Dejavu

3344 Words
Rio menggigil takut, saat wanita tua berwajah menyeramkan dari negeri dongeng itu menyentuh rahangnya dengan kuku-kuku runcingnya. Kemudian, wanita itu berkata tepat di telinganya Rio. "Mari kita bahas soal dongengnya. Dalam dongeng ini, tokohnya hanya kita berdua, tetapi aku berperan sebagai antagonis, dan kau sebagai protagonis. Di setiap kisah, antagonis selalu menyakiti si protagonis. Karena ini dongeng kematian, maka harus ada tokoh yang mati. Lantas, siapa yang sebaiknya harus mati?" tanya wanita itu tepat di telinga Rio dengan suara jahatnya. Dengan amat terpaksa, Rio mengatakan, "A-aku." "Bagus! Hahahha!" Wanita itu tertawa girang. "Sekarang dongengnya akan sangat menarik!" Wanita itu melepaskan tangannya dari Rio. "Katakan, apa kau memiliki benda-benda tajam dan runcing?" tanyanya kemudian. "Tidak!" Rio menggeleng cepat saat mendengar benda-benda tajam. Firasatnya sangat buruk kali ini. "Baru saja kau melempar gunting pada keningku, dan sekarang kau bilang tidak memiliki benda tajam?!" Wanita itu mulai marah. Rio menatap mata wanita tua itu yang begitu tajam. Ia ketakutan dibuatnya. "Iya … aku punya," jawabnya terpaksa. "Katakan apa saja yang kau punya?" "A… aku punya gunting, sisir…" "Hanya itu?!" Wanita itu membentak membuat Rio gugup. "T-tidak … a-aku punya bantal, guling, selimut, sprei-" "-apa kau mau tidur sehingga menyebut benda-benda itu?!" selak wanita itu emosi. "Iya!" jawab Rio begitu saja. Wanita itu melotot pada Rio, dan kembali menyentuh pipi pria itu."Bukan sekarang anakku sayang. Kau perlu merasakan betapa asyiknya saat benda-benda tajam menyentuh kulit-kulitmu ini dan mencicipi darah segarmu dahulu, baru setelah itu … kau bisa tertidur untuk selama-lamanya!" Wanita itu terkekeh sadis. "A-pa?" Tubuh Rio bergetar hebat. "Jangan lakukan itu ... kumohon!" pintanya mengiba. "Apa orang tuamu tidak pernah menyekolahkanmu sehingga membedakan antara benda tajam dan yang bukan saja tidak bisa?!" Wanita itu bertanya sinis pada Rio. "I...tu tidak benar. Aku sekolah sampai tamat dan sekarang kuliah jurusan management," sanggah Rio. "Lalu kenapa kau bodoh sekali?" "Kau bilang kau ibuku, kan. Peribahasa mengatakan buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Jadi sifat ku mengalir darimu. Apa itu artinya kau dulu juga bodoh sepertiku saat sekolah? Kau suka bolos ya? Ayo ngaku! Atau jangan-jangan kau tidak pernah sekolah?" "Diam!" Wanita itu menjadi murka saat Rio mengejeknya. "Aku datang dari negeri dongeng. Jadi, aku tidak perlu sekolah untuk menyakiti para tokoh dalam dongengku. Hahaha!" Rio menelan ludah berkali-kali. "Satu tambah satu berapa?" Rio mencoba menanyai wanita itu. "Apa yang kau katakan?" tanya wanita itu. "Bagini, mari kita bermain adu kepintaran. Aku akan memberimu soal, kalau kau tidak bisa menjawabnya maka kau harus membebaskanku dan membiarkan ku pergi," kata Rio memberi tawaran. "Kalau aku bisa menjawabnya?" Giliran wanita itu yang berbicara. "Berarti, kau yang akan kulenyapkan! Hahaha!" sambungnya sembari tertawa. Rio menelan ludah. "Sekarang, jawab pertanyaanku. Siapa penemu pesawat terbang pertama kali?" Rio menyudutkan bibirnya. Ia tahu kalau wanita itu akan kesusahan menjawabnya, karena di dalam dongeng tidak mungkin ada pesawat terbang. Wanita itu tampak berpikir. "Apa kau sudah gila? Soal macam apa yang kau berikan?" Wanita mulai emosi. "Itu soal sangat mudah sekali. Anak kecil saja bisa menjawabnya. Ketahuan kalau kau memang tidak pernah sekolah. Ibuku itu pintar dan dia berpendidikan tinggi. Sekarang, aku jadi ragu kalau kau bukan ibuku. Pasti kau mengaku-ngaku sebagai ibuku, iya kan?" kata Rio pada wanita itu dengan sedikit keberanian yang masih tersisa. "Durhaka kau! Jangan kau jadi seperti Malin Kundang! Yang tidak mau mengakui ibunya!" bentak wanita itu. "Tepat sekali! Kenapa aku harus menjadi Malin Kundang? Sedangkan namaku Rio Vernando! Kau sendiri yang bilang aku Malin Kundang. Aku rasa kau salah orang." Rio berjalan mundur dari wanita itu. "Dengar wanita tua, aku bukan Malin Kundang. Sebaiknya kau pergi dari kamarku dan cari anakmu Malin Kundang itu. Kalau kau mau, aku bisa membantumu mencarinya lewat google." "Dasar anak durhaka! Kau mengejekku? Hah?!" Wanita itu menarik tubuh Rio untuk mendekat padanya lagi. "Karena kau telah durhaka pada ibumu ini, maka kau akan menjadi batu!" teriak wanita itu. Sesuatu tiba-tiba terjadi pada Rio. Tubuhnya itu menjadi kaku dan keras. Ia sangat susah untuk menggerakkan tubuhnya sendiri. Sepertinya memindahkan beton yang begitu besar. Namun, untungnya mulutnya itu masih bisa bersuara. "Apa yang terjadi padaku? Kenapa tubuhku menjadi kaku sekali?" Rio bertanya-tanya, sembari matanya melirik ke kanan dan ke kiri, karena hanya itu yang bisa dilakukannya saat ini. "Itu karena kau telah durhaka pada ibumu sendiri. Makanya, jadi anak harus berbakti pada orang tua jika tidak ingin mendapat azab!" Wanita itu berjalan mengitari Rio. Jalannya masih terseok-seok, dan tubuhnya selalu membungkuk. "Sekarang, biar aku yang mengajarimu apa yang tidak diajarkan padamu di sekolah. Hehehe." "Apa yang akan kau lakukan?" Rio mulai ketakutan. "Teknik mutilasi!" jawab wanita itu mantap. Lantas, wanita itu bergerak mengambil gunting yang jatuh di dekat tembok tadi, kemudian berjalan terseok-seok menuju meja Rio. Wanita itu mengambil sebilah pisau yang terdapat di keranjang buah. Mengambil catut di laci meja, dan juga kaca silat-silat dengan berbagai ukuran. Kemudian, wanita itu beralih memandangi cermin besar yang tertempel di dinding. "Wajah cantik begini dibilang tua bangka!" Wanita itu tersenyum melihat pantulan wajahnya sendiri pada cermin. Lalu, ia menancapkan kuku-kuku yang runcing itu pada cermin hingga membuat cermin itu pecah. Wanita itu mengambil pecahan cermin dan ditaruhlah di meja yang sama. Di meja itu sudah berjejer benda-benda tajam yang ia kumpulkan tadi. "Sekarang … alatnya sudah lengkap. Hehehe!" "Apa yang akan kau lakukan?" tanya Rio dengan suara gemetar, sedangkan kedua bola matanya melirik benda-benda tajam di atas meja. Ia mengutuk dirinya sendiri karena telah menyimpan benda-benda seperti itu di kamarnya. "Untuk memutilasi tubuhmu. Hehehehe," jawab wanita itu sadis. "Apa? M-me-mutilasi?" Rio menganga dan tertegun. "Iya! Menarik bukan? Menusuk-nusuk kedua bola matamu itu dengan ujung gunting runcing ini, lalu mengiris telingamu, menyayat kulitmu dan mengikutinya dengan pisau dapur, lalu aku gunakan catut ini untuk mencatut lidahmu, lalu kupotong dengan pecahan kaca ini." Wanita itu tersenyum sinis. "Tapi tenang saja, aku tidak akan membuatmu mati secepat itu jadi aku tidak akan memotong lehermu, karena aku ingin terus melihatmu menjerit kesakitan. Itu membuatku puas! Hahaha!" lanjutnya seraya tertawa. "Tolong jangan lakukan itu padaku, kumohon!" Isak tangis Rio mulai terdengar. "Kurasa benda-benda ini masih kurang." Wanita itu melirik sebuah jarum lengkap dengan benangnya di dalam kotak, lantas ia mengambilnya. "Bagaimana kalau ku buat tubuhmu itu menarik. Setelah telingamu kupotong, aku akan menjahitnya tepat di keningmu, lalu ku potong jari-jarimu dan kujahit di wajah-wajahmu. Pasti wajah tampanmu itu akan lebih mempesona lagi nantinya. HAHAHA!" tawa wanita itu semakin pecah. Rio tak bisa berbuat apa-apa lagi. Ketika ia mencoba untuk menggerakkan tubuhnya, semuanya sia-sia. Tubuhnya itu masih saja kaku. Sedangkan dia tidak mungkin menyerahkan tubuhnya begitu saja pada wanita tua itu untuk dicincang. "Ku mohon … lepaskan aku. Jangan bunuh aku. Aku belum ingin mati. Aku masih belum lulus kuliah, aku juga belum puas untuk berpesta pada teman-temanku, dan aku juga belum menikah. Tolong … biarkan aku merasakan semua itu dulu," rengek Rio. "Kita sudah pesta anakku. Anggap saja ini adalah pesta. Pesta kematianmu!" "Jangan ... please …!" "Begini saja, karena aku kasihan melihatmu, kau boleh memilih bagian mana yang harus aku sentuh terlebih dahulu dengan benda tajam ini. Katakan, asal jangan memilih leher atau pergelangan tangan. Karena itu akan membuatmu cepat tiada!" Wanita itu mengambil pecahan kaca yang tajam, dan memperhatikannya. Jemarinya meraba bidang runcing kaca itu seraya tersenyum sinis. Kemudian, wanita membalikkan tubuhnya menatap Rio yang masih mematung di sana. Lalu wanita itu mulai berjalan mendekati Rio. "Katakan! Bagian tubuh mana yang pertama kali harus mencicipi betapa runcingnya kaca ini?" Rio tetap tak mau menjawab. Kalau boleh, justru ia tidak ingin sama sekali benda-benda itu menyentuh tubuhnya. "Kalau kau tetap diam, baiklah aku yang akan memilihnya sendiri. Bagaimana kalau lenganmu itu kupotong dengan kaca ini?" Rio melotot seketika. "J-jangan!" "Aarghh! Kau hanya membuang waktu!" Wanita mengulurkan tangannya, membuat lengan Rio yang semula kaku seperti batu kini bergerak dengan sendirinya. Tangan Rio itu mengulur ke depan. Kemudian, wanita itu berdiri tepat di tangan Rio, dan … Kreess!!! "Ahhhhh!" Rio menjerit histeris. Bidang kaca tajam itu telah berhasil menggores lengan Rio dan mencicipi darahnya. Beruntungnya itu hanya goresan biasa dan tak terlalu dalam. Namun meskipun begitu darahnya memuncrat menodai lantai kamar. "Teriak! Teriak sekencang-kencangnya! Itu membuat hatiku gembira dan menari-nari!" Wanita itu menjilat darah Rio yang tertempel di pecahan kaca itu. "Ini akibat kalau anak tidak berbakti kepada orang tua!" ujarnya. Wanita itu melirik tajam ke arah mata Rio yang mulai meneteskan air mata. "Sekarang, bagaimana kalau kita lanjutkan dengan bola matamu itu. Kurasa, akan seru dan asyik jika bola matamu itu ku tusuk dengan gunting runcing itu!" Wanita itu mulai bergerak menuju meja lagi. Ia menaruh pecahan kaca di atas meja dan berganti mengambil gunting besi yang memiliki ujung runcing. Wanita itu memainkan gunting itu dengan membuka dan menutupnya, hingga menciptakan suara besi yang saling bergesekan. Ting … ting … ting …. Suara itu merasuk hingga ke jantung Rio dan membuatnya bergeming ketakutan. Desiran darah di dalam tubuhnya mengalir deras dan jantungnya berdegup kencang. Mata Rio melotot melihat wanita itu berjalan ke arahnya dengan memainkan guntingnya. "Please … don't touch me … please!" isak Rio. "Hahaha! Sebentar lagi bola matamu itu akan aku tusuk dan aku congkel dari kelopaknya, kemudian … aku makan dengan darahmu sekalian. Hahaha!" Tawa wanita itu begitu pecah. Wanita itu mengarahkan ujung runcingnya tepat pada mata kanan Rio. Rio bisa melihat dengan jelas ujung runcing gunting itu. Sebentar lagi, mata kanannya itu akan gelap untuk selama-lamanya. "TIDAK!!!!" Rio berusaha menggerakkan tangannya yang tergores pecahan kaca tadi. Nasib baik berpihak padanya. Tangan itu bisa bergerak. Tanpa pikir panjang, pria itu menjambak wanita itu kuat-kuat dan menyingkirkannya dari hadapannya. Rambut yang lapu dan rapuh itu ditarik kencang oleh Rio hingga membuat beberapa rambut itu tercabut dari kelopak kepalanya. Sadis! Kepala wanita itu menjadi botak sebagian. "Ahhh!" Rio melempar rambut tua itu. "LANCANG!!!" Wanita itu berlari ke arah Rio dengan mengangkat gunting runcingnya diarahkan tepat pada Rio. Rio berhasil menghalanginya. Ia memegang tangan wanita dan merebut guntingnya. Lantas, Rio mengayunkan gunting itu dengan menampar wajah sang wanita. Darah hitam pekat berlendir memuncrat dari wajah sang wanita. Tidak hanya sekali, Rio melakukannya lagi berkali. Wanita itu mundur. Berteriak dan meraba wajahnya yang menghitam penuh dengan darahnya sendiri. Sadis, bukannya kesakitan, wanita itu malah menyobek kulit wajahnya sendiri dengan kuku runcingnya hingga kulit wajahnya itu terkelupas habis. Kini wajahnya penuh darah hitam berlendir. Rio tercengang dibuatnya. Matanya melotot melihat adegan brutal di hadapannya langsung. Lantas, wanita itu mengeram dan langsung meloncat ke arah Rio. Wanita itu memeluk kepala Rio, sedangkan tangannya mengikat di pinggang Rio. Kukunya yang tajam mulai mencakari kepala Rio. "Aaahh!" Rio berusaha melepaskan wanita itu dari tubuhnya dengan menusuk-nusuk punggung wanita itu dengan gunting. Tangan Rio penuh dengan darah hitam. Saking geregetannya karena wanita itu belum juga terlepas dari tubuhnya, Rio menusuk telinga wanita itu hingga menembus ke dalam. Semburan darah tak terkira lagi. Wanita itu terjatuh ke lantai. Rio masih belum puas. Ia menusuki tubuh wanita itu berkali-kali dengan gunting secara brutal. "Mampus kau! Mampus kau! Mampus kau, wanita tua jelek!" Wanita itu tak bergerak lagi. Tubuhnya bersimbah cairan lengket kental berwarna hitam. Rio melemparkan guntingnya begitu saja. Lantas, pria itu menggeser tubuhnya ke belakang dengan mengesot. Rio menekuk lututnya, berdiam di pojokan kamar. Napasnya memburu dan peluh keringatnya mengucur deras. Sekarang, ia baru merasakan kalau apa yang dikatakan teman-temannya itu benar adanya. Buku dongeng itu memang buku terkutuk. Rio terus memandangi tubuh wanita itu yang tergeletak mengenaskan. Kemudian, tiba-tiba lampu kamar berkedip-kedip membuat Rio terkejut. Pria itu memandangi langit-langit kamarnya. Beberapa saat, lampu kamarnya mati total. Semuanya menjadi gelap. Selang beberapa detik, lampu kamar menyala kembali. Keadaan menjadi terang. Namun, anehnya suasana kamarnya itu berbeda dari sebelumnya. Darah-darah hitam berlendir tidak lagi menodai lantai, tubuh wanita itu juga tidak ditemukan lagi. Hanya ada pecahan kaca yang berserakan di dekat meja. Tetapi, tepat di tempat wanita tadi tergeletak, kini terdapat buku dongeng yang tergeletak di sana. Rio kebingungan. Kemana perginya wanita tadi? Pria itu menengok ke kanan dan ke kiri, namun ia tak menemukan wanita itu lagi. Ting tung … Ting tung … Suara bel rumah tiba-tiba berbunyi. Rio bergegas menuju pintu kamar. Ia membuka kamar itu dan berlari menuruni tangga sembari memegang lengannya yang masih sakit akibat tergores kaca. Sesampainya di ruang tamu, ia menatap pintu rumah yang terus mengeluarkan suara bising bel. Rio membuka pintunya. Terdapat wanita tua yang berdiri di depan pintu. Rio mengamatinya. Wanita itu berpostur bungkuk dan mengenakan selendang yang menutupi wajah hingga punggungnya. Bajunya compang-camping, dan lusuh. "Siapa kau?" tanya Rio pada wanita tua itu. Wanita itu mulai bereaksi. Berjalan pelan mendekati Rio. Jalannya itu terseok-seok. Setibanya di hadapan Rio, wanita itu mendongakkan kepalanya ke arah Rio. Rio terkesiap. Wajah wanita itu begitu renta, keriput, sampai tulang-tulang serta otot-ototnya kelihatan. Sedangkan kulitnya yang tipis berwarna pucat pasi. Sepucat mayat. Namun, tatapan matanya itu sangat tajam, menyerupai mata tengkorak. Rambut depannya tampak lapu. Wanita itu menggerakkan tangannya, menyentuh tangan Rio dan mengelusnya sampai ke atas. Tepat di pipinya, Rio merasakan betapa dinginnya sentuhan wanita tua itu. Sedangkan kulit tangannya itu kasar sekali. "A-anak ku?" Suara serak yang keluar dari kerongkongan wanita tua itu membuat Rio terkejut. "Anak?" Rio keheranan dan mundur satu langkah membuat tangan wanita itu terlepas dari pipinya. "Iya, anakku. Malin Kundang!" Jleg! Jantung Rio serasa berhenti berdetak untuk sesaat. Ia tersentak kaget, kemudian sadar kalau ia pernah mengalami hal ini tadi. Ia pernah membukakan pintu pada seorang wanita tua, lalu wanita itu melukainya, bahkan lengannya itu masih merembes darah saat ini. Tidak mungkin tadi hanya mimpi belaka. Apakah Rio sedang mengalami Dejavu saat ini? Rio bergegas mundur ke belakang. Lantas, ia buru-buru masuk ke rumah dan menguncinya rapat-rapat. "Anakku … Malin Kundang … kenapa kau tidak mengakui ibumu ini?" Aku ibumu, Nak! Bukalah pintunya, jangan jadi anak durhaka!" Suara serak basah wanita itu masih terdengar dari balik pintu bersamaan ketukan pintunya. Tok tok tok … Rio menampar pipinya berkali. Ia tak mengerti apa yang terjadi padanya. "Tidak … tidak mungkin. Aku pernah melakukan ini sebelumnya, dan itu bukan mimpi. Apa aku mengalami dejavu?" Rio menggeleng berkali-kali. Lantas, ia bergegas menaiki tangga. Masuk ke kamar dan menutupnya rapat-rapat. Matanya langsung terfokus pada buku dongeng yang ada di atas ranjang. Rio melotot. "Bukankah tadi bukunya ada di lantai? Lalu kenapa bisa di atas ranjang? Ini sama seperti yang aku alami setelah memasuki kamar sebelumnya. Jangan kalau setelah ini aku akan…" Kaki Rio tiba-tiba bergerak, melangkah ke arah ranjang dengan sendirinya. Lantas, ia mengambil buku itu dan melemparnya di bawah ranjang. Ini sama persis seperti yang telah ia lakukan tadi. Bagaimana mungkin ini terjadi? Rio menggeleng berkali-kali. "Jangan bilang setelah ini akan muncul tangan di dalam kolong tempat tidur itu!" kata Rio dengan gemetar. Sreg! Bukannya keluar tangan, namun buku dongeng yang mulanya di bawah kolong ranjang kini tersempar keluar. Rio buru-buru mengambil langkah mundur dengan waspada. Matanya terpaku pada buku itu dan menunggu apa yang akan terjadi setelah itu. Tiba-tiba lampu kamar berkedip-kedip. Rio kebingungan dan memandangi langit-langit kamarnya. Angin malam menerobos masuk dan menyambar buku dongeng itu dan membuatnya berputar-putar. Rio terus terfokus pada buku dongeng itu dengan tatapan waspada. Tiba-tiba, buku itu membuka dengan sendirinya. Tepat pada cerita Malin Kundang. Lantas, dari selembar kertasnya muncul satu tangan mengerikan. Tangan itu begitu keriput dan putih sepucat mayat juga memiliki kuku yang tajam. Kemudian, disusul dengan tangan satunya dengan penampakan yang sama. Tidak bisa dipungkiri, tangan itu mirip sekali dengan tangan wanita tua tadi. Rio menelan ludah berkali-kali. Teringin ia lari dari sana, namun itu terasa berat sekali. Bahkan, untuk menggerakkan anggota tubuhnya itu sangat susah. Dia tidak sedang menjadi batu lagi kan? "Tidak! Semua ini hanya mimpi!" Rio berusaha meyakinkan dirinya sendiri namun kejadian ini benar-benar kenyataan. Sebuah kepala mulai muncul dari dalam buku. Kepala itu memiliki rambut yang putih berantakan, wajahnya penuh dengan darah hitam begitupun dengan mulutnya saat tertawa tampak tiga giginya. Kemudian matanya menyerupai mata tengkorak, dan kulitnya sudah terkelupas habis. Rio hanya bisa berdiam di tempat dan tertegun melihatnya. Bulu kuduknya berdiri, teriak ingin lari namun tubuhnya bertolak belakang. Rio semakin tertegun saat seluruh tubuh wanita itu keluar dari dalam buku. Bajunya sobek-sobek, punggungnya bolong-bolong akibat tusukan gunting, dan telinganya mengucur darah hitam yang tiada henti. "Kau telah durhaka pada ibumu sendiri, Malin Kundang! Kau yang membuatku seperti ini tadi!" Suara wanita itu tidak jauh beda dengan suara wanita tua tadi. "Sekarang, terima balasan dariku!" Wanita itu berlari ke arah Rio. Namun, sebelum menyentuhnya, Rio sudah terlebih dahulu menendang sosok wanita itu hingga terlontar jauh menatap tembok. Untungnya tubuh Rio sudah bisa digerakkan lagi saat itu. Wanita itu terjatuh dan tulangnya patah-patah. "LANCANG!!!" Wanita itu mencoba bangun. Merangkak di dinding-dinding kamar, dan melompat sampai di atas meja. Lantas, ia mengambil sebilah pisau yang tergeletak di sana. "MARI LANJUTKAN DONGENGNYA!" "SEKARANG, DONGENG INI AKAN SEMAKIN SERU JIKA TOKOHNYA ADA YANG MATI!!!" Wanita itu menyongsong sebilah pisau tajam dan meloncat tepat di tubuh Rio. Tangan kirinya mencekik leher Rio sedangkan tangan kanannya menusuk-nusuk d**a Rio dengan pisau yang dipeganginya. Darah memuncrat hebat. Rio kehabisan napas dan merasakan begitu pedih dadanya tertusuk benda tajam hingga ke dalam. Tidak puasa dengan dadanya, wanita itu beralih ke arah mata Rio. Kedua mata Rio ditusuk dengan pisau secara bergantian dan brutal. Jlep! Jlep! Semuanya menjadi gelap. Brak!! Tubuh Rio roboh ke lantai. Ting tung … Ting Tung … Suara bel rumah membuat Rio terbangun. Pria itu membuka kedua matanya lebar. Matanya itu masih baik-baik saja. Ia mencoba bangun, meraba dadanya. Ia terkejut, tidak ada luka tusukan di dadanya. Semuanya masih normal, hanya saja bajunya terdapat banyak bercak darah yang masih segar. Apakah semua hanya halusinasinya belaka? Rio melihat lengannya. Goresan kaca tadi masih melingkar di lengannya. Darahnya juga belum reda, begitupun dengan rasa sakitnya. "Kemana wanita sialan itu?" Rio tak lagi menemukan siapapun di kamarnya kecuali dirinya. Ting Tung … Suara bel terus berbunyi, membuat Rio berdiri dan bergegas keluar kamar. Ia berjalan tergesa-gesa menuruni tangga. Namun, di tengah tangga ia menghentikan langkahnya. "Tidak! Itu pasti wanita tua itu lagi. Aku nggak mau membukanya dan mengalami kejadian yang sama lagi. Tidak akan!" Rio berkata pada dirinya sendiri. Ting tung … suara bel terus membising. Rio tak peduli, ia hendak berbalik ke kamarnya lagi dan menganggap semua ini hanya mimpi buruknya belaka. Namun, kakinya itu tiba-tiba sulit untuk digerakkan. Tok… tok … tok … Kini berganti dengan suara ketukan pintu yang keras. "Malin Kundang? Buka pintunya, Nak! Aku ibumu ingin menemuimu!" Suara wanita tadi mulai terdengar lagi. Hal itu membuat telinga Rio sakit. "Aku nggak akan membukanya, tidak!" Rio berusaha untuk menaiki tangga dan kembali ke kamarnya namun kakinya seperti tertahan benda berat. "Malin Kundang … jangan durhaka sama ibumu sendiri, Nak! Jangan sampai kau membuat ibumu ini marah dan melakukan hal yang akan kau sesali nantinya!" "Tidak! Kau bukan ibuku!" ucap Rio mengelak. "Kuberi kau satu kesempatan. Jika kau tidak mau menerimaku sebagai ibumu, maka kau akan menjadi batu untuk selama-lamanya!" ancam wanita itu. Rio melotot. Ia tidak ingin ucapan wanita itu terjadi padanya. Tetapi, jika ia bukakan pintunya, hal yang sama akan terulang lagi. Dan mungkin kali ini wanita itu akan benar-benar membunuhnya. "Sekali bilang tidak, ya tidak! Kau bukan ibuku! Pergi dan kembali ke dalam negeri dongengmu lagi!" teriak Rio sembari terus berusaha berjalan naik. Melangkah satu anak tangga saja sudah menguras banyak tenaganya. "Kau memang benar-benar anak durhaka! Sekarang, kau akan mendekam di neraka bersama para iblis!" Tangan keriput berkuku runcing tiba-tiba memegang kaki Rio. Rio terkesiap, ia menoleh ke belakang. Wajah menyeramkan membuatnya berteriak. Lantas, tangan itu menarik kaki Rio ke bawah hingga membuat tubuh pria itu roboh. Rio masih berusaha bertahan di tempat. Tangannya memegangi pagar tangga berbahan besi dan mencengkramnya kuat-kuat. Namun, tiba-tiba sebuah pisau menggelinding dari atas tangga membuat Rio ketakutan hingga melepaskan pegangan tangannya. Tangan mengerikan itu langsung menarik tubuh Rio ke bawah. Tubuh Rio mengguling jatuh bersamaan pisaunya. Brak!!! Langit-langit rumah dan benda-benda berputar, kemudian menjadi samar-samar dalam pandangan Rio. Kedua mata Rio menutup bersamaan. Setelah itu, semuanya menjadi gelap! *** TO BE CONTINUED
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD