Bersiap untuk diadili, Clara berjalan menuju rumahnya dengan perasaan tidak menentu. Ia tahu Ita sedang emosi, dan ucapannya tadi tidak mengurungkan niatnya untuk tetap pulang ke rumah. Clara yakin, mamanya sudah sampai sejak beberapa menit yang lalu, mengingat Angga mengantarnya lebih dulu daripada perjalanan dirinya bersama Revan. Sebelum masuk, Clara menghela napas pelan. Meyakinkan diri sendiri kalau semuanya baik-baik saja. Setelah itu, ia mulai mendorong gerbang rumah yang memang hanya dikunci saat malam hari saja. Detik berikutnya, pintu rumahnya yang terbuka langsung terpampang nyata. Clara pun melangkah masuk setelah sejenak membuka sepatunya. Satu hal yang membuatnya berpikir keras saat memasuki ruang tamu adalah sepi. Kalau kakak-kakak Clara memang tidak tinggal di sini lagi k

