"Heh! Kok gue ditinggalin sih!" tegur Kenzo kala dia melihat Kiara mulai beranjak meninggalkannya.
"Lo cerewet! Ayo buruan masuk! Hati-hati kelamaan diluar bisa di culik tante girang, mampus lo!" balas Kiara seraya meneruskan langkahnya menuju pintu masuk toko buku.
Kenzo hanya menggelengkan kepalanya seraya terkekeh kecil, lalu mulai menyusul Kiara untuk memasuki toko buku itu.
Di dalam toko buku ...
Kini Kiara dan Kenzo tengah sibuk memilah beberapa novel yang menarik perhatian mereka.
"Lo gak mau beli novel horor Kia?" tanya Kenzo seraya membaca blurb di bagian belakang novel horor yang dia pegang.
Kiara menggeleng singkat. "Gak deh, belum minat gue."
"Oh, ya udah. Lo udah selesai milihnya?" tanya Kenzo seraya menatap kepada Kiara yang masih setia membaca blurb novel teen fiction.
"Udah nih," balas Kiara seraya mengembalikan satu novel ke raknya lagi dan mengambil satu novel yang dia pilih tadi.
"Bagus deh, sini novelnya," ucap Kenzo seraya merebut novel yang berada di genggaman tangan Kiara.
"Eh? Mau ngapain lo?" tanya Kiara dengan wajah cengo.
"Mau bayarlah, lo tunggu aja di motor. Nanti gue nyusul," balas Kenzo seraya menumpuk tiga novel yang berada di tangannya.
Seketika bola mata Kiara berhasil membulat sempurna. "Eh, gue bayar sendiri aja Ken. Gue bawa uang kok."
"Ck, gue aja yang bayar. Anggap saja sebagai hadiah dari gue ya," elak Kenzo seraya tersenyum hangat.
Desiran-desiran aneh mulai menjalar di dalam tubuh Kiara. Entah mengapa, melihat senyuman Kenzo bagaikan candu dan membuat seolah kupu-kupu di perutnya berterbangan.
Kiara membalas senyuman Kenzo dengan senyuman manisnya. "Iya udah deh, thanks ya. Nanti kapan-kapan gue traktir lo deh, biar impas gitu."
"Iya santai aja, udah gih sana keluar. Gue mau ke kasir dulu," ucap Kenzo seraya mengelus puncak kepala Kiara dengan lembut.
Kiara hanya mengangguk dan mulai melangkah keluar toko buku itu. Kini langkah kaki Kiara telah menapaki area parkir, disinilah Kiara berada. Di samping motor vespa putih milik Kenzo.
Tak berselang lama, Kenzo pun keluar dari toko buku itu. Dia segera menghampiri Kiara yang sedang menunggunya di sebelah motor vespanya.
"Nih novel lo," ucap Kenzo seraya menyodorkan satu kantong plastik putih yang berisi satu buat novel bergenre teen fiction.
Kiara menerima uluran plastik itu dengan tangan kanannya. "Thanks Ken."
"Santai aja kali, yuk naik!" balas Kenzo seraya mendekat ke arah Kiara untuk membantunya menaiki motor.
Dengan sekali gerakan, Kenzo pun mulai menggendong Kiara lalu menurunkannya di atas vespa miliknya. Kenzo pun menaiki motornya, seperkian detik kemudian Kenzo menyalakan mesin motornya dan melaju meninggalkan toko buku itu.
◎◎◎◎◎◎
"Rumah lo nomor berapa Kia?" tanya Kenzo.
"Nomor 13 Ken," balas Kiara.
"Siap!" ucap Kenzo lalu kembali menarik gas motornya.
Beberapa menit kemudian, motor Kenzo berhenti tepat di depan pagar putih yang menjulang tinggi. Disinilah rumah Kiara, bisa dibilang mewah. Bahkan sangat mewah karena komplek yang Kaira tempati memang khusus untuk para pengusaha sukses.
Kenzo segera melepas helmnya dan turun dari motornya. Dia segera membantu Kiara untuk turun dari motor vespanya. Kini Kiara sudah berdiri tegak di depan gerbang rumah yang dia tempati.
Seulas senyuman Kiara pun terukir jelas, membuat jantung seorang Kenzo Rajendra Xaviero berlompat-lompat ria.
"Thanks ya udah mau anter gue pulang," ucap Kiara seraya menatap Kenzo dan tersenyum tulus.
"Iya santai aja, oh iya! Gue minta nomor telfon lo dong," pinta Kenzo seraya mengeluarkan handphone miliknya dari saku celana yang dia kenakan.
Kedua alis Kiara menaut. "Buat apa?"
"Ck, ya buat komunikasi lah. Udah ini, ketik aja nomor telfon lo," balas Kenzo dengan menyodorkan handphone berlogo apel digigit miliknya.
Dengan sedikit ragu, Kiara pun menerima uluran handphone itu. "Iya deh."
Jari-jari lentik Kiara sudah menari-nari di atas layar handphone milik Kenzo. Beberapa saat setelah dia mengetikkan dua belas digit nomor telfonnya, Kiara pun mengembalikan ponsel itu kepada Kenzo.
"Thanks ya, gue pulang dulu, nanti malam jangan bergadang karena baca novel!" peringat Kenzo seraya menatap tajam kepada Kiara dan mengambil handphonenya dari tangan Kiara.
Kiara menghela napasnya berat. "Iya-iya, udah sana pulang."
Kenzo hanya mengangguk dan mulai memakai helmnya lalu menaiki motor vespanya. Dengan sekali tekan, mesin motor Kenzo sudah menyala. Sesegera mungkin Kenzo menarik gas motornya dan mulai melesat meninggalkan rumah Kiara.
Setelah kepergian Kenzo, Kiara pun mulai memasuki rumahnya untuk membersihkan diri dan melakukan aktivitasnya. Tidak terasa hari sudah berganti malam, suasana hening mulai menyelimuti rumah mewah Kiara. Hari ini Riana pamit kepada Kiara untuk menginap di kantor. Alhasil, kini hanya Kiara sendiri di rumah, walau tadi sore dia di temani dengan asisten rumah tangganya yang kini sudah pulang ke rumah pribadinya.
Derap langkah kaki Kiara terdengar memenuhi ruangan. Perlahan, langkah kaki Kiara mulai menginjak satu persatu anak tangga yang menghubungkan antara ruang tamu dengan kamarnya.
Kini Kiara telah tiba di depan pintu kamarnya yang bercat putih. Tangan putih Kiara mulai meraih handle pintu itu dan membukanya. Kiara memilih untuk bersandar di kasur king size miliknya seraya membaca novel yang dia pilih tadi.
Tiga puluh menit sudah Kiara membaca novel itu, sorot mata Kiara beralih kepada ponselnya yang sedang berbunyi di atas nakas. Layar ponsel itu menampilkan sebuah panggilan telfon dari nomor tak di kenal.
Dahi Kiara mengerut. "Ini nomor siapa sih?"
Dengan sedikit terliputi rasa takut dan ragu, Kiara pun menjawab panggilan telfon itu. Helaan nafas Kiara mulai terdengar lega kala sang penelpon mengatakan sepatah kata kepada Kiara.
"Malam Kiara!" sapa penelpon itu.
"Malam, Kenzo? Lo ngapain nelfon gue malam-malam begini?" tanya Kiara seraya menutup novelnya.
Iya benar, penelpon itu adalah Kenzo. Laki-laki yang beberapa hari ini menghabiskan waktu dengan Kiara.
"Iya ini gue, gue ganggu waktu lo ya?" tanya Kenzo seraya terkekeh kecil di seberang sana.
"Eh, enggak kok! Santai aja kali," balas Kiara.
"Syukur deh kalau gitu, gue tebak lo pasti lagi baca novel tadi kan?" tanya Kenzo seraya tersenyum manis di seberang sana.
"Iya, tau aja. Lo cenayang ya?" tanya Kiara seraya terkekeh.
"Apa sih yang enggak gue tau dari lo," goda Kenzo.
"Guombalnya tolong di buang ya Bang," ucap Kiara seraya terkekeh geli.
Tawa Kenzo semakin pecah kala Kiara memanggilnya dengan sebutan 'bang'.
"Hahahaha, iya deh Neng. Bay the way, besok gue jemput ya," ucap Kenzo.
"Hah? Ngapain? Besok gue berangkat sekolah Kenzo," balas Kiara dengan nada yang sedikit khawatir.
"Mau anterin lo ke sekolah dong," ucap Kenzo.
"T-tapi Ken, gue kan ....," belum sempat Kiara melanjutkan ucapannya, Kenzo memotong ucapannya terlebih dahulu.
"Udah deh, gak usah nolak. Gue gak terima penolakan Kiara, bilang aja sama supir lo kalau besok gue yang anter. Tenang aja, gue akan jagain lo kok," potong Kenzo.
Helaan napas gusar Kiara pun berhembus. "Iya deh terserah lo aja, yang penting jangan kesiangan!"
"Siap deh! Ya udah, sana tidur! Have a nice dream Kiara," ucap Kenzo lalu memutuskan sambungan telfonnya dengan Kiara.
Haii ?
Jangan lupa dibaca dan tinggalkan jejak ya ?