7. Imperfect Couple

1515 Words
Sinar mentari pagi mulai menampakkan dirinya, cahayanya mulai memancar memasuki celah-celah rumah. Udara dingin yang menusuk ke dalam pori-pori kulit putih Kiara kini mampu menyadarkan sang empunya dari alam mimpi. Perlahan tangan kanan Kiara mulai meraba-raba nakasnya untuk mencari keberadaan jam weker berwarna peach yang sedang berdering nyaring. Kringg ... kring ... kring! "Ck, jamnya dimana sih?" gunam Kiara seraya meraba-raba nakasnya dengan mata yang masih setia terpejam. Beberapa saat kemudian, Kiara menemukan jam wekernya. Dia segera mematikan dering jam itu. Dengan gerakan gontai, Kiara terduduk di atas kasur king sizenya. Netranya mulai menjerjap beberapa kali untuk menyesuaikan cahaya yang memasuki rentina mata hazel miliknya. "Hoamm ...," Kiara menguap, seraya menggaruk pipi kanannya yang terasa sedikit gatal. Sorot mata Kiara mulai menelisik ke arah nakasnya, menatap jam weker yang menunjukkan pukul enam tepat. Kini tatapan mata Kiara jatuh pada benda pipih berwarna rose gold yang terletak di sebelah jam wekernya. Benda itu menampilkan satu notifikasi pesan yang baru saja dikirim oleh sang pengirim. Ya, benda itu adalah handphone milik Kiara. Dengan rasa penasaran yang menghantui pikiran Kiara, akhirnya Kiara pun meraih handphone miliknya. Dengan sekali usap, Kiara membuka pesan itu. Kenzo Rajendra || Selamat pagi Kiara, jangan lupa siap-siap ya! Jam 06.30 gue otw! Kiara Radhevia Adiwijaya || Pagi juga, iya ini gue mau siap-siap Ken. Setelah membalas pesan singkat yang Kenzo kirim, Kiara mulai meletakkan kembali handphone itu ke atas nakas. Kini tangan Kiara terulur untuk mengambil walker miliknya di samping kasur king sizenya. Kaki Kiara mulai melangkah secara perlahan menuju kamar mandi. Lima belas menit kemudian, decitan pintu kamar mandi itu mulai terdengar sangat nyaring. Menampilkan sosok Kiara yang sudah siap dengan seragam putih abu-abunya serta rambut yang dibiarkan tergerai indah dihiasi dengan bandana biru muda. Belum sempat Kiara berjalan ke arah meja belajarnya, tiba-tiba suara ketukan pintu terdengar jelas di indra pendengaran Kiara. Tok, tok, tok. "Non Kiara! Bangun Non, sudah pagi," ucap Bi Asih seraya mengetuk pintu kamar Kiara. Tanpa membutuhkan waktu yang lama dan letak antara kamar mandi serta pintu kamar Kiara yang cukup dekat, Kiara tergerak untuk membuka pintu itu. Ceklek ... Pintu itu terbuka lebar, menampilkan sosok asisten rumah tangga wanita paruh baya yang sedang tersenyum hangat ke arah Kiara. Sebisa mungkin Kiara membalas senyuman hangat itu. "Eh Non Kiara sudah bangun ternyata," ucap Bi Asih seraya tersenyum. Kiara tersenyum hangat. "Iya Bi, sudah. Buktinya Kiara sudah memakai seragam kan?" "Iya Non, oh iya ayo Non sarapan! Bibi sudah menyiapkan sereal untuk Non Kiara," ajak Bi Asih. Kedua alis Kiara menaut serta dahi Kiara pun tampak mengerut. "Loh? Mama belum pulang Bi?" "Belum Non. Tadi pagi sekitar jam lima, Nyonya besar telfon. Katanya, beliau harus berangkat ke Bali untuk mengurus beberapa masalah di cabang perusahaan milik Nyonya. Nyonya juga bilang, kalau nanti setelah Nyonya ada waktu senggang beliau pasti menghubungi Non Kiara langsung," jelas Bi Asih. Kiara mengangguk mantap. "Oh begitu, ya sudah Bibi tunggu sebentar ya. Kiara mau ambil tas dan handphone dulu." "Iya Non, monggo di ambil dulu tas dan handphonenya," balas Bi Asih dengan logat jawanya. Kiara segera berbalik memasuki kamarnya kembali untuk mengambil tas dan handphonenya. Setelah yakin tidak ada barang yang tertinggal, Kiara pun keluar dari kamarnya lalu menuju ke arah meja makan bersama Bi Asih. Kiara memakan sarapannya seorang diri saja, Kiara sudah meminta Bi Asih untuk sarapan bersamanya. Tetapi, Bi Asih menolak dengan alasan dia sudah sarapan tadi. Beberapa menit kemudian, terdengar suara klakson motor vespa dari luar rumah Kiara. Kiara segera bangkit dari duduknya dan beranjak pergi keluar rumah. Dari ambang pintu utama, Kiara dapat melihat seorang laki-laki menjemput dirinya yang mengenakan jaket hitam lengkap dengan jeans serta sneakers hitam putih. Kiara pun mulai berjalan mendekati Kenzo yang berada di ambang pintu gerbang rumahnya yang menjulang tinggi itu. "Maaf mau bertemu dengan siapa ya Dik?" tanya pak Warno, yang selaku satpam dan supir pribadi keluarga Kiara. "Ah, itu saya mencari Kiara. Sudah ada janji kok," balas Kenzo. "Ada perlu apa ya sama Non Kiara?" tanya Warno dengan tatapan penuh selidik. "Saya berangkat ke sekolah bersama Kenzo Pak," sahut Kiara sesampainya dia di hadapan Kenzo dan Warno. Warno terkejut. "Loh Non Kiara mau berangkat bersama Den Kenzo? Tapi Non, Nyonya besar ...." "Bapak tenang saja, saya akan menjaga Kiara dengan baik. Tidak akan lecet sedikitpun," potong Kenzo. "Gak bisa begitu dong Den Kenzo, saya sudah janji kepada Nyonya besar untuk selalu mengantar jemput Non Kiara," elak Warno. Kiara menghela napasnya berat. "Pak Warno, saya di antar Kenzo saja ya. Lagian saya nanti akan izin sama Mama kok. Bapak tenang saja." "Ah begitu ya Non, ya sudah kalau begitu. Sok atuh berangkat, nanti kesiangan," balas Warno seraya tersenyum ramah. Kiara membalas perkataan Warno dengan anggukan dan senyuman saja. Kini Kiara mulai menaiki motor vespa putih milik Kenzo dengan bantuan Kenzo tentunya. ◎◎◎◎◎◎ Laju motor Kenzo mulai memelan kala sebentar lagi tiba di depan gerbang SMA Adiwijaya. Banyak siswa-siswi yang berlalu lalang disana, tidak heran jika kedatangan Kiara dan Kenzo mengundang tatapan penuh tanya para siswa-siswi lainnya. Perlahan, Kiara mulai menuruni motor vespa putih itu dengan bantuan Kenzo. Kini, Kiara telah berdiri tegak di samping kiri motor. "Nih, thanks ya udah anter gue," ucap Kiara seraya menyodporkan helm yang dia pakai kepada Kenzo. "Iya santai aja kali, oh iya nanti pulang sekolah ikut gue yuk Kia!" ajak Kenzo seraya menerima uluran helm yang Kiara berikan. Dahi Kiara mengerut. "Mau kemana Ken?" "Udah ikut aja, dijamin seru kok!" balas Kenzo seraya tersenyum. "Ck, lo tuh ya ....," ucapan Kiara terhenti kala seorang gadis berkuncir kuda dengan lesung pipit di pipinya, memanggil nama Kiara. "Kiara!" panggil Dera dari seberang jalan. Dengan spontan, Kenzo dan Kiara menoleh ke arah asal suara tersebut. Tampak seorang gadis berkuncir satu sedang melambaikan tangannya kepada Kiara. Dera mulai berjalan menghampiri Kiara dan sosok laki-laki asing di sebelah Kiara. "Wih di antar siapa lo Kia? Perasaan Lo gak punya kakak laki-laki deh," tanya Dera sesampainya di hadapan Kiara dan Kenzo. "Eh Dera, perkenalkan dia Kenzo. Dan Kenzo, ini Dera," ucap Kiara memperkenalkan Dera kepada Kenzo. "Oh, hai gue Dera. Sahabatnya Kiara," ucap Dera seraya mengulurkan tangannya kepada Kenzo. Kenzo menerima uluran tangan Dera sebentar, lalu dia melepaskannya kembali. "Kenzo." "Kenzo sekolah dimana?" tanya Dera. Kenzo mengusap tengkuknya. "Gue udah kuliah Dera." Kedua mata Dera terbelalak kaget. "Oh, sorry Kak. Gue gak tahu kalau Lo udah kuliah. Habisnya itu wajah Kakak seperti wajah anak sepantaran saya." "It's okay. Gue juga gak asing lagi kok kalau semua orang mengira gue masih anak SMA," Kenzo tersenyum tipis. "Berarti kakak itu baby face, wajah masih muda padahal umurnya sudah lumayan dewasa." Dera menyengir tak berdosa. Sementara Kenzo? Dia hanya tersenyum tipis saja. Suasana diantara mereka mulai terasa canggung, hingga pada akhirnya Kenzo berpamitan kepada Kiara untuk pergi ke suatu tempat karena ada urusan yang harus dia selesaikan. "Gue pamit dulu ya Kia, kalau lo udah pulang, jangan lupa chat gue. Biar gue jemput," ucap Kenzo seraya menaiki motor vespanya. Kiara mengangguk. "Iya, hati-hati di jalan Ken." Kenzo tersenyum tipis, lalu tangannya terulur untuk mengelus pelan puncak kepala Kiara. "Iya, lo juga belajar yang bener." Kiara mengangguk. Tidak berselang lama, Kenzo mulai beranjak pergi dari hadapan Kiara dan Dera. Kini hanya ada Kiara dan Dera saja. "Ekhem! Bau-baunya ada yang mau jadian nih," sindir Dera seraya melirik kepada Kiara. "Ck, apaan sih Der! Gue sama Kenzo cuma teman aja kok," balas Kiara seraya menatap kesal ke arah Dera. "Alah, masa sih?" tanya Dera dengan tatapan menggoda. "Iya serius hanya sebatas teman, gak lebih Der," balas Kiara. "Ck iya deh percaya gue, gue doain yang terbaik buat lo. Dan ya, ada satu keajaiban di pagi hari ini yang gue baru ketahui," ucap Dera seraya mengedipkan mata kirinya kepada Kiara. Kedua alis Kiara menaut. "Apa?" "Keajaibannya adalah ... seorang Kiara Radhevia Adiwijaya, putri tunggal pemilik sekolah Adiwijaya. Sekarang tidak anti terhadap laki-laki lagi," balas Dera seraya terkekeh. Bola mata Kiara membulat sempurna. Tangan Kiara terangkat untuk memukul perlahan bahu Dera. "Kurang ajar! Enak aja gue anti cowo, gue cuma jaga jarak aja." "Elah, sama aja!" elak Dera. "Beda Der, gue hanya jaga jarak sama laki-laki. Bukan anti dengan laki-laki. Kalau gue anti sama laki-laki itu namanya gue lesbi," ujar Kiara dengan nada penuh penekanan. Kedua alis Dera menaut sempurna. "Maksud Lo lesbi? Lo belok gitu? Suka sama sesama jenis?" Kiara mengangguk singkat. "Woah gila aja Lo Kia! Gue jadi takut dekat sama Lo. Nanti kalau Lo naksir sama gue gimana?" Dera menggeleng tak percaya. Plak! Satu pukulan Kiara berhasil mendarat mulus di lengan kanan Dera. "Kan gue udah bilang Adera! Gue itu hanya sebatas jaga jarak. Bukan anti sama laki-laki." "Oh begitu! Bilang dong dari tadi! Jadi, Lo waras kan Kia?" "Iya waras lah! Emangnya apa? Gue gila gitu?" tanya Kiara dengan nada yang naik satu oktaf. Dera terkekeh geli. "Kali aja gitu Lo agak gak waras." Kiara memutar bola matanya jengah. "Semerdeka lo aja deh Der, ayo buruan masuk sekarang. Udah mau bel nih." Dan pada akhirnya warna hitam putih di dalam kehidupannya yang monoton mulai berubah menjadi warna-warna baru. - Dera - Hai ? Jangan lupa dibaca dan tinggalkan jejak ya:)
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD