Pertemuan Dengan Gadis Manis
"Eh simpanan tante-tante!"
Seorang lelaki yang baru saja membuka pintu membeku sejenak, bak adegan drama, entah darimana datang sehembus angin menerpa wajahnya yang mengeras emosi. Baru saja dia membuka pintu kamar laknat itu, sebilah ucapan tajam menusuk tepat dijantungnya.
Haruskah ia kalah dan mundur saja? Pulang berguling di rumah dan melupakan niat awalnya untuk menghilangakan kegalauan hati?
Awalnya ia cuek namun lama-lama kesal juga saat ejekan itu terlontar pada masa yang kurang tepat, seperti sekarang, saat hatinya sedang galau.
Ejekan itu sudah terus muncul sejak ia kedapatan jalan berdua dengan pacar dewasanya. Ingat, garis bawahi dengan tebal 'pacar dewasa' bukan tante-tante. Tak akan rela ia menyebut pacarnya dengan sebutan tante, walau usianya dengan pacarnya memang terpaut jauh.
Lelaki berperawakan tinggi menjulang itu menyorot benci pada lelaki di sebrang sana dengan berpose menekuk satu lengannya di pinggang. Tampilannya sangat trendi, walau hanya menggunakan sweater yang dipadukan dengan celana joger, dan topi baseball, tidak membuat ketampanannya luntur. Bagian terpenting, dari atas kepala hingga ujung kaki, semua adalah barang branded dan ori, bahkan kolornya pun merk ternama.
Memang seperti inilah penampilam lelaki bernama Justin Fritz, selalu necis kapan pun dan di mana pun.
Baginya, hidup untuk dinikmati, dan kekayaan orang tua yang dicari setiap hari dari pagi hingga gelap, haruslah dimanfaatkan. Kasihan orang tuanya, jika bekerja keras tapi penampilan anaknya seperti gembel.
Namun orang lain menganggapnya berbeda, semenjak orang tua Justin sukses, gayanya menjadi selangit. Namun hanya karena rumor ia berkencan dengan wanita dewasa, sebutan simpanan tante-tante sudah menyebar luas dari ujung hingga ujung kampusnya. Sial betul, tapi Justin tak peduli dan tak mau ambil pusing, toh dia yang menjalankan. Nyatanya dia berpacaran dengan wanita dewasa bukan untuk uang.
Lelaki itu memantapkan diri, tidak akan suka wanita muda, karena yang dewasa memang lebih penyayang. Karena kemantapannya itu, ia menolak puluhan peryataan cinta dari teman sebaya bahkan adik tingkatnya. Tak level jika harus bersanding dengan gadis remaja yang masih labil.
"Sialan!" balas Justin dengan mengangkat jari tengahnya.
Tawa jenaka menyeruak begitu lelaki itu berancang-ancang siap melemparkan diri kepada sahabatnya yang sedari tadi rebahan di atas sofa.
"Gue masih kuat beli s**u sendiri, ngapain jadi simpanan tante-tante?" protes Justin seraya menjitak kepala sahabatnya tanpa ampun.
Jangan salah paham, Justin memang suka minum s**u, mamanya juga suka siapin tiap hari. Jadi tentu saja dia sangat mampu beli s**u sendiri, tak perlu dapat jatah dari tante.
"Aaaaa begitu?"
Sahabat Justin bernama Jaehan itu mengangguk paham, namun masih menggoda Justin dengan mata memicing jenaka. Sekedar info, nama asli Jaehan bukanlah Jaehan. Namanya Jaenudin Mubarok, lokal sekali kan? karena kesal dengan nama kampungannya, ia mempatenkan nama Korea dengan asal. Jaehan, dirinya sendiri pun tak tahu apa arti dari nama itu.
"Kampret lo!" Dedis Justin seraya beranjak dari atas badan Jaehan, lalu mendudukkan diri di lantai beralaskan karpet bermotif macan.
Selera Jaehan memang kuno, bayangkan mana ada remaja menjelang dewasa usia 21 tahun memasang karpet motif macan dikamarnya? Dan jangan lupakan sofa beralas kerangka mobil balap merah yang muncul di film itu. Seleranya memang aneh.
"Gimana kabar tante Sarah?"
"Bacot!" kesal Justin.
Kembali Jaehan taertawa puas, menggoda Justin adalah kebahagiaan tersendiri untuknya. Kapan lagi ia bisa menggoda lelaki angkuh itu? Selama ini Jaehan selalu kalah tiap kali mencari kelemahan lelaki Fritz itu, dan saat tahu apa kelemahan lelaki itu, tentu tak akan Jaehan sia-siakan ladang penistaan ini.
"Udah bubar masih dibahas aja kampret!" lirih Justin seraya meraih mobil-mobilan merah yang selalu ada di kamar Jaehan. "Emang mereka yang lebih dewasa bakalan cari cowo yang seumuran juga kalau udah niat serius, cowo ingusan macam gue mah kagak guna."
Ingin rasanya Jaehan tertawa berguling-guling, ucapan Justin benar-benar menyiratkan betapa lemahnya lelaki itu, merinding rasanya kala melihat sobatnya bisa juga menjadi mellow. Tapi saat menatap wajah merana Justin, rasanya Jaehan tak tega.
Ia yakin, Justin mengencani tante bukan karena ia kekurangan uang, atau hanya memanfaatkan keadaan untuk enaknya saja. Tapi memang Justin mencintai mereka, entah seleranya memang aneh, tapi selama ini Justin nyaman, jadi Jaehan memilih ikut tak peduli saat teman kampusnya memberi julukan 'simpanan tante-tane' Jaehan tetap percaya pada sahabatnya ini. Walau sering kali ia ikut mengejek, kapan lagi mencacati martabat lelaki hampir sempurna itu?
"Kalau kesini cuma buat galau mending pulang gih, geli liatnya."
Justin melempar mobil mainan Jaehan asal —membuat sang empunya menggerang marah—lalu merepatkan topinya dan mendecih kesal. Niatnya keluar rumah agar fresh dan tidak memikirkan mantan pacarnya yang milih pengusaha mapan, tapi nyatanya malah jadi teringat lagi. Salah memang menemui Jaehan si k*****t udik ini.
"Yaudah pulang deh."
"Yeuuu ngambek aja, udah macam anak perawan kebelet kawin, tungguin! Cabut aja yuk cari tante baru buat lo."
Justin menoleh sejenak, menghentikan langkahya yang hendak pergi dari kamar laknat Jaehan. Ucapan jaehan terdengar cukup menarik, cari pacar baru oke juga.
Ingatlah pepatah atau siapa lah yang bilang, 'Cara melupakan mantan adalah dengan jatuh cinta lagi' oke, ayo jatuh cinta lagi!
****
Satu hal yang Justin suka dari Jaehan, manusia satu itu tak punya malu, mau dihina, ditelanjangi juga sepertinya tak akan ada raut malu di wajahnya. Sobat asik adalah yang tak jaim-jaim untuk menutupi sifat aslinya.
Tapi kalau orangnya macam Jaehan sekarang ini, rasanya Justin ingin menarik kata-katanya dan kabur saja dari suasana canggung ini.
Benar jika Justin menyukai wanita dewasa, baginya wanita dewasa adalah wanita yang mengayomi, penyayang, perhatian bahkan bisa mengurusnya yang kekanakan, apalagi kalau dapat bonus dielus-elus sambil rebahan. Tapi bukan wanita dewasa yang macam ini juga bambank!
Di hadapannya Jaehan sedang menawarkan Justin bak barang dagangan, lagaknya ini manusia sudah seperti SPG kapling perumahan saja. Mulutnya lancar betul menyanjung Justin yang hanya duduk diam dengan meringis kaku. Entahlah sudah berapa lama Justin meringis berusaha ramah, dalam hatinya ia mengutuk sahabat bangsatnya ini.
Bagaimana bisa Justin yang sebenarnya banyak digilai mahasiswi kampusnya malah ditawarkan pada tante-tante yang sedang arisan di cafe?
Jika boleh menelisik dan mencibir, Justin yakin tante-tante di sana sudah berkepala banyak, walau rambut mereka hitam mengkilap. Justin yakin jika hitam itu sudah mendapat campur tangan salon, alias rambut beruban yang dicat kembali.
"Jadi gimana Te, ini temen saya oke kan?"
Lagi-lagi Jaehan merayu tante-tante yang tentu saja tidak buta dan tahu barang super. Lelaki gagah, badan berotot, tinggi, putih bersih—bahkan codetpun malu mau nempel dibadannya—gaya modis, katakan siapa yang mau menolak pesona Justin? Sekali kedip saja Cinta Laura pasti klepel-kelepek.
Tapi lain cerita jika Cinta Laura sukanya kulit hitam, Justin mundur. Menghitamkan kulit susah untuknya, kalau panas-panasan bukannya menggelap, kulitnya malah melepuh, merah-merah perih dan balik putih lagi.
"Aduh, emang Nak Justin ini ndak punya pacar? Wong oke gini, jujur saja Tante nggak suka kalau ngambil milik orang, takut ribet, iya kan Jeng?"
Justin menyengir lagi, sadar dong te, tante pasti punya suami kan di rumah? Itu cucu sudah di beri dot belum?!
Rasanya Justin ingin mencibir langsung, tapi urung dilakukan. Melihat wajah tante-tante di hadapannya membuat Justin ingat dengan mamanya, mana tega ia berucap kasar pada sosok rupawan seorang ibu-ibu ini?
Susah membedakan sifat baik dan sifat modus dari Justin.
Dengan ringisan andalannya Justin melirik tajam Jaehan, yang dilirik malah ketawa puas tanpa suara. Semua atensi tante sedang tertuju pada Justin, jadi tak ada yang memperhatikan Jaehan. Sialan memang ini bocah, benar-benar minta ditelanjangi!
"Dia baru putus Te, pacarnya nikah sama pria mapan, maklum Justin kan masih kuliah, jadi kalah pamor dong."
Para tante serempak tertawa, bisa dibayangkan tawa khas tante-tante yang sedang menunjukkan taringnya di depan mangsa?
Cubitan-cubitan kecil mulai bergantian mendarat di lengan kekar Justin, dari gerak-gerik dan gelagatnya, sepertinya tante mulai tertarik pada Justin. Bahaya! Bahaya! Bahaya!
Memang benar Justin suka wanita dewasa, tapi bukan tante-tante yang sudah berkeluarga begini juga dong! Bisa-bisa julukannya benar-benar kejadian juga. Justin maunya diusap-usap wanita dewasa, bukannya di puk-puk sama nini sambil dikasih botol s**u.
"Udah Nak Justin ikut kumpul sama kita saja, kita sering happy-happy bareng kok." celetuk salah satu tante, yang lagi-lagi membuat semua atensi mata tertuju padanya.
Di sebarang sana Jaehan semakin riang gembira, tertawa puas atas penderitaan Justin yang di sebabkan oleh perbuatannya. Mau menolak takut tante sakit hati, diteruskan kok ya seram, main sama tante-tante macam gini rasanya memangkas usia Justin yang sedang bugar-bugarnya. Bukannya happy, Justin bisa digigit habis sama tante-tante ini. Tapi gigi para tante masih gigi asli kan ya?
"Sorry ya aku telat Jeng."
Suara seorang wanita mengalihkan atensi tante yang awalnya menatap Justin, semuanya kini menatap sosok wanita muda yang tersenyum canggung pada gerombolan manusia yang duduk melingkar di meja bundar.
"Nggak apa Jeng, ayo duduk sini."
Justin mengerjapkan matanya, namun terus mengikuti pergerakan wanita yang mulai melepas coat-nya dan duduk nyaman di kursi. Kehadiran wanita itu bak magnet, semua langsung menatapnya penuh binar, tanpa terkecuali Justin dan Jaehan. Bahkan sosok Justin yang notabennya hanya menyukai wanita dewasa pun di buat terkagum, kalau ada anak muda yang mendekatinya model begini, Justin rela deh melepas keteguhan hati yang 'hanya akan mencintai wanita dewasa'. Namun, dalam hati Justin bertanya-tanya, kenapa gadis manis ini main sama tante-tante?
"Oh iya Jeng, ini ada anak muda mau ikut gabung, gimana menurut jeng?"
Lagi-lagi Justin mengerjap, rasanya risih di telinga, gadis manis ini terus-terusan dipanggil jeng? Ah, mungkin memang begitu panggilan akrab mereka, seperti mama yang suka manggil tante Sisi—mamanya Jaehan—dengan sebutan jeng, Mungkin mereka memang sudah akrab sekali.
Tanpa sadar Justin menggut-manggut membenarkan pemikirannya, dan pergerakan kepalanya terhenti saat gadis manis dihadapannya menatapnya tajam. Bahkan Justin yakin gadis manis ini sedang menilai penampilan Justin dari atas kepala hingga ujung kaki, walau kakinya sembunyi di bawah kolong kursi dengan gugup. Dag, dig, dug rasanya ditatap gadis manis nan sexy ini.
"Saya sih terserah jeng semua saja."
Alamak, rasanya Justin mau pulang sekarang juga sambil gendong ini gadis manis di hadapannya untuk di kenalkan dengan mama papa. Bagaimana tidak, saat ia tersenyum, beuh... cantiknya berlipat ganda, manisnya ngalahin madu, rasanya Justin sudah benar-benar bucin seketika. Bahkan bayangan sarah—mantan pacarnya—otomatis lenyap dari ingatan dan bergantikan senyuman memesona dari gadis manis.
"Kalau aku ikut gabung boleh juga kan Te?"
Justin mendelik kesal kearah Jaehan, si manusia kardus satu ini memang paling pintar cari muka. Tadi saja dari wajahnya niat sekali menceburkan Justin pada kubangan suram tante-tante girang, tapi dirinya sendiri malah minat juga? Ngomong-ngomong bukankah Jaehan sering menegaskan tak akan suka pada tante-tante, tapi buktinya?
"Boleh kok, kita juga cuma kumpul buat arisan sama ngobrol, ngomong-ngomong siapa nama kalian?"
Gadis manis itu bertanya ramah, seperti bocah bodoh, Justin hanya tersenyum-senyum menatap penuh damba. Suara gadis manis itu sangat lembut, manja dan sexy secara bersamaan. Pikiran Justin berkalana, pasti suaranya sangat merdu saat ....
"Bernyanyi!" pekiknya kencang.
Justin menggeleng kaget saat lengannya disenggol oleh tante yang duduk di sebelahnya. Kelimpungan saat semua mata menatapnya, sedang Jaehan tertawa mengejek, kampret memang itu manusia satu. Lagi pula, kenapa pada melihatnya sih? Ada apa? Apa karena teriakannya?
Tanpa sadar Justin melepaskan topinya karena keringat yang sialnya ikut keluar deras di saat gadis manis menatapnya. Namun pergerakan Justin melepas topi dan menyugar rambut gondorngnya yang basah menjadi tontonan seru untuk para tante, tanpa terkecuali gadis manis yang ikut tersenyum, damn! Sangat-sangat luar biasa gadis manis ini!
Pokoknya hanya Justin saja yang boleh memiliki!