2. Imperfect Couple

1638 Words
Suara dentingan antara sendok, garpu dengan piring pun terdengar sangat nyaring di aula kantin yang cukup lebar ini. Kini Kiara dan Dera sudah tiba di kantin, mereka di sambut dengan suara dentingan nyaring peraduan antara sendok, garpu dan piring. Sorot mata Kiara dan Dera menyapu seluruh sudut ruangan aula kantin ini, hampir semuanya penuh terisi oleh para siswa-siswi yang sedang duduk santai menikmati makanan mereka. "Tempatnya penuh semua Der," desah Kiara seraya mengamati setiap sudut aula kantin. Dera menatap ke arah seluruh penjuru aula kantin itu. Hingga akhirnya dia menemukan satu tempat yang kosong. "Ada yang kosong Kia, coba lo lihat ujung aula deh." Kiara pun menatap ke arah ujung aula kantin, benar. Disana memang ada dua bangku kosong, tetapi di setelahnya terdapat satu siswa laki-laki yang sedang memakan bakso dalam diam. "T-tapi Der, itu ada siswa lain disana," ucap Kiara seraya memandang siswa laki-laki itu. Dera menghembuskan napasnya berat. "Iya sih, tapi cuma disana tempat satu-satunya yang bisa kita tempati." Kiara terdiam sejenak, dia sedang mencari solusi lain agar dia dan Dera tidak perlu duduk bersebelahan dengan siswa laki-laki itu. "Please deh Kia, sekali ini aja. Gue tau lo anti banget sama cowo, tapi untuk sekali ini aja ya. Gue udah laper berat Kia, dari pagi belum sarapan tau. Please ya, kita duduk disana aja," mohon Dera seraya mengeluarkan puppy eyes andalannya. Kiara menghela napasnya berat. "Iya udah deh, ayo!" Kiara mulai menarik tangan Dera menuju dua bangku kosong di ujung ruangan itu. Binar bahagia Dera tercetak jelas di wajahnya, kala Kiara menyetujui permintaannya. Sesampainya di bangku ujung aula itu, Kiara duduk terlebih dahulu di bangku kayu itu. Sementara Dera, masih setia berdiri di hadapan Kiara. "Mau makan apa Kia?" tanya Dera seraya menatap Kiara yang sudah terduduk di bangku kayu itu. "Nasi goreng level lima sama es jeruk aja Der," balas kiara seraya tersenyum. Dera tersenyum lalu mengacungkan jempolnya ke hadapan Kiara. "Okay siap, tunggu sebentar ya. Gue pesenin dulu." Kiara mengangguk mantap seraya tersenyum ke arah Dera. Dera mulai beranjak meninggalkan Kiara menuju stand yang menjual nasi goreng di kantin itu. Sepuluh menit kemudian tampak dari kejauhan Dera berjalan menghampiri Kiara dengan satu nampan yang berisi dua piring nasi goreng dan dua gelas es jeruk. "Makanan sudah siap," ucap Dera setelah tiba di meja makan yang dia dan Kiara tempat. Kiara terkekeh geli. "Iya, terima kasih Dera." Dera mulai menduduki bangku kayu yang berhadapan dengan Kiara. "Ck, santai aja kali Kia." "Iya, kan tetap aja gue harus bilang terima kasih karena lo udah mau pesenin gue," balas Kiara seraya tersenyum hangat. "Iya sama-sama, udah yuk makan! Nanti keburu bel masuk loh," ajak Dera seraya mulai mengaduk nasi gorengnya dengan sendok dan garpu. Kiara pun mengangguk mantap, mereka mulai menyantap nasi goreng yang mereka pesan. Dera makan dengan sangat lahap, dia tidak perduli dengan kepulan asap yang sendari tadi sudah keluar dari nasi goreng itu. Kiara hanya menggelengkan kepalanya kala melihat Dera yang sangat lahap dan menghiraukan rasa panas yang ada di nasi goreng itu. Hingga beberapa menit kemudian ada empat siswi perempuan yang melewati Kiara dan Dera, salah satu diantara mereka menatap remeh ke arah Kiara dan Dera. Terselip ide jahil untuk membully kembali Kiara. "Aduh kasihan ya, dijadiin babu sama si pincang," ejek siswi perempuan bertubuh ramping dengan wajah yang penuh riasan tebal bin menor. Dengan spontan Dera menoleh dan menatap tajam ke arah siswi perempuan ber-make up menor dengan yang name tag Friska. "Lo gak usah cari masalah disini." Friska terkekeh. "Aduh, dibelain dong sahabat pincangnya." Semua teman-teman Friska pun menertawakan Kiara dan Dera. Kiara hanya diam menundukkan kepala seraya menghabiskan makanannya tanpa minat. "Jaga ucapan lo ya!" sentak Dera seraya beranjak berdiri dari duduknya. "Aduh, kok lo nyolot sih. Dibayar berapa lo sama si pincang ini?" tanya Friska seraya menunjuk ke arah Kiara. Plakk ... Satu tamparan keras berhasil mendarat mulus di pipi kanan Friska. Tamparan itu meninggalkan bekas kemerahan di pipi putih Friska. Seketika Friska mengeram kesal. Semua pandangan yang berada di aula kantin itu tertuju kepada dirinya sekarang. "Kurang ajar!" umpat Friska. "Bacot lo! Makanya kalau punya mulut dijaga, jangan seenaknya menghina," balas Dera seraya menatap tajam ke arah Friska yang sedang menatapnya penuh amarah. "Ayo Kia, kita ke kelas. Disini panas, banyak cabe-cabean sama jamet," ajak Dera seraya melirik ke arah Friska dan teman-temannya. Dengan susah payah, Kiara pun mulai berdiri dengan bantuan walkernya. Tangan kanannya sudah ditarik oleh Dera, kini dia dan Dera mulai berjalan meninggalkan kantin yang sedang menatap mereka dengan tatapan sulit di artikan. ◎◎◎◎◎ Kini suasana kelas XI IPA 4 kembali sunyi kala seorang guru pria paruh baya memasuki ruangan kelas mereka. Guru bertubuh jangkung itu mulai menjelaskan beberapa rumus matematika wajib di kelas XI IPA 4. Semua siswa tampak memperhatikan dengan serius apa yang sang guru matematika itu sampaikan. Tetapi ada juga siswa yang sama sekali tidak memperhatikan penjelasan dari sang guru. Contohnya, Dera. Gadis berkuncir kuda dengan lesung pipit dipipi kanannya itu sedang menyangga pipinya dengan satu tangan seraya menatap malas ke arah jajaran rumus matematika yang berada di papan tulis putih itu. Sesekali Dera melirik ke arah Kiara yang duduk di sampingnya, Kiara tampak sangat serius memperhatikan dan menulis semua rumus-rumus yang tertulis rapi di papan tulis itu. Lima menit kemudian terdengar suara bel pulang yang sangat nyaring. Kring ... kring ... kring. Bel itu mampu membuat semua siswa-siswi langsung berbinar bahagia. Bagaikan surga dunia saat mendengar bel pulang tersebut. Guru matematika wajib itu pun segera berkemas dan pergi dari kelas XI IPA 4 setelah mengucapkan salam. "Baiklah, bel pulang sudah berbunyi. Sampai jumpa di pertemuan selanjutnya," ucap pria paruh baya bertubuh jangkung itu. "Iya Pak! Terima kasih Pak!" balas seluruh siswa-siswi kelas XI IPA 4 secara bersamaan. "Yes! Akhirnya pulang!" seru Dera pelan seraya tersenyum bahagia. Kiara menoleh ke arah Dera, lalu menggelengkan kepalanya. "Kalau pulang aja semangat lo." "Iya dong pastinya, gue udah gak sabar nih mau nonton konser onlinenya Taehyung," balas Dera seraya tersenyum. Kiara hanya memutar bola matanya malas kala Dera membicarakan tentang idolanya itu. Bukannya Kiara tidak menghargai idola Dera, tetapi Kiara tidak terlalu berminat dengan artis boyband korea yang sedang naik daun itu. Dera dan Kiara mulai berkemas untuk pulang, kini mereka sudah berada di sebuah Halte yang menjadi tempat mereka menunggu jemputan para supir. Kiara sudah terduduk manis di Halte itu bersebelahan dengan Dera yang sedang duduk dengan perasaan gelisahnya. "Aduh mang Asep lama banget sih," gerutu Dera seraya menatap alorji berwarna ungu di tangan kanannya. "Sabar aja Der, mungkin terjebak macet," balas Kiara seraya mengelus pelan pundak Dera. Dera hanya menghela napasnya berat. Sungguh dia sangat panik saat ini kala supirnya datang terlambat. Sepuluh menit kemudian, tampak sebuah mobil sedan putih berhenti tepat di depan Halte itu. Dengan sangat bersemangat Dera pun beranjak berdiri. "Kia, supir gue sudah datang. Lo mau bareng gak?" tanya Dera seraya menatap ke arah Kiara yang sedang termenung. Seketika Kiara menggeleng. "Enggak Der, lo pulang aja." "Beneran nih gak masalah kalau gue tinggal?" tanya Dera dengan wajah sedikit cemas. Kiara tersenyum manis. "Iya, lo pulang dulu gih! Katanya mau nonton konsernya Taehyung." "Oh iya ya! Ya udah kalau gitu gue pulang dulu ya Kia, mau nonton suami gue konser," balas Dera seraya menyengir tak berdosa. Kiara hanya terkekeh lalu mengangguk menjawab perkataan Dera tadi. Dera mulai beranjak meninggalkan halte itu menuju mobil sedan putih yang terparkir tepat di depan Halte itu. Mobil sedan putih itu segera melesat meninggalkan area halte itu setelah Dera memasuki mobil itu. Kini tinggal Kiara sendiri di halte itu seraya menatap kendaraan yang berlalu lalang. Hingga beberapa menit kemudian sebuah motor vespa berwarna putih berhenti tepat di depan halte itu. Sosok laki-laki bertubuh tinggi yang berpenampilan serba hitam tidak lupa pula dengan satu anting hitam yang terpasang di telinga kanan laki-laki itu. Laki-laki itu mulai mendekati Kiara yang tengah duduk di halte itu, dengan perasaan cemas Kiara menggenggam erat walker miliknya. "Nih, punya lo," ucap laki-laki itu seraya menyodorkan gantungan kunci berbentuk bola basket milik Kiara. Kiara menautkan kedua alisnya lalu menatap heran ke arah laki-laki itu. "Gue nemuin gantungan kunci ini di depan gerbang tadi pagi saat lo masuk ke sekolah," lanjut laki-laki itu. Dengan ragu, tangan Kiara mulai terulur mengambil gantungan kunci itu. "Ma-makasih." Laki-laki itu mengangguk singkat. "Sama-sama." "Nama gue Kenzo," lanjut Kenzo seraya mengulurkan tangannya kepada Kiara. Sejenak Kiara menatap ragu ke arah uluran tangan Kenzo. Hingga akhirnya, Kiara membalas uluran tangan Kenzo. "Kiara." "Nama lo bagus," balas Kenzo seraya melepaskan uluran tangannya dan mulai duduk di sebelah Kiara. Suasana mendadak hening, ada kecanggungan di antara mereka. Hingga akhirnya Kenzo memutuskan untuk bertanya beberapa hal kepada Kiara. "Lo nunggu jemputan?" tanya Kenzo seraya menatap ke arah Kiara. Kiara mengangguk. "Iya." "Lo suka basket ya?" tanya Kenzo dengan hati-hati seraya memperhatikan tongkat walker yang tersandar di sebelah Kiara. "Dulu sewaktu kaki gue masih sehat dan papa masih hidup gue suka main basket di halaman rumah," balas Kiara seraya sedikit menunduk. Beberapa saat setelah Kiara menjawab pertanyaan Kenzo, dia baru menyadari jika dia sudah menceritakan hal yang seharusnya dalam kategori pribadi. Tetapi, entahlah Kiara merasa berbeda saat bersama Kenzo. "Oh, sorry gue gak tau kalau bokap lo udah meninggal," sesal Kenzo. Kiara tersenyum singkat. "It's okay, gue gak masalah kok." Seperkian detik kemudian tampak sebuah mobil sedan hitam mulai berhenti di depan halte itu. Dengan gerakan secepat mungkin, Kiara mulai berdiri dengan bantuan walker miliknya. "Supir gue udah sampai, gue balik dulu ya," pamit Kiara seraya menatap ke arah Kenzo yang masih terduduk di bangku Halte. Sejenak Kenzo melirik ke arah sedan hitam itu lalu mengangguk singkat. "Iya, hati-hati. Senang bisa berkenalan sama lo, see you next time." "See you next time Kenzo, thanks juga udah mau kembaliin gantungan kunci gue," balas Kiara seraya tersenyum hangat. Senyuman itu mampu membuat debaran tersendiri di hati seorang Kenzo. Kiara mulai beranjak meninggalkan Halte itu, dan memasuki mobil sedan hitam milik keluarganya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD