Sepuluh

2427 Words
“Helena.” Perempuan cantik yang memperkenalkan diri di hadapannya membuat langsung diri Runa menciut. Mendengar suaranya saja menyadarkan Runa dirinya tidak sepadan dengan perempuan yang tampak luar biasa anggun dengan white blouse  dan floral pencil skirt didepannya saat ini.  Jauh berbeda  dengan dirinya yang tampak seperti upik abu dengan daster bercorak kembang-kembang. Huh, benar-benar seperti bumi dan langit. Runa meraih uluran tangan Helena. “Runa,” ucap Runa dengan suara pelan hampir berbisik membuat Irsyad menyadari ada yang berbeda dengan istrinya saat ini. “Maaf ya, Runa, kita ganggu malam-malam gini,” ucap Helena, senyum lebar menghiasi paras manis perempuan berambut hitam itu. Melihatnya membuat Runa semakin merasa kecil hati. Helena yang manis begitu berbeda jauh denganku, pantas aja Irsyad betah seharian bersama perempuan ini di kantor, pikir Runa. Runa melemparkan senyum tipis tanpa banyak kata yang ia ucap. Perempuan yang berada dihadapan Runa saat ini sepertinya mulai merasa canggung dengan tatapan menilai yang tertuju padanya. Helena beberapa kali melirik ke arah Irsyad dan Dito secara bergantian. Sepertinya ia butuh bantuan untuk mencairkan suasana diantara dirinya dan Runa. Apalagi pandangan mata Runa yang terus menatapnya, memperhatikan dirinya dengan sangat intens membuat Helena ikut memperhatikan dirinya sendiri dari ujung kaki. “Helena, kebiasaan pakai rok, Mbak, kalau naik motor susah naiknya, makanya ikut mobil Mas Irsyad,” ucap Dito. Lelaki berkepala plontos itu sepertinya juga menyadari tingkah Runa yang terlalu berlebihan menatap Helena. Runa menganggukkan kepalanya pertanpa mengerti ucapan Dito, senyuman tipis  masih terukir diparasnya yang dipenuhi tanda tanya dan rasa penasaran pada sosok Helena ini. Ia lalu melingkarkan tangan kirinya di pinggang Irsyad. “Iya aku ngerti kok, Mas Dito, kalau kerja ‘kan perempuan lebih sering pakai rok, lebih kelihatan feminim ya ‘kan Mbak Helena?” ucap Runa berpendapat yang diangguki oleh Helena. “Wajarlah, asal jangan buat narik perhatian suami orang aja, ya ‘kan, Yah?” ucap Runa, kepalanya terangkat berganti menatap suami di sampingnya. Tiga pasang mata menatap Runa dengan tatapan yang sulit diartikan. Mereka -terutama Irsyad- tak menduga perempuan yang berdiri di sampingnya bisa berkata seperti itu di hadapan banyak orang. Irsyad tersenyum canggung lalu dengan penuh kelembutan ia mengusap pinggang Runa lalu menghadiahi satu kecupan singkat di puncak kepala sang istri membuat Runa tersipu. Irsyad senang mengetahui istrinya cemburu namun jika di biarkan terlalu jauh, entah kalimat-kalimat sarkas apalagi yang akan keluar dari mulut istrinya. Dan itu tentu saja hanya akan memperburuk suasana hati Runa sendiri serta membuat Helena tersudutkan.   “Kalian mau lanjutkan kerjaan ‘kan? Ayo masuk, banyak nyamuk kalau disini,” ajak Runa yang melangkah lebih dulu ke dalam rumah meninggalkan Irsyad dan dua rekan kerjanya. “Maaf ya, El kalau Runa bicaranya enggak ngenakin gitu,” ucap Irsyad pada Helena. “Enggak masalah, aku paham kok, aku juga perempuan jadi ngerti kalau istri kamu cemburu,” ucap Helena, ia menepuk bahu Irsyad lalu melangkah masuk ke dalam kediaman Irsyad bersama Dito. Irsyad menutup pintu setelah tamu-tamunya masuk ke kediamannya. Runa sendiri sedang menyiapkan minuman di dapur.  “Ini foto pernikahan kalian?” tanya Helena sambil menunjuk foto yang menampilkan wajah pemilik rumah. Wajah Helena saat bertanya menunjukkan rasa tak percaya dengan apa yang ia lihat, Irsyad mendekati Helena dengan tawa kecil yang keluar dari mulutnya, ia berdiri sejajar dengan Helena memandangi foto yang sama yang di ambil beberapa bulan yang lalu itu. Foto yang menampilkan wajah Runa dan Irsyad dalam balutan pakaian pengantin. Runa memakai gaun berwarna putih tulang sedang memegang  buket mawar putih, perempuan itu berdiri di samping lelaki yang tampak gagah dengan setelan jas hitamnya. Tak ada senyum disana, wajah keduanya tampak begitu datar tanpa ekspresi.  “Iya, kenapa kamu kayak kaget gitu sih, El” jawab Irsyad. “Kaget lah aku, Syad. Baru pertama kali aku lihat foto pernikahan ekspresinya datar begini, lempeng aja, kebangetan tau enggak, nikah sekali seumur hidup, kenang-kenangannya kok begini banget,” ucap Helena sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Irsyad kembali tertawa mendengar ucapan temannya itu. “Aku udah pernah cerita ‘kan ke kamu, jadi ya maklumin aja lah,saat itu aku mau di foto aja udah bagus, El.” “Ini pasti di paksa tante Dini ‘kan?”tebak Helena yang diangguki oleh Irsyad. Helena langsung menggelengkan kepalanya tak habis pikir dengan sahabat lamanya satu ini. Runa yang kembali ke ruang tamu dengan membawa nampan berisi minuman terdiam memandang dua orang yang sedang asik mengomentari fotonya itu. Matanya tak berkedip melihat interaksi suami dan Helena. Pikirannya melayang begitu mendengar percakapan kedua orang itu. Runa semakin penasaran dengan perempuan yang ternyata mengenal  mertuanya, siapa Helena sebenarnya? Apa saja yang Irsyad ceritakan pada perempuan ini? Apakah perempuan ini juga mengenal Gendis? Semua menjadi tanda tanya besar dalam benak Runa. “Sampai kapan kalian mau mengagumi kecantikkan aku?” tanya Runa dengan nada yang terdengar cukup sinis. Sudah cukup ia sibuk dengan pikirannya, ia harus menyudahi percakapan Helena dengan suaminya yang mulai di bumbui dengan kontak-kontak fisik salah satunya tepukan di bahu Irsyad, jujur saja Runa tak suka melihatnya. Irsyad membalikkan tubuhnya begitu juga dengan Helena yang ikut mengalihkan pandangan ke arah ibu satu anak itu.  Irsyad kembali tertawa, ia berjalan mendekati Runa, diambilnya nampan minuman dan diletakkannya di meja. “Sok cantik ah kamu, Bun, kamu sadar enggak, mata kamu di foto itu kelihatan menyeramkan, kalau Kakak lihat pasti dia udah nangis kejer?” ledek Irsyad sambil menjepit hidung Runa dengan jari-jarinya.   Runa menepis tangan Irsyad dengan pelan. “Kakak enggak pernah nangis kalau lihat foto ini. Lagi pula emang menurut kamu, kamu itu ganteng?” balas Runa dengan dagu yang terangkat menantang Irsyad. “Coba aja tanya sama El yang matanya lebih sehat dari mata kamu,” sahut Irsyad. “El, aku ganteng enggak di foto itu?” tanya Irsyad sambil terkekeh. Runa memutar bola matanya dengan malas, kekesalan kini menyelimuti hatinya. Apa-apaan lelaki ini, meminta perempuan lain memujinya di depan istri sendiri, ingin membuatku cemburu? Huh, kamu sukses besar Irsyad...sekarang aku benar-benar kesal. Tatapan mata Runa menunjukkan dengan sangat jelas jika ia tidak suka dengan sikap Irsyad barusan. Namun sepertinya, Irsyad begitu senang bermain-main dengan istrinya, ia tersenyum tipis menyadari istrinya terbakar cemburu. Sedangkan Helena, perempuan itu menggaruk keningnya yang sama sekali tak gatal, sebenarnya ia tak suka dengan keadaan seperti ini, tapi ia sudah terlanjur mengiyakan permintaan Irsyad untuk memanasi Runa, jadi sebisa mungkin ia menahan tawa yang hampir meledak melihat respon Runa yang sangat terlihat cemburu padanya. Dito yang baru kembali dari kamar mandi sambil membenarkan resleting celananya merasa menyesal bergabung dalam situasi tegang tersebut. Apalagi ketika Runa menghentakkan kaki dengan kesal, membuat Dito menyesal muncul di waktu yang tak tepat, harusnya ia lebih lama di dalam kamar mandi agar tak terjebak dalam situasi panas ini. “Mbak Runa, saya laper… boleh minta makan enggak?” tanya Dito yang salah tingkah di antara ketiga orang tersebtut. Pertanyaan itu juga yang akhirnya membuat ketegangan berakhir. “Eh, Mas Dito belum makan? Mbak Helena udah makan belum? Mau sekalian aku masakin sesuatu?” tanya Runa seolah lupa dengan kekesalannya tadi. Kurang baik apalagi perempuan satu ini, biarpun ia sedang kesal dan menaruh curiga pada Helena ia tetap memikirkan kondisi perut Helena. “Enggak usah, Run. Kebetulan aku tadi udah makan di jalan,” jawab Helena.  Runa membulatkan bibirnya. “Dijalan?” tanyanya dalam hati. Matanya beralih menatap Irsyad, tajam menatap suaminya, seolah tahu arti tatapan itu Irsyad buru-buru menjelaskan. “Tadi aku sama Helena udah beli makan, Bun. Drive thru, makan di mobil pas macet,” jawab Irsyad lalu menyunggingkan senyum sebagai tanda permohonan ampun.  “Oh gitu, padahal tadi aku buat pasta,  aku pikir kamu pulang cepat, tadi aku udah siapin buat kamu,” jelas Runa dengan nada kecewa, sengaja membuat Irsyad merasa bersalah. Irsyad meneguk ludahnya, merasa bersalah karena sudah membuat istrinya menunggu, ia juga menyesali kebodohannya karena tidak menghubungi Runa untuk memberi kabar bahwa dirinya pulang telat. “Maaf ya, aku lupa enggak kasih tahu kamu kalau pulang telat,” ucap Irsyad sambil mengusap tangan Runa yang berada di sampingnya. “Iya udah enggak apa-apa,” sahut Runa. “Mas Dito jadinya mau makan apa?” tanya Runa mengalihkan obrolan saat menyadari dirinya dan Irsyad menjadi tontonan Helena dan Dito. “Nanti aja, Mbak, lanjutin aja dulu elus-elusannya,” ledek Dito, Runa yang malu sampai menundukkan wajah menyembunyikan rona dipipinya. Irsyad malah tertawa kencang melihat istrinya seperti itu. “Ketawanya dikondisikan ya, Pak, anaknya udah tidur lho,” ucap Runa sambil berlalu menuju dapur. “Istri kamu lucu banget, Syad,”ucap Helena sambil menggelengkan kepalanya. “Iya emang gemesin, apalagi kalau lagi ngambek begitu,” sahut Irsyad yang sedang berusaha menghentikkan tawanya. “Mas Dito aku buatin nasi goreng aja ya,” ucap Runa yang muncul kembali “Apa aja deh, Mbak, udah lapar banget soalnya,” jawab Dito sambil mengusap perut. “Kasih pasta aku aja, Run, biar enggak kebuang,” sahut Irsyad. “Iya bener mbak, yang ada aja aku udah lapar banget soalnya,” ucap Dito. Wajah lelaki itu memang menampakkan wajah lelah dan kelaparan. “Jangan lah, biar aja pastanya aku makan sendiri, ‘kan itu sama aja sisa suami aku, masa di kasih ke orang,” sahut Runa sambil melirik sinis ke arah Irsyad. Irsyad hanya bisa mnegurut pangkal hidungnya saat mendapat sindiran bertubi-tubi dari istrinya. Menyahut hanya membuat api di hati Runa semakin membara, jadi lebih baik ia diam menikmati kesinisan berbalut kecemburuan Runa. “Untung ada Mbak Helena yang nemenin suami  aku makan pas macet, kalau enggak udah jadi apa kali usus sama lambungnya, makasih ya, Mbak,” lanjut Runa, sarkas.  Dito kembali meneguk air liurnya dengan susah payah. Keadaan Helena tak beda jauh dengan Dito, perempuan itu ikut menelan salivanya tak menyangka perempuan yang terlihat ramah itu bisa begitu mengerikan dalam hal sindir menyindir. Dito melirik Helena kasihan, mendapati pandangan iba, Helena hanya tersenyum kecut. “Mas Dito, aku buatkan nasi goreng aja ya?”tanya Runa.  Dito mengangguk  dengan cepat, ia tak perlu tawar menawar dengan Runa, ia tak ingin membuat perempuan itu mengeluarkan tanduk jika dirinya menolak menu yang ditawarkan. Runa pergi ke dapur setelah mendapat jawaban dari Dito, ia berjalan  meninggalkan ketiga orang yang sudah duduk di ruang tengah itu dengan hentakkan kaki yang cukup nyaring. “Pelan-pelan Runa, nanti Akia bangun,” tegur Irsyad. “Iya, oke,” sahut Runa sambil terus berjalan. “Sial banget aku nolongin kamu, Syad,” bisik Helena yang duduk di samping Irsyad. “Sorry ya, El,” ucap Irsyad sambil meringis tak enak hati. “Mas, itu Mbak Runa gimana?” tanya Dito. “Enggak  gimana-gimana, memang kenapa?” tanya Irsyad balik. Dito sampai mengerutkan kening saat mendengar ucapan atasannya itu. Benar-benar ini orang, enggak takut tidur di luar, batin Dito.    *** Helena mendekati Runa yang sedang mengambil nasi dari dalam rice cooker, dirinya berdiri tak jauh dari posisi Runa , ia kebingungan untuk memulai percakapan yang sekiranya tak akan menyulut emosi Runa. Runa hanya diam tak memulai obrolan, padahal ia menyadari keberadaan Helena di dekatnya. Jangan salahkan dirinya yang bersikap tak ramah pada tamu, memaksakan diri bersikap baik pada orang yang membuat hatinya cemburu itu sulit, isi kepalanya selalu mengarah ke hal negatif jika Helena mengatakan atau melakukan sesuatu. “Runa, Akia udah tidur ya?” tanya Helena begitu masuk ke area dapur. Runa yang kini sedang mengulek bawang dan cabai merah menengok ke sumber suara, Helena sedang berdiri di belakangnya lagi-lagi dengan senyum mengembang yang membuat Runa terpaksa membalasnya. “Iya udah tidur, tadi nunggu ayahnya pulang sampai ketiduran,” jawab Runa yang sudah kembali berhadapan dengan ulekan batunya. Mendengar jawaban Runa membuat Helena merasa tak enak hati. Perempuan di depannya ini terlalu jujur sampai-sampai berhasil membuat dirinya tersudutkan. Beruntungnya Helena bukan tipikal perempuan yang membalas kesinisan dengan kesarkasan. Ia mencoba memahami keketusan Runa padanya, memang ini yang di inginkan Irsyad, jadi ia telah berhasil membantu sahabatnya itu. Helena mendekat, di ambilnya baso yang  masih dalam plastik kemasan di atas meja pantry. “Mas Irsyad itu sayang banget sama Akia ya, Aku sering lihat foto Akia di ruangan Irsyad, sampai wallpaper ponselnya pun Akia—,” ucap Helena yang langsung disambut tatapan tajam Runa. “Mbak Helena suka lihat ponsel suami saya?” tanya Runa dengan penuh curiga. Tangannya yang sedang memotong sosis berhenti sejenak, ia membalikkan tubuhnya menghadap Helena yang ada di sampingnya. Helena mengusap tengkuknya sendiri, merutuki kebodohannya dalam mencari topik pembicaraan. “Eng... beberapa kali saya lihat, Mbak, karena kami sering bareng, saya suka lihat kalau handphone Irsyad diletakkan di atas meja,” jawab Helena gugup. “Oh.” Runa membalikkan tubuhnya lagi ke posisi semula, tangannya kembali bergerak mengiris sosis di tangannya. “Irsyad memang gitu sama anaknya, sampai kadang-kadang saya aja di lupain kalau mereka lagi berdua,” jawab Runa santai penuh kebanggaan memamerkan hubungan Akia dengan Irsyad, seolah ingin menunjukkan pada Helena bahwa perempuan itu tak akan mendapatkan tempat di hati Irsyad yang sudah penuh oleh nama Akia. Tak masalah jika tandingannya Akia, toh Akia darah dagingnya jadi ia lebih rela di duakan oleh anak sendiri.  “Hah? Masa sih? Susah ya kalau punya anak perempuan, kita istrinya—“ “Kita?” sela Runa. “Ma--maksud aku, bukan kita, aku sama Mba Runa, bukan… maksud aku… kita sebagai istri akan tersisih kalau ada anak perempuan gitu maksud aku,” ucap Helena menjelaskan maksudnya dengan susah payah. Runa memandang lekat ke netra Helena, perempuan ini sepertinya senang bermain kata dengan Runa, menciptakan rangkaian kata yang menjadi kalimat-kalimat ambigu. Sedikit kesal, Ia merasa hatinya sedang di permainkan, dibuat terombang-ambing oleh kalimat-kalimat ambigu yang membuat otaknya berpikir hal-hal negatif, sungguh ini menyebalkan bagi Runa. Ibu satu anak itu kini kehilangan mood  memasaknya, keinginannya sekarang berubah dari membuat nasi goreng menjadi Helena goreng, seandainya ulekan batu di tangannya lebih besar mungkin ia akan  menumbuk perempuan di hadapannya saat itu juga. “Saya sih enggak masalah disisihkan kalau saingannya sama anak sendiri, tapi kalau saingannya perempuan lain...” ucap Runa, ada jeda sebentar sebelum Runa melanjutkan ucapannya. Matanya menatap ke arah Helena dengan tajam. “... saya ikhlas ridho ikut kelas taekwondo, karate, boxing atau kalau perlu berguru ke konoha sekalian buat nyingkirin perempuan gatel yang mau bersaing sama saya,” ucap Runa sambil mengeratkan genggaman pada ulekannya. Tawa kecil yang terdengar canggung itu mengudara, wajah Helena tak dapat menutupi keterkejutannya  saat mendengar ucapan Runa.  Ia menyadari istri sahabatnya itu tak bisa di anggap remeh dalam mempertahankan rumah tangganya. “Tapi Akia memang lucu mbak, aku suka dikasih lihat foto-fotonya sama,Mas Irsyad, kemarin sempat lihat juga waktu mereka video call  kebetulan aku diajak kenalan sama Akia, kalau Akia anak aku, kayaknya menyenangkan deh,” ucap Helena dengan senyum smirknya. bersambung....
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD