"Bagaimana? Kau mau langsung to the point denganku, atau mau bermain-main lagi?" tanya Brama sembari terkekeh. Wanto diam. Dia tampak masih memikirkan keputusannya matang-matang. "Apa rencana Edward selanjutnya hm?" Brama mulai menodongkan pistol silver itu ke pelipis Wanto. Diam. Itulah respon Wanto yang cukup membuat Brama naik pitam. "Jawab aku! b******n!" Sentak Brama. "Memangnya siapa kau? Mengapa aku harus menjawabmu hah?" Ujar Wanto dengan nada tinggi. Brama menyeringai. Pistol nya semakin menekan di pelipis Wanto. "Aku adalah mafia yang paling di takuti dan paling kejam," Wanto tertawa sumbang. "Hahaha! Sok-sok an jadi mafia! Ingat umur! Sudah tua begini juga!" Rahang Brama mengetat. Dia berusaha mengendalikan emosinya. Dor! Satu peluru itu telah melesat mulus me

