8. Imperfect Couple

1519 Words
Bel pulang sekolah SMA Adiwijaya telah berbunyi nyaring. Banyak siswa-siswi SMA Adiwijaya yang langsung saja berhamburan keluar dari kelas mereka seraya membawa tasnya. Begitu pula dengan Kiara, gadis dengan bandana biru muda itu sedang berjalan beriringan dengan Dera. Langkah kaki Kiara dan Dera telah sampai pada halte di depan SMA Adiwijaya, Kiara dan Dera memilih untuk duduk di bangku halte itu untuk menunggu jemputan. "Lo jadi di jemput Kenzo?" tanya Dera seraya menoleh kepada Kiara. Kiara mengangguk mantap. "Iya, Der." "Gue masih penasaran deh Kia," ucap Dera. Kedua alis Kiara menaut, dahinya pun turut mengerut. "Penasaran kenapa?" "Gue penasaran aja sama awal mula pertemuan lo sama Kenzo sampai akhirnya kalian bisa akrab seperti sekarang," balas Dera seraya menatap lekat Kiara. "Lo mau gue cerita soal pertemuan Kenzo dari awal sampai sekarang?" tanya Kiara seraya menepuk pelan pundak kanan Dera. Dera mengangguk antusias, mata indahnya pun turut berbinar. "Mau dong! Mau banget malah!" Kiara terkekeh sebentar melihat ke antusiasan Dera. "Okay, mumpung Kenzo sama supir lo belum datang. Gue mau cerita deh." "Yeayy!" sorak Dera dengan binar wajah bahagianya. "Jadi gini, awal mula pertemuan gue sama Kenzo tuh berawal di halte ini. Saat kemarin lo bilang mau nonton konsernya si Taehyung, nah beberapa saat setelah kepergian lo itu ada sosok laki-laki gitu nyamperin gue. Dia tiba-tiba ngembaliin gantungan gue yang hilang itu, dia ngajak gue kenalan. Awalnya sih gue ragu karena penampilan dia bisa terbilang cukup misterius. Nah pertemuan kedua kita tuh di taman komplek perumahan gue, dia juga ngajak gue ke toko buku di jalan Permai. Nah setelah itu dia bilang mau jemput gue besoknya, dan ya udah hari ini gue diantar sama jemput dia," jelas Kiara. Dera mengangguk paham. "Oalah gitu, wih mulus banget pertemuan lo sama dia. Tapi kan Kia, gue bukannya gimana-gimana ya sama lo. Yang masih tanda tanya besar buat gue tuh, kenapa lo bisa langsung akrab sama Kenzo padahal lo biasanya aja anti banget sama cowo." "Entah, gue pun bingung sama diri gue sendiri Der," balas Kiara. "Lalu gimana perasaan lo sama Kenzo?" tanya Dera dengan ekspresi penuh tanya. Kiara mengangkat kedua bahunya acuh. "Gak tahu, gue gak mau berharap banyak Der." Dera menghela napasnya berat, tangan kanannya terulur untuk menggenggam tangan Kiara seolah menyalurkan sebuah kekuatan. "Jalani aja dulu, takdir Tuhan gak ada yang tau Kia." "Iya, gue juga nyaman-nyaman aja kok berteman sama Kenzo," balas Kiara seraya tersenyum tipis. "Nah kan, udah deh jalanin aja. Siapa tau kan dia beberapa minggu lagi nembak lo," ucap Dera seraya terkekeh geli. Bola mata Kiara membulat sempurna tangan kanannya terangkat untuk menepuk pundak Dera. "Apaan sih Der! Ya kali dia bisa suka sama gue dalam beberapa minggu doang, mustahil tau gak!" "Aduh, gak usah pakai mukul dong! Astaga Kia, siapa sih yang tau hati dan perasaan orang lain? Mungkin aja kan Kenzo bisa jatuh cinta sama lo dalam waktu singkat ini?" balas Dera seraya sedikit merintih kesakitan dan mengelus pelan pundaknya yang terasa nyeri karena ulah Kiara. "Khayalan lo terlalu tinggi Der, mana mungkin Kenzo bisa suka sama gue? Sementara lo lihat sendiri kan keadaan gue seperti apa? Gue cuma seorang gadis pincang yang gak bisa apa-apa. Sementara dia? Dia sehat tanpa kekurangan apapun," elak Dera dengan nada suara lirih dan mulai menundukkan kepalanya. Seketika Dera terdiam. Dia tidak tahu harus berkata apa kepada Kiara. Dinda juga sadar ini semua adalah salahnya, andai saja dia tidak terlalu menggoda Kiara pasti Kiara tidak akan merasa seperti ini. Tangan kanan Dera terulur untuk mengelus pelan punggung Kiara untuk menyalurkan suatu kekuatan. "Gak ada yang gak mungkin Kiara. Kalau Tuhan mengizinkan, manusia tidak bisa menolak. Begitupun dengan kekurangan yang lo miliki, gak semuanya cinta memandang fisik kok. Kalaupun cinta itu tulus, dia pasti akan menerima apapun keadaan lo dengan ikhlas," ucap Dera seraya tersenyum tipis menatap Kiara yang masih tertunduk. Perlahan, Kiara mulai mengangkat kembali wajahnya. Dia menatap senyuman Dera, dapat Kiara lihat dengan jelas bahwa Dera begitu yakin dengan ucapannya. Kiara mengangguk paham, dia mulai mengukirkan senyuman tipisnya. "Iya Der, thanks ya." "Iya Kia," balas Dera. Tak berselang lama, sebuah mobil sedan berwarna putih mulai terhenti di hadapan mereka. Seketika Dera pun menoleh ke arah mobil itu untuk memastikan jika itu benar-benar mobil jemputannya. "Der, udah di jemput tuh!" ucap Kiara seraya menatap Dera dan mobil sedan putih itu bergantian. Dera mengangguk paham. Dia mulai beranjak berdiri. "Gue duluan ya Kia, nanti kalau lo udah sampai rumah jangan lupa video call gue ya." "Iya Der, udah sana gih! Kasihan mang Asep nunggunya kelamaan nanti," balas Kiara seraya tersenyum. "Iya, bye Kia!" Dera melambaikan tangan kanannya kepada Kiara lalu mulai berjalan mendekati mobil jemputannya. Dera mulai memasuki mobilnya dan melesat pergi. Kini hanya ada Kiara seorang diri di halte ini. Kiara melirik sekilas alorji di tangan kirinya. Sudah tiga puluh menit dia menunggu Kenzo, tetapi dia tidak kunjung datang. Beberapa menit kemudian Kiara termenung, seketika lamunannya membuyar kala indra pendengaran Kiara mendengar suara deru motor yang mendekati halte itu. Sontak, sorot mata Kiara pun menangkap sosok Kenzo dengan motornya. Kenzo mulai turun dari motornya, dia segera menghampiri Kiara yang sedang duduk di halte itu. "Sorry gue terlambat ya," ucap Kenzo setibanya dia di hadapan Kiara. Kiara tersenyum tipis, dia mulai meraih walker miliknya lalu berdiri. "Enggak masalah Ken. Ayo berangkat sekarang!" Kenzo mengangguk singkat. "Ayo, sini gue bantu." Kenzo mulai membantu Kiara dalam berjalan, Kenzo pun menggendong Kiara ke atas motornya. Tak lupa pula Kenzo memasangkan sebuah helm berwarna hijau tosca yang dia bawa tadi ke kepala Kiara. "Sudah siap?" tanya Kenzo seraya mengaitkan pengait helm yang Kiara pakai. Kiara mengangguk samar. "Siap!" Kenzo terkekeh singkat melihat ke antusiasan Kiara. Tanpa membuang waktu lagi, Kenzo segera menaiki motornya dan melesat ke suatu tempat. Di sepanjang perjalanan, Kiara tidak henti-hentinya untuk tersenyum. Baginya momen ini adalah momen langka baginya, bagaimana tidak? Kapan lagi dia bisa menaiki sebuah motor untuk berpergian? Mungkin sedikit berlebihan sih, tetapi itulah kenyataannya. Kehidupan Kiara bagaikan sangkar burung, dia selalu terkurung dalam rumah dan keluar dengan pengawasan. Tetapi hari ini dia terbebas dari semua pengawasan itu. Tanpa Kiara sadari, manik mata hitam Kenzo melirik sekilas wajah Kiara dari kaca spion motor vespanya. Seulas senyuman terbit di bibir tebal Kenzo. "Lo masih belum terbiasa naik motor ya Kia?" tanya Kenzo. Kiara mengangguk cepat dia mulai menatap wajah Kenzo dari kaca spion motor itu. "Iya, gue belum terbiasa naik motor." "Seriously?" Kenzo menatap tak percaya ke arah Kiara melalui kaca spion. "Iya, dulu pernah sih hampir terbiasa tapi gak jadi. Karena ...," ucapan Kiara terhenti kala dia mulai merasakan sesak di dadanya mengingat suatu peristiwa pedih di hidupnya. Kedua alis Kenzo sontak menaut sempurna. Dia merasakan ada hal yang Kiara sembunyikan. "Karena apa?" "Hah? Enggak karena apa-apa kok, udahlah gak penting juga kan," elak Kiara dengan berusaha mengembangkan senyumannya. Kenzo hanya mengangguk paham. Meskipun hatinya tetap berusaha mencari tahu, tetapi logikanya mengatakan bahwa dia harus menghargai privasi Kiara. Bagaimanapun juga mereka baru berkenalan, tidak mungkin juga Kenzo memaksa Kiara untuk menceritakan semua tentang kehidupannya. ◎◎◎◎◎ Kini motor vespa Kenzo telah terparkir di bawah pohon rimbun. Tatapan Kiara mulai menelisik ke seluruh tempat ini. Kiara memang sedikit mengenali tempat ini, tetapi Kiara masih menatap Kenzo dengan penuh tanya. Kenzo mulai beranjak turun dari motornya dan melepaskan helm yang dia pakai. Dia segera membantu Kiara untuk turun dari motornya. "Kita ngapain ke taman kota Ken?" tanya Kiara seraya mulai berdiri dengan bantuan walkernya. Kenzo tersenyum tipis. Kedua tangannya terulur untuk melepaskan kaitan helm yang Kiara pakai. "Kita duduk di kursi taman aja ya, ada yang mau gue utarakan sama lo Kia." Kiara hanya mengangguk patuh. Kini mereka mulai berjalan beriringan ke arah kursi taman yang terletak di bawah pohon rimbun. "Mau ngomong apa sih Ken?" tanya Kiara setelah mereka menduduki kursi taman itu. Perlahan, Kenzo mulai mengunci tatapannya kepada Kiara. Tatapan mata Kenzo sangatlah lekat, hal itu membuat Kiara menjadi salah tingkah. Hembusan angin kencang yang berlalu mulai membuat beberapa anak rambut Kiara berterbangan. Tangan kanan Kenzo mulai terulur untuk menyelipkan beberapa sisa anak rambut Kiara di belakang telinga Kiara. "Gue mau mengakui sesuatu hal sama lo Kia," Kenzo masih menatap lekat Kiara. Kedua alis Kiara sontak menaut sempurna. Tatapan penuh tanyanya tertuju penuh kepada Kenzo. "Apa Ken?" "Gue tahu ini mungkin terlalu cepat, tetapi gue pikir jika semakin lama gue pendam pasti akan semakin sakit. Jujur saat pertama kali gue melihat diri lo di depan SMA itu, gue merasakan ada hal yang beda dengan diri lo Kia. Gue merasa lo itu spesial, maksud gue spesial bukan karena kekurangan yang lo miliki. Tetapi gue merasakan kalau lo berbeda dengan yang lain, lo bukan orang lain seperti pada umumnya yang gue kenal," "Dan sejak pertemuan-pertemuan kemarin, gue merasakan ada perasaan aneh saat gue ada di dekat lo. Semua pikiran gue selalu tertuju kepada lo Kia, jantung gue selalu berdetak cepat saat gue ada di dekat lo. Ada rasa nyaman tersendiri juga saat gue selalu berbagi cerita ke lo tentang apapun hal itu. Dan sekarang, gue mau mengutarakan sesuatu hal kepada lo. Gue suka dan sayang sama lo Kia, lo mau gak jadi pacar gue?" Kenzo menatap lekat Kiara seraya menggenggam kedua telapak tangan Kiara.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD