4. Imperfect Couple

436 Words
"Nanti biar bi Asih ya yang mengantar ke taman," ucap Raina seraya tersenyum memperhatikan Kiara yang tengah meneguk s**u vanilanya. Kiara menggeleng cepat. "Tidak usah Ma, Kiara berangkat sendiri saja. Lagian juga jarak antara taman dan rumah kita hanya beberapa meter saja kan?" "Ya sudah kalau begitu, hati-hati ya di jalan. Maaf Mama tidak bisa menemani kamu ke taman, setelah ini Mama ada meeting dengan client dari Eropa sayang," ucap Riana. "Iya Ma, Kiara maklum kok. Mama jangan lupa makan juga ya, Kiara mau berangkat sekarang," pamit Kiara sambil tersenyum tipis lalu meraih tote bagnya dan walkernya. Raina mengangguk mantap. "Iya sayang, hati-hati ya di jalan. Kalau ada apa-apa langsung hubungi pak Warno biar di jemput." Kiara hanya mengangguk dan tersenyum singkat lalu beranjak meninggalkan ruang makan serta keluar dari rumah mewah yang dia tempati. Kini, Kiara sudah berada di tepi jalan perumahannya. Udara pagi ini benar-benar sejuk, hingga mampu membuat senyuman tipis selalu terukir di bibir tipis Kiara sendari tadi. Sesampainya Kiara di taman, Kiara langsung saja menduduki bangku taman yang berada tepat di depan air mancur taman itu. Kiara mulai mengeluarkan novel miliknya dan membacanya. Tidak berselang lama, sebuah suara remaja laki-laki memanggil Kiara. "Kiara!" panggil Kenzo dari seberang air mancur. Dengan spontan Kiara menoleh, mencari keberadaan asal suara tersebut. Hingga akhirnya dia menemukan sang pemilik suara yang tidak lain dan tidak bukan adalah Kenzo. Laki-laki yang tempo hari dia temui di halte. Kiara hanya menatap dalam diam ketika Kenzo yang mulai mendekat ke arahnya hingga berakhir duduk di sebelah Kiara. "Apa kabar?" tanya Kenzo seraya menatap Kiara yang duduk di sampingnya. "B-baik," balas Kiara dengan nada yang sedikit terbata-bata. Kenzo terkekeh kala melihat ekspresi wajah Kiara yang tegang saat berada di dekatnya. "Santai aja kali, gak usah tegang gitu. Gue bukan orang jahat kok." Kiara tersenyum singkat lalu mengangguk. Tatapan Kenzo jatuh kepada sebuah novel bersampul biru yang tengah berada di genggaman Kiara. Seulas senyuman manis pun terbit di bibir Kenzo. "Lo suka baca novel?" tanya Kenzo. Kiara mengangguk mantap. "Iya suka banget, apalagi genre fiksi remaja sama horor." "Bagus tuh! Gue juga suka, ya walaupun gak begitu suka genre fiksi remaja sih, tapi gue lebih condong ke horor gitu," balas Kenzo dengan binar mata bahagianya. "Iya sih. Tapi terkadang saat gue baca genre horor, gue suka parno sendiri," ucap Kiara seraya sedikit terkekeh. Kenzo menggelengkan kepalanya dan menatap tak percaya kepada Kiara. "Lah ternyata lo parnoan gitu? Gak nyangka gue." "Ck, bukan parno sih. Cuman sedikit terbawa alur genre horor aja," decak Kiara. "Iya deh iya, eh lo mau ikut gue gak?" tanya Kenzo seraya menatap ke arah Kiara dengan tatapan memohon.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD