Terik sang surya mulai menyinari bumi. Suara kicauan burung pun mulai terdengar bersahutan. Udara sejuk di pagi hari mulai menembus permukaan kulit putih nan halus milik Kiara. Perlahan Kiara mulai membuka matanya, menjerjapkannya beberapa kali untuk menyesuaikan cahaya yang masuk ke rentina matanya. Sorot mata Kiara tertuju pada jam weker berwarna peach di atas nakasnya. Waktu menunjukkan pukul delapan pagi, dengan segera Kiara bangkit dari tidurnya lalu meraih walker miliknya yang sengaja dia sandarkan di samping kasur king size miliknya.
Dengan sedikit tertatih, Kiara berjalan menuju kamar mandi yang terletak di ujung kamarnya. Suara gemercik shower pun terdengar memenuhi seluruh penjuru kamar Kiara. Suara gemercik shower itu mulai mereda, kini suara decitan pintu terdengar sangat nyaring.
Kriett ...
Pintu kamar mandi itu terbuka lebar, menampilkan sosok Kiara yang mengenakan kaos polos berwarna hitam dipadukan dengan celana training berwarna navy. Langkah kaki Kiara membawanya ke depan meja rias kecil miliknya. Kiara terduduk di kursi rias miliknya. Menatap pantulan dirinya dengan wajah tanpa ekspresi diiringi dengan lengkungan tipis yang perlahan terukir di bibir tipisnya.
"Happy weekend Kiara," ucap Kiara seraya menatap pantulan dirinya di cermin dan tersenyum tipis.
Kiara meraih sisir berwarna ungu di meja riasnya, kini tangan Kiara mulai menggerakkan sisir itu di atas rambut pirang miliknya. Tidak lupa pula dia merapikan poni tipisnya. Kiara meraih jam tangan berwarna hitam di laci meja riasnya, dengan cepat dia pun memakai jam itu. Setelah dirasa cukup, Kiara mulai meraih walkernya kembali dan bangkit dari duduknya menuju meja belajar yang berada di sisi kanan kasurnya. Kiara meraih satu novel yang bersampul biru lalu memasukkannya kedalam tote bag bermotif daun monstera bersamaan dengan handphone miliknya.
Kiara mulai berjalan menuju pintu kamarnya, tetapi tiba-tiba suara sang Mama memanggilnya dari lantai pertama rumah yang dia tempati.
"Kiara! Bangun sayang! Katanya mau pergi ke taman hari ini," panggil Raina seraya sedikit berteriak.
"Iya Ma! Kiara sudah siap," balas Kiara seraya meraih handle pintu kamarnya yang berwarna putih.
Langkah kaki Kiara mulai berjalan menyusuri lantai dua rumahnya lalu beralih untuk menuruni satu persatu anak tangga dengan sangat hati-hati. Tatapan Kiara beredar ke seluruh penjuru ruangan lantai satu, Kiara mencari-cari keberadaan sang Mama. Hingga akhirnya suara Raina kembali memberikan petunjuk kepada Kiara.
"Mama di dapur sayang, ayo sarapan dulu!" ajak Raina dari dapur.
"Iya Ma! Kiara datang," sahut Kiara.
Dengan tertatih, Kiara mulai berjalan ke arah dapur yang berada tepat di belakang ruang makan. Kedatangan Kiara disambut hangat oleh Riana. Senyuman hangat yang selalu memberikan kekuatan tersendiri bagi Kiara.
"Sini sayang, Mama sudah buatkan kamu nasi goreng favoritmu," ajak Raina kala melihat Kiara mulai berjalan menuju dapur.
"Wah! Nasi goreng sosis ya Ma?" tanya Kiara dengan mata berbinar.
Raina tersenyum lalu mengangguk. "Iya sayang, kamu tunggu di ruang makan saja ya, sebentar lagi Mama sajikan."
"Iya Ma," balas Kiara seraya tersenyum hangat lalu berbalik berjalan menuju ruang makan yang berada dekat dengan dapur.
Tidak berselang lama, Raina pun mulai menyajikan nasi goreng buatannya ke sebuah piring putih lengkap dengan topping favourite Kiara. Dengan senyum hangat yang masih terukir jelas di bibirnya, Raina mulai berjalan ke arah ruang makan. Sesampainya di ruang makan, tampak Kiara yang berbinar menatap piring yang Riana bawa.
"Ini nasi gorengnya, ayo di makan!" ucap Raina seraya meletakkan sepiring nasi goreng di hadapan Kiara diiringi dengan meletakkan segelas s**u vanila hangat disebelahnya.
Kiara tersenyum senang. "Iya Ma, terima kasih."
"Sama-sama sayang, ayo dihabiskan!" balas Raina seraya tersenyum dan mengelus puncak kepala Kiara.
Kiara pun mulai terlarut dalam memakan nasi goreng buatan sang Mama. Kiara sangat lahap memakan nasi goreng itu hingga tandas tak tersisa.