunya itu muncul di depannya. Lagi pula, ia yakin kalau keadaan putranya sekarang ini terjadi karena masa lalunya dengan Verna.
"Ingat Nando, dia juga putraku. Rio anak kandungku. Aku berhak untuk menemuinya. Kenapa kamu seperti berusaha menghalangiku?" Verna terdengar memaksa.
"Biar aku menekankan lagi, Verna. Iya memang benar dia putramu, putra yang kau tinggalkan sejak kelahirannya. Selama ini aku yang mengurus sendiri dan aku tidak ingin jika Rio semakin emosi kalau melihatmu!" tekan Nando dengan suara pelan takut anaknya yang tengah terbaring lemah itu mendengar. "Tolong, jangan menambah masalah dengan datang ke sini!" pinta Nando kemudian.
"Tapi-"
"Papa!" Suara lemah Rio membuat Nando menoleh ke arahnya. "Pa, dia mau ke sini kan? Biarkan saja dia ke sini," ujarnya kemudian.
"Rio, kamu yakin?" tanya Nando sembari berjalan ke arah ranjang.
Rio mengangguk tanpa menjawab. Kemudian ia tersenyum.
"Baiklah." Nando terfokus pada teleponnya lagi. "Kau boleh ke sini. Rio yang mengizinkannya sendiri," kata Nando pada Verna.
"Benarkah?" Suara Verna terdengar gembira. "Baiklah, aku akan segera sampai!" serunya.
"Oke, Bye!" Nando mematikan panggilannya. Lantas, ayah satu anak itu duduk di pinggiran ranjang. Matanya memandangi wajah putranya yang pucat.
"Rio-" Nando tak jadi melanjutkan perkataannya saat tangan Rio menyentuh lengannya.
"Pa, apa Papa sungguh mengira kalau Rio telah berusaha untuk bunuh diri?" Rio memberi jeda sejenak, menarik napas dan membuangnya perlahan. "Pa, Rio pria yang kuat, Pa. Itu yang selalu Papa katakan sedari Rio masih kecil. Rio nggak mungkin melakukan hal yang akan membuat Papa sedih. Aku sayang Papa!" seru Rio.
Nando terharu mendengar suara hati putra semata wayangnya itu. Ia tersenyum dan mengelus rambut Rio. "Jadi, kamu nggak berniat mengakhiri hidupmu?" tanyanya.
Rio menggeleng.
"Lalu, kenapa kamu bisa terjatuh dari tangga dan ada pisau di dekatmu? Terus lukamu itu? Apa ada orang yang menyerangmu?"
Pertanyaan Nando telah membuat Rio menelan ludah. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Tidak mungkin juga ia jujur soal buku dongeng kutukan itu dan wanita tua yang meneror dan menyakitinya.
"Katakan, Rio! Apa ada penjahat di rumah ini tadi malam? Apa ada maling? Kenapa kamu diam?" tanya Nando setelah melihat putranya terdiam. "Apa kamu telah diancam? Kamu nggak usah takut, nanti biar Papa suruh polisi untuk mengurusnya kasus ini."
"Jangan, Pa!" cegah Rio cepat. "Jangan libatkan polisi dalam hal ini. Lagian, mmm … kejadian tadi malam itu hanya kecelakaan biasa," ujar Rio canggung.
"Kecelakaan bagaimana?"
"Waktu itu Rio nggak sengaja mau ngupas buah, terus kena lenganku. Aku kesakitan dan menjatuhkan pisaunya, saat aku mau naik ke tangga, aku malah terpeleset. Aku jatuh dan mungkin langsung pingsan, hehe." Rio memang pandai beralasan.
"Ohh … ya sudah, yang penting kamu selamat. Lain kali hati-hati, ya!" Nando mengusap rambut Rio seraya tersenyum.
Suara deru mobil tiba-tiba terdengar dari halaman rumah. Hal itu membuat Nando menoleh langsung ke jendela. Dari sana, ia bisa melihat seorang wanita yang tengah keluar dari mobil.
"Mungkin itu Verna!" gumam Nando. "Papa ke bawah sebentar, ya!" katanya lagi pada Rio.
Rio mengangguk, dan memandangi ayahnya yang keluar kamar dengan terburu-buru. Rio bisa melihat ada wajah gembira pada raut ayahnya saat mengetahui mantan kekasihnya itu datang.
Kini, tinggallah Rio sendirian di kamar. Ia memandangi langit-langit kamarnya dengan waspada, takut kalau tiba-tiba wanita tua tadi malam datang lagi.
"Oh iya, di mana ya buku dongeng itu?" Rio baru ingat soal keberadaan buku itu. "Tadi malam aku terakhir melihatnya tangah lantai itu," gumam Rio sembari melirik lantai bagian tengah kamarnya. "Kenapa sekarang nggak ada? Apa mungkin masih ada di dalam kolong ranjang?" pikir Rio.
Pria itu mencoba mendirikan tubuhnya, setelah menahan rasa sakit punggung juga lengannya, akhirnya ia bisa memposisikan tubuhnya untuk duduk di atas ranjang. Lantas, ia mulai beringsut dan turun dari ranjangnya.
Rio jongkok dan memeriksa kolong ranjangnya. Di dalam sana sedikit gelap, namun ia masih bisa melihat sebuah buku lusuh tergeletak di sana. Rio mulai mengulurkan tangannya, mencoba meraih buku itu.
Berhasil. Tangan Rio berhasil menggerayangi buku tersebut. Lantas, ia membawanya keluar.
"Buku ini yang bertanggung jawab atas keadaanku sekarang ini. Bahkan, ayahku sendiri sampai mengira kalau aku berusaha mengakhiri hidupku sendiri!" Rio berkata kesal seraya mengamati buku dongeng tersebut.
"Buku sialan!" umpat Rio ke arah buku itu.
Lantas, Rio melirik ponselnya di atas meja. Ia berjalan sempoyongan ke arah meja tersebut. Di sana pula masih ada pecahan kaca-kaca kecil, namun sebagian sudah dibersihkan. Rio melirik ponselnya yang retak akibat jatuh tadi malam. Ia langsung memeriksanya. Untung ponselnya itu masih bisa dioperasikan.
Rio kembali berjalan menuju ranjangnya lagi. Ia duduk di sana, dan berniat menghubungi teman-temannya. Namun tiba-tiba ia mengurungkan niatnya itu. "Tidak, aku tidak mau mereka tahu keadaanku. Aku tidak ingin mereka menertawakanku dengan keadaanku yang seperti sekarang ini. Kemarin aku yang selalu menertawakan cerita-cerita mereka dan menganggap mereka berhalusinasi soal buku ini, bisa jadi mereka bakalan melakukan hal yang sama terhadapku." Rio menggeleng pasti. "Aku nggak mau memberitahu pada mereka. Lagi pula, mereka juga tidak tahu kalau buku dongeng itu ada padaku."
"Rio!" Suara Nando terdengar lagi dari ambang pintu, membuat Rio spontan menoleh. "Rio kenapa kamu sudau bangun? Kamu masih perlu istirahat," katanya lagi cemas.
"Aku tidak apa-" Rio memotong perkataannya saat melihat seorang wanita memasuki kamarnya.
Wanita itu berpakaian rapi dengan high heelsnya yang menutupi telapak kakinya. Rambutnya yang hitam lurus itu dibiarkan terurai. Rio sudah menebak kalau itu yang namanya Verna. Wanita yang katanya ibu kandungnya.
"Rio, sayang!" Verna langsung berjalan menghampiri Rio. "Sayang kamu nggak apa-apa, kan?" Wanita itu hendak menyentuh pipi Rio, namun berhenti saat ia mengingat kata-kata Nando waktu di bawah tadi. Nando mengatakan kalau dia tidak boleh terlalu berlebihan di hadapan Rio, karena Nando berpikir itu akan membuat Rio kesal.
"Sayang, kenapa kamu bangun? Kamu harus banyak istirahat, Rio!" kata Verna pelan.
"Iya, Rio. Kamu harus membaringkan tubuhmu!" Nando ikut berkomentar.
Tak punya pilihan, Rio menuruti permintaan kedua orang tuanya itu. Ia menutupi buku dongengnya dengan selimut, kemudian baru memposisikan tubuhnya bersandar di sandaran ranjang.
Verna duduk di sampingnya. "Bagaimana keadaanmu sekarang?" tanyanya pada anaknya itu.
"Aku sudah mendingan. Terima kasih sudah datang," kata Rio sedikit kaku.
"Kamu nggak sudah berterima kasih, Sayang. Karena kau adalah anakku sendiri."
Rio membatin, "Sekarang baru mengakui anaknya. Di mana dua puluh dua tahun yang lalu saat dia memutuskan untuk meninggalkanku?"
Rio menelan ludah saat mendengar suara seorang pria di luar kamarnya. Pria itu seperti sedang berbicara lewat telepon. Rio yakin kalau itu bukan suara pamannya. Kemudian, ia berpikir kalau pria itu ada hubungannya dengan ibunya. Atau jangan-jangan, itu kekasih barunya setelah suaminya meninggal?
"Kamu sudah makan belom?" tanya Verna pada Rio.
"A-" Rio tak jadi melanjutkan perkataannya saat melihat seorang pria memasuki kamarnya.
"Hi!" sapa pria itu. Dia mengenakan jaket kulit berwarna cokelat dan kaus putih sebagai kombinasinya. Ia berjalan gagah dengan sepatu putihnya. Bahkan celana jeans hitam yang dikenakan itu semakin membuatnya memersona.
Semua sorot memandangi pria yang tengah tersenyum itu. Pria itu menata jambul firangnya yang hampir menghalangi keningnya.
"Oh iya, dia Sam. Putraku!" seru Verna. Wanita itu berdiri dan menghampiri pria tersebut. Ia menggandengnya untuk dibawa di dekat Rio. "Sayang, dia adikmu. Namanya Samuel. Dan Sam, ini kakakmu, Rio." Verna saling memperkenalkan anak-anaknya itu.
"Hi, Kak!" sapa pria bernama Samuel itu pada Rio. Ia mengulurkan tangannya pada Rio untuk dijabat.
Awalnya Rio enggan untuk menjabat tangan saudara tirinya itu, namun setelah ayahnya mengangguk padanya, ia mau untuk menjabatnya walau agak canggung.
"Sebenarnya namaku Samuel Johnson, tapi kamu bisa memanggilku Sammy biar lebih akrab!" seru Samuel seraya tersenyum.
"Rio!" kata Rio kemudian melepaskan jabatan tangannya. Rio melirik buku dongengnya yang sedikit terlihat, kemudian ia menutupinya lagi dengan selimut. Tak sadar Samuel memperhatikan hal itu.
"Itu buku apa?" tanyanya.
Rio benar-benar kesal, baru kenal pria itu sudah mencoba sok akrab. "Bukan apa-apa. Itu hanya buku kuliah!" kata Rio dingin.
"Oohh!" kata Samuel seraya bibirnya membentuk huruf O. "Oh iya, aku juga akan kuliah di kota ini, loh. Iya kan, Ma!" serunya sembari menoleh ke arah Verna.
Verna mengangguk seraya tersenyum. Kemudian ia menatap ke arah Nando. "Kami memutuskan untuk pindah di kota ini. Jadi, aku bisa sering berkunjung menemui Rio nantinya," katanya pada Nando.
"Apa kalian sudah menemukan tempat tinggal?" tanya Nando.
"Belum. Tapi kami akan cari nanti. Mungkin aku akan tinggal di apartemen dekat sini, " jawab Verna.
Criling… criling… suara dering ponsel terdengar dari saku Samuel. Pria itu meminta izin untuk keluar mengangkat teleponnya. Setelah keluar, Rio memanggil Verna untuk mendekat kepadanya.
"Ibu!" panggil Rio canggung.
Mendengar kata 'ibu' yang keluar dari mulut Rio, tentu membuat Verna teramat gembira. Ia tidak bisa membayangkan kalau anak pertamanya akan memanggilnya setelah dua puluh dua tahun lamanya. Bahkan Nando tampak terkejut.
"Apa kau bilang? Apa aku tidak salah dengar, Nak?" tanya Verna dengan gembira. Matanya itu mulai berkaca-kaca.
"Maaf, aku harus memanggilmu ibu atau mama?" kata Rio bertanya.
Verna langsung mendekati Rio. "Terserah, Nak. Tapi, kedua itu telah membuatku bahagia." Verna tak sadar meneteskan air matanya.
Rio dengan cepat mengusap air matanya itu. "Sammy tadi memanggilmu Mama, jadi kupikir kamu tidak akan suka kupanggil sebutan ibu," katanya pada Verna. "Baiklah, kalau begitu aku akan memanggilmu mama saja," seru Rio semakin membuat Verna terharu.
Wanita itu langsung memeluk putra sulungnya itu. Rasa rindu yang tertahan selama bertahun-tahun kini tersampaikan. Rio juga bahagia bisa merasakan pelukan seorang ibu seumur hidupnya.
"Apa kamu mau memaafkan kesalahanku dulu, Nak? Tolong maafkan ibumu ini, Nak. Dulu aku tidak berdaya, sehingga aku memutuskan untuk mengakhiri hubunganku dengan ayahmu." Isak tangis terdengar jelas di telinga Rio.
Rio memandangi ayahnya yang berdiri menunduk dan sibuk mencoba untuk menghapus air matanya.
"Papa, kemarilah!" pinta Rio membuat Nando berjalan ke arahnya.
Rio merenggangkan pelukannya pada Verna. Lantas, pria itu mengambil tangan ayah dan ibunya kemudian menyatukan tangan mereka. Kemudian ia berkata, "Kalian masih saling mencintai sampai sekarang, kan?" Rio menarik napas dan membuangnya. "Sekarang, sudah tidak ada lagi penghalang untuk kalian bersama," sambungnya.
Nando dan Verna tak mengerti ucapan anaknya itu. Mereka saling pandang satu sama lain.
"Kalian boleh menikah jika kalian mau," seru Rio pada mereka.
"Benarkah, Nak?" tanya Nando seperti tak menyangka Rio akan mengatakan hal itu.
"Iya, Pa! Aku sudah menyetujui kalian untuk bersama kok." Rio memberi jeda. " Mama tahu nggak, selama bertahun-tahun ayah selalu menyimpan foto mama dan dia selalu menangis saat memandanginya."
"Benarkah?" Verna tampak terharu.
"Iya! Sekarang kalian harus bersatu. Mungkin aku belum mengenal akrab denganmu, tapi aku akan mencobanya," kata Rio pada Verna.
"Apa kamu juga akan menerima Sammy sebagai adik tirimu?" tanya Verna.
Rio terdiam sejenak, kemudian mengangguk. Hal itu membuat Verna dan Nando begitu bahagia. Mereka bertiga berpelukan layaknya keluarga bahagia.
"Kamu sudah semakin dewasa sekarang," seru Nando pada putranya.
Rio tersenyum. Setelah membaca dongeng kematian pada judul cerita Malin Kundang, ia takut kalau apa yang ada di dalam cerita itu terjadi padanya gara-gara tidak mau mengakui ibunya sendiri. Rio tidak ingin perkataan wanita tua tadi malam benar-benar mengutuknya. Ia tidak ingin menjadi batu dan durhaka pada orang tua.
Rio mencoba melupakan rasa sakit masa lalu dan mencoba hidup yang baru dengan keluarganya yang utuh seperti orang-orang lainnya.
***
TO BE CONTINUED